Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 13 Buku Catatan


__ADS_3

Faiz menarik nafas panjang, pasrah dengan kenyataan bahwa dia benar-benar terkurung dalam laboratorium seorang diri.


"Kepala Batu" itu predikat yang diberikan Faiz kepadanya. Bagaimana tidak, dia sudah memberikan banyak alasan agar bisa keluar dari ruangan itu tapi sang pemegang kunci sama sekali tak mencair sedikitpun.


Faiz mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, seperti anak kecil yang sedang berfikir benda apa yang bisa dijadikan mainan. Tembok putih bersih, lemari, alat-alat labolatorium semuanya hanya benda mati. Sampai mata Faiz tertuju pada meja tempat mereka mengamati sampel-sampel tadi.


Tentu saja bukan meja yang menarik perhatian Faiz, tetapi benda kecil berwarna biru yang tergeletak di bawah meja. Semakin Faiz mendekat, semakin nampak wujud benda tersebut yakni sebuah buku catatan tipe ring binding ukuran B6. Karena buku catatan tersebut berwarna biru, maka Faiz menaruh curiga bahwa benda tersebut milik Tia sehingga meski sampulnya terlihat lusuh dia tetap ingin membacanya. "Siapa tau ada rahasia yang bisa dijadikan senjata ampuh untuk mengontrol Tia" itulah rencana yang terlintas di benaknya.


Faiz membolak-balik benda mungil itu


"Fatricia" hanya ada nama pemilik di halaman pertama yang diukir cantik dengan tinta tebal.


Dibukanya buku tersebut seperti flipbook dan langsung membaca tulisan di halaman akhir.


"Analisis sampel di laboratorium" bacanya lirih. Setelah memastikan secara keseluruhan, Faiz mulai duduk manis membaca lembar demi lembar catatan harian itu.


"Dirimu adalah sebab aku tersenyum tetapi diriku adalah sebab engkau meratap.


Bukannya tak bersayap, engkau hanya pura-pura lupa caranya untuk terbang.


Jika bisa menjadi intan mengapa memilih jadi batu kali?


Semakin engkau tegar, aku semakin rapuh.


Kadang aku lupa, apalah arti terpaan air kali ketimbang suhu dan tekanan yang tinggi.


Itulah sebab intan kuat, intan berharga.


Bunda ... " mulut Faiz terhenti.


"Kenapa harus pakai bahasa burung begini sih" komentar Faiz karena melihat banyak terselip kalimat berbahasa asing disetiap lembarnya. Mimik wajahnya terlihat bingung karena tak paham arti tulisan itu. Dengan terpaksa dia hanya membaca kalimat demi kalimat yang dianggapnya normal menurut standarnya.


"Tanggal 27 Maret? inikan hari penyambutan mahasiswa baru tingkat fakultas" batin Faiz


"Mengapa semuanya ditulis dengan bahasa burung?" rasa penasarannya melambung.


"Cekrek..cekrek" Faiz segera mengirim hasil jepretannya kepada adik semata wayangnya


"Uli cepat artikan kalimat di foto ini," pesan dikirim.


"I**ni milik siapa kak?" pesan masuk dari Uli


"Ar**tikan saja dengan benar, jangan sampai ada yang terlewati walau satu kata," pesan dikirim

__ADS_1


"A**da imbalannya dong," balas Uli


"Cepatlah!!" pesan dikirim


Tak butuh waktu lama, Faiz langsung mendapat pesan dari Uli


"Ter**imakasih Uceng," balas Faiz dengan cepat


"Ja**ngan lupa imbalanku," pesan Uli.


Faiz tersenyum tipis melihat respon adiknya yang santai meski sudah dipanggil Uceng alias Uli cengeng


"Ka**u sudah sampaikan pesanku sama tukang ojekmu? ingat, sebentar pulang sekolah aku yang jemput. Ok," pesan Faiz


"Si**ap kakak Fajeeee," pesan ejekan Uli menjadi percakapan terakhir antara kakak beradik itu.


Faiz mulai membaca dengan seksama pesan teks panjang hasil terjemahan adiknya.


"........ Pria asing itu bertanya padaku perihal waktu. Dari sekian banyak orang kenapa dia harus bertanya padaku? kupikir dia sengaja. Posisi kami berdekatan, dia pasti tau bahwa aku memakai jam tangan yang telah mati. Aku benar-benar dibuatnya malu. Dia aneh, aku tidak ingin bersitatap dengannya. Tetapi, dia selalu bertanya tentang hal tidak penting padahal aku sedang berusaha menutupi wajahku agar dia tidak mengenaliku nanti.


Do'aku agar tidak berjumpa lagi ditolak, pemilik langit justru mempertemukan kami di ruang kelas yang sama. Benar-benar indah.


Rasanya aku ingin terbang saja. Entah mengapa wajahnya terlihat menarik"


Satu paragraf akhir yang dibaca Faiz membuatnya terkikik.


"Tapi apa ini? sikapnya bertentangan dengan apa yang ditulisnya." sekilas terlintas cara wanita itu bersikap padanya.


"Diakan memang wanita yang aneh. Bisa saja dia menutupi rasa tertariknya dengan bersikap pura-pura cuek." Faiz menebak-nebak.


Setelah puas membaca berulang-ulang pesan terjemahan dari Uli, Faiz kembali mengalihkan pandangan pada buku berukuran mungil itu untuk melanjutkan misi mencari kartu AS (rahASia) Tia.


***


"Kenapa kak Faiz jadi kepo begini? inikan catatan wanita," pikir Uli ketika membaca pesan dari kakaknya


"Maafkan adikmu ini yah." Uli tersenyum geli ketika ide konyol melintas di kepalanya


"Semoga ini bisa membantu kakak agar cepat move on dari si Khume khume itu." Dengan segera ia menerjemahkan tulisan di foto tersebut sesuai dengan perintah kakaknya.


***


"Hei junior kundang," Sapa seorang lelaki yang melihat Tia duduk sendiri di salah satu gazebo depan jurusan.

__ADS_1


"Kak Ari, bikin kaget saja," jawab Tia sambil mengelus dadanya


"Jangan duduk melamun di bawah pepohonan seperti ini, bahaya," ucap Ari lalu segera duduk sehingga posisi mereka kini berhadap-hadapan.


"Kau tidak pernah mendengar cerita tentang jurusan kita?" tanya Ari


"Kau lihat temanku yang pakai baju merah di sana" Ari menunjuk ke arah gazebo lain.


"Dulu dia kerasukan makhluk gaib penunggu pohon besar disini karena melamun sendiri." Ari merupakan senior 2 tahun diatas Tia yang juga merupakan asisten dosen beberapa mata kuliah fisik memulai ceritanya.


"Aaaa kakak jangan menakutiku seperti itu, jangan lanjutkan ceritanya oke! pokoknya aku tidak mau tau." Tia memotong cerita Ari.


"Hahaha dasar junior kundang." Ari terlihat gemas melihat tingkah Tia


"Bagaimana kabarnya sampelmu?" Ari mengganti topik pembahasan


"Ah iya kak, ada yang ingin kutanyakan. Aku bingung meskipun sudah membaca caranya berulangkali." Tia langsung mengambil tasnya, mencari buku catatan kecil yang dipakainya untuk menulis.


"Bagian yang mana?" tanya Ari balik


"Tunggu kak." Tia sibuk mencari buku kecilnya sampai-sampai dia mengeluarkan semua isi tasnya


"Nah ini apa?" Ari menunjuk binder Tia


"Bukan kak. Waktu di lapangan aku menulisnya di buku kecilku." Tia menggigit ibu jarinya sambil mengingat-ingat di mana terakhir dia menyimpannya.


"Kalau begitu kau catat saja kembali, aku akan jelaskan ulang. Bagaimana?" Ari memberikan solusi.


"Aduh bagaimana ini, lalu bukuku?" Tia membatin.


"Boleh kak, jika tidak memberatkan." Tia terpaksa mengiyakan tawaran Ari, dia tidak mungkin menolak kebaikan hati seniornya itu


"bukunya nanti saja kucari, daripada jadi junior kundang lagi" pikirnya.


Keduanya begitu serius. Ari yang biasanya memberikan pembekalan di hadapan puluhan mahasiswa sekaligus, kini terlihat seperti sedang memberikan bimbangan khusus. Tia tidak melewatkan satu bagianpun, dia bertanya dengan sejelas-jelasnya jika ada hal yang tidak dipahaminya.


Meskipun dibumbui dengan kata-kata ejekan, namun Tia terlihat lebih menikmati cara santai Ari menjawab pertanyaannya daripada gaya sok kerennya ketika berada di ruang kelas. Hal inilah yang membuat Ari lebih akrab dengan Tia daripada dengan junior-juniornya yang lain.


Bersambung ~


Selamat menunaikan ibadah puasa


Semoga kita sehat selalu dan corona cepat berlalu

__ADS_1


-----------------------------------------------------------------


Jangan lupa tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕


__ADS_2