Penambang Batu

Penambang Batu
Eps 16 Tanda Merah


__ADS_3

Setelah gagal menjalankan ritual membagikan karisma melalui bau ketiak, kini Faiz bangun dari tidurnya untuk menghilangkan rasa lengket di tubuhnya sekaligus menyegarkan pikirannya yang sempat kusut karena pengalaman buruk bertemu mantan.


"Cruuuusssh." Sekujur tubuhnya mulai basah. Lama ia terdiam di bawah kucuran air namun pikirannya sudah melanglang buana sejak tadi.


Cara apalagi yang harus ia lakukan untuk mengusir sosok mantan yang terus menghantuinya? semuanya sudah dia lakukan mulai dari bicara lembut sampai kasar, semua akun media sosialnya diblokir, bahkan sempat dia memaki wanita itu tapi hasilnya nihil, Khume tetap kekeh mengejarnya. Memukul adalah hal yang tak mungkin ia lakukan. Bukan karena masih tersisa rasa cinta di hatinya, namun lebih kepada prinsip yang ditanamkan oleh bapaknya "pria sejati tidak memukul wanita"


Mungkin sudah saatnya dia menerima tawaran Leo "tidak ada salahnya dicoba" pikir Faiz. Setelah memantapkan hati, barulah ia bisa mandi dengan normal seperti biasa.


Ketika keluar dari kamar mandi, benda pertama yang dicarinya adalah alat komunikasi untuk menghubungi Leo.


"*H*allo, ada apa bro?" suara Leo dari seberang


"*M*engenai tawaran gilamu yang tempo lalu, aku setuju." Faiz menjawab tanpa ragu


"*E*h? kenapa tiba-tiba? setan apa yang merasukimu?" Leo mengejek. Wajar saja dia heran, kenapa tidak dari dulu saja. Padahal banyak teman-temannya yang sudah menawarinya untuk berkenalan dengan wanita-wanita yang tidak kalah cantik dari Khume. Namun, jangankan setuju sekedar melirik fotonya saja dia enggan.


"*Po*koknya kenalkan saja! Ada tidak?" jawabnya singkat


"Kalau untuk kau pasti ada dong. Mau sama siapa? Siska, Alea, Kiran, Mei atau..." Leo menyebutkan semua nama wanita yang pernah dia tawarkan pada Faiz.


"*T*erserah kau saja, asal bukan pacarmu." Faiz tersenyum tipis


"*H*ahaha kalau begitu dengan Khume saja?" Leo membalas


"*B*uat memang surat wasiat, kemungkinan besok kau akan dikirim ke neraka." Faiz tertawa, dia tau Leo sedang mengerjainya


"*H*ahaha santai bro. baiklah nanti aku kabari waktu dan tempatnya, kau tinggal bawa diri saja." Leo kembali serius


"*O*k. Aku percayakan sepenuhnya padamu." Faizpun menutup telfonnya.Tanpa banyak bicara, dia yakin bahwa Leo tidak mungkin mengecewakannya. Dia pasti akan dikenalkan dengan wanita pilihan, bukan asal-asalan.


Masih dengan balutan handuk di pinggangnya, kini Faiz berdiri di depan cermin memainkan rambutnya dengan tangan hingga bekas luka di sikunya terlihat


"Ah wanita itu." Dia memperhatikan sikunya


"Bukannya meninggalkan kesan baik, dia justru meninggalkan banyak bekas di tubuhku." Kini Faiz membalikkan badan hingga bekas merah tanda cubitan Tia nampak di cermin


"Astaga.. banyak sekali, apa dia benar-benar setakut itu dengan tikungan?" Faiz terheran-heran


Tak lama Uli datang dan mengetuk pintu kamar Faiz

__ADS_1


"Kak Aaaiizz." Menyebut nama Faiz dengan nada seperti anak kecil lalu membuka pintu ketika mendapat jawaban dari dalam


"Kenapa Uceng?" masih berdiri di depan cermin


"Kakak dari tadi ditunggu di meja ma--" ucapannya terhenti, matanya terbelalak melihat punggung Faiz


"Haaa... Ya ampun, punggung kak Aiz kenapa merah-merah begini? gatal, nyamuk atau" -Uli mendekat memastikan- "tapi tidak bengkak." Dia meraba punggung Faiz


"Heh Ucang, bukan apa-apa." Faiz mendorong kepala Uli yang sudah mendekat dengan telapak tangannya


"Apa wanita yang bersamamu tadi siang yang melakukannya?" Uli penasaran. "Dia kejam juga yah," lanjutnya


"Iya, bahkan lebih dari itu," jawab Faiz


"Benarkah? Jangan-jangan kak Aiz yang nakal?" Uli mulai lupa tujuannya datang ke kamar Faiz


"Iya sih. Aku sedikit mengerjainya, tapi dia yang mulai." Faiz meraih kaos oblong dari dalam lemari


"Wah dia agresif sekali, sampai-sampai bekas gigitannya sebanyak itu." Uli mengeleng-gelengkan kepala tanda tak percaya


"Astaga, bocah. Apa maksudmu? kau sedang bicara apa hah?" Faiz terlonjak mendengar ucapan Uli


"Siapa yang bermesraan? sejak kapan pikiranmu jadi kotor? keluar sana!!" Faiz memaksa Uli keluar


"Ayolah kak akui saja, jangan malu-malu. Akukan adikmu." Uli masih menggoda Faiz


"Satu.. dua.." kode ancaman dari Faiz


"Hahaha baiklah, baiklah.. Aku keluar. Cepat turun yah, ditunggu di meja makan. Segeraaa!" Uli keluar dengan senyum yang penuh makna


"Ya ampun, punya adik perempuan satu saja ribetnya minta ampun" Faiz menggeleng tak percaya dengan semua ucapan adiknya barusan.


Setelah seluruh pakaian melekat di tubuhnya, diapun segera turun menuju meja makan untuk memenuhi panggilan adiknya tadi.


***


Kopi susu hangat hampir setengah habis namun halaman laporan Tia masih nampak kosong padahal sudah 1 jam lebih dia duduk di depan laptop. Kejadian tadi siang di toko peralatan laboratorium masih melayang-layang di kepalanya.


Dia masih tak habis pikir Khume yang memiliki paras cantik, tubuh indah, dan gaya modis bisa berlutut mengemis cinta seorang lelaki. Tak bisa dipungkiri bahwa Faiz memang pria yang memiliki wajah tampan dengan karisma kuat yang membuatnya berbeda dari pria kebanyakan. Namun, sekeras apapun dia berpikir logikanya masih tak bisa menerima kenyataan bahwa seorang gadis cantik mengemis cinta, memangnya harga dirinya dimana? sebagai wanita, Tia merasa malu dengan sikap Khume tadi siang.

__ADS_1


Tia memang tidak pernah pacaran sebelumnya, jelas bukan karena dia tidak laku tapi dia sendiri yang tidak mengizinkan seorangpun untuk memasuki hidupnya.


Selama ini tak pernah ada satupun pria yang berhasil mengajaknya untuk berpacaran, apalagi sampai membuatnya bertekuk lutut.


Masih segar diingatannya bagaimana Faiz menolak Khume waktu di RTH tempo lalu. Sekarang dia datang dan memohon lagi dengan cara yang lebih menyedihkan. Bagaimana bisa dia seteguh itu memperjuangkan cintanya? bukan, tapi bagaimana bisa dia sebodoh itu berkiblat pada janji manis lelaki?


"Katanya wanita adalah racun dunia, padahal faktanya prialah sang peramunya.


Katanya cinta itu indah, padahal faktanya cintalah yang menghadirkan tangis.


ah, itukan cuma katanya. Sudahlah, persetan dengan cinta lelaki. Akupun tak ingin menjadi budaknya"


Setelah berhasil menyingkirkan hal yang sedari tadi mengganggu kosentrasinya, akhirnya Tia memutuskan untuk menonton anime andalannya


"pokoknya janji satu episode saja, tidak boleh lebih" Tia mengepalkan tangan, membuat komitmen dengan dirinya sendiri. Namun, setelah 30 menit


"okey ini yang terakhir, satu episode lagi" begitu seterusnya sampai ia tertidur di depan laptop hingga pagi.


Matahari mulai meninggi, cahayanya yang masuk melalui celah jendela kamar menghangatkan pipi Tia hingga ia terbangun.


Untung saja hari ini adalah tanggal merah, Tia bangkit dari kursi belajar menuju kasur empuknya. Benar-benar waktu yang cocok untuk melanjutkan tidur bukan?


Baru saja Tia menarik selimutnya, tamu yang tak diduga datang


"Tok.tok.tok" pintu kamarnya di ketuk dengan lembut


"Astagaaaa!! siapa yang menggangguku sepagi ini" keluhnya, padahal waktu sudah menunjukkan hampir pukul 09.00.


Tia kembali memejamkan matanya berusaha mengabaikan tamu yang tak diundang itu. Namun, pintunya kembali di ketuk


"Iya tunggu sebentar" sahutnya pasrah dan akhirnya bangkit dari tempat tidur.


"Siapa sih" masih lengkap dengan baju tidur, setengah sadar dia membuka pintu dan menyambut tamunya dengan wajah bantal.


Matanya menyipit ketika cahaya matahari masuk dari celah pintu yang dibukanya perlahan.


~bersambung


---------------------------------------------

__ADS_1


Jangan lupa tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕


__ADS_2