
Suhu bumi yang tadinya tinggi kini mulai diselubungi awan gelap sebagai jawaban atas alasan mengapa atmosfer melepaskan panasnya. Seperti atmosfer, Tia juga mempunyai alasan mengapa dirinya selalu menjaga jarak dengan Faiz.
Sejak pertemuan di bandara waktu itu, bunda Zi memang selalu membicarakan sosok Faiz. Puja-puji sang bunda serta harapan agar kelak Tia mendapat pendamping sebaik Faiz berhasil mengusik ketenangan jiwanya. Itulah mengapa Faiz dianggap sebagai pengganggu karena sesungguhnya Faiz berpeluang besar membuatnya kagum bahkan mungkin bisa sampai level cinta jika terus berada di samping Faiz.
"Aaaaaa." Tia yang sedari tadi larut dalam lamunannya tiba-tiba berteriak dan spontan memeluk Faiz dengan erat.
"Ahh.. Aduuh." Balasan atas pelanggaran yang Faiz lakukan berujung pukulan dan cubitan bertubi-tubi setelah beberapa detik sebelumnya dia merasakan hangatnya pelukan Tia.
"Siapa suru menikung tajam!!" Ketus Tia
"Habisnya dari tadi kuajak bicara kau hanya diam membatu," jelas Faiz
"Sekarang kita mau kemana?" sambungnya
"Terserah!!" Tia semakin judes
"Ke warung ayam balap saja sekalian makan, bagaimana?" Tanya Faiz lagi
"Aku tidak lapar."
"Jadi kita kemana dong?" Faiz masih terus menuntun kendaraannya meski tempat yang dituju belum jelas
"Kubilang terserah!"
"Kalau begitu kita ke RTH?"
"Jangan, di sana terlalu banyak orang." Lagi, Tia menolak tawaran Faiz
"Kau bilang terserah, tapi menolak diajak ke ayam balap dan RTH," -menatap lewat kaca spion- "trus maumu kita kemana?"
"Ya terserah kemana saja!"
Jawaban Tia membuat Faiz menepuk jidat. Tak habis pikir dengan jalan pikiran wanita yang sedang diboncengnya sekarang. Faiz tak pernah menganggap semua wanita itu sama. Tapi untuk yang satu ini, sepertinya dia sepakat bahwa wanita itu memang spesies langka yang sulit ditebak apa maunya.
"Baiklah." Faiz langsung menarik kencang gas motornya.
Tia memegang erat behel motor. Sekali lagi dia mengucapkan syarat yang harus dipenuhi Faiz agar punggungnya tidak berbekas merah lagi. Yaps, apa lagi kalau bukan larangan menikung tajam.
Setelah melewati danau besar di tepi jalan, masjid dengan bangunan bergaya China, serta stadion yang masih setengah jadi, akhirnya Faiz menepikan sepeda motornya.
__ADS_1
"Seleranya bagus juga." Batin Tia yang melihat hamparan air di lautan lepas
"Pantainya indah, kan?" Tanya Faiz yang kini duduk di salah satu saung yang nampak tua
"Duduk sini." Lanjut Faiz sambil menepuk tempat di sampingnya.
"Sekarang dengarkan aku baik-baik." Tia mulai angkat bicara dengan posisi yang masih berdiri. Pandangannya mengarah pada lautan lepas.
"Ini terakhir kalinya kau datang ke kos ku." Tegas Tia
"Alasannya?" Faiz menatap punggung wanita yang berbicara sambil membelakanginya.
"Haruskah ada alasannya? Pokoknya jangan datang lagi ke kos ku!!" Tia
"Silahkan jika kau ingin menjauhiku. Tapi aku juga punya hak untuk mengejar orang yang kucintai, kan?"
"Terserah! Yang jelas jangan aku."
"Siapa yang bisa melarang seseorang untuk jatuh cinta?"
"Tapi kenapa harus aku?"
"Pokoknya jangan datang lagi ke kos ku!"
"Kalau aku tidak mau?" Pancing Faiz
"Kalau kau tidak mau ma-ka... maka....."
"Maka apa? Kau akan menjauhiku? Silahkan! Aku akan terus mengejarmu." Tegas Faiz
"Maka kau tidak akan pernah melihatku lagi di kampus!" Tia
"Hah? Sebenci itu kau padaku? Kenapa?? Kau mau bilang lagi karena aku pria?" Faiz terperanjak mendengar jawaban Tia.
"Iya!! Aku sebenci itu padamu. Kau dan semua pria yang ada di dunia ini. Aku benci kalian." Suara Tia meninggi kedua tangannya bahkan terkepal.
"Semua pria itu sama..!! Sama-sama pembohong!" Cairan bening lolos begitu saja membasahi pipinya.
"Hah...," -mendengus kesal- "di dunia ini masih ada pria yang selalu berusaha jadi baik, perhatian, tidak pernah selingkuh, tidak minum-minuman keras, tidak narkoba, bahkan tidak merokok...Tapi sayang, hanya karena kesalahan satu pria maka mereka juga ikut dicap sebagai pria jahat!" Faiz mulai terpancing emosinya. Dia tidak terima di cap buruk untuk sesuatu yang tidak pernah dia lakukan
__ADS_1
"Bukankah semua pria akan berkata seperti itu? Awal-awalnya manis tapi diakhir? Kepalsuan di balik topeng akan terbuka juga, kan?." Balas Tia dengan nada bicara yang tinggi pula
"Apa kau terima jika disamakan dengan wanita-wanita lain di luar sana? Berarti kau sama seperti Khume dan lainnya. Sama-sama egois, tukang selingkuh, tidak punya perasaan, bahkan tidak punya malu mengemis cinta pada pria yang sudah mati rasa." Balas Faiz.
"Aku tidak sebodoh mereka," Tia protes tidak terima. Dia mengingat lagi kejadian saat Khume berlutut di kaki Faiz. Membayangkannya saja sudah ngeri. Mana mungkin Tia mau menjatuhkan harga dirinya sampai serendah itu.
"Jika kau tidak sebodoh mereka, maka aku juga tidak sejahat pria yang kau maksud." Tegas Faiz.
"Terserah! Persetan dengan kepalsuan kalian."
"Berikan aku kesempatan," -Faiz berdiri tepat di hadapan Tia- "agar kau sadar, bahwa tidak semua pria palsu dan cintaku memang tulus untukmu." Pinta Faiz sambil memegang tangan Tia
"Cinta?" -menepis tangan Faiz- "Hahaha omong kosong!"
Faiz mencoba menyelami perasaan Tia. Sehancur apa wanita ini? Kenapa dia begitu benci pria dan tidak percaya dengan cinta?
"Karena pria kau tercipta dan berkat cinta kau hadir di dunia ini." Tandas Faiz yang masih kesulitan meyakinkan Tia.
"Jika cinta itu memang ada, maka bunda tidak akan ada di sini." Cairan bening lolos begitu saja membasahi pipi Tia. "Jika cinta memang nyata harusnya sekarang aku sudah di rumah, berkumpul bersama keluarga."
"Jika pria tidak palsu, maka aku tidak akan pernah melihat bunda meneteskan air matanya," nada bicaranya mulai bergetar
Seperti disambar geledek, ungkapan Tia barusan sungguh membuat Faiz kehabisan kata-kata. Dia mulai menerka arah pembicaraan Tia.
Atmosfer terus mengalami proses hingga ke tahap presipitasi. Butiran-butiran air dari langit mulai turun membasahi bumi. Alam seolah mendekap, membiarkannya menangis di bawah guyuran air hujan.
"Tia...." Faiz memegang pundak Tia
"Mana? Katakan padaku cinta mana yang kau maksud? Cinta yang membuat bunda lari dari rumah? Cinta yang membuat bunda menangis karena pengkhianatan? Yang mana Faiz? Cinta mana yang kau maksud?" Air mata Tia semakin tak terbendung.
"Bunda mendampingi dalam suka maupun duka, memberinya keturunan, mengurus semua keperluannya, tapi kenapa? Kenapa dia masih mencari wanita lain? Apa karena Bunda sudah tua? Tidak, bahkan sejak aku masih kecil Bunda sudah sering menangis."
Faiz mendekap Tia dengan erat. Membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya. Ada perasaan sakit yang tak bisa dijelaskan ketika melihat seseorang yang dicintainya meneteskan air mata.
Faiz tak menyangka sepahit itu hidup yang dijalani Tia. Goresan luka meninggalkan trauma hingga dirinya enggan membuka hati untuk pria. "Aku tidak akan membiarkanmu melewati semuanya sendirian." Janji di hati Faiz mengalir begitu saja seperti air hujan yang terus membasahi tubuh mereka.
Dalam keadaan tak berdaya Tia mengeluarkan semua kesedihan yang selama ini dipendamnya sendiri. Faiz adalah orang pertama yang tau tentang kisah hidupnya. Bahkan sahabatnya, Femi dan Sam pun tak pernah tau masalah sebenarnya. Bibirnya kaku untuk bercerita, dia tidak mau berbagi kesedihan. Tapi dengan Faiz, entah kenapa semuanya terucap begitu saja. Mungkin karena terbawa suasana atau mungkin ada alasan yang lain.
~ Bersambung
__ADS_1