
Setelah kesepakatan tercapai Hani dan Tia segera menuju sungai yang tak jauh dari tenda mereka dipasang. Sementara, Faiz dan Leo menambah persediaan kayu bakar untuk api unggun karena sepertinya malam akan panjang.
“Kenapa kau tidak pernah cerita soal Tia?” Kata Leo sambil memperbaiki api unggun.
“Apa bagusnya membahas dia?” Sahut Faiz
“Dia salah satu alasan kau sulit mencintai Kiran, kan?” Leo menatap lurus ke arah Faiz
“Jangan ngelantur bro.” Faiz
“Jangan terlambat menyadari perasaanmu,” -menepuk pundak Faiz- “jangan sampai kau dilambung orang lain.” Leo mengecilkan suaranya ketika Tia dan Hani sudah kembali dari sungai.
“Akhirnya datang juga. Yo... yo... kita mulai.” Sambut Leo sambil menepuk tangan untuk membakar semangat teman-teman yang lain.
Ketika semua sudah bersiap di lingkaran api unggun, Leo mulai menjelaskan aturan main.
“Masing-masing kertas ini bertuliskan nama kita.” Menunjukkan empat buah gulungan kertas.
“Nama siapapun yang keluar berarti dialah yang dapat giliran.” Leo memberi contoh dengan mengocok kertas yang ada di dalam gelas mineral lalu mengeluarkan satu gulungan kertas dengan random.
“Ok deh. Ayo mulai.” Hani sudah tidak sabar ingin melemparkan sejuta pertanyaan pada Faiz dan Tia
“Tunggu dulu!” Tia ingin mengajukan aturan tambahan. “Biar semua dapat bagian maka pertanyaannya harus dibatasi.”
“Satu orang tiga pertanyaan.” Faiz ikut berkomentar
Hani dan Leo terlihat sepakat-sepakat saja.
“Itu terlalu banyak,” protes Tia. “3 x 3 berarti ada 9 pertanyaan yang harus dijawab dalam sekali kocok nama.”
“Kalau begitu 1 orang 1 pertanyaan.” Faiz mengajukan lagi.
“Terlalu sedikit Faiz.” Hani menolak tawaran Faiz
“Solusi... solusi....” Desak Leo ketika forum mulai adu pendapat
“Cukup 2 pertanyaan untuk 1 kali giliran.” Tia mencoba memberi solusi
Hani mengernyitkan dahi “maksudnya?”
“Misalnya yang dapat giliran adalah Hani berarti Aku, Leo dan Faiz akan mendiskusikan dua pertanyaan yang akan diajukan. Namun, jika pilihannya adalah dare maka hanya ada satu tantangan yang diberikan.” Jelas Tia.
Leo yang orangnya tidak suka ribet langsung mengangguk setuju. Sementara Faiz, terpaksa setuju karena dia tau persis karakter Tia jika sedang mempertahankan argumentnya. Bisa-bisa Permainan tidak akan dimulai sampai pagi.
“Hani, kali ini kau harus setuju denganku.” Bisik Tia.
“Iya... iyaa baiklah.” Dengan terpaksa Hani menyetujui keinginan Tia.
Karena tidak ada lagi perdebatan, Leo segera mengocok gelas mineral lalu mengeluarkan satu gulungan kertas secara random.
Deg.
Deg..
Deg...
__ADS_1
Perasaan gugup menghampiri ketika Leo mulai membuka gulungan kertas yang baru saja keluar. Mereka beradu kekuatan do’a dalam hati
“Ekheemm.” Leo sengaja untuk mendramatisir keadaan.
“Tia-” ucap Leo setelah membuat yang lain menunggu beberapa saat
Tia langsung terlihat panik mendengar perkataan Leo
“Ternyata bukan namamu yang keluar tapi nama Faiz,” lanjut Leo yang masih menjadi pusat perhatian.
“Tidak masalah. Aku pilih truth.” Dengan cepat Faiz menentukan pilihan bahkan sebelum Leo menawarinya pilihan.
“Pertanyaan pertama adalah berapa jumlah mantanmu dan pernahkah kau selingkuh?” Tanya Hani. Dia mewakili Leo dan Tia untuk menyampaikan hasil rembukan mereka.
“Apa-apaan ini! Pertanyaan pertama tapi kalian menanyakan dua hal.” Protes Faiz
“Itu masih satu pertanyaan kok, jawab saja dengan jujur.” Hani berucap sambil tertawa
“Haha kalian benar-benar curang.” Faiz lalu menjawab agar tidak memperpanjang perdebatan
“Mantanku... tujuh kalo tidak salah ingat. Trus kalau masalah selingkuh sampai dengan detik ini aku tidak pernah melakukannya.”
“Awas dimakan sumpah.” Sindir Tia seolah tak percaya bahwa Faiz bukan tukang selingkuh.
“Kalau tidak percaya tanya saja pada Leo. Aku benar-benar jujur. Selingkuh itu perbuatan merendahkan diri. Dan bagiku, tidak ada ampunan untuk pasangan yang selingkuh.” Terang Faiz
“Ok.ok. Langsung ke pertanyaan kedua.” Leo menengahi
“Pertanyaan kedua adalah siapa wanita yang sedang dekat denganmu?” Hani mewakili yang lain
Entah kenapa wajah Tia memerah mendengar jawaban Faiz. Sementara Leo dan Hani menganga karena terkejut.
“Kenapa? Benarkan? Yang duduk paling dekat denganku saat ini adalah Tia.” Faiz memperjelas posisi duduk mereka, dimana Faiz memang berada diantara Leo dan Tia
“Syukurlah.” Kalimat itu keluar begitu saja. Dengan cepat Tia membekap mulutnya
“Kau takut Faiz menyukaimu?” Leo menatap Tia dengan serius. Pertanyaan itu seperti anak panah yang tepat mengenai sasaran.
Ada ruang di sudut hati lain yang belum mampu bicara. “Di-a kan pria-“ Ucapan Tia terpotong
“Eeee giliranku selesaikan? Ayo kocok lagi nama-namanya.” Faiz mengalihkan pembicaraan. Entah kenapa dia seperti tidak ingin mendengar alasan Tia.
Sesaat keheningan menghampiri mereka. Dengan cepat Leo mengocok gulungan kertas tersebut untuk mengembalikan suasana seperti semula.
“Ok, berikutnya adalah Tia.” Leo membaca gulungan kertas yang terpilih. “Jadi pilih truth or dare?” sambungnya
“Dare,” jawab Tia tanpa ragu
“Kau serius? Lebih baik truth saja.” Rayu Hani
“Kau tidak mungkin bisa melakukan tantangan dari kami.” Faiz
“Katakan saja apa tantangannya?” Tia.
Para pemberi tantangan mulai berembuk. Mereka memilih tantangan yang akan membuat Tia mengurungkan niatnya lalu memilih untuk jujur saja.
__ADS_1
“Tantangannya adalah berendam di air sungai.” Faiz menyampaikan hasil diskusi mereka
“Baik.” Jawab Tia meski terlihat keraguan di sudut matanya
“Kau gila? Ini jam 2 subuh. Dekat api saja kita masih merasakan dingin apa lagi-“ Faiz berusaha meruntuhkan keteguhan hati Tia. Namun, belum selesai Faiz bicara wanita itu langsung beranjak dari tempatnya.
“Tia, jujur saja kenapa sih? Ini bahaya tau.” Bujuk Hani sambil mengikuti Tia yang terus berjalan ke arah sungai
“Kau bercanda, kan?” Tanya Faiz ketika mereka sudah berada di dekat sungai.
Entah apa yang sedang Tia pikirkan dia langsung turun menuju air dingin yang mengalir itu.
“Hentikan dia, Faiz.” Hani gelisah.
Dengan cepat Faiz menarik tangan Tia. Namun naas, Tia kehilangan kendali hingga dia terjatuh. Air terpancar ke segala arah, tubuh Tia basah sampai ke ubun-ubun.
“Sial.” Sigap Faiz meraih tubuh wanita itu dan menggendongnya menuju api dekat tenda. Tia sempat memberontak di pelukan Faiz namun tak lama setelah itu tak ada lagi gerakan.
“Hani, keluarkan tas Tia.” Ucapnya sambil meletakkan dengan hati-hati tubuh Tia di atas matras dekat api.
“Leo panaskan Air.” Faiz sangat khawatir tapi masih berusaha tenang.
“Tia.... Tia...” Faiz menepuk pipi Tia. Sepertinya wanita itu tidak sadarkan diri. Faiz melepaskan sendal dan kaos kaki yang melekat pada Tia.
“Cepat ganti pakaiannya.” Titah Faiz. Dia membentangkan kain untuk menghalangi pandangan orang lain ketika Tia sedang berganti pakaian.
“Jangan panik, lakukan dengan pelan dan hati-hati.” Faiz memberi arahan cara penanganan korban hipotermia. Dia terus memejamkan matanya tanpa menoleh sedikitpun.
“Iya, ini tinggal kaos kaki” Sahut Hani
“Leo, arahkan sedikit apinya ke tenda.” Seru Faiz sambil menurunkan kain yang membentang.
Gerakan cepat Faiz memindahkan Tia ke dalam tenda untuk menghindari tiupan angin kemudian menyelimutinya dengan sleeping bag.
“Jangan hipotermia. Kumohon sadarlah.” Faiz menggesek-gesekkan tangan lalu memegang wajah untuk membantu menghangatkan tubuh Tia.
“Dia baik-baik saja,” Hani berusaha menenangkan Faiz.
“Sekarang kau sudah sadar?” Tanya Leo sambil terus mengarahkan api ke tenda tempat Faiz dan Tia berada
“Aku sedang sadar. Kau pikir aku gila?” Faiz mengernyitkan dahinya. Dia teringat dengan pertanyaan Ari tempo lalu
“Kau gila karena tidak menyadari perasaanmu.” Leo
“A-ku.” Faiz menggantungkan ucapannya. Sementara Hani bungkam mengamati percakapan para pria itu.
“Aku cemas melihatnya seperti ini,” -menatap lekat wajah Tia- “aku juga kesal melihatnya dekat dengan si gondrong,” lanjut Faiz
“Itu artinya-“ Leo memalingkan wajahnya ke sumber suara
“Sial! Aku benar-benar telah jatuh cinta pada si batu.” Ungkap Faiz ketika menyadari perasaannya.
“Selamat berjuang bro.” Leo tersenyum puas. Sementara Hani senyum semangat memberi dukungan.
~ Bersambung
__ADS_1