Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 35 Rindu


__ADS_3

Semenjak Faiz mengantar Tia dengan selamat sampai di kosnya, sejak saat itu juga mereka tidak pernah lagi bertemu.


"Ah, baru tiga hari tapi kenapa rindunya sudah membabi buta begini." Faiz menatap layar ponselnya berharap ada satu balasan pesan dari Tia.


Berjuta kali dia membuka akun media sosial Tia, tapi tak ada satupun foto atau sekedar status terbaru darinya. Bahkan kapan terakhir kali dia online pun tidak terdeteksi. Yang Faiz tau, wanita itu masih hidup karena setiap pesan yang dikirimnya selalu centang biru meski tak pernah dapat balasan atau sekedar tanda 'typing..' lalu pesan tak jadi dikirim.


Berhari-hari Faiz seperti orang yang remuk tulangnya. Dia butuh suntikan kabar dari Tia untuk mengembalikan staminanya yang terkuras habis karena rindu. Untuk pertama kalinya dalam hidup Faiz membenci yang namanya hari libur.


"Andaikan aku rektornya akan kubuka kampus hari ini juga." Rindu memang bisa membuat seseorang menjadi halu. Faiz terus berpikir bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan batu kesayangannya itu.


Langkahnya gontai menuruni anak tangga menuju ruang makan. Semua sudah duduk manis menunggu kehadiran Faiz. Kehangatan yang tercipta di meja makan membuat kegalauannya sedikit meluap.


"Jadi kau mau bungkus makanan lagi?" Tanya sang ibu dengan lembut.


"Iya bu," sahut Faiz sambil menyantap ikan bakar rica-rica andalannya.


Sudah tiga hari ini Faiz rutin membawakan makanan setiap siang dan malam hari meski Tia tak pernah menyambut kedatangannya. Faiz hanya meninggalkan rantang makanan dan kartu ucapan tepat di depan pintu kamar wanita itu. Tak mengapa jika Tia tak ingin menemuinyaa. Melihat rantang makanan tak ada lagi di depan pintu sudah cukup membuat Faiz sedikit tenang. Artinya Tia mengambil makanannya setelah Faiz pergi, kan?


"Sebelum Kak Aiz kena semprot sebaiknya kembalikan semua tupperwara Ibu." Timpal Uli. Semua memang tau kalau ibunya masuk digolongan emak-emak penyayang tupperwara seperti anak sendiri.


"Iya... tenang saja ibu bos cantik." Faiz meyakinkan sang ibu.


"Akhirnya aku dapat alasan kenapa Tia harus membukakan pintu untukku." Angin surga seperti baru saja bertiup mengisi hati yang sudah beberapa hari terasa hampa. Otaknya mulai bekerja memikirkan kalimat yang tepat untuk diucapkan ketika bertemu dengan Tia nanti.


Senyum yang sedari tadi disembunyikan Faiz lepas, ketika sang Ayah mulai menasehati anak-anaknya lewat candaan ringan. Telinganya menangkap semua petuah sang ayah, lidahnya menikmati masakan sang ibunda, sementara hatinya asik dengan debarannya sendiri.


Setelah kegiatan rutin "makan malam bersama" selesai, Faiz segera menuju kos Tia dengan membawa rantang makanan yang dikemas penuh cinta.


Tok.


Tok...


Tok.....


"Ada pakeeett." Faiz memberi kode khusus yang diberikan Tia untuknya.


"Tiaaaaa, ada pakeett."


Seperti kemarin-kemarin, jangankan membuka pintu, menyahut saja tidak.


"Selamat menikmati makanannya." Tutur Faiz lalu pergi dengan suara gas motornya yang dimainkan.


"Dia sudah pergi, kan?" Tia menempelkan telinganya ke pintu untuk memastikan suara motor Faiz benar-benar pergi.


"Tumben tidak ada kartu ucapannya." Ucapnya ketika pintu kamar sudah setengah terbuka


"Karena aku akan memberikan langsung ucapannya."

__ADS_1


"Oh, begitu... Eh?" Mata Tia terbelalak ketika menyadari ada suara sumbang yang menjawab perkataanya.


"A-apa?" Gelagapan. Mulutnya menganga karena tak percaya


"Selamat malam cantik," Kata sambutan yang cukup membuat Tia syok


"Bu-kannya tadi kau... kenapa masih di sini?" Terlambat untuk menutup pintu karena Faiz terlanjur ada di hadapannya.


"Kenapa tidak dari kemarin saja aku melakukan trik ini." Faiz tersenyum puas karena rindunya sedikit terobati dengan keberadaan wanita yang saat ini ada di hadapannya. "Aku memang sudah pergi... tapi bohong,"


"Sial, aku kenapa tipu." Gerutu Tia dalam hati.


"Apa maumu?"


"Serius kau ingin tau?" Faiz


"Apa?" Tia memegang tengkuknya, merasa seperti akan mendengar jawaban yang mengerikan.


"Aku mau kamu." Faiz berbisik lembut di telinga Tia.


Memang benar mengerikan, sampai Tia terdiam beberapa detik.


"Bercandamu tidak lucu!!" Tia mendorong wajah Faiz yang begitu dekat dengannya


"Aku serius kok." Faiz menatap lekat ke arah wanita itu. Tangan kanannya memegang pipi bekas sentuhan tangan Tia


"Pilih mana, aku minta baik-baik hatimu atau aku mencurinya dengan paksa?" Telunjuk Faiz mengarah tepat ke wanita yang hatinya sedang dibicarakan.


"Apaan, sih." -menepis tangan Faiz- "Aku tidak ada waktu untuk basa basi seperti ini."


"E..ee tunggu dulu." Faiz menahan Tia yang ingin kembali menutup pintunya


"Apa lagi sih?" Tia mendengus kesal


"Jangan marah-marah nona, nanti manismu pudar."


Tia hanya melayangkan tatapan penuh kekesalan


"Itu tatapan rindu, yah?"


"Ish, bodoh! Ini tatapan ingin membunuh." Tia langsung memalingkan wajahnya. Dia benar-benar kesal melihat respons Faiz


"Iya, maaf.. maaf..." Faiz bersiaga takut Tia benar-benar marah.


"Itu, aku boleh membawa pulang tupperwara yang sudah kosong?"


Sekali lagi Tia menatap Faiz dengan tatapan tak bersahabat.

__ADS_1


"Ibuku yang bilang, loh." Faiz tersenyum kering.


"Tunggu di situ!" Titah Tia lalu masuk ke kamar mencari benda yang dimaksud


"Huufffttt selamat. Tatapannya benar-benar bahaya untuk kesehatan jantungku." Faiz bernafas lega sambil memegang jantungnya yang berdebar tak karuan.


"Ini." Tia menyerahkan lima buah tupperwara dalam sebuah kantong plastik merek alfamode.


"Eemmm... bilang terimakasihku pada ibumu." Ragu-ragu


"Trus terimakasih untukku mana Nona?" Tagih Faiz


Tia melirik sinis ke arah Faiz dengan ujung matanya


"Ok.. ok...." Faiz menyudahi kejahilannya. Tatapan itu sekali lagi menghadirkan debaran di sudut hatinya. Sepertinya jantung orang yang sedang dimabuk cinta memang beresiko untuk lompat keluar dari tempat.


"Mulai besok jangan datang lagi dan berhenti membawa makanan ke sini." Tia


"Tentu saja. Mulai besokkan kau akan pulkam." Tandas Faiz. Mana mungkin dia lupa dengan hari keberangkatan Tia yang jelas-jelasnya membuatnya gelisah karena rindu pasti akan mengusik kesendiriannya.


Tia tak merespon ucapan Faiz. Dia merasa percakapan itu sudah cukup jelas. Tanpa berlama-lama dia langsung menutup pintu kamarnya. Namun, Faiz sempat menahannya beberapa saat.


"Selamat makan. Semoga masakan ibuku bisa mengurangi rasa rindumu pada masakan bundamu." Setelah Faiz menyelesaikan ucapannya, barulah dia membiarkan Tia menutup pintu begitu saja.


Lagi, Tia menempelkan telinganya ke pintu. Memastikan bunyi sepeda motor Faiz benar-benar telah pergi.


"Terimakasih."


Ucapnya lirih. Sesaat Tia tersenyum lalu beberapa detik setelahnya wajahnya langsung berubah 180°


***


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.00. Rencananya Faiz ingin mengantar Tia ke bandara. Keberangkatan pesawat pukul 14.00 namun jarak dari tempat Tia ke bandara membutuhkan waktu 1 jam sehingga Faiz harus datang lebih awal. Dan lagi, dia takut kalau Tia akan berangkat duluan karena rencana ini murni atas inisiatif Faiz sendiri tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada Tia.


Tok.


Tok..


Tok....


Kali ini Faiz tak bersuara ada paket. Dia benar-benar ingin memberikan kejutan pada Tia.


"Cekleekk." Pintu kamar itu terbuka lebih cepat dari biasanya.


"Eeehh ketemu lagi."


Alangkah terkejutnya Faiz melihat wanita yang menyambutnya dari balik pintu.

__ADS_1


~ Bersambung


__ADS_2