Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 12 Terkunci


__ADS_3

"Tring." Bunyi pesan masuk di ponsel Faiz


"Bagaimana kabarmu?" isi pesan dari nomor yang tidak kenal, foto profilnya juga tidak ada.


"*Ak*u baik, ini siapa?" balasnya


"Syukurlah kau baik-baik saja, aku sangat ingin menjengukmu," nomor tak dikenal.


"Jangan-jangan dia lagi,"


Faiz menebak-nebak siapa sipengirim pesan itu.


"*Ak*u sangat merindukanmu, kumohon maafkan aku. Apalagi yang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku?" nomor tak dikenal


"Aku sudah memaafkanmu," Faiz


"*Be*rikan aku satu kesempatan lagi, aku akan berusaha memperbaiki semuanya," balasan dari nomor tak dikenal


"SEMUA USAHAMU AKAN SIA-SIA!!!" Balasan terakhir Faiz.


Ponsya tak lagi berbunyi, jelas saja dia langsung memblokir nomor itu. Meskipun si pengirim belum memberitahukan identitasnya, Faiz langsung bisa menebak. Ini bukan pertamakalinya dia dihubungi menggunakan nomor baru, sudah puluhan nomor yang diblokir ketika tau si pengirim pesan adalah Khumairah. Mantan kekasih Faiz yang dipanggilnya Khume itu tak pernah berhenti untuk menghubunginya meskipun mereka telah lama putus. Khume masih belum bisa melupakan Faiz walau berkali-kali mendapatkan penolakan bahkan pernyataan bahwa mereka tak mungkin kembali menjalin kasih.


Suasana hati Faiz yang sudah hancur membuatnya menyudahi semua aktivitas dan memilih tidur. "Semoga saja aku tidak mimpi buruk," harapnya.


***


Pagi itu langit tampak cerah, semua orang sudah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Faiz, dia terlihat menuruni anak tangga dengan semangat.


"Kak Faiz sudah baikan?" Sambut Uli yang sudah duduk manis di meja makan


"Iyalah. Pagi ini aku yang akan mengantarmu ke sekolah," balas Faiz


"Kakak tidak ke kampus?" Uli


"Aku akan mengantarmu dulu, hari ini kelasku pukul 10.00. Memangnya kenapa?" Faiz melirik curiga.


"Apanya yang kenapa? akukan hanya bertanya" jelas Uli


"Sampaikan salamku pada tukang ojekmu, katakan untuk tidak lagi menjemputmu," titahnya


"Iya..iya." Uli mengalah.


Sekeras apapun dia membela diri, tak akan membuat Faiz merubah ucapannya. Sekali dia mengatakan A jangan pernah berharap akan berubah menjadi B. Uli merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika Leo menceritakan kejadian sebenarnya, habislah riwayatnya.


***


Waktu masih menunjukkan hampir pukul 07.30 tapi Faiz dengan wajah sumringah sudah berada di parkiran kampus. Dia seperti sedang melihat mangsa ketika mendapati Tia sedang berjalan memasuki jurusan. Dengan cepat dia berjalan menyusul Tia.


"Seperti ada yang mengikutiku." Tia mengedarkan pandangannya kesegala arah.


"Mungkin cuma perasaanku." Tia melanjutkan langkahnya.


"Mau kemana dia?" Faiz masih mengikutinya dari belakang.


"Kenapa aku jadi bertingkah bodoh begini sih?" Faiz tersadar.

__ADS_1


Tia berhenti didepan ruangan Laboratorium, diraihnya kunci dari dalam saku kecilnya.


Faiz ikut masuk keruangan itu dengan mengendap-endap.


"Kemana dia?" Faiz mencari keberadaan Tia.


Tiba-tiba lampu mati, Faiz tak bisa melihat dengan jelas hanya terdengar bunyi kursi bergeser.


"Tia kau mengerjaikukan?" ucap Faiz dengan yakin.


"Keluarlah Tia. Percuma kau menakutiku seperti itu." masih tak ada jawaban, tiba-tiba terdengar suara tangis wanita.


"Berhentilah! jangan meniru suara mereka, itu akan membuat mereka bereaksi." Faiz menasehati.


Suara jeritan itu berhenti sejenak lalu berubah menjadi suara teriakan


"Aaaaahhhhhhhh" bulu kuduk Tia berdiri, samar-samar dia mendengar suara seperti angin berhempus tepat di telinganya, teriakannya semakin keras ketika sesuatu menyentuh bahunya. Tubuhnya gemetar, ingin berlari namun tangannya seperti tertahan oleh sesuatu.


"Hahahahahah." Faiz tertawa terbahak-bahak bersamaan dengan ditekannya saklar lampu yang berada tepat dibelakang Tia.


Tanpa sadar wanita itu memeluknya, jantungnya berdegub kencang. Faiz bahkan bisa merasakan getaran tubuh itu.


"Kau menangis?" tanya Faiz ketika mendengar suara tangisan kecil terseduh-seduh.


"Tidak" Tia langsung melepaskan pelukannya lalu menyeka air yang sudah membasahi pipinya.


"Senjata makan tuan" Faizpun tertawa puas


"Kenapa aku yang dikerjain begini sih," ucap Tia dalam hati, dia benar-benar kesal setengah mati.


"Kenapa kau yang marah? kau kan yang mengerjaiku, harusnya aku yang marah padamu." protes Faiz


Tak ada menjawab, Tia hanya menatap sinis lalu segera menunaikan niat awalnya datang ke laboratorium sementara Faiz terus mengikutinya seperti penguntit.


"Oh jadi kau yang rutin mengecek keadaan sampel-sampel ini?" Faiz


"kenapa tidak janjian dengan yang lain?" pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan tapi Tia sama sekali tak bergeming.


Ponsel Faiz berbunyi dengan segera dia membuka pesan itu.


"Lagi-lagi nomor tak dikenal, sepertinya aku harus ganti kartu lagi" gumam Faiz lirih. Dugaannya benar, itu pesan dari Khume


"Aiz kau sedang apa? aku sangat merindukanmu"


"Aiz aku ingin bicara denganmu, please sekali saja. Jangan menghindar seperti ini. Aku masih mencintaimu, dan aku yakin kau juga begitukan? cintamu masih untukkukan? makanya sampai sekarang kau juga belum membuka hati untuk wanita lain?" sudut kanan bibir Faiz terangkat begitu membaca pesan dari Khume.


"Hei kau mau apa?" Tia kaget, tiba-tiba Faiz mendekatinya


"hei..hei apa-apaan sih!" mata Tia melotot ketika Faiz mendekatkan wajahnya lalu mengabadikan moment itu di ponselnya.


"Wajahmu lucu juga yah," Faiz menatap foto yang barusan diambilnya


"Cepat hapus!!" Tia memaksa


"Tidak mau," bantah Faiz.

__ADS_1


Tia langsung bereaksi, berusaha merebut Hape dari tangan Faiz namun tak berhasil yang terjadi foto itu justru terkirim ke Khume


"Berhenti! kau salah tekan, fotonya terkirim ke orang lain," Faiz


"Benarkah?" spontan Tia menghentikan aksinya itu.


"Ah! terserah kau saja" Tia meninggalkan ruang laboratorium dengan wajah masam, sepertinya kali ini dia benar-benar marah.


Faiz hanya terdiam menatap layar hapenya, pesan balasan dari Khume masuk


"*In**ikan gadis yang di RTH waktu itu, siapa dia?"


"Dia pacaraku!! Jadi berhentilah menggangguku*." setelah pesan terkirim Faiz langsung memblokir nomor tersebut.


"Aku memang berencana ingin mengirimkan foto, tapi bukan foto wajah yang sedang melotot begini," Faiz tersenyum tipis sambil berjalan menuju pintu Laboratorium namun ternyata pintunya tertutup.


Seperti dugaan, Tia tidak mungkin membiarkan Faiz menang telak, dia pasti akan mengerjai balik. Faiz hanya bisa pasrah melihat Tia melambaikan tangan sambil terus berjalan menjauhi pintu kaca laboratorium.


Dia mencoba menelfon Tia berkali-kali namun hasilnya nihil.


"Angkat telfonku!"


"Kau sudah gila? buka pintunya!"


"Cepatlah! aku benar-benar lapar, kau ingin aku mati kelaparan disini?"


"Aku ingin buang air kecil",


"Dosen memintaku untuk ke ruangannya sekarang,"


"Aku belum sembuh betul, disini terlalu dingin fluku bisa kambuh, "


"Tiaaaaaaaaa,"


"Heiiii sampai kapan kau mau mengurungku disini?"


setelah dihujani dengan pesan yang bertubi-tubi akhirnya Faiz mendapat satu balasan pesan dari Tia.


"*Ha*ri ini kepala lab akan datang pukul 10.00, jadi menunggulah. Aku akan membuka pintunya 5 menit sebelum kepala lab datang dan jangan menghubungi anak yang lain, karena hanya aku yang diberikan izin oleh kepala lab untuk memegang kunci"


Faiz hanya bisa tepuk jidat ketika membaca isi pesan dari Tia terlebih ketika dia melihat jam tangan miliknya masih menunjukkan pukul 08.30, kali ini dia benar-benar hanya bisa menelan ludah.


***


"Bagaimana jika dia benar-benar ingin buang air kecil?" Tia tersenyum geli, entah apa yang sedang dibayangkannya.


~bersambung


Selamat menunaikan ibadah puasa


Semoga kita sehat selalu dan corona cepat berlalu


-----------------------‐----------------------------------------


janga lupa beri like, komen, tip dan votenya teman-teman. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2