
Lagi-lagi kisah percintaan Faiz kandas bahkan sebelum dia memulainya. Padahal dia sudah berusaha menjadi pria yang baik. Dan lagi, wajahnya juga tidak buruk rupa tapi mengapa dia selalu menjadi pria menyedihkan dalam urusan cinta.
"Aku hanya butuh orang yang percaya pada diriku"
Hal itulah yang saat ini muncul di benak Faiz. Dia tau Khume wanita yang seperti apa, dia akan melakukan segala cara agar tidak ada wanita yang bisa dekat dengan Faiz. Tentu saja yang bisa membuat seseorang tetap berada disisinya adalah "kepercayaan". Ya hanya itu.
Khume sudah seperti stalker profesional. Segala hal tentang Faiz pasti diketahuinya. Tidak heran jika Tia tidak pernah diusik oleh Khume karena dia pasti tau sebatas apa hubungan mereka meskipun Faiz mengatakan bahwa Tia adalah kekasihnya. Berbeda dengan Kiran, wanita anggun yang dianggapnya cukup memikat hati. Barang tentu dia tidak akan membiarkan Faiz jatuh ke pelukan Kiran. Terlebih mereka pernah kencan buta, hal yang mustahil bagi Khume membiarkan hubungan Faiz dan Kiran berjalan mulus.
Pekan ini sudah masuk masa ujian semester. Namun, kejadian malam itu cukup membuat Faiz badmood. Kemarin dia tidak memunculkan batang hidungnya di kampus dan sepertinya hari ini juga begitu.
Baru beberapa menit Faiz rebahan sesudah mengantar Uli ke sekolah, ponselnya di atas meja bergetar.
"Ddrrrttt...ddrrttt" Ponselnya itu terus bergetar membuatnya bergerak dengan malas dari posisi tidurnya
"Eh? Kenapa Hani menelfon?" ucapnya ketika melihat panggilan masuk
"Faiz kau dimana?" suara Hani dari seberang
"Di rumah. Ada apa?"
"Tia merindukanmu... aduuh." Kemudian terdengar jeritan keras dari Hani. Itu adalah ulah Tia yang mencubit kecil lengan Hani.
"Apa maksudmu Hani?" sudut kanan bibirnya sedikit tertarik.
"Cepat ke kampus Keti. Pak Pras mencarimu," Hani
"Sepertinya hari ini aku tidak bisa ke kampus." Faiz kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Mendengar jawaban Faiz, Tia tidak bisa lagi menahan diri. "Dasar anak mama tidak bertanggung jawab!!" katanya ketika berhasil merebut ponsel dari tangan Hani
"Inikan suara..." Tentu saja Faiz mengenali suara wanita yang baru saja bicara. Faiz belum sempat bicara namun Tia langsung menutup telfonnya.
"Enak saja mengatakan aku tidak bertanggung jawab." Ternyata ucapan itu berhasil membakar semangat Faiz. Dengan cepat dia bangkit dari tempat tidur langsung menuju kamar mandi.
"Kau bilang aku anak mama itu tidak masalah. Tapi jangan mengatakan aku pria yang tidak bertanggung jawab." Kata-kata itu terus melayang-layang di kepalanya membuat dia menarik gas motor dengan kecepatan maksimal. Menyelinap diantara kemacetan panjang yang sudah menjadi fenomena biasa di kota Boiland.
***
"Aaaa Faiz akhirnya kau datang juga. Sejak kemarin pak Pras mencarimu." Kata Hani ketika melihat Faiz memasuki jurusan
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" tanya Faiz dengan wajah santai
Pertanyaan Faiz belum sempat terjawab, semuanya langsung bubar dan masuk ke ruangan FF 103 ketika melihat asisten dosen menuruni anak tangga dengan membawa lembaran kertas ujian. "Seperti melihat kuntilanak saja," gumam Faiz lalu ikut masuk ke ruangan FF 103.
Belum sempat asisten dosen itu duduk, tangannya langsung memerintahkan Faiz untuk mengambil kertas buram untuk lembar jawaban mereka. "Kenapa asisten dosennya harus si gondrong ini sih? menyebalkan." Gerutu Faiz lalu keluar meninggalkan ruangan. Entah kenapa dia seperti sensitif dengan seniornya yang satu itu.
90 menit waktu yang diberikan untuk mengisi soal rasanya tidak cukup. Faiz yang sama sekali tidak belajar terlihat sibuk menggaruk kepalanya. Tia yang sedang duduk disampingnya seperti batu besar, benda mati yang tidak bisa bicara. Hani dan teman sekelasnya memang sengaja membuat mereka duduk berdampingan. Hingga 15 menit sebelum waktu habis akhirnya dia buka suara.
"Kau tidak usah banyak bertanya, lihat saja apa yang bisa kau lihat!" Tia bicara dengan pelan hampir berbisik.
Lembar jawabannya sudah terbuka sejak tadi namun Faiz tidak berani meliriknya.
"Benarkah? harusnya dari tadi kau memberikan izin." Senyumnya langsung mengembang, dengan cepat dia mengisi kertas yang ada di hadapannya itu.
"Apa bedanya langsung meniru dan harus diberi izin dulu? kan sama-sama curang." Gumam Tia dalam hati sambil mencoret-coret lembar cakarannya dengan tanda tangan. Dia tinggal menunggu waktu habis.
"Setidaknya aku tidak mencuri." Faiz kembali berbisik di telinga Tia.
"Pembenaran!! Isi saja jawabannya dengan cepat." Tia
"Sabar," ucap Faiz lirih
"Kepala batu!" Faiz tersenyum tipis
"Sok ganteng!!" Melirik Faiz
"Apa?" -menghadap tepat di wajah Tia hingga kepalanya sedikit mundur- "terpesona?" Faiz
Sontak bola mata Tia melebar. Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.
"Eh? dia menjawab lagi. Jangan-jangan dia benar-benar bisa membaca pikiran orang?" Tia
"Kalian berdua, kalau sudah selesai kumpul saja!!" Ari menegur aktivitas mereka yang mencurigakan.
Keduanya langsung tertunduk diam.
Begitu waktu habis, Ari menyuruh Faiz membawakan lembar jawaban dan soal teman-teman kelasnya ke ruangan pak Pras.
Sementara itu, Tia yang masih penasaran dengan kemampuan Faiz akhirnya memutuskan untuk menguji coba kembali kejadian tadi.
__ADS_1
"Hani sini sebentar," Tia menarik tangan Hani sampai di depan tangga
"Jika aku memang mudah dibaca, seharusnya Hani bisa membaca isi pikiranku kan?"
"Ada apa?" tanya Hani penasaran
"Kau benar-benar tidak tau apa yang sedang kupikirkan?" Tia masih berbicara dalam hati
"Hei kau kenapa?" Hani memasang wajah super bingung
"Aku sedang berbicara denganmu. Emmm hasil ujian kita pasti tuntas." Tia memainkan alisnya sambil tersenyum
"Wah sakit ni anak," -meletakkan punggung tangan ke dahi Tia- "ah, kau sedang main apa sih? ayo ke gazebo." Hani yang berhasil dibuatnya bingung memilih berjalan duluan ke gazebo depan jurusan.
"Hanii... Aaaarrggg.. Apa-apaan ini?" Tia terlihat putus asa.
Tiba-tiba Tia menarik tangan salah seorang temannya yang lewat. Dia benar-benar masih penasaran. "Permisi, kau bisa mendengarku?"
"Ada apa Tia?" tanya temannya.
"Coba kalo kubilang I love you," Tia sembarang berucap
Mengernyitkan dahi, "apa sih? aneh." Begitu katanya lalu pergi meninggalkan Tia.
"Iiiish kalau bukan aku yang mudah ditebak berarti memang Faiz yang punya kelainan." Baru saja dia menyebut nama itu, tiba-tiba orangnya muncul menuruni anak tangga
"Ini dia orangnya," batinnya dengan tatapan lurus mengikuti langkah kaki Faiz yang semakin mendekat ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Faiz yang kini berdiri tepat di hadapannya. Dia menurunkan sedikit kepalanya hampir sejajar dengan posisi Tia
"Cih." Salah satu sudut bibirnya terangkat lalu mendekatkan wajahnya ke arah Faiz "i love you." gumamnya dengan mata melotot seperti orang yang ingin membunuh lalu pergi begitu saja meninggalkan Faiz.
"Eh?" Sejenak Faiz terdiam
"Heiii tunggu!!!" katanya ketika tersadar lalu berlari mengejar Tia.
~bersambung
---------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕