Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 18 Kencan


__ADS_3

Faiz merebahkan tubuhnya setelah mendapat pesan dari Leo yang berisi tentang rencana kencana yang dimintanya beberapa hari yang lalu. Entah mengapa hatinya seperti kurang siap. Ada perasaan jenuh untuk memulai sebuah hubungan dari awal lagi. Dia hanya berharap semoga ini adalah keputusan yang tepat. Awalnya mungkin dia melakukan itu agar Khume segera enyah dari hidupnya. Tapi, toh lama kelamaan dia pasti akan mencintai wanita itu juga dengan tulus.


Faiz yang sejak tadi larut dalam pikirannya ternyata terbawa ke alam mimpi. Ponselnya terus bergetar hingga 30 panggilan tak terjawab dari Leo. Teman kencan Faiz dari 45 menit yang lalu sudah berada di lokasi. Namun, Faiz belum juga menampakkan batang hidungnya. Leo yang mengatur pertemuan itu, sudah seperti kebakaran jenggot. Untung saja dia terpikir untuk menghubungi Uli.


"Benar-benar gila. Kenapa kau tidur disaat yang tidak tepat?" kalimat sambutan Leo yang sejak tadi menunggu Faiz di area parkir.


"Ini benar-benar diluar kendaliku. Akukan tidak sengaja," Faiz mencoba membela diri


"mana wanita yang mau kutemui?"


"Ingat namanya Kiran! jangan sampai kau lupa. Dia di dalam ditemani oleh Ista," jawab Leo.


"Kau tidak bilang kalau aku ketidurankan?" Faiz.


"Tenang saja bro, aman terkendali," Leo menenangkan.


"Terimakasih banyak bro. Maaf sudah merepotkanmu." Faiz merangkul pundak Leo sambil berjalan.


"Hadeh. Gayamu! seperti orang baru kenal saja." Leo menghempaskan rangkulan Faiz "sudah. Cepat sana!" memberi kode dengan gerakan dagu.


Ista langsung berpamitan kepada Kiran ketika melihat Leo menghentikan langkahnya di depan pintu. Hanya Faiz yang terus berjalan ke arah mereka.


"Faiz sudah datang, aku dan Leo pamit yah," bisik Ista "semoga kencannya sukses."


Kiran mengangguk dan tersenyum malu-malu sementara Ista langsung berlenggang menuju tempat Leo berdiri.


"Hai, maaf membuatmu menunggu lama," ucap Faiz dengan lembut.


"Hai." Kiran melempar senyum "tidak masalah kok," sahut Kiran yang berdiri dengan anggun menyambut kedatangan Faiz.


"Sudah bisa duduk?" tanya Faiz yang masih berdiri.


"Ah, i-iya... silahkan duduk." Rasa canggung membuatnya tidak fokus.


Setelah memesan makanan, keduanya berbincang-bincang hangat layaknya pasangan normal lain ketika sedang melakukan pendekatan. Sesekali Kiran melempar senyum manis kepada Faiz.


"Padahal kau tampan, kenapa mau melakukan kencan buta?" tanya Kiran


Tidak mungkinkan Faiz memberitahu alasan yang sebenarnya? "Kau juga cantik, kenapa mau melakukan kencan buta?" Faiz memilih menggombal balik.


Baik Faiz ataupun Kiran, tak ada yang menjawab pertanyaan itu-mereka hanya tertawa kecil. Faiz memang pintar mencairkan suasana, dia bahkan tidak kehabisan topik pembicaraan.


Setelah dirasa cukup, Faizpun mengajak Kiran untuk pulang.


"Baru pukul 22.15, kita tidak jalan-jalan dulu?"


tanya Kiran sambil melihat jam yang melingkar manis di tangannya.


"Tidak baik anak gadis pulang larut malam. Besok kita ke CFD Bagaimana?" tawar Faiz. Meskipun dia belum mempunyai perasaan apa-apa pada Kiran, tapi Faiz tau bagaimana seharusnya dia memperlakukan wanita.


"Oh, iya boleh juga." Pipi Kiran memerah, baru kali ini dia bertemu dengan Pria seperti Faiz.

__ADS_1


"Ayo naik! Aku akan mengantarmu pulang," Ucap Faiz.


"Dengan senang hati," Kiran menerima tawaran Faiz dan segera naik ke atas motor.


Keduanya berbaur dalam kemacetan. Namanya juga sabtu malam, waktunya bagi darah muda untuk keluar dari sarang.


Setelah sekian lama, ini pertama kalinya Faiz keluar lagi di sabtu malam. Bahkan dulu, ketika menjalin kasih dengan Khume hampir 2 tahun-bisa dihitung jari berapa kali mereka keluar di sabtu malam.


"Terimakasih sudah mengantarku pulang," ucap Khume sembari turun dari atas motor.


"Jangan berterimakasih untuk sesuatu yang sudah semestinya," jawabnya santai.


"Baiklah. Aku masuk dulu," kata Kiran. "Hati-hati di jalan Faiz."


"Senang bertemu denganmu," balas Faiz lalu menancap gas meninggalkan rumah Kiran.


Kencan pertamanya dengan Kiran memang tak berjalan 100% sesuai rencana. Namun, sepertinya hubungan keduanya akan terus berlanjut. Melihat respon Kiran yang positif dan meminta untuk bertukar nomor whenapp-membuat rasa kepercayaan diri Faiz bangkit.


"Tidak seburuk yang kupikirkan. Aku akan belajar mencintainya," tekad Faiz.


***


Masih pagi sekali di kamar Faiz sudah terjadi kegaduhan. Itu karena sang tamu adalah Uli. Dia datang untuk menagih janji.


"Kak Aiz tidak lupa sama janji Kakakkan?" kata Uli yang sudah berpakaian rapih.


"Kenapa kau bisa masuk dalam kamarku?" Faiz baru saja keluar dari kamar mandi


"Aku kira Kakak lupa deh," lanjut Uli. Dia mengira kakaknya bersiap-siap karena dirinya


"Bicara yang jelas!" Faiz melempar handuk ke wajah Uli


"Habis manis sampah dibuang," Uli memainkan bibir mungilnya


"Kau harus lebih giat lagi belajar bahasa Indonesia," ejek Faiz yang mendengar adiknya mengucapkan peribahasa dengan redaksi yang keliru.


"Terserah. Pokoknya aku kesini ingin menagih janji Kak Aiz. Kakak-kan sudah memakai jasaku untuk menerjemahkan tulisan calon Kakak Ipar," Uli tertawa geli mengingat keusilannya yang merubah beberapa kata di akhir paragraf.


"Kakak Ipar halumu. Kita pergi pekan depan saja yah?" Tawar Faiz. Sebenarnya dia bukannya lupa, hanya saja dia tidak menyangka kalau adiknya menagih janji di pekan ini. "Aku sudah terlanjur janji dengan Kiran"


"Tidak mau! Aku bosan di rumah Kak," keluh Uli. "Aku juga ingin olahraga di luar dan menghirup udara segar" Uli memasang wajah sedih.


Faiz sejenak berpikir. Selama ini adiknya memang jarang keluar rumah. Dia keluar hanya untuk ke sekolah, liburan keluarga, atau diajak jalan oleh Faiz.


"Kak sekarang aku sudah SMA, aku sudah besar. Biarkan aku pergi sendiri saja yah?" bujuk Uli. "Sepertinya kakak akan keluar dengan calon kakak ipar"


"Kamu masih kecil. Masih cengeng. Nanti kalau kamu kena-" ucapan Faiz terpotong


"Aku akan baik-baik saja kak. Lihatkan aku sudah besar, sudah tinggi pula." Uli berdiri di samping Faiz untuk membandingkan tinggi badan agar terlihat semakin meyakinkan.


Faiz masih terdiam, dia sedang mempertimbangkan permintaan sang adiknya.

__ADS_1


"Kak Aiz... yah...yah... boleh yah? selama ini aku selalu menurut apa kata Kakak. Kali ini kabulkan kemauanku yah Kak?" Uli memohon dengan wajah sedih


Perasaan tidak tega mulai menghampiri. "Kalau begini terus bisa-bisa dia menangis. Apa aku coba saja membiarkan dia keluar sendirian?" sepertinya Uli berhasil meluluhkan hati sang kakak.


"Diam dulu!" ujar Faiz. Diraihnya ponsel yang berada di atas meja. Sepertinya dia sedang mengetik pesan.


"Baiklah. Kali ini kau kuizinkan. Tapi ingat, kau harus hati-hati, jangan berbuat macam-macam. Pulang sebelum pukul 10.30," mulut Faiz komat kamit mengingatkan semua hal yang tidak boleh dilakukan oleh adiknya. "Dan jangan ketemuan dengan tukang ojekmu!" tegas Faiz.


"Iya Kak. Siap.. siap.." Senyumnya langsung terkembang. "Terimakasih Kakak Aizku," memeluk dari samping dengan girang.


"Iya..iya.. Keluar sana," ucap Faiz.


"Bersenang-senanglah Kak." Uli keluar dari kamar. "Makasih yah Kak, makasih" ucap Uli yang badannya sudah berada di luar namun kepalanya dicondongkan masuk ke dalam kamar


Terukir senyum di wajah Faiz. "Dia sampai sesenang itu. Kasian juga adikku, sudah seperti anak ayam yang baru saja keluar kandang"


Setelah urusannya dengan Uli selesai, Faiz bergegas menuju rumah Kiran. Pesannya sudah banyak yang masuk, sepertinya Faiz terlambat lagi menjemputnya. Untung saja Kiran adalah wanita yang pembawaannya tenang sehingga bisa memaklumi keterlambatan Faiz.


Faiz sengaja memilih area CFD karena bisa saja Khume menunggunya lagi di RTH. Rencananya dia baru siap bertemu Khume jika Kiran sudah resmi menjadi pacarnya. Akhir-akhir ini Khume semakin gila. Padahal dulu dia sempat menyerah setelah diberi pengertian oleh ibu Faiz. Tapi, belakangan dia muncul lagi. Entah apa yang membuatnya kembali mengejar Faiz.


"Kau nampak gelisah," kata Kiran yang memperhatikan Faiz selalu melirik ponselnya.


"Ah, iya. Maaf membuatmu tidak nyaman." Faiz menyimpan kembali benda itu di saku celananya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lagi


"Tidak sih. Aku hanya khawatir dengan Adikku." Saat itu raganya memang bersama Kiran. Tapi, pikirannya sedang berada di RTH tempat sang adik berolahraga.


Setelah puas menikmati suasana di area CFD, akhirnya Kiran minta diantar pulang.


"Kita pulang saja yuk, mataharinya sudah mulai panas," ajak Kiran


"Oh iya, tunggu sebentar." Faiz mengetik pesan di ponselnya. "Ayo," ujarnya setelah berhasil mengirim pesan.


Faiz bisa bernafas lega setelah mendapat informasi di grup familyspul bahwa adiknya telah sampai di rumah dengan selamat. Jelas saja, mana mungkin Faiz berani mengizinkan Uli keluar sendirian bila tidak ada yang mengawasi. Jika saja temannya tidak ada yang berolahraga di RTH, mungkin saat ini Uli sedang menangis di rumah atau Kiran yang kecewa karena pembatalan janji-atau kemungkinan terbesarnya mereka sedang jalan bertiga.


Wajah Kiran sudah mulai kusut, mungkin dia merasa terabaikan. Selama perjalanan pulang, Faiz mencoba menjelaskan. Tapi sepertinya mood wanita itu sudah terlanjur rusak. Faiz yang menyadari perubahan suasan hati Kiran, beberapa kali mengucapkan kata maaf walau Kiran terus memasang senyum dan berkata tidak apa-apa.


Sampai sebelum mereka berpisah, Faiz masih mengeluarkan kata maaf hingga Kiran betul-betul tersenyum ikhlas.


***


"Kenapa seperti ada yang memperhatikanku?" Uli mengedarkan pandangan sambil memegang tengkuknya. Tak ada yang mencurigakan, semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.


"Ah, mungkin cuma perasaanku saja," ujarnya lalu kembali berlari-lari kecil.


~Bersambung


---------------------------------------------


Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕

__ADS_1


__ADS_2