Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 30 Mendaki


__ADS_3

Setelah aksi konyol Faiz selama di atas motor, akhirnya mereka sampai juga di desa tempat gunung Kareng berada. Mereka menitipkan sepeda motor dan helm di rumah warga lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 tetapi panas matahari tak begitu menyengat. Suasana sejuk benar-benar terasa di kaki gunung Kareng. Setiap berhenti di satu pos, Hani tak pernah lupa mengabadikan momen kebersamaan mereka. Meskipun lensa kameranya tak pernah berhasil menangkap foto Faiz dan Tia berdua.


Mereka menyusuri jalan setapak dengan semangat 45 meskipun harus mendaki dan menurun. Bahkan mereka harus melewati beberapa bukit untuk bisa sampai di puncak Kareng. Faiz berjalan paling depan sebagai leader kemudian disusul Tia lalu Hani. Sedangkan Leo di barisan paling belakang sebagai sweeper. Faiz dan Leo yang memikul carrier ukuran 60 kg, mulai kelelahan setelah melewati 5 pos. Sementara Tia dan Hani yang membawa daypack juga mulai kesulitan mengatur nafas.


"Hei kau tidak lelah? Duduk dulu." Ucap Faiz ketika menyanderkan tubuhnya di batang pohon


"Akukan sudah bilang, aku tidak bisa duduk." Sahut Tia yang masih berdiri sedangkan yang lain sudah duduk untuk istrahat.


"Aku benar-benar tidak kuat lagi," ucap Hani lalu meneguk sisa air di botol miliknya


"Kau istrahat dulu Hani, aku akan berjalan dengan langkah kecil, kalian pasti cepat menyusulku," Tia


"Jangan jalan sendiri, duduk saja dulu." Leo


"Memangnya ada yang berani tanggung jawab kalau betisku berat trus susah jalan?" Tia memang punya kebiasaan jika sedang mendaki gunung harus terus berjalan. Karena sekali dia duduk maka sulit untuk berjalan lagi.


"Ini di tengah hutan, bahaya jika perempuan jalan sendiri." Leo mencoba menahan Tia.


"Maaf Leo, bukannya egois tapi serius aku nggak bisa duduk. Jangan terbebani yah, aku bisa jaga diri kok." Ucap Tia meyakinkan lalu berjalan meninggalkan rombongan.


"Kalian tenang saja, biar aku yang dampingi Tia. Bisa lebih repot kalau dia ikut duduk trus nanti minta di gendong." Akhirnya Faiz berdiri lalu menyusul Tia yang sudah hilang dari pandangan mata.


"Faiz, semangat. Ini kesempatan yang bagus. Kau pasti bisa.!!!" Hani memberi semangat.


Begitu Faiz berlalu, Leo mulai mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi menari-nari di kepalanya.


"Ada apa dengan mereka berdua?" Leo


"Ada cinta hahaha," Hani tertawa geli


"Aku serius. Kenapa tingkah mereka aneh?" Leo menatap lurus ke arah Tia


"Mmmm aku juga tidak tau sih awalnya bagaimana. Aku menemukan mereka sudah seperti itu. Tia alergi dekat Faiz, dan Faiz suka kalau Tia alergi. Kau belum lihat saja bagaimana lucunya jika mereka bertengkar." Hani bercerita sambil tersenyum membayangkan tingkah dua sejoli itu.


"Benarkah?" Leo terus menggali informasi tentang Faiz dan Tia. Bahkan ketika mereka mulai melanjutkan perjalanan, topik permbahasan mereka masih seputar Faiz dan Tia.

__ADS_1


***


Tia terus berjalan menelusuri jalan setapak dengan langkah kecil. Tak butuh waktu lama Faiz berhasil menyusul wanita itu.


"Perasaan apa ini?" Tia memegang tengkuknya. Mengedarkan pandangan ke segala arah. Dia memberanikan diri dengan terus melangkahkan kakinya. Tiba-tiba terdengar bunyi ranting terinjak, spontan ucapan Leo terlintas di kepalanya. Akhirnya Tia lari terbirit-birit, tanpa menoleh ke belakang.


"Hei tunggu!!" Faiz berteriak ketika Tia berlari kencang. "Bisa bahaya jika dia berlari seperti itu."


Tia yang sudah terlanjur takut seolah bisa mendengar detak jantungnya. Otaknya berusaha mencerna suara orang yang sedang mengejarnya namun kakinya terus dipacu untuk berlari.


"Awaaasss." Teriak Faiz ketika Tia terus mengencangkan larinya di jalanan yang sedikit curam.


"Faiz?" Batin Tia setelah berhasil mengenali suara itu. Namun, kakinya terlanjur berlari kencang pada lereng yang curam hingga sulit untuk di kontrol.


Faiz terus berlari hingga berhasil menahan tubuh Tia. Namun, naas, mereka terjatuh.


"Aaaaaa." Jerit keduanya. Kini mereka terguling-guling di lereng yang curam.


"Maaf." Batin Faiz. Dia mendekap erat tubuh mungil itu. Menutupi kepala Tia dengan tangan agar tidak terbentur selama mereka terguling-guling di lereng curam itu.


"Kenapa?" Tia bergumam namun suara itu bisa didengar oleh Faiz karena posisi mereka benar-benar dekat. Bahkan Faiz seperti bisa mendengar detak jantung wanita yang sedang didekapnya.


Tia menggerakkan tubuhnya untuk segera bangkit dari posisi yang tidak lazim itu. Namun, Faiz seperti tidak ingin melepaskan pelukannya.


"Lepaskan!" Tia mulai memberontak


"Apanya yang kenapa?" Tanya Faiz


"Apa maksudmu?" Tia terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Faiz.


"Aku mendengarnya." Faiz merubah posisinya, dia sedikit terganggu karena gerakan Tia di atas tubuhnya.


"Katakan! Apanya yang kenapa?" Lanjut Faiz. Kini tubuh kekarnya yang ada di atas Tia.


Mereka bersitatap.


Deg.

__ADS_1


Deg..


Deg...


Debaran kali ini berbeda dari yang sebelumnya. Tatapan mata yang hanya beberapa detik itu berhasil membuat wajah keduanya memerah.


"Cekrek... Cekrek...." Bunyi kamera Hani membuat keduanya kembali ke alam sadar


Faiz dan Tia bergegas bangkit. Namun,


"Aawww." Kepala mereka justru berbenturan karena salah tingkah.


"Aaaa kau lihatkan? Mereka manis sekali." Hani tersenyum bangga karena berhasil menangkap kemesraan Faiz dan Tia.


Leo hanya mengangguk tak percaya.


"Mungkinkah dia wanita yang Faiz ceritakan dulu?"


"Kalian baik-baik saja?" Teriak Hani yang masih di atas lereng. Yang dilempari pertanyaan hanya diam membisu.


Dengan hati-hati Leo dan Hani menuruni lereng curam yang memiliki panjang sekitar 30 meter itu. Posisi mereka kini berada di dekat anak sungai, artinya 1 pos lagi sudah terlewati. Karena setiap pos memang dibatasi oleh anak sungai.


Setelah memastikan Faiz dan Tia tidak mengalami luka serius, Hanipun menghilangkan dahaga dengan air yang diambil langsung dari sumber mata air pegunungan. Dan tak lupa mengisi botolnya yang sudah kosong sebagai persediaan menuju pos tempat mereka akan mendirikan tenda.


Hampir 30 menit mereka beristrahat di pos 7. Begitu mereka akan melanjutkan perjalanan, ternyata Tia benar-benar mengalami masalah. Betisnya teras berat, dia kesulitan untuk berjalan. Alhasil, baru 10 langkah kakinya bergerak dia berhenti lagi untuk istrahat.


"Guys kalau begini terus, kita bisa kemalaman di jalan." Leo mulai khawatir karena hari mulai sore.


"Maaf yah, gara-gara aku kalian haru-" Tia merasa tidak enak karena dia menghambat perjalanan yang lain.


"Tidak apa-apa. Leo, kau jalan saja duluan supaya bisa pasang tenda sebelum gelap." Faiz menjawab sebelum Tia selesai bicara.


Leo mengangguk mantap. Sementara Hani, memilih untuk ikut bersama Leo dengan alasan dia ingin membantu Leo memasang tenda. Tia tidak mungkin menahan Hani, dia tidak boleh egois. "Hani pasti ingin mencari kesempatan untuk berdua dengan Leo". Begitu pikirnya


Dengan berat hati, Tia harus menerima kenyataan bahwa dia akan berdua lagi dengan Faiz sepanjang jalan menuju tempat camp.


~ Bersambung

__ADS_1


---------------------------------------------


Jangan lupa like dan votenya agar author tetap semangat 💕


__ADS_2