
Waktu menunjukkan pukul 13.30 setelah kuliah selesai Tia dan Faiz terlihat berjalan bersama menuju tempat parkir
"kau mau kemana?" Faiz.
Tia tidak menjawab hanya meneruskan langkahnya.
"Naik disini bersamaku," Ucap Faiz sambil menepuk sadel motornya.
"Bisa gila aku sepanjang jalan bersamamu," Tia bergumam dalam hati.
"Aku mau bawa motor sendiri," Tia.
"Diluar macet. Kau hanya akan menghambat perjalanan," Faiz
"Kalau begitu kau pergi saja sendiri," ancam Tia.
"Baiklah," jawab Faiz kesal lalu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
Tia mengikuti dari belakang dan tersenyum puas karena berhasil membuat Faiz kesal. Sesekali Faiz menengok kaca spion untuk memastikan bahwa gadis itu berada dibelakangnya.
Terik matahari serta asap kendaraan membuat suhu pada siang hari semakin menyengat seperti membakar kulit ditambah lagi kemacetan diperempatan jalan Teluk Bayur siap menyambut.
Tiba-tiba Faiz menepi didepan sebuah rumah.
"Ada apa?" Tia heran.
"Kau terlalu lelet," Faiz
"Akukan hanya mengikutimu" protes Tia dalam hati
"Lihat didepan macet sekali, kalau seperti ini bisa-bisa kita sampai disana terlalu sore," ucap Faiz sambil menunjuk kearah kemacetan yang ada di perempatan jalan.
__ADS_1
"Lalu maksudmu?" Tia.
Faiz langsung mengambil kunci motor Tia dan memberikan isyarat agar cepat naik di atas motornya.
"Tunggu apa lagi? ayo cepat!" ucap Faiz namun Tia tak bergeming.
"Cih dasar keras kepala" dalam hati Faiz.
"Mau mau labnya tutup dan kita tidak sempat mengambil alat untuk praktek lapang?" Faiz membujuk. Akhirnya tanpa bicara Tiapun mengikuti ucapan Faiz dengan wajah tidak ikhlas.
Faiz menyelinap diantara ratusan kendaraan berburu waktu agar tidak terlambat untuk meminjam alat praktek lapang sebagai pengganti alat yang rusak di laboratoriu. kampusnya.
"Pegangan! Kau tidak takut jatuh?" ucap Faiz heran karena Tia sama sekali tidak menyentuhnya dan memilih untuk berpegangan pada behel motor.
"Ini sama sekali tidak menakutkan," balas Tia dengan nada angkuh.
Faizpun semakin menambah kecepatannya dan menyelip sana sini seperti orang yang punya sembilan nyawa. namun Tia tetap terlihat santai dan memberi senyum mengejek lewat kaca spion.
Sampai mereka tiba didepan pertigaan kampus yang dituju. Begitu Faiz membelokkan motornya kekiri untuk masuk ke gerbang tiba-tiba Tia memegang erat jaket Faiz
"Ah, tidak," Tia langsung melepaskan tangannya dan memegang kembali behel motor.
"Please jangan sampai dia tau," Tia memohon dalam hati.
Begitu Faiz membelokkan lagi motornya kesebelah kanan, lagi-lagi tangan Tia mencengkram jaket Faiz lalu kemudian melepaskannya dengan cepat.
"Oh jangan-jangan..." Faiz tertawa licik seperti mengetahui apa yang membuat Tia takut.
"Di depan masih ada beberapa belokan sebelum kita sampai. Rasakan ini" gumam Faiz dalam hati, hanya suara tawanya yang didengar oleh Tia.
"Mati aku sepertinya dia sadar," pikir Tia.
__ADS_1
Dia tidak peduli dengan apapun, dia memejamkan mata dan memeluk erat tubuh Faiz ketika pria itu membelokkan motor dengan kecepatan tinggi sehingga lutut mereka hampir menyentuh aspal. Semakin erat Tia memeluknya maka tawa Faiz juga semakin keras.
"Kau mencari kesempatan yah? kita sudah sampai." Faiz masih tersenyum puas.
Tak ada jawaban dari belakang hanya pelukan Tia yang mulai kendor. Faiz membalikkan badan dan kaget mendapati wajah Tia yang pucat.
Tia turun dari motor tanpa sepatah kata hanya hembusan nafas lega yang terdengar.
Keduanya masuk menuju lab dengan bibir yang terkunci rapat.
***
"Baik pak terimakasih banyak," ucap Tia sebelum meninggalkan ruangan sambil membawa alat yang sudah mereka pinjam tadi.
"Tia," Faiz mencoba memecah keheningan namun Tia masih diam seribu bahasa
"Tadi katanya tidak takut," ucap Faiz mencoba menutupi rasa bersalahnya.
"Ayo cepat naik!" Faiz menarik tangan Tia tapi langsung ditepis.
"Bagaimana ini? masa aku harus memeluknya lagi," Tia berpikir sambil bergerak naik keatas motor
"Jangan berpikir kau akan memelukku lagi yah," ucap Faiz menggoda. Karena malu Tia langsung memukul helm Faiz agar dia berhenti bicara.
"Pegangan!" Faiz mulai memainkan gas motornya.
"Cepat pegangan. Kalau tidak aku akan menikung tajam di depan," Faiz mengancam.
Dengan segera Tia meletakkan tangannya di pinggang Faiz lalu mencengkram jaketnya.
"Kuharap dia menepati ucapannya," gumam Tia dalam hati.
__ADS_1
Faiz benar-benar mengendarai motornya dengan kecepatan 40 km/jam sehingga ketika berbelok Tia sama sekali tidak merasa takut lagi. Sepanjang jalan mereka hanya diam seribu bahasa, hanya suara bising kendaraan yang terdengar memecah kemacetan disore itu sampai mereka tiba di kost Tia
~bersambung