Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 05 RTH


__ADS_3

Udara sejuk tanpa asap kendaraan, embun pagi masih membasahi dedaunan, mentari belum menampakkan dirinya hanya mengintip dari balik awan altostratus namun Tia sudah berjalan menuju RTH untuk membakar lemak jahat yang selalu membuatnya ingin menelan bulat-bulat orang yang berani menyinggung berat badannya.


Tak ketinggalan pedagang kaki lima juga sudah bertebaran untuk menjajakkan dagangannya.


Setelah berlari beberapa putaran Tiapun berhenti disalah satu tempat untuk beristrahat sejenak. Dia meneguk air dari tumbler biru kesayangannya.


"Pagi ini langit cerah, tapi kenapa hariku suram sih." Suara lirih terdengar dari belakang kursi tempat Tia duduk. Sontak ia tersedak ketika menyadari pemilik suara itu.


"Uhuuuk..uhuukk.." -Tia menyeka mulutnya- "siapa yang peduli dengan harimu" Tia.


"Sepertinya alam mengutukku, membuat hariku suram karena bertemu denganmu pagi ini," ucap Faiz lalu kemudian duduk disamping Tia.


"Harusnya aku yang bicara seperti itu," ucap Tia dalam hati tak ingin terlibat adu mulut, dia memilih untuk segera pergi. Namun, Faiz mengikuti langkah gadis itu seperti harimau yang tak ingin melepas mangsanya.


"Wahai pemilik langit, apa dosa yang kubuat pagi ini sampai bisa sial begini?" gumam Tia merasa terganggu dengan pria yang berada di belakangnya.


"Berhenti mengikutiku!" Tia menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.

__ADS_1


"Wah tingkat percaya dirimu naik seratus kali lipat yah, padahal berat badanmu baru turun 0,0001 ons," balas Faiz sambil tersenyum tipis.


"Lalu mengapa kau mengikutiku?" Jawab Tia dengan nada Tinggi sambil melotot. Sepertinya laki-laki itu telah menyulutkan api kemarahan karena berani menyinggung berat badan.


"Hahahah ternyata kau cantik juga kalau marah," Faiz memegangi perutnya dengan tangan kiri sambil tertawa terbahak-bahak, dia sama sekali tidak takut melihat ekspresi gadis yang ada di hadapannya.


"Dasar pria sinting. Seharusnya sejak awal aku tidak meladeninya." Tadinya Tia ingin sekali menonjok wajah Faiz namun dia mengurungkan niatnya ketika mendengar pujian yang menyebalkan keluar dari mulutnya.


"Heii..heii tunggu!" ucap Faiz sambil mengejar Tia yang langsung berjalan. Langkahnya menjadi lebih cepat dari sebelumnya.


"Aku tidak mengikutimu, aku hanya ingin mengembalikan tumbler yang kau


tinggalkan ditempat duduk tadi," Faiz menyodorkan tumbler dengan tangan kanannya yang sejak tadi disembunyikan di balik badan.


"Kenapa tidak dari tadi sih" Tia memilih menjawab dalam hati dan segera mengambil benda biru kesayangannya itu.


Tentu saja Faiz tidak mungkin menyerahkannya begitu saja. Dia mengangkat tangannya sehingga Tia yang hanya memiliki tinggi 156 cm itu harus melompat untuk mengambil tumblernya.

__ADS_1


"Oh, jadi ini alasanmu sampai tidak pernah membalas pesanku satupun?" ucap seorang gadis cantik dengan rambut terurai panjang yang tiba-tiba menghampiri mereka.


"Tutup mulutmu!!" Suara Faiz tiba-tiba berubah menjadi dingin.


"Aiz kita perlu bicara," ucap gadis itu memohon


"Apalagi? semua sudah jelas," timpal Faiz.


"ak..aku permi--" ucap Tia ragu-ragu karena kaget melihat sikap Faiz yang dingin. Belum selesai Tia bicara, Faiz langsung merangkul bahunya.


"Aku sudah punya pacar," Faiz semakin mengeratkan rangkulannya membuat Tia tak bisa bergerak. Merekapun bergegas pergi meninggalkan gadis itu yang diam mematung penuh deraian air mata.


Setelah agak jauh berjalan Tia melepaskan tubuhnya dari rangkulan Faiz. Pria itu seolah kehilangan tenaga sehingga dengan mudahnya Tia melepaskan diri.


"Apa alam benar-benar mengutukku sampai hariku menjadi suram seperti ini?" Faiz larut dalam pikirannya, sementara Tia terus berjalan menjauh tanpa berucap sepatah kata seolah masa bodoh dengan insiden yang baru saja terjadi.


~bersambung

__ADS_1


__ADS_2