Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 33 Sadar


__ADS_3

Lama mereka berbincang tentang perasaan Faiz-yang entah sejak kapan mulai tumbuh. Namun, Tia tak kunjung sadarkan diri. Hani bahkan sudah terlelap dalam tenda gunung berwarna biru yang sebenarnya milik dua pria tampan itu. Sedangkan Leo, dia tetap setia di depan api unggun untuk memastikan sumber kehangatan itu tidak padam. Mau bagaimana lagi, tidak mungkin juga dia tidur satu tenda dengan Hani.


"Jangan terus-terusan dipandang." Leo sok tau. Dia berusaha mencari hiburan karena ditinggal seorang diri di luar tenda.


"Kenapa? Kau cemburu, kan? Dasar bucin! Baru juga dua hari pisah dari Ista." Sahut Faiz dari balik tenda dan masih terjaga dari tidurnya.


"Oh, hahaha awas kena karma. Sebentar lagi kau juga akan menjadi kaum bucin." Ejek Leo


"Sebenarnya ada hal yang membuatku risau." Nada Faiz berubah serius


"Apa?"


"Begitu banyak tanda tanya di kepalaku. Dia wanita yang sulit ditebak dan kepala batu." Faiz menghembuskan nafas


"Kau tau? Sekeras apapun batu akan lubang juga kalau terus ditetesi air." Leo mencoba menyemangati. "Aku yakin dia punya sisi lain yang kau belum ketahui. Jangan dipaksa apalagi dikerasi, ikuti dulu maunya. Lama kelamaan dia pasti akan luluh."


"Benar. Aku yakin ada yang dia sembunyikan. Kau tau? Di tengah jalan tadi dia tiba-tiba menangis bahkan sampai teriak. Aku tidak bertanya kenapa. Kubiarkan dia menangis agar perasaannya lega." Terang Faiz


"Bagaimana sikapnya padamu?" Faiz meminta pendapat Leo tentang cara Tia memperlakukannya.


"Dia baik dan sangat ramah," jawab Leo santai


"Nah, kan. Dia memang hanya cuek padaku. Pernah sekali aku meminta alasannya. Kau tau apa jawabannya?" Faiz


"Karena kau berkharisma?" Goda Leo


"Itu salah satunya hahaha." Faiz sejenak memuji dirinya lalu kembali menjawab serius "Katanya karena aku adalah pria dan aku mengetahuinya memakai jam tangan rusak." Faiz menceritakan awal mula dia bertemu Tia.


Setelah waktu menunjukkan lagi 25 menit pukul 04.00 akhirnya Tia sadarkan diri. Matanya terbuka perlahan-lahan. Dalam keadaan temaram wajah yang pertama kali dilihatnya adalah wajah Faiz.


"Syukurlah kau sudah sadar." Senyum Faiz merekah ketika Tia menunjukkan ciri-ciri siuman


"Leo, air panas... Cepat!" Titahnya


Dengan sigap Leo melaksanakan seruan itu.


"Jangan banyak gerak dulu." Faiz membantu Tia untuk duduk. Wanita itu nampak begitu lemah, belum punya kekuatan lebih untuk menolak bantuan Faiz.


"Minum dulu." Kata Leo sambil menyerahkan segelas susu coklat kepada Faiz.


"Terimakasih Leo." Ucap Tia pelan.


"Biar kubantu." Faiz terlihat begitu hati-hati membantu Tia menyeduh susu coklat buatan Leo itu. Seperti sudah terbiasa, Faiz tak lagi mempermasalahkan Tia yang tidak pernah berterimakasih padanya.


"Eemm mana Hani?" Tanya Tia mengedarkan pandangan yang masih terbatas oleh tenda


"Dia tertidur di tenda sebelah." Jawab Leo yang masih duduk di depan tenda.

__ADS_1


"Mau kemana?" Faiz mencegah Tia yang ingin keluar tenda.


"Aku ingin menghangatkan diri." Tia tetap bersikeras keluar dari tenda


"Baiklah." Faiz ikut keluar dari tenda, membantu Tia yang jalannya masih sempoyongan.


"Hati-hati Tia! Kalau kau jatuh ada yang dengan senang hati memelukmu." Leo seperti tidak bisa menahan dirinya untuk menggoda Faiz.


Tia menatap ke arah Faiz yang sedang membantunya melangkah menuju api unggun. Pria itu hanya mengedikkan bahunya pura-pura tidak paham dengan maksud ucapan Leo.


***


Subuh yang dingin menusuk tulang dengan langit yang masih gelap tanpa cahaya matahari, nampak beberapa penghuni tenda mulai mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak tertinggi gunung Kareng. Ya, apa lagi kalau bukan untuk mengejar sunrise.


Berbeda dengan para pendaki lain, Hani dan Leo masih asik tertidur di dalam tenda masing-masing. Sementara Faiz masih menemani Tia untuk menghangatkan diri di dekat api. Meski beberapa kali di suruh tidur tetapi pria itu tetap bersikeras untuk menemani Tia.


"Ini," -Faiz menyodorkan mie instan- "makan dulu."


"Keliatannya enak." Tia menelan ludah melihat mie kuah yang sudah diberi beberapa biji cabe dengan perasan jeruk nipis. Benar-benar menggugah selera apa lagi disantap pada saat atmosfer lagi dingin-dinginnya.


"Jangan malu-malu kucing. Kucing saja tidak malu-malu Tia." Meletakkan mie instan buatannya yang sejak tadi menggantung di udara karena Tia tak kunjung menerimanya.


"Ish, jangan samakan aku dengan kucing." Batinnya lalu menyantap pemberian Faiz dengan malu-malu.


Faiz tersenyum tipis melihat Tia yang melahap habis mie itu. Bahkan tak bersisa walau hanya kuahnya.


"Bawang putih, bawang merah. Nanti Hani bangun baru pipis." Tia mengucapkan mantra yang dipercaya bisa menahan rasa ingin buang air.


"Aduh... aku tidak kuat lagi. Bagaimana ini? Apa kubangunkan saja Hani? Tidak mungkin aku minta ditemani si Buldozer ini." Wajah Tia semakin memerah menahan pipis.


"Ada apa? Kau bilang saja."


"Mau minum?" Tanya Faiz lagi.


Tia menggeleng dengan cepat


"Apa?? Kau mau pipis?"


Tia mengangguk dengan ekspresi wajah tak karuan


"Haha astaga!!!" Spontan Faiz tertawa. Tingkah wanita itu berhasil membuatnya gemas.


"Kau pipis di sana saja." Menunjuk semak yang tak jauh dari belakang tenda dengan menggunakan cahaya headlamp.


"Aku mau di sungai." Ucapnya dengan nada merintih


"Jangan! Nanti kau hipo lagi. Pakai tisu basah saja, yah?" Bujuk Faiz berharap wanita kepala batu itu akan menurut.

__ADS_1


"Aahhh, tidak bisa. Aku mau air." Ekspresi Tia semakin tak terkontrol. Dia sudah ambil posisi berdiri dengan paha yang saling dijepit.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan air." Dengan Cepat Faiz berlari menuju sungai dengan membawa botol mineral ukuran 1,5 liter.


Begitu Faiz kembali, Tia sudah tak ada di tempatnya.


"Tiaaa."


"Kau di mana?" Pekik Faiz


"Aku di sini." Sahut Tia sambil memberi kode cahaya headlamp dari balik semak-tempat yang ditunjuk oleh Faiz tadi


"Berikan airnya." Titahnya


"A-ah iya... Baik." Balas Faiz lalu berjalan mendekat ke sumber suara


"Matikan sentermu!! Dasar mesum." Perintah Tia, khawatir kalau sampai Faiz melihat benda berharganya


"Iya...iya. Ish, siapa juga yang mau mengintip. Aku hanya takut tersandung karena gelap." Faiz memperlambat langkahnya karena kini dia hanya mengandalkan cahaya rembulan dan sedikit cahaya api yang tertutupi oleh tenda.


"Sekarang berjalan mundur." Titah Tia ketika Faiz hampir sampai ditempatnya.


"Iya..iya..." Faiz seperti digelitiki. Senyum aneh tergambar jelas di wajahnya.


"Stop di situ! Berikan botol airnya."


Faiz memberikan botol ke arah belakang tanpa menoleh. Dengan cepat langsung disambar oleh Tia.


"Kenapa masih berdiri di situ? Tunggu diusir?" Ucap Tia ketika celananya sudah terpasang dengan benar.


"Memangnya kenapa? Aku sudah melihatnya, kok." Ledek Faiz


"Ha? Apa? Aaaa sialan." Antara malu bercampur geram, Tia mengejar Faiz dengan botol mineral yang kini telah kosong.


Terjadilah aksi kejar-kejaran yang berujung dengan pemukulan menggunakan botol kosong ditambah dengan cubitan yang menghujani pipi Faiz.


"Hahaha.. ampun..ampun.." Masih terdengar tawa dari mulut Faiz. Karena Pukulan botol kosong tidak membuat Faiz merasakan apa-apa


"Kau bilang apa tadi?? Coba ulangi!!" Kali ini Tia menambah serangan dengan mencubit pipi pria itu sampai dia terduduk. Karena jaket tebal yang dikenakan Faiz membuatnya sulit untuk mencubit lengan kekar itu.


"A-aww.. iyaa ampun.. Aku bercanda.. Aku tidak melihat apa-apa.. Serius." Faiz mengangkat jari telunjuk dan tengahnya hingga membentuk huruf V.


"Srrreeeeeettt." Bunyi ritsleting pintu tenda dibuka


~Bersambung


---------------------------------------------

__ADS_1


Beri like dan vote yah, supaya author semangat menulis 💕 terimakasih 😊



__ADS_2