Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 17 Himpunan


__ADS_3

Dengan mata yang masih menyipit Tia menyapa tamunya


"kenapa kau datang sepagi ini?"


"Ya ampun anak gadis. Ini sudah jam 9 pagi, kau baru bangun?" Hani langsung menerobos masuk tanpa dipersilahkan


"Aku baru saja ingin memperbaiki tidurku." Tia membanting dirinya di atas kasur


"Kau begadang kerja laporan yah?" memeriksa laptop Tia yang ada di meja belajar


"Laporan dari surgamu!! lembar kerjaku bahkan masih putih bersih." Tia memeluk gulingnya


"Tumben, biasanya kau paling cekatan kalau soal laporan." Masih mengutak-atik isi laptop Tia


"Kau nonton saja yah, wifi kost aktif kok. Aku mau tidur sebentar." Mulai memejamkan matanya


"Heee jangan tidur lagi! bangun kerja laporan. Hari senin kita asistensi tau." Hani menarik guling Tia


"Mmmm aku tidur sebentar saja, 30 menit yah." Mata Tia masih terpejam


"Ayo bangun, jangan malas-malasan." Hani dengan usilnya menarik kaki Tia


"Mmmm.. 10 menit saja deh," pinta Tia


"Hadeh mana mungkin cuma 10 menit. Ayo bangun! kau taukan kak Ari orang yang disiplinnya tidak bisa ditawar-tawar." Hani membayangkan wajah senior gondrongnya itu.


Mendengar nama Ari disebut, mata Tia langsung terbuka lebar


"Haaa si gondrong itu yah? benar juga." Tia langsung bangun dari tidurnya.


"Baiklah. Ayo semangat!! Tia menggangkat tangan untuk meregangkan otot-ototnya


"Nah ini baru Fatricia, gadis manis milik si Faiz," Hani menggoda


"Sampoi dulu mulutmu baru banting lidah" air mukanya langsung berubah


"Hahaha aku hanya bercanda ish, mandi gih!" Hani mengambil handuk dan melemparnya ke arah Tia


Tanpa penolakan Tia langsung menuju kamar mandi. Dan seperti biasa, Hani tak butuh waktu lama untuk menunggunya selesai mandi dan berpakaian. Wajah polosnya tanpa sentuhan make-up membuatnya masuk dalam nominasi wanita anti rempong.


"Oh iya, tadi ponselmu berdering terus, jadi kuangkat," Hani


"Siapa yang menelfon?" tanya Tia sambil mengeringkan rambutnya


"Kak Ari," jawabnya santai


"Aduh, terus dia bilang apa?" bertanya lagi


"Katanya kau harus ke himpunan sekarang." Hani tidak menghentikan aktivitas mengetiknya di depan laptop


"Inikan hari libur, aku sedang malas keluar. Jadi tadi kau jawab apa?"


"Ya apa lagi kalau bukan mengiyakan semua perintah senior," Hani menjawab tanpa beban


"Kalau begitu kau harus temani aku." Dia meminta pertanggung jawaban Hani


"Kali ini kau pergi sendiri yah. Aku menunggumu saja di sini," tawar Hani. Terbayang lagi bagaimana sialnya dia dikerjain oleh senior-seniornya di himpunan.

__ADS_1


"Nanti kita kerja laporan di sana saja. Sekalian minta bantuan sama kak Ari." Bujuk Tia


"Tidak mau. Diakan cuma baik padamu. Cepatlah pergi, jangan membuat si gondrong menunggu terlalu lama," Hani


Ponsel Tia berdering lagi, Ari kembali menelfonnya. Tadi memang dia berpesan untuk secepatnya ke himpunan.


"Kalau lapar kau tinggal masak sendiri saja yah, masak saja apa yang ada." Dengan cepat Tia mengisi laptop dan beberapa benda yang diperlukannya ke dalam tas.


"Iya, jangan pikirkan aku. Telfonnya angkat dulu tuh." Hani memberi saran


"Tidak perlu. Pasti dia akan berpikir bahwa aku sudah jalan." Jarak dari kos menuju himpunan memang hanya memakan waktu kurang lebih 7 menit.


"Aku pergi dulu." Menyambar kunci motor lalu segera keluar menuju parkiran


"Kuatkan dirimu nak." Hani memberi semangat perpisahan.


Karena hari libur, kendaraan yang biasanya lalu-lalang di area menuju kampus menjadi sepi sehingga Tia dengan leluasa menguasai jalanan. Dia sampai 3 menit lebih cepat dari biasanya.


"Kau sudah datang rupanya," sapa Ari dengan girang, bahkan sebelum motornya berhenti dengan benar.


Tia mendekat ke sumber suara. "Maaf kak." Ucapnya sambil menundukkan kepala dihadapan Ari


"Santai saja, duduklah." Berbeda dari biasanya, mungkin hari ini mood Ari sedang baik.


Tia memilih duduk di gazebo sementara Ari duduk di teras himpunan sehingga posisi mereka saling berhadapan dengan jarak 5 meter.


Suasana himpunan hari ini sedikit berbeda, himpunan jurusan lain juga tak seramai biasanya. Mungkin para pengurus banyak yang memanfaatkan libur untuk pulang kampung. Libur sehari ditambah sabtu dan Ahad, lumayankan 3 hari bisa kumpul bersama keluarga.


Sudah hampir 15 menit Tia duduk, tapi Ari hanya diam menatap layar laptopnya.


"Kenapa dia mendiamiku? kan tadi dia yang menyuruhku datang." Tia menatap kesal pria gondrong itu namun tak berani protes.


"Oh pantas, ternyata sedang mengurus proyek." Matanya iseng mengintip layar laptop Ari


"*T*api maksudnya menyuruhkan datang apa coba?" gumam Tia setelah meletakkan kopi di meja sang senior.


"Dasar bodoh, buang-buang waktu saja. Keluarkan laptop dan kerjakan laporanmu sekarang" titah Ari lalu menyeruput kopi yang baru saja diletakkan


"Siap senior" Tia tersenyum bahagia. "*Y*es bikin laporan dibimbing langsung oleh asistennya," pikir Tia.


Kini keduanya duduk berdampingan dengan pandangan yang fokus pada laptop masing-masing.


"Kak Ari bagi colap dong." Seperti lupa diri, dengan beraninya dia meminta contoh laporan yang jelas-jelas tidak boleh dilakukan.


"Aku cuma liat susunannya kok, bukan mau copy-paste semua," lanjutnya


"Bagaiman kau bisa pintar kalau malas? usaha sendiri dulu," Ari menasehati dengan lembut.


Tia hanya mengangguk dan kembali mengerjakan laporannya. Namun tak berselang lama mulutnya kembali terbuka


"Kak coba jelaskan keterkaitan antar variabelnya, aku kurang paham."


"Memangnya kau hidup di zaman paleozoikum? masa cuma hapemu yang smart tapi pemiliknya gaptek, kau baca sendiri dulu di om geeglo baru bertanya." Ucapannya tak sesantai mimik wajahnya


"Jya..iya. iya.. iya deh." Tia seperti merajuk, bibir kanannya terangkat naik


"Hahaha dasar junior kundang," Ari

__ADS_1


"*D*ia memang selalu terhibur ketika menghinaku. Lembutnya sedikit, pedasnya lebih banyak," Tia membatin


"Biasakan membaca agar cakrawala berpikirmu terbuka. Kau tau tidak, Ilmu yang kau dapatkan sendiri akan lebih membekas daripada hanya hasil dari suapan. Belajar memahami sendiri, kalau buntu baru bertanya." Setelah menasehati Tia dengan panjang lebar barulah Ari kembali mengerjakan proyeknya.


"Siap senior." Tia membusungkan dadanya lalu memberi hormat seperti prajurit.


Tingkahnya itu mengundang tawa, jelas saja itu bukan bentuk penghormatan tapi justru ejekan untuk si gondrong.


"Pokoknya kau tidak boleh pulang sebelum laporanmu selesai minimal 65%," tegas Ari


"Mana bisa kak, 50% saja yah kak?" tawar Tia


"Oke. Kalau begitu 89%." Ari justru menaikkan syaratnya


"Aku bercanda kak, sip yang awal 65% yah?" Tia


"Masih mau menawar?" Ari melirik Tia


"Hehe tidak kak." Tia pasrah karena semakin dia menawar pasti hasilnya akan semakin buruk


"Pokoknya kak Ari tenang saja kak, aku akan mengerjakannya dengan cepat dan meninggalkan kak Ari sendirian disini ups hahaha." Tia tidak sedang keceplosan, dia memang sengaja mengatakannya


"Dasar junior kundang." Ari hanya tersenyum tipis.


"Tapi kak Ari biasanya makan apa sih? kenapa otaknya bisa seencer itu?" Tia sok ingin tau


"Kodemu kurang cerdas. Bilang saja kau lapar dan minta ditraktirkan?" Tebak Ari yang sempat mendengar bunyi perut Tia. Sepertinya cacing-cacing di perut juniornya itu sudah merongrong minta diberi makan


"Sebenarnya tidak juga sih, tapi kalau kak Ari menawarkan aku tidak akan menolak," jawab Tia tanpa malu


"Pesan saja semua yang ingin kau makan." Ari berbaik hati


"Serius kak? bisa semua? hehe aku jadi tidak enak." memasang wajah sok polos


"Tidak jadi. Kau pesan satu jenis saja." Ari menarik ucapannya diawal


"Aaa aku salah lagi. Tapi tidak apa-apa sih, setidaknya hari ini aku dapat anugrah." Tia mulai bangkit dari tempat duduknya


"Anugrah apa?" tanya Ari


"Anu gratis." Tia melempar senyum lalu berjalan menuju kantin himpunan.


Akhirnya Tia menghabiskan waktu liburnya dengan mengerjakan laporan bersama si gondrong. Suasana hangat tercipta di teras himpunan. Ari memang orang yang susah ditebak, sikapnya bisa berubah 180° dalam sekejap. Tapi Tia berhasilkan mematahkan rumor tentang "si cerdas bermulut pedas" yang beredar. Ternyata hal itu tidak sepenuhnya benar, Ari memiliki sisi lain yang tidak diketahui orang kebanyakan.


Tia mempunyai penilaian tersendiri untuk seniornya itu sehingga dia berani mengajaknya bercanda bahkan sesekali mengejeknya balik.


***


"Tia kau baik-baik sajakan? aku pulang dulu, nanti malam aku balik lagi sekalian nginap di tempatmu. Kunci kamarmu kusimpan di tempat biasa." Pesan singkat dari Hani yang mulai bosan menunggu kepulangan Tia.


"Kalau aku sakit, ini semua karena salahmu. Pokoknya bawakan aku beng-beng sekotak." Tia sengaja mengerjai Hani, dia tau wanita itu pasti akan membawakannya beng-beng sekotak sesuai permintaan.


"Tidak apa-apakan berharap anugrah lagi? hehe," pikir Tia. Dia menertawai isi kepalanya sendiri.


~bersambung


---------------------------------------------

__ADS_1


Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕


__ADS_2