
Bagaimana rasanya absen masuk kuliah? bagi mahasiswa semester tua tentu bukan hal yang patut dipusingkan. Namun, jelas berbeda dengan mahasiswa baru. Bau-bau SMA rasanya masih terbawa sehingga perasaan gelisah akan menghampiri apalagi bagi mereka yang tidak pernah membangkang selama duduk di bangku SMA.
Itulah hal yang dirasakan Tia saat Faiz mulai menuntun kendaraannya meninggalkan parkiran kampus. Tubuhnya sudah berada di atas motor namun pikirannya masih tertinggal di depan ruangan kuliah FF 103.
Sekilas wajah sang bunda terbayang "maafkan aku bunda, semoga ini pertama dan terakhir kalinya aku absen saat ada kelas" Tia bergumam dalam hati, berusaha membuang jauh perasaan sesal dan bersalah yang sejak tadi meraung-raung.
Berbeda jauh dengan Faiz, dia justru terlihat santai bahkan bersiul sepanjang jalan.
"Kau tau tidak, kenapa banyak orang kecelakaan di jalan tol terpanjang di kota Boiland?" akhirnya Faiz buka suara juga setelah bosan melihat ekspresi wajah Tia yang ditekuk melalui kaca spion.
Mata mereka bertemu berkat perantara kaca spion. Mulut Tia masih terkunci rapat, hanya tatapan tak bersahabat yang dilayangkannya.
"Karena jalannya hanya lurus mulus bikin ngantuk. Sama halnya dengan manusia, kalau hidupnya hanya lurus mulus pasti cepat mati" Faiz melanjutkan, "artinya untuk memperpanjang hidupmu, kau harus sesekali keluar dari garis lurus. Absen saat mata kuliah adalah langkah kecilnya" ucap Faiz sambil memainkan alis kanannya.
Lagi-lagi Tia hanya diam mematung, kali ini dengan ekspresi wajah datar.
"Aku tidak akan membuatmu melukai harga diriku lagi. Jangan sebut aku Faiz jika tidak mampu membuat bibirmu bergerak" gumam Faiz dengan semangat yang sudah tersulut.
Dia mulai menjalankan aksinya, menikung ke kiri tepat di perempatan lampu merah. Tia masih belum bereaksi, Faizpun semakin terpancing. Kali ini dia memacu motornya dengan kecepatan maksimal dan menikung tajam di setiap belokan jalan.
"Pelankan motormu atau kucubit kau tanpa ampun!" sekali Tia membuka mulut kalimat yang terucap justru sebuah ancaman.
"Bodoh amat, paling juga dia akan memelukku seperti waktu itu," pikir Faiz.
Setiap satu tikungan, bernilai satu cubitan. Semakin banyak pembelokan yang mereka lewati, semakin banyak pula cubitan yang diterima punggung Faiz. "Aaaaaaaaaa" Teriakan keduanya mengudara lalu hilang terbawa angin "dimabuk cinta" begitulah komentar anak remaja yang melihat tingkah mereka.
Setelah melewati beberapa pembelokan akhirnya Faiz menghentikan motornya.
"Mana tokonya?" Tia mengedarkan pandangannya
"Tunggu sebentar." Faiz sibuk mengetik pesan di ponselnya.
Akibat hilang fokus di atas motor, kini mereka juga hilang arah di tengah kota. Meskipun Faiz putra asli kota Boiland, tetapi dia termasuk pria yang tidak suka menelusuri jalanan tanpa ada tujuan jelas. Sehingga ada beberapa titik yang tidak dikuasainya karena hanya sesekali ia datangi.
"Tersesat di kampung sendiri" memang memalukan tapi begitulah faktanya.
Faiz mendapat pesan berisi alamat yang dimintanya di grup familyspul. Grup yang terdiri dari alumni kelas A SMA 10 Boiland itu sudah seperti 112. Jika ada hal darurat, meminta bantuan di grup familyspul memang menjadi solusi cerdas.
"kenapa kau turun? tokonya bukan di sebelah sini. Cepat naik!" titah Faiz
"Biar aku yang bawa motor, turun cepat!" Tia ingin menggantikan posisi Faiz
"Masa aku dibonceng sama cewek? tidak mau!"
"Kalau begitu pelankan motormu," pinta Tia
"Hahaha baiklah..baiklah." Tawa Faiz membuat tangan Tia gatal untuk memukul kepala pria yang ada di hadapannya itu. Meskipun menggunakan helm tapi pukulan itu berhasil membuat Faiz meng-aduh.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan untuk membeli alat laboratorium yang pecah akibat tingkah konyol mereka.
"Ddrrtt.. ddrrttt" video call masuk dari Uli
"*Ha*llo kak Aiz dimana? jadi jemputkan? aku sudah jamuran menunggu." Uli memperlihatkan wajah cemberut
"Iya sabar, aku sudah menghubungi Leo untuk menjemputmu. Aku sedang ada urusan di luar."
"Itu siapa kak?" tanya Uli ketika melihat Tia berada di dekat Faiz
"*E*h gimana..gimana? ada peningkatan tidak?" sambung Uli. Air mukanya langsung berubah ketika teringat dengan tulisan yang tadi pagi ia terjemahkan
"Kau bicara apa Uceng?" Faiz bertanya balik
__ADS_1
"*K*apan-kapan ajak ke rumah yah. Bersenang-senanglah kakak Fajeee." Tia melambaikan tangannya lalu menutup telfon dengan cepat.
"Sudah selesaikan? ayo cari barangnya lalu pulang" Tia menarik lengan baju Faiz untuk segera masuk ke toko perlengkapan
***
~Beberapa saat setelah Uli menutup telfonnya~
"Sekarang kak Aiz sedang kencan. Jadi kuingatkan untuk berhenti mengejarnya. Biarkan dia bahagia dengan kekasih barunya." Pesan Uli dikirim kepada Khume lengkap dengan hasil screen shoot yang diambilnya ketika menelfon kakaknya tadi.
"Uli kita sama-sama wanita, kau tau betapa besar cinta Aiz kepadaku. Apa kau mau wanita itu sakit hati ketika tau bahwa Aiz hanya menjadikannya sebagai pelarian?" balas Khume
"*P*elarian apanya? sadarlah kak Khume, kalian putus sudah 10 bulan. Dan lagi, aku tidak akan membiarkan kak Aiz bersama dengan wanita jahat sepertimu." Uli membalas dengan pedas
"*S*ampai kapanpun, cinta Aiz hanya untukku," balas Khume dengan penuh percaya diri
"Aku tau dimana foto ini diambil," gumam Khume menatap lekat latar foto yang dikirim Uli.
***
Bunyi kendaraan memasuki halaman rumah. Segera Uli menyambutnya dengan wajah berseri-seri. Sejak tadi dia memang sudah tidak sabar menanti kedatangan sang kakak
"Ciee yang habis kencan" sambut Uli di depan pintu
"Eh? habis kencan kenapa wajahnya kusut?" lanjutnya
"Jangan bilang kakak ditolak? atau kehilangan momen untuk menyatakan perasaan?" goda Uli.
Masih tak mendapat respon. "Ih kak Aiz tunggu" Uli berlari kecil mengejar Faiz yang terus berjalan menuju kamarnya
Atmosfer aneh yang bisa dirasakan Uli membuatnya sejenak terdiam lalu duduk manis di kursi belajar. Faiz meletakan tas dan membuka jaket yang melekat pada tubuhnya.
Terdengar hela nafas panjang dari pria yang kini duduk di tepi ranjang.
"Uli, apa aku kejam?" tanya Faiz serius sambil membuka sepatunya
"Siapa yang bilang kak Aiz kejam? kalau tegas, iya," jawab Uli.
"*Ya*h, walau kadang menyebalkan," sambungnya dalam hati
"Apa yang akan kau lakukan untuk membuat orang membencimu?" kini Faiz merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk
"Tentu saja membuatnya kesal dengan melakukan semua hal yang tidak disukainya," balas Uli sambil membuka toples kue yang ada di meja belajar Faiz
"*Cu*kup perlihatkan saja sikap kakak yang selalu bertingkah semaunya," gumam-gumam dalam hati Uli
"Apa hal yang paling tidak disukai oleh wanita?" Faiz masih menatap langit-langit kamarnya
"Mengatainya gemuk, merusak alat kecantikannya, menjadikannya nomor dua setelah game, eemmm apa lagi yah?" berpikir sambil terus menguyah.
"*D*an mengambil makanannya dalam kulkas tanpa izin" Uli ingin sekali mengatakannya agar Faiz menghilangkan kebiasaannya itu tapi ia tak mungkin mengatakannya dalam situasi seperti ini.
"Memangnya ada apa sih kak?" Uli mulai duduk di samping kakaknya yang masih terbaring. Faizpun mulai menceritakan kejadian tadi siang
***
Faiz dan Tia baru saja keluar dari toko peralatan laboratorium. Tiba-tiba seseorang memeluk Faiz dari belakang
"Aku sangat merindukanmu," ucap wanita itu
"Siapa sih, hei lepaskan." Faiz melepaskan tangan yang sudah memeluknya dengan erat
__ADS_1
"Ah kau lagi. Tidak bosan-bosannya menggangguku," ucapnya lesu ketika mengetahui siapa wanita yang ada dibalik punggung lebarnya itu
"Aiz aku benar-benar menyesal. Aku masih sangat, sangat mencintaimu," ucap Khume sambil memegang tangan Faiz
"Maaf tapi aku tidak." Faiz menepis tangan Khume.
"Bahkan sedikitpun perasaanku sudah tidak ada" sambungnya sambil memalingkan wajah
"Jangan membohongi perasaanmu. Dulu kau bilang aku adalah wanita yang paling kau cintai, tidak akan ada yang sepertiku, tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk wanita lain, tidak ada lagi-- " matanya mulai memerah
"Iyaah!! Dulu aku memang mengatakan semua hal itu dan aku selalu berusaha untuk membuktikannya. Tapi semuanya lenyap dalam sekejap ketika kau ucapkan di telingaku penyesalan telah memilihku." Faiz mulai terpancing
"Saat itu aku terbawa emosi. Aku benar-benar tidak bisa mengontrol ucapanku." Cairan bening di sudut mata Khume mulai mengalir membasahi pipinya yang mulus
"Ucapan mana yang ingin kau kontrol hah?
satu hal yang harus kau tau, ketika seseorang dalam keadaan marah lalu dia mengungkapkan sesuatu maka ungkapan itu adalah kebenaran yang selama ini dipendam dalam hatinya, jadi semua yang kau ucapkan saat itu adalah kebenaran.... kebenaran bahwa kau telah menyesal memilihku." Emosi Faiz meluap-luap
"Aku tidak bermaksud begitu. Apa yang membuat dirimu lupa dengan semua kenangan indah yang sudah kita ukir? kau memang hanya pandai bicara. mana semua janji-janji manismu dulu?" air mata Khume pecah, tak bisa dibendung lagi
"Hah, kenangan??? semakin kau mengungkit masa lalu, yang terbayang justru semua kenangan pahit yang membuatku semakin membencimu." Faiz menarik tangan Tia yang sedari tadi mematung untuk berjalan meninggalkan tempat itu. Namun, Khume langsung berlutut dan menahan kaki Faiz
"Kumohon Aiz, sikapmu ini benar-benar menyakitiku." Khume larut dalam sedihnya, tak peduli dengan kehadiran Tia apa lagi dengan mata orang-orang sekitar yang tertuju padanya
"Kau bilang sakit? Hatiku lebih sakit jika harus mengingat perkataanmu waktu itu." Faiz bahkan tak menoleh kearah Khume
"Belum cukupkah semua hukuman yang kau berikan padaku?" tangisnya semakin keras
"Sampai hari ini aku tidak pernah menghukum dirimu tapi aku hanya perlihatkan kepadamu arti penyesalan yang sesungguhnya."
Mendengar jawaban Faiz, Khume seperti kehilangan tenaga, lingkaran tangannya yang erat kini menjadi kendor. Matanya hanya bisa melihat Faiz yang berjalan menjauh tanpa menoleh sedikitpun.
***
Begitulah kejadian tadi siang yang diceritakan oleh Faiz kepada Uli. Kedua terlihat begitu akur, bercerita hingga lupa waktu.
"Santai saja kak, pokoknya apa yang kak Aiz lakukan kali ini sudah benar." Uli menepuk-nepuk pundak Faiz
"Sudahlah jangan merasa bersalah, dia memang pantas mendapatkannya," sambungnya lagi.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Faiz heran melihat Uli yang tiba-tiba memandanginya dengan aneh
"Eemmm sebenarnya apa sih kelebihan kakakku ini sampai-sampai wanita seperti kak Khume tergila-gila?" Uli memegang dagunya sambil menatap lekat Faiz
"Ya iyalah, wanita mana yang tidak suka padaku," jawaban sok mulai keluar dari mulutnya
"idiih, jangan-jangan kak Khume buta. Bisa-bisanya dia berlutut di hadapan pria menyebalkan sepertimu." Uli tertawa mengejek
"Hadehh bilang saja kau sirik, wajahmu kan jelek," Faiz balik mengejek
"Sini, biar kubagikan sedikit karismaku padamu" Faiz menjepit tangannya dibawah ketiak
"Aaaaa aku tidak butuh." Uli segera menghindar sebelum Faiz mengusapkan tangannya yang dijepit di bawah ketiak ke wajah Uli.
"Ibuuu penyakit kak Aiz kambuh karena galau." Uli berlari kecil meninggalkan kamar Faiz.
"Hahahah." Tawa Faiz keras terdengar sampai keluar kamar. Sepertinya Uli berhasil mengusir rasa gusar di hati sang kakak
~bersambung
---------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕