Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 14 Tanggung Jawab


__ADS_3

Waktu hampir menunjukkan pukul 10.00. Senior dan junior itu masih terlihat asik mengobrol berdua. Meskipun teman-teman kelas Tia sudah banyak berdatangan, tetapi tak ada satupun yang berani untuk mendekatinya karena keberadaan senior berambut gondrong itu. Yah, Ariyana Wicaksono senior yang mulai aktif menjadi asisten dosen mata kuliah fisik sejak ia semester 3 membuat namanya banyak diperbincangkan bukan hanya dikalangan junior tetapi juga senior-senior bahkan kerap terlibat proyek dengan para alumni. "Si Cerdas Bermulut Pedas" itulah rumor yang beredar tentang dirinya.


Lamanya Tia bercakap-cakap dengan senior gondrong itu membuatnya lupa dengan bukunya yang hilang bahkan dengan seseorang yang masih terkunci di dalam laboratorium.


"Ddrrtt... ddrrttt." Ponsel Tia bergetar.


Spontan matanya melotot ketika membaca pesan yang baru saja masuk


"*Ti*dak bisakah kau membuka pintunya 15 menit lebih cepat?"


"Mati!! bocah ingusan itukan masih di lab. Sebentar lagi kepala lab akan datang." Tia menggigit ibu jarinya, memutar otak mencari cara untuk pamitan kepada senior yang ada di hadapannya saat ini.


"Kak aku mau pamit masuk, sebentar lagi aku ada kelas," ucap Tia dengan sopan


"Santai saja, masih ada waktu 10 menit. Aku yang akan masuk menggantikan pak Pras. Hari ini beliau ada kegiatan di ballroom center," jawab Ari


"Tapi aku mau buang air kecil dulu kak." Tia memberi alasan yang terinspirasi dari pesan Faiz sebelumnya.


"Tahan disitu sampai 7 menit lagi," Ari menjawab semaunya


"Aaaaa kak Ari jangan mengerjaiku seperti ini." Tia berdiri dan berakting seperti orang kebelet


"Dasar junior kundang, pergilah." Si gondrong benar-benar tertawa lepas


"Terimakasih banyak untuk ilmunya kak, saya permisi dulu." Tia membungkukkan badan lalu berjalan cepat meninggalkan Ari.


Sambil berjalan Tia menarik nafas panjang, mempersiapkan mental sebelum menghadapi lelaki yang dianggapnya sebagai pengganggu itu.


"Kriiieett." bunyi pintu kaca di buka. Tia menghampiri Faiz yang sudah berdiri dengan tubuh setengah bersandar pada meja


"Eh? ekspresi wajah apa itu? kenapa berbanding terbalik dengan yang aku harapkan," batin Tia.


Dia mengendus-enduskan hidungnya sambil mengalihkan pandangan ke celana Faiz seperti sedang memastikan sesuatu.


"Memangnya apa yang kau harapkan? kau pikir aku akan buang air kecil di celana?" ucap Faiz lalu menyentil kepala Tia dengan benda berukuran mungil yang dibacanya tadi.


Spontan Tia memegang kepalanya walaupun tidak sakit. Mimik wajah kecewa tergambar jelas dan tidak dapat di sembunyikannya.


"Eh benda itu?" Tia terbelalak melihat benda yang ada di genggaman Faiz


"Ini bukumu." Faiz menyodorkan sebuah buku pada Tia


"Habislah aku!" Tia membatin. Dengan cepat dia menyambar buku itu namun gerakan tangannya kalah cepat dari Faiz.


"Berusahalah jika ingin bukumu kembali." Faiz mengangkat tangannya yang memegangi buku tersebut.


"Kembalikan bukuku! Kenapa kau selalu mengambil milik orang tanpa izin?" ketus Tia. Tidak, hal yang ingin dia tanyakan adalah "apa kau sudah membaca isinya?"


Tia memacu otaknya untuk berpikir lebih keras hingga ke titik maksimal. Dia harus mencari cara lain karena melompat saja tidak akan membuatnya mampu menggapai tangan pria yang tingginya diatas rata-rata itu. Bukan, bukan Faiz yang tingginya di atas rata-rata tetapi Tia yg tingginya dibawah rata-rata.


Akhirnya Tia nekat naik ke atas meja. Kini posisinya jadi lebih tinggi daripada Faiz, seharusnya dia bisa mengambil benda itu dengan leluasa namun ternyata terjadi sedikit aksi rebut-rebutan seperti anak kecil hingga tak sengaja Tia menendang beberapa tabung labu erlenmeyer yang tadi pagi dia gunakan tapi belum sempat dikembalikan ke tempatnya. Benda itu menggelinding hinga "praaannkkkk" jatuh ke lantai dan pecahan berserakan kemana-kemana.


Keduanya terdiam hingga bunyi pintu dibuka kembali terdengar. Tia gelagapan, dia tau yang datang pasti kepala laboratorium. Tak bisa berpikir jernih, Tia langsung melompat turun dari atas meja namun naas tubuhnya justru menimpah Faiz yg tiba-tiba juga bergerak dari posisinya.

__ADS_1


"Bruukkk." Keduanya terjatuh


"Ya ampuuun.. apa-apaan ini?" kepala lab kaget melihat Faiz dan Tia yang duduk melantai dengan posisi tidak karuan ditambah lagi dengan pecah beling yang sudah berserakan.


"Ah, ma..ma..maaf bu. Kami tidak senga-" Tia segera berdiri dengan menahan perih pada sikunya yang sedikit lecet. Belum selesai dia bicara, kepala laboratorium langsung memotong ucapannya


"Segera tuntaskan kekacauan ini lalu menghadap di ruanganku" tegas kepala laboratorium


"Baik bu," hanya Tia yang menjawab.


Faiz masih terduduk di lantai "sudah jatuh, tertimpa tangga pula". Bagaimana tidak, tubuh Tia yang berat langsung menimpa dirinya hingga ia menindih pecahan yang berserakan di lantai.


"Tertarik apanya? dia bahkan tidak membantuku untuk berdiri." Faiz membatin lalu berdiri dengan sendirinya.


"Heii bersihkan dulu lukamu sebelum membersihkan pecahannya," tegur Faiz namun Tia sama sekali tak bergeming


"Bagaimana dia mau memperhatikanku, dia bahkan tidak peduli dengan dirinya sendiri." Lagi-lagi batin Faiz bicara.


"Ah, dasar kepala batu," ucapnya langsung menarik paksa Tia ke tempat yang dirasanya aman dari pecahan tabung erlenmeter.


"Duduk disini, jangan bergerak!" Titahnya


"Kau mau apa lagi?" tanya Tia penasaran


"Tunggu saja!" balasnya singkat lalu pergi


"Kenapa aku harus mematuhinya?" Tia kembali meraih sapu untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


Tak berselang lama, Faiz muncul dengan membawa kotak obat dari ruang sebelah


"Bisakah kau berhenti menghantuiku?" pinta Tia yang sekarang sudah duduk dengan posisi yang tadi.


"Biar kubersihkan lukamu." jawab Faiz yang kembali dari ruangan sebelah dengan membawa kotak obat


"Apa sih, ini cuma luka kecil tidak perlu aa.auu.. aduh," Tia mengaduh keras ketika antiseptik khusus luka mulai membasahi bagian sikunya yang lecet


"Ini namanya pemaksaan." Tia terus mengoceh tapi Faiz sama sekali tak menghentikan aktivitasnya. Dia terus membersihkan luka Tia dengan lembut sambil sesekali meniup luka lecet di siku Tia untuk mengurangi rasa perihnya.


"Ok sudah selesai" perasaan lega tergambar jelas di wajah tampannya


"Buang-buang waktu saja" Tia beranjak dari tempatnya dan kembali membersihkan sisa-sisa pecahan yang berserakan


"Lihatkan? tertarik dari sisi apanya? aku sudah menolongnya tapi jangankan membantuku bahkan mengucapkan terimakasih saja tidak"


Entah kata apa lagi yang cocok untuk menggambarkan ekspresi wajah Faiz saat itu, isi hatinya sudah tidak dapat didefinisikan lagi. Akhirnya dia mengobati lukanya sendiri, sementara Tia fokus membersihkan serpihan pecah beling tanpa melirik sedikitpun ke arah Faiz.


***


"Pokoknya kalian harus mengganti alat lab yang telah kalian pecahkan," tegas kepala laboratorium setelah mengomel hampir sejam


"Baik bu," jawab Faiz.


Keduanya lebih banyak diam, tak ada yang membantah ataupun saling menyalahkan. "Dosen adalah tuhan ke-dua" jika membuat murka dosen, maka bersiaplah nilaimu akan bervariasi seperti tangga nada. Begitu kira-kira metode yang sedang diterapkan keduanya.

__ADS_1


Setelah telinga panas akibat semprotan kuliah gratis dari kepala laboratorium, akhirnya Faiz dan Tia diperbolehkan untuk keluar dari ruangan itu. Sejenak bernafas lega, namun kemudian gelisah kembali menghampiri. Sudah sejam lebih mereka melewatkan satu mata kuliah pagi ini.


"Kau mau kemana?" tanya Faiz dengan langkah yang terus mengikuti Tia


"Kelas" Tia


"Kau yakin mau masuk ke kelas?" tanya Faiz sambil melihat jam tangannya.


"Mana mungkin kita diizinkan masuk oleh pak Pras?" sambung Faiz.


Tia hanya diam dan terus melangkahkan kakinya sampai di depan ruangan yang dimaksud. Faiz mengintip kondisi ruangan melalui kaca kecil yang ada di pintu


"Hei kau serius? itu kak Ari yang ada di dalam, diakan lebih sangar daripada pak Pras." lagi-lagi Faiz mempertanyakan keberanian Tia.


Sejenak Tia terdiam lalu menarik nafas panjang untuk mengumpulkan keberanian yang sempat digoyahkan oleh Faiz.


"Pe..permisi kak" Tia ragu-ragu, suaranya terdengar bergetar ketika pintu ruangan itu terbuka.


Tak ada jawaban, Ari hanya mengangkat alisnya seolah bertanya. "Ada perlu apa?"


"Kak bisakah saya ikut kuliah?" tanya Tia dengan wajah memelas.


Sesaat Ari melihat jam tangannya lalu memberi isyarat agar Tia meninggalkan ruang kelas. Tia masih berdiri mematung, tak habis pikir bagaimana bisa pria gondrong yang ada di hadapannya itu memperlakukan dia seperti orang yang tidak saling kenal padahal beberapa jam yang lalu mereka terlihat begitu akrab dan hangat.


Faiz yang mengintip dari balik pintu segera masuk ke ruangan lalu menarik tangan Tia untuk meninggalkan ruangan itu. Sementara Ari terus melanjutkan kegiatannya seperti sebelumnya.


Keduanyapun berjalan beriringan menuju gazebo depan jurusan.


"Inilah akibat bila orang terlalu keras kepala," Ucap Faiz yang melihat Tia berwajah sedih.


"Aku ketinggalan mata kuliah," Tia menjawab lesu tanpa memandang wajah orang yang ada di hadapannya itu


"Santai saja. Alpa satu kali tidak akan membuat nilaimu jadi E." Faiz menjawab tanpa beban.


"Ini bukan masalah nilai, tapi ilmunya," balas Tia tanpa semangat.


"Baiklah..baiklah.. Mahasiswa baru yang semangatnya masih selangit," ucap Faiz yang malas berdebat


"Sekarang lebih baik kita pergi mencari alat lab yang sudah kita pecahkan tadi," sambungnya


"Kau saja yang pergi, inikan salahmu," Tia.


"Hei, masih untung aku mau membantumu. Seharusnya kau sendiri yang bertanggung jawab karena kau yang menendang tabungnya," serangan balik Faiz.


"Kau yang salah, siapa suru mengambil bukuku," Tia tak mau kalah. Tiba-tiba dia ingat dengan buku catatannya itu


"Mana bukuku? cepat kembalikan," lanjutnya


"Kalau mau bukunya, ikutlah denganku untuk membeli alat lab." Faiz langsung berjalan menuju parkiran.


Dengan berat hati Tia terpaksa mengikuti keinginan Faiz, mulutnya terkunci rapat, tak ada perlawanan, "bagai kerbau dicocok hidungnya"


~bersambung

__ADS_1


-----------------------------------------------------------


Jangan lupa tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕


__ADS_2