Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 36 Pertemuan awal


__ADS_3

"Bunda? Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Faiz begitu berhasil menguasai diri dari rasa terkejutnya.


"Siapa yang datang bun-da?...." Tanya Tia yang baru saja keluar dari kamar mandi


"Oh, jadi-" ucapan Faiz menggantung. Pikirannya melayang pada pertemuan yang tidak disengaja ketika dia sedang menunggu kedatangan salah satu kawannya yang merupakan anggota grup familyspul-di bandara internasional Boiland.


***


"Ini ibu saya, jangan mengganggunya." Faiz mengusir beberapa sopir yang terlihat begitu memaksa seorang wanita tua yang nampak tak berdaya ketika kopernya menjadi bahan rebutan para sopir bandara yang sedang mencari penumpang.


"Ibu tidak apa-apa? Barangnya tidak ada yang hilang, Bu?" Faiz memastikan keadaan wanita tua berpenampilan sederhana itu. Wajahnya terlihat sedikit ketakutan karena ulah sopir-sopir bandara tadi.


"Tidak, Nak. Terimakasih." Jawab wanita berumur 55 tahun yang bernama Zias itu.


"Ibu kenapa sendirian di tempat begini?" Tanya Faiz karena kasihan kenapa wanita Tua dibiarkan sendiri di bandara. Dan lagi, sepertinya ini pertama kali dia ke bandara internasional Boiland. Terlihat dari caranya merespons para sopir-sopir bandara.


"Bunda sedang menunggu jemputan, Nak." Jawabnya pelan pada anak yang diperkirakannya seumuran dengan anaknya "Nak siapa namanya?" Lanjutnya


"Faiz, Bu." Menjawab dengan sopan. "Penjemput ibu sudah di mana?


"Bunda juga tidak tau, Nak. Ini ponsel Bunda jaringannya hilang." Bunda Zi menatap layar ponselnya dengan mata menyipit.


"Boleh saya liat, Bunda?" Akhirnya Faiz memanggilnya dengan sebutan bunda karena wanita itu terus memanggil dirinya dengan sebutan itu.


"Kalau ketemu copet bahaya nih." Komentar Faiz karena bunda Zi dengan mudahnya memberikan ponselnya pada orang yang baru dikenalnya.


"Oh, ini masih mode terbang Bunda. Makanya jaringannya hilang." Jelas Faiz dengan sedikit tersenyum.


"Bunda kurang paham, Nak. Tadi pramugarinya yang pencet-pencet. Bunda taunya cuma telfon dan terima telfon saja." Beber bunda Zi.


"Coba sekarang anaknya ditelfon, Bunda."


"Syukurlah sudah terhubung." Tutur bunda Zi ketika terdengan sahutan dari seberang


"Hallo, Bunda." Suara dari seberang


"Bunda sudah di mana? Maaf Tia baru sampai. Tadi jalanannya macet sekali."


"Iya, Nak. Tidak apa-apa. Ini Bunda sudah di bandara." Jawab Bunda Zi dengan nada menenangkan


"Bunda di sebelah mana? Biar Tia yang ke situ."


"Eemm.." -melihat sekeliling- "Ini di bagian mana, Nak Faiz?" Seperti bunda Zi kebingungan menjawab pertanyaan Tia makanya dia bertanya pada Faiz.


"Biar saya yang jelaskan, Bunda." Ponsel berukuran 1,15 inci pun berpindah tangan

__ADS_1


"Hallo, Bundamu sedang bersamaku." Jelas Faiz "Kami berada di area kedatangan. Posisimu di mana?"


"Aku masih di area parkiran." Tia yang dikuasai rasa terkejut tak sempat bertanya siapa yang sedang bersama bundanya di sana.


"Ok. Tunggu saja. Biar kami yang ke sana." Faiz pun menutup telfonnya


Dengan hati-hati Faiz menuntun Bunda Zi menuju parkiran. Dia membawakan koper dan merangkul pundak wanita tua itu ketika menyeberangi jalanan.


"Bundaaa." Tia melambaikan tangannya ketika melihat sang bunda dari kejauhan.


"Sepertinya itu anak Bunda." Tutur Bunda Zi dengan senyum yang merekah.


"Aaa Bundaaa." Tia langsung menghamburkan pelukan.


"Salim dulu, Nak."


Tia lantas melepaskan pelukannya. Namun, selesai mencium tangan, Tia kembali memeluk sang Bunda. Dia bahkan lupa bahwa ada pria yang sedang melihat aksi manja-manjanya itu.


Rindu yang menggerogoti mengalahkan rasa malu Tia. Wajar saja, hampir 3 bulan dia berpisah dengan sang bunda. Setelah mengikuti ujian nasional SMA, Tia langsung merantau ke kota Boiland untuk mengikuti bimbingan belajar di salah satu lembaga terpercaya-demi persiapan mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri yang ternama.


"Nak, peluknya nanti lagi." Ucap bunda Zi sambil mengelus lembut punggung Tia.


"Iya, bunda." Tia menyeka cairan bening yang hampir membasahi masker yang sedang dikenakannya.


"Bunda, kalau begitu aku permisi dulu." Faiz berpamitan


"Ah, tidak usah Bunda." Tolak Faiz halus


"Tidak apa-apa, Nak. Ini untuk uang rokokmu saja."


"Terimakasih Bunda. Tapi tidak usah, lagi pula saya tidak merokok."


"Terimakasih banyak, Nak Faiz."


"Sama-sama Bunda." Ungkapnya lalu kembali menuju area kedatangan penumpang.


***


"Ternyata wanita yang dulu memakai masker itu adalah Tia?" Faiz masih tak habis pikir bahwa dunia sesempit itu.


Hal wajar jika dulu Faiz tidak memperhatikan Tia karena waktu itu dia masih berstatus sebagai pacar Khume. Faiz memang termasuk tipe pria yang menjaga pandangan ketika sudah mempunyai pasangan.


"Iya, Nak Faiz. Ini Tia anak Bunda. Yang waktu ketemu di bandara." Bunda Zi mencoba memgingatkan kembali Faiz.


"Tia, sini Nak. Waktu itu belum sempat kenalan, kan?" Bunda Zi ingin mengenalkan putrinya kepada Faiz.

__ADS_1


"Kami saling kenal Bunda. Kami bahkan satu kelas di kampus." Dengan sopan Faiz langsung mencium tangan karena keterkejutan tadi membuatnya lupa untuk memberi salam.


"Wah, bunda senang sekali mendengarnya. Ayo... Ayo kita duduk dulu." Bunda mengajak Faiz untuk duduk di ruang tamu. Tak lupa meminta pada Tia untuk membuatkan minuman.


Keduanya terlihat begitu asik mengobrol, seperti kawan lama yang baru bertemu. Namun, Faiz masih tetap menjaga sikap. Dia terlihat begitu menghormati Bunda Zi.


"Kenapa kesini lagi, sih? Kemarinkan katanya tidak akan datang lagi." Tia melirik sinis sambil meletakkan kopi hangat di hadapan Faiz


"Terimakasih. Oh iya, aku ke sini sebenarnya ingin mengantar Tia ke bandara Bunda." Beber Faiz sambil melempar senyum ke arah Tia.


Sepertinya Tia tidak jadi pulang kampung karena kedatangan sang Bunda.


"Tia tidak jadi pulang, kan Bunda sudah di sini." Bunda Zi menyeruput lagi susu hangat miliknya.


"Tapi Bunda tidak menyangka kalau ternyata kalian sedekat itu." Sambungnya


"Tid-" Ucapan Tia langsung dipotong


"Tentu saja, Bunda. Baru-baru ini kami bahkan mendaki bersama, loh." Faiz bersemangat menceritakan kedekatan mereka.


"Oh, jadi kamu mendaki dengan Faiz? Kenapa tidak bilang?" Bunda Zi terlihat begitu senang mendengar pernyataan Faiz.


"Kami tidak dek-" Lagi, ucapan Tia disela oleh Faiz


"Mungkin Tia masih malu-malu Bunda."


"Padahal Bunda biasa cerita tentang Faiz, loh." Bunda Zi


"Bunda," -berusaha menghentikan ucapan Bunda Zi- "lebih baik bunda istrahat. Kan baru datang, pasti capek." Tia mencari alasan paling tepat


"Tapi Bunda masih ingin cerita dengan Nak Faiz."


"Tidak apa-apa Bunda. Kan nanti aku datang lagi." Ucap Faiz.


Jreeeng kata-kata barusan sukses membuat Tia naik pitam "Apa? Mau datang lagi? Ish!!"


"Lebih baik Bunda istrahat. Tia mau keluar sebentar dengan Faiz. Boleh, kan?" Pinta Tia


"Tentu saja boleh, justru Bunda senang." Tandasnya lalu masuk ke dalam kamar.


Setelah Bunda Zi hilang dibalik pintu, Faiz langsung melontarkan pertanyaan. "Kita mau kemana?"


"Ikut saja. Kita perlu bicara!" Tia mulai berjalan ke arah parkiran


"Baiklah. Tapi kau harus naik di motorku." Faiz mengajukan syarat. Sepertinya dia telah membaca hal apa yang akan dibahas Tia.

__ADS_1


Tia pun langsung naik ke atas motor Faiz tanpa basa-basi


~ Bersambung


__ADS_2