Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 21 Lagi M


__ADS_3

Sejak dari sore Faiz jarang berkomunikasi dengan Kiran karena sedang sibuk mengerjakan laporan. Dia menyantap makanan sambil memainkan ponselnya. Tentu saja tak ada yang melarang, karena tinggal Faiz sendiri yang belum makan malam.


"Kak Aiz awas tulangnya ikut tertelan," ujar Uli yang baru saja datang.


"Bawel," balas Faiz


"Aaaa kakak mana es krimku?? kau mengambilnya lagikan?" Uli merengek ketika tau makanan yang dia simpan dalam kulkas telah ludes.


"Semua yang ada di kulkas adalah milik bersama," Faiz


"Aturan dari mana itu?" Uli.


"Aturanku dong," Faiz.


"Aaaaa tidak mau.. pokoknya ganti.. Aku mau makan sekarang. Pokoknya ganti SEKARANG!!"


"Iya..iya.. habis makan aku ganti deh. Katanya sudah besar tapi masih cengeng," Faiz


"Aaaa terserah! pokoknya habis makan belikan aku es krim," Uli merajuk


"Iya ish, cengeng." Faiz kembali menyantap makanannya. "Ternyata dia masih adikku," gumamnya senang melihat Uli merengek seperti biasa.


"Kalau ke Alfamode sekalian belikan aku obat nyeri datang bulan kak," Uli


Mendengar kata 'datang bulan' Faiz langsung tersedak. "Uhuk..uhuukk." Segera diteguknya segelas air putih. Namun, masih belum cukup. Kerongkongannya masih belum lega.


"Air..aiirr." Uli yang tidak tega melihat insiden itu segera membantu sang kakak menuangkan air ke dalam gelas lalu memijat-mijat tengkuk Faiz.


"Sial. Kenapa aku harus mengingat kejadian itu lagi," batin Faiz.


"Makanya makan jangan sambil main handphone dong," Uli


Setelah merasa baikan, Uli langsung meninggalkan sang kakak sendirian dan menunju ke ruang keluarga. Begitu pula dengan Faiz, setelah selesai makan dia langsung memenuhi permintaan adiknya.


***


Sesuai janjinya, Faiz menuju Alfamode untuk membeli pesanan adiknya yakni es krim dan obat nyeri datang bulan.


"Aku beli satu lagi untuk Kiran deh. Pasti dia senang."


Waktu belum menunjukkan pukul 21.00, masih ada waktu untuk Faiz mengantar es krim ke rumah Kiran. Ini dia lakukan sebagai langkah untuk menumbuhkan perasaannya terhadap Kiran, begitupun sebaliknya. Memang sederhana, tapi terkadang hal sederhana itulah yang bisa menghadirkan rasa nyaman.


"Ini untukmu," -menyodorkan es krim- "maaf yah, aku tidak bisa berlama-lama," kata Faiz.


"Karena sebentar lagi ibuku pasti menelfon," gumam Faiz. Tadi memang dia cuma izin sebentar untuk ke alfamode.


"Kau datang hanya untuk mengantarkan es krim?" Tanya Kiran.


"Iya, semoga kau senang." Faiz melempar senyum.


"Terimaka--" Kiran menghentikan ucapannya. Dia teringat dengan perkataan Faiz 'jangan berterimakasih untuk sesuatu yang sudah semestinya'


"Ah, aku sangat senang." Kiran melempar senyum.


"Syukurlah. Kalau begitu aku pulang dulu," Faiz.


"Iya. Hati-hati di jalan," ucap Kiran sambil melambaikan tangan hingga Faiz menghilang dari pandangannya.


Ketika sampai di rumah, Faiz kena semprot oleh adiknya. Sudah lama dia menunggu Faiz dan ternyata es krim pesanannya muncul tidak sesuai espektasi. Es nya mulai meleleh ditambah lagi Uli yang sedang PMS membuatnya mengomel sejadi-jadi.


***


Kota Boiland seperti tak mengenal waktu malam. Jalanannya tak pernah sepi dari kendaraan. Ada yang masih bekerja hingga pagi dini hari, dan ada pula yang baru mulai bekerja pada pagi dini hari. Suara kendaraan itu ikut menemani Tia yang terus terjaga hingga pukul 04.00. Apakah patut dia bergembira akibat insiden kemarin sore?karena berkat itulah dia mampu mengerjakan laporannya hingga 80%. Tetapi, hal itu pula yang membuat Tia sulit untuk masuk ke alam tidur.


Tok.


Tok..


Tok...


Pintu kamar Tia diketuk. Bunyinya semakin lama semakin keras hingga Tia yang baru tidur sekitar 3 jam lebih berhasil sadar dari alam mimpinya.


Dengan sempoyongan dia membuka pintu kamarnya.


"Mmmm.. siapa?" tanya Tia

__ADS_1


"Faiz," sahut sang tamu.


"Apa katamu? siapa?" -mengucek mata- "Faiz?" -membuka sedikit mata- "Apa?? Fai.... hah???? Faiz??" matanya langsung terbuka lebar ketika tersadar siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Aaaaaaaaa." Spontan Tia berteriak.


"Aaaaaaaaa." Faizpun ikut berteriak karena kaget melihat sesuatu yang menonjol.


"Brrraaaakkk." Pintu kamar Tia ditutup dengan keras.


"Astaga!!! Apa yang dia lakukan sepagi ini?"


"Dia melihatku dengan penampilan seperti ini?" Memegang rambut yang acak-acakkan serta baju tidur yang kainnya tipis nyaris transparan. Dia bahkan belum sempat mencuci muka.


"Ha?? jangan-jangan dia melihat--" Tia menyilangkan kedua tangannya di atas dada.


"Haaa bagaimana ini? barang antikku terlihat."


Dia memang punya kebiasaan tidur tanpa menggunakan dalaman.


Sementara Faiz yang berada di luar kamar juga ikut gelisah. Masih segar di ingatan kejadian kemarin sore, dan sekarang dia menyaksikan lagi fenomena ubnormal yang seharusnya tidak disaksikannya.


"Masih pagi-pagi dia sudah merebut kesucian mataku," gumam Faiz.


Dia memilih menunggu saja sampai Tia keluar dengan sendirinya. Tapi sudah satu jam lebih dia menunggu Tia belum juga menunjukkan batang hidungnya.


"Apa kuketuk saja pintu kamarnya yah? jangan-jangan terjadi sesuatu padanya," Faiz.


Akhirya keputusan yang diambil Faiz adalah tetap diam menunggu hingga Tia keluar dari sarangnya.


Sementara Tia yang masih bersembunyi di dalam kamar terus mengintip melalui kaca jendela.


20 menit...


30 menit...


1 jam...


2 jam...


Ucap Tia sambil membuka pintu kamar.


Dia melangkahkan kakinya dengan sangat malas. Dari jauh nampak Faiz telah menyambut kedatangan Tia dengan senyumnya yang sumringah.


"Cih memasang senyum palsu padahal dia pasti sangat kesal telah menunggu lama," Pikirnya.


"Kenapa kau lama sekali di dalam? tanya Faiz berusaha menghilangkan rasa canggung akibat insiden kemarin sore dan pagi ini.


"Nah.. Kan.. Kubilang juga apa? dia pasti kesal," Tia


"Kau baik-baik saja?" tanya Faiz lagi


"Dengan wajah kusut begini kau masih bertanya aku tidak apa-apa?" Tia masih membisu. Dia malas menjawab pertanyaan Faiz.


"Oh ya, aku bawakan kamu sup buatan ibuku. Katanya enak makan sup hangat ketika datang bulan." Faiz membuka rantang yang sejak tadi disimpannya di atas meja.


"Nah, kan. Apa lagi ini?" batin Tia. "Maksudnya?" Akhirnya Tia buka suara.


"Ini juga untuk ucapan maaf karena kemarin aku seenaknya saja merebut laporan bekas sampai kelihatan--" ucapan Faiz langsung dipotong


"Cukup. Tidak perlu dilanjutkan!!" Pipi Tia merona


"Iya...iya... Maaf. Tapi sup nya sudah dingin karena kau terlalu lama keluar," -memegang tempat tuppurwara- "kau panasi saja dulu," Faiz.


"Malas," jawab Tia singkat


"Kalau begitu aku saja yang panaskan, kau tunggu di sini." Faiz langsung bangkit lalu berjalan menuju dapur. "Sabar...sabar.. dia lagi datang bulan.. sabar...." Faiz mengelus-elus dadanya.


Setelah beberapa menit Faizpun muncul dengan membawa sup panas.


"Makanlah!! itu sup ibuku paling enak sedunia," Faiz


"Makannya pakai tangan?" tanya Tia.


Faiz lupa membawa sendok

__ADS_1


"Kan tinggal sendok, kau ambil saja sendri!" Faiz. "Aku benar-benar minta disemprot." Faiz menutup matanya sebelah seperti orang yang siap untuk dimarahi


"Aku benar-benar lagi M." Diluar espektasi, bukannya mengomel Tia justru menjawab perkataan Faiz dengan santai


"M apa?" Faiz


"MALAS!!" Kali ini Tia menjawab dengan mata sedikit melotot.


"Hohooo santai... santai... nanti aku ambilkan sendok." Dengan cepat Faiz melangkahkan kakinya menuju dapur.


Ketika kembali, Faiz bukan hanya membawa sendok tapi lengkap dengan segelas air putih.


"Makanlah." Faiz menyodorkan sendok dan air


Baru suapan pertama mata Tia sudah memerah. "Aku rindu masakan bunda," gumamnya


"Enakkan?" Faiz


"Iya."


"Memang tidak ada yang bisa mengalahkan masakan para ibu di dunia," Faiz.


Tia terus menyantap sup yang ada di hadapannya dan menahan kristal bening agar tidak tumpah membasahi pipinya.


"Katanya lagi M tapi makannya R," ucapan Faiz membuat Tia tersedak.


Meneguk air putih lalu kembali menyantap sup tanpa menghiraukan ucapan Faiz barusan.


Akhirnya Faiz memilih untuk bicara dalam hati saja.


"Dia ini mirip si Uceng. Malas gerak kalau lagi M," gumam Faiz sambil sesekali melirik Tia. Bayangkan saja, benda apa lagi yang akan mendarat di wajahnya jika dia berani menatap wajah Tia seperti kemarin.


Faiz larut dalam pikirannya hingga dia terbawa pada kejadian tempo lalu.


"Jangan-jangan waktu pertama masuk kuliah dia juga lagi M? makanya dia memberi nomor ponselnya lewat Hani?"


Kali ini mata mereka bertemu. Faiz kaget karena Tia melotot. Sepertinya wanita itu sadar kalau Faiz sedang curi-curi pandang padanya.


"Sekali lagi kau melirik ke sini, aku akan me--" ancam Tia.


"Iya...iya... siapa juga yang mau melirikmu lagi," ucap Faiz lalu mengalihkan pandangannya.


Setelah selesai makan, mereka langsung mengerjakan laporan dengan tenang. Faiz memilih diam dan menjaga sikap agar tidak membuat singa betina yang ada di hadapannya menunjukkan taring. Dia juga diburu waktu karena ada janji sebentar sore dengan Kiran. Itulah hal yang membawa Faiz datang pagi sekali ke kost Tia.


"Tadi kenapa kau tiba-tiba muncul di depan kamarku?" tanya Tia memecah keheningan


"Aku memanggilmu dari luar pagar tapi yang keluar adalah pemilik kost," -sambil mengetik- "lalu aku disuru untuk mengetuk sendiri pintu kamarmu." tutur Faiz.


"Kenapa kau tidak menelfon dulu?" Tia bertanya lagi


"Coba cek ponselmu. Sudah puluhan kali aku menelfonmu." Masih serius mengetik


"Oh," jawab Tia singkat.


"Tumben hari ini dia kalem. Apa karena aku sedang M? Kalau tau begini sih dari dulu aku akan mengatakan kalau aku sedang M supaya dia berhenti menggangguku," batinnya.


"Uhhuuiii.. cihuuiii.. akhirnyaaa." Faiz terlihat girang karena berhasil menyelesaikan laporannya.


"Sudah selesai? coba aku cek." Tia mendekat menatap layar laptop Faiz.


"Eh? Kenapa dia jadi mendekat begini?" Faiz bahkan nyaris bisa merasakan setiap hembusan nafasnya.


"Hee..heee.. jangan-jangan dekat!!!" Faiz menjauhkan kepalanya. "Akukan sulit bernafas."


Tia hanya melirik dengan tatapan mematikan. "Baguslah. Sekarang pulang sana!" titahnya


"Iya sabar hhuu." Faiz melirik jam tangannyanya. "Masih ada waktu 30 menit sebelum ketemu Kiran."


Faiz merapikan barang-barangnya. Tentu saja tak lupa dia membawa pulang tuppurwara milik sang ibu. Karena kalau sampai hilang, ibunya pasti akan terus mengomel (fenomena ibu-ibu sayang tuppurwara).


Setelah selesai dia merapikan barang-barangnya, dengan cepat dia mengemudikan motornya menuju rumah Kiran.


~ bersambung


Selamat Hari Raya Idul Fitri.

__ADS_1


Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏


__ADS_2