
Setelah hari libur yang dihabiskan Faiz dengan drama kencannya bersama Kiran, kini dia harus kembali ke dunia kampus yang menurutnya penuh dengan tekanan.
Sepanjang jalan dia berpikir bagaimana dengan nasib laporannya yang sama sekali tidak dia kerjakan. Memang sudah terlambat, tapi tidak ada salahnya berharapkan? siapa tau ada keajaiban tiba-tiba ada demo atau ada tawuran sehingga kampus libur lagi, atau kejadian si asistennya mendadak sakit sehingga waktu pengumpulan laporan diperpanjang.
"Ya sudahlah, ini memang salahku. Nanti di kampus baru cari solusi." Pikir Faiz acuh.
Dia terus melajukan kendaraannya, bersiul sepanjang jalan seperti orang tanpa beban hidup.
Di pertigaan jalan dekat kampus banyak petugas berjaga. Padahal biasanya di area situ kendaraan bebas lalu lalang. Terlihat beberapa sepeda motor sudah ditahan karena tidak mematuhi aturan lalu lintas.
"Eh? Kenapa dia disitu? jangan-jangan dia kena tilang juga?" Faiz seperti mengenali salah seorang pelaku yang tidak mematuhi aturan lalu lintas.
Dia menepikan sepeda motornya setelah yakin bahwa yang dia lihat memanglah Tia.
"Kau kena tilang?" Faiz basa basi
"Tidak. Cuma kena sial," jawabnya acuh
"Kau pasti disuru bayar mahalkan?" Faiz menebak.
Tia tak menjawab. Tatapannya kosong. "Kenapa disuru bayar semahal itu? Inikan akhir bulan. Sisa uang jajanku untuk bulan ini bahkan tidak cukup untuk membayarnya"
"Ooii...oiii mau dibantu tidak?" Faiz melambaikan tangannya di depan wajah Tia.
"Apa tidak ada pilihan lain? Dia pasti minta imbalan kalau sudah menolongku. Apa aku ikut sidang saja?" Tia sedang menimbang-nimbang.
"Ya sudah kalau tidak mau. Aku pergi saja," pancing Faiz. "Dia pasti akan menahanku," Faiz mulai berjalan meninggalkan Tia. "Sebentar lagi dia pasti memanggil namaku." Faiz sudah berada di atas motor tapi Tia hanya membiarkannya begitu saja.
"Astaga kepala batu!! gengsinya setingkat maha dosen" Faiz kembali turun dari atas motor dan berjalan menghampiri petugas yang menahan motor Tia.
"Kenapa dia turun lagi dari motor?" gumam Tia
"Permisi pak, teman saya melakukan kesalahan apa yah?" Faiz menunjuk ke arah Tia menggunakan ibu jarinya.
"Oh, teman kamu tidak memakai helm," jelas petugas
"Sudah kuduga. Dia pasti tidak menyangka di area sini akan ada petugas," pikir Faiz.
"Begini Pak, kebetulan teman saya itu hanya anak kost," Faiz terlihat sedang bernegosiasi dengan petugas. Sebagai putra asli kota Boiland tentu dia paham betul bagaimana sistem kerja para petugas itu.
Setelah beberapa menit mereka berdiskusi, akhirnya Faiz berjabat tangan dan membungkuk dengan sopan seraya berucap terimakasih.
"Ini kunci motormu," Faiz menyerahkan kunci motor Tia yang berhasil diambilnya dari para petugas.
"Lain kali gunakan helm demi kepalamu, bukan demi kepala polisi," sambungnya
"Eh? bagaimana bisa? berapa uangmu yang harus kuganti?" Tia
"Aku tidak butuh uangmu," balas Faiz
"Aku tidak suka berhutang budi," jelasnya
"Kalau begitu beri aku file laporan praktek lapangmu." Faiz memainkan alis kanannya
"Bisa bahaya kalau ketahuan kamu copy-paste," ujar Tia
"Kalau tidak mau, berarti kau berhutang budi padaku." Faiz melipat tangannya ke dada
"Hhmm baiklah," ucap Tia pasrah
"ayo ke tempat percetakan laporan," titah Faiz.
Tia mengikuti Faiz dari belakang sampai ke tempat yang dimaksud. Hanya edit identitas, cetak laporan, lalu di jilid. Dalam waktu singkat laporan Faiz telah siap untuk dikumpul.
"Kau kumpul terlebih dahulu laporanmu," Faiz mengatur strategi ketika mereka sampai di parkiran kampus.
"Baiklah," Tia hanya menurut. "Aku tidak yakin ini akan berhasil."
__ADS_1
Sesuai dengan rencana, begitu mereka memasuki jurusan Tia langsung mengumpul laporannya sementara Faiz bergabung dengan teman-teman. Setelah dirasa cukup lama, barulah Faiz mengantar laporannya.
"Ini laporanku Kak," Faiz menyerahkan laporan bersampul merah.
"Sip," jawab Ari singkat.
Faiz langsung balik kanan meninggalkan Ari. "Ternyata cukup mudah mengelabuinya."
Baru saja Faiz kembali bergabung dengan teman-temannya, tiba-tiba seseorang yang baru saja keluar dari ruangan tempat Ari duduk memberitahu bahwa dia dipanggil oleh si gondrong.
Dengan segera ia berjalan menuju ruangan yang baru beberapa menit dia tinggalkan. "Eh? dipanggil lagi?" Faiz menyimpan tanya dibenaknya.
Matanya terbelalak ketika mendapati Tia sudah berdiri di hadapan sang senior.
"Permisi Kak," ucap Faiz lalu berdiri di samping Tia.
"Kalian berdua kerja sama?" tukas Ari
"Tidak Kak," dengan cepat Tia menjawab.
"Itu adalah hasil jerih payahku, dia hanya copy-paste." Gumamnya
"Kalian pikir aku tidak tau? laporan kalian isinya sama persis!!"
Faiz diam membisu. Dia hanya menunduk. "Berhentilah mengomel, langsung saja beri sanksi."
"Laporan kalian berdua terpaksa saya tolak," Ari memberi keputusan.
"Kak kenapa saya juga? kan yang copy-paste dia," protes Tia.
"Siapa yang bisa menjamin?" Ari bertanya dengan ekspresi datar
"Kak Arikan melihat jelas waktu itu aku mengerjakan sendiri laporanku di himpunan," Tia mencoba mengingatkan meski dia tau tidak mungkin sang senior lupa akan hal itu.
"Aturan tetap aturan! laporan kalian ditolak," tegas Ari.
"Ini pembelajaran untuk kalian, jangan bertingkah seperti malaikat yang bodoh. Dan kalian bukan binatang yang suka menggigit tulang. Apalagi iblis yang gemar menikmati hasil kerja orang lain." Ari mengkritik dengan nada santai tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya benar-benar pedas.
"Aduh si gondrong ini seperti ibu-ibu saja, kapan dia akan berhenti mengoceh? kakiku mulai pegal," gumam Faiz dalam hati.
Tia hanya diam tertunduk lemas, dia tidak punya kekuatan untuk menatap seniornya.
"Kenapa kalian diam," tanya Ari mencoba memancing, mungkin dia merasa risih melihat Tia yang bersikap kalem.
"Maaf," jawab Tia lalu kembali diam.
"Baiklah, kalian kuberi dispensasi," Ari.
Spontan kepala Tia terangkat. "Benar Kak?" Matanya menatap Ari sekejap lalu tertunduk kembali. "Dia masih jadi beruang kutub," batin Tia.
"Kumpul kembali laporan kalian paling lambat hari Kamis," Ari tersenyum tipis.
"Apa?" Tia berdecak tak percaya. Kali ini dia memelototi seniornya. "Sudah jadi beruang andes rupanya," gumam Tia ketika mendapati Ari tersenyum tipis.
"Apa waktunya kurang?" kali ini Ari bertanya dengan lembut.
"eekhhmm... -Tia berdehem mengumpulkan keberanian- sampai hari jum'at yah Kak? tambah sehari lagi, kumohon"
Ari melayangkan senyuman untuk membalas wajah memelas Tia.
"Baiklah--" ucapan Ari langsung disela
"Terimakasih Kak," Tia kegirangan. Namun, itu hanya sementara. Wajahnya kembali cemberut ketika mendengar kalimat Ari selanjutnya.
"Kalau begitu sampai hari rabu," Ari melanjutkan ucapannya yang terpotong.
"aaaaaa bodooh...bodooh... kenapa aku berani menawar perkataannya." Tia menunduk dan memukul-mukul kepalanya.
__ADS_1
Senyum yang di lemparkan Ari ke arah Tia mengundang tanya dibenaknya Faiz.
"Drama apa yang dari tadi sedang kusaksikan si**h?" Faiz membatin.
"Hei kau kenapa?" tanyanya sedikit berbisik
Tia tak menggubris pertanyaan Faiz. Sejenak dia terdiam lalu kembali memukul kepalanya.
"Permisi Kak," kata Faiz ketika melihat Ari memberi kode agar mereka segera keluar dari ruangan itu.
"Ayo keluar!" bisik Faiz lalu menarik tangan Tia.
Setelah keluar dari ruangan senior gondrong itu, Faiz melepaskan tangan Tia. "Jangan lebay begitu."
"Lebay apanya? kenapa kau selalu menyusahkanku?" Tia
"Eh? otakmu terbalik?" balas Faiz
"Kenapa kau tidak mengerjakan laporanmu? kalau tidak niat kuliah berhenti saja!" gerutu Tia
"Kenapa kau jadi marah-marah padaku?" ucap Faiz. Dia mengingat kembali waktu liburnya yang sama sekali tidak dia gunakan untuk mengerjakan laporan.
"Pikir sendiri!!" Tia berjalan menuju gazebo depan jurusan untuk menenangkan pikirannya yang kusut.
"Aarrgghh kenapa kau duduk disini?" tanya Tia kepada Faiz yang memilih duduk di gazebo yang sama dengannya.
"Tidak ada tulisannya 'dilarang duduk disini' kan?" Faiz menjawab semaunya.
Malas berdebat, akhirnya Tia memutuskan untuk pindah ke gazebo yang lain.
"Apa lagi? kenapa kau ikut pindah di sini?" Tia mulai kesal karena Faiz terus mengikutinya.
"Di sebelah sana anginnya kurang berasa," lagi-lagi Faiz menjawab semaunya.
Tia menarik nafas panjang. "Katakan saja apa maumu?" dia mulai serius.
"Ternyata kau cerdas juga," sanjung Faiz karena Tia berhasil membaca niatnya. "Bantu aku mengerjakan laporan," sambungnya.
"Minta tolong pada yang lain saja," balasnya
"Yang berhutang budi padaku-kan kau. Jadi kau yang harus membantuku," jelas Faiz
"Tidak mau! balas dengan yang lain saja."
"Aku cuma butuh bantuanmu mengerjakan laporan. Bukan yang lain," ujar Faiz.
"Pokoknya aku tidak mau!" Tia masih terus menolak
"Kenapa?"
"Aku tidak mau berurusan denganmu." Tia membuang muka.
"Baiklah. Tapi kasi alasan yang masuk akal dong," pinta Faiz
Tia hanya menelan ludah.
"Diam artinya setuju." Faiz bangkit dari duduknya. "Nanti aku ke tempatmu." Sambungnya sambil memainkan alis lalu pergi menjauh meninggalkan Tia.
"Kenapa dia selalu bertingkah semaunya? dasar buldozer karatan" Tia mengumpat.
Tiba-tiba dia teringat dengan benda dalam tasnya. Yap, alat laboratorium yang sudah dibelinya beberapa hari yang lalu. "Kukembalikan dulu benda ini, terus pulang, lalu menonton anime andalan untuk menghilangkan stressku." Tia bergegas melaksanakan rencana yang ada di kepalanya.
~bersambung
---------------------------------------------
Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕
__ADS_1