
Bus memasuki daerah pedesaan yang jalannya berbatu-batu dengan lebarnya hanya cukup untuk satu bus lewat. Daerahnya masih asri dan bebas polusi kendaraan.
"Cckiii...tttt." Bunyi rem mobil terdengar ketika mereka sampai di lokasi praktek. Teman-teman dengan kompak membiarkan Faiz dan Tia tetap terlelap dan turun dari mobil tanpa menimbulkan suara.
Faiz terbangun lebih dulu ketika suara asisten dosen menggema menggunakan pengeras suara untuk mengarahkan mahasiswanya masuk ke rumah yang sudah ditentukan.
"Syukur aku bangun lebih dulu" ucap Faiz karena mendapati posisi dirinya tidur dengan kepala yang tersandar kearah Tia.
"Sampai kapan kau mau tidur?" Faiz meletakkan botol minyak angin tepat di hidung Tia.
Gadis itu mengernyitkan dahinya lalu kemudian terbangun.
"Mana yang lain?" Tia mengedarkan pandangan mencari teman-teman yang lain
"Mereka sudah turun semua," Faiz memijit-mijit bahunya yang keram.
"Minggir!! aku mau lewat." Tia ingin segera menyusul teman-temannya.
"Sabar, kau tidak lihat aku sedang apa? bahuku sakit karena kau. Tanpa izin memakai bahu orang sebagai tempat bersandar," jawab Faiz sambil menunjuk bahunya yang keram.
"Akukan tidak sengaja " ucap Tia tanpa merasa bersalah, dia sudah gelisah ingin segera menyusul yang lain
"Dasar tidak tau berterimakasih," ucap Faiz lalu meraih tas carriernya dibagasi bagian atas kepala dan berlalu meninggalkan Tia.
Tia hanya memasang ekspresi datar tidak peduli dengan ucapan Faiz lalu segera menyusul teman-teman yang lain.
***
"Sekarang semua kelompok sudah terbagi menurut absen, alat-alat lapangan sudah lengkap jadi silahkan masing-masing kelompok berjalan menuju titik yang telah ditentukan untuk melakukan pengamatan dan mengambil sampel." Arahan dari asisten dosen sebelum melepas mahasiswanya ke titik yang dimaksud. Setelah semua persiapan matang maka berangkatlah setiap kelompok menuju lokasi masing-masing.
"Kenapa kau terlihat kurang bersemangat?" ucap Hani sambil merangkul lengan Tia.
"Bukan apa-apa kok. Malas aja," jawab Tia masih dengan wajah tak bersemangat.
"Aku yakin pasti dia akan mengerjaiku lagi," pikir Tia ketika tau bahwa ketua kelompoknya adalah Faiz.
"Sepertinya ada yang sedang berharap untuk diganggu." Faiz mengagetkan dari arah belakang Tia dan Hani
__ADS_1
"Aarrgghh bisakah aku ganti nama? kenapa urutan namaku harus berdekatan dengan manusia ini?" protes Tia dalam hati.
"Tiaaaa... kamu masih kuatkan? ayo" Teriak Hani yang sudah mendaki lebih dulu meninggalkan Tia yang larut dalam pikirannya.
"Hani tunggu!!! Kenapa kau meninggalkanku?" balas Tia lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari.
"Eettsss itu jalanannya mendaki jangan lari." Faiz menarik tas punggung Tia sampai dia tak bisa melangkah.
"Bodoh! bleee" Tia langsung menjulurkan lidahnya lalu memukul tangan Faiz hingga tangannya lepas dari tas Tia dan langsung berlari menuju ke tempat Hani
Dengan nafas terengah-engah Tia berhasil menyusul Hani.
"bruukkk" Tia langsung membanting dirinya ke tanah dan menyandarkan badannya di batang pohon rindang.
"Ya ampun Tia, kau baik-baik saja?" tanya Hani kepada Tia yg sibuk meneguk air dari tumbler andalanya.
"Hufftt iyaa aku baik-baik saja," Ucap Tia sambil menyeka bekas air di bibirnya.
"Kenapa kau berlari ditanjakan sih?" kata Hani sambil menempelkan telapak tangannya ke dahinya.
"Kalian itu pasangan yang sweet, serius!" Hani bersemangat.
"Kalian berdua benar-benar serasi. Cobalah untuk bersikap manis seperti waktu kalian di bus," sambung Hani dan tertawa kecil ketika melihat Tia memasang wajah kesal.
"Bodoh ah! ayo jalan lagi." Tia langsung berdiri, tenaganya seperti terisi kembali ketika melihat Faiz yang tinggal beberapa meter lagi akan sampai ditempat dia beristrahat.
"Tia tunggu! aku belum selesai bicara." Hani berlari kecil berusaha mensejajarkan diri dengan Tia.
"Berhenti membicarakan dia Hani! coba fokuskan dirimu, sekarang kita sedang praktek lapang," jawab Tia sambil terus melangkahkan kakinya, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin dari pria yang sedang mereka bicarakan itu
"Kau tau Tia, se--" ucapan Hani terpotong
"Tidak tau dan tidak mau tau," ucap Tia dengan penekanan yang berbeda.
"Aaaa Tia dengar dulu, semua teman-teman kelas mendukung hubungan kalian." Hani terus berbicara meskipun sudah mendapat peringatan dari Tia.
"Mmm..mm.. ya.ya.ya," balas Tia lalu menutup telinganya dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Apa yang kurang dari Faiz coba? udah tampan, putih, tinggi, badannya kekar, baik, bertanggung jawab pokoknya idaman." Sepanjang jalan Hani terus memuji Faiz meskipun Tia sudah tidak menggubrisnya
***
"Ayo semuanya mulai melakukan pengukuran." Arahan asisten dosen yang bertanggung jawab mendampingi kelompok yang diketuai oleh Faiz. Semua langsung bergerak mengambil peran masing-masing. Ada yang mengukur, ada yang mencatat, ada yang mengambil sampel dan adapula yang mengambil peran bagian dokumentasi.
"Catat yang benar hasil pengukurannya." -Faiz mengingatkan orang yang sedang mencatat- "jangan sampai satu kelompok eror karena kesalahan satu orang." Namun, orang diajaknya bicara hanya membalas dengan tatapan sinis. Ya, orang yang sedang mencatat itu adalah Tia.
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 artinya waktu pengukuran telah selesai karena intruksi dari dosen semua kelompok harus sudah berada di lokasi utama sebelum pukul 16.00. Jarak yang harus ditempuh untuk kembali ke lokasi utama adalah 2 jam. Namun, belum terlihat tanda-tanda bahwa pengukuran kelompok yang diketuai oleh Faiz akan segera selesai.
"Ayo cepat, selesaikan pengukuran untuk variabel terakhir kalian!" Desak asisten dosen.
Faiz meletakkan tangannya didagu seperti orang yang sedak berpikir.
"Kenapa tidak bilang kalau tidak tau caranya? jangan buat orang lain menunggu hal yang tidak jelas begini" gumam Tia dalam hati lalu segera membantu Faiz menyelesaikan pengambilan data terakhir.
"Kenapa tidak bilang kalau kau tau caranya? harusnya kau dari tadi membantuku, bukan hanya berdiri sok manis di sana" Faiz mencari alasan seperti sedang menjawab isi hati Tia
"Lakukan dengan benar, jangan sampai karena kesalah satu orang membuat semua orang jadi eror" Ucapan pedas Tia seperti petir yang menyambar. Jelas saja itu adalah ucapan yang dilontarkan Faiz kepada Tia beberapa waktu lalu, wajah Faiz langsung memerah karena malu.
Hani yang mengambil bagian sebagai tukang foto jelas tak mungkin mengabaikan momen berharga itu
"Ekheem..ekheem" tenggorokan Hani yang mendadak batuk berhasil memecahkan keheningan, jelas sekali terlihat bahwa dia sedang berpura-pura. Teman-teman yang paham dengan kode itu langsung menyingkir dari tempat pengukuran sehingga tersisa Faiz dan Tia yang sibuk mengambil data terakhir.
"Hani pasti sengaja, mereka pikir sedang nonton sinetron apa?" dalam hati Tia kesal setengah mati melihat dirinya dan Faiz menjadi bahan tontonan teman-teman kelompoknya.
"Romantis tak melulu tentang bunga dan coklat, pertengkaran kecil kadang menjadi warna khas dalam perjalanan unik sebuah hubungan" mungkin itu yang sedang dipikir oleh teman-teman kelompoknya
"Hei jangan mengkhayal, kau sengaja mau berlama-lamakan? mau berduaan dengankukan? kan?" Faiz menyadarkan Tia yang asik dengan pikirannya sendiri. Senyum tipispun dilayangkan ketika Faiz sadar bahwa Tia telah menyesal mengambil keputusan untuk membantunya menyelesaikan bagian akhir.
"Semangat Tia, jangan dengarkan si pengganggu itu. Ini demi menyelamatkan nasib kelompokmu" Tia menyemangati dirinya sendiri tanpa memperdulikan semua ucapan yang keluar dari mulut Faiz.
~bersambung
Semoga bisa jadi hiburan di rumah,
Semoga kita sehat selalu dan Corona cepat berlalu
__ADS_1