
Faiz ikut duduk di gazebo, memperbaiki nafasnya yang tersengal karena mengejar Tia.
"Cie yang main kejar-kejaran," kata Hani yang sudah lebih dulu duduk di gazebo
Tia mulai memasang wajah kecut.
"Temanmu ini bertingkah seperti anak kecil. Main kabur tidak jelas," balas Faiz
"Kenapa juga kau mengikutiku?" Tanya Tia dengan nada bicara malas
"Tadi itu apa maksudnya?" Faiz
"Habislah aku. Benarkah dia mendengar omong kosongku tadi?" Tia menggigit bibir bawahnya
"Kenapa kau senyam-senyum?" Tia menegur Hani untuk mengalihkan pembicaraan
"Aku sudah tidak sabar menunggu kalian jadian," memeluk Tia
"Ish, apa coba!!" Melepas pelukan Hani
"Hadehh dia ini wanita ubnormal yang tidak tertarik pada pria." Sesuka hati menyimpulkan setelah dulu mengkepoi isi pesan whenapp Tia
"Berarti kau tertarik pada wanita yang ubnormal dong?" Hani menggoda Faiz
"Aku memang wanita ubnormal. Sekarang pergilah dari sini." Malas berdebat Tia memilih mengusir Faiz. Perkataan itu sontak membuat Hani tertawa lebar.
"Ikut aku ke ruang Pak Pras sekarang!" titah Faiz
"Siapa? aku?" Tia menunjuk dirinya
"Bukan!! Kau lihat itu?" -menunjuk- "batu itu yang disuru ke ruangan Pak Pras," jawab Faiz dengan penekanan yang berbeda
Berdiri lalu mengambil batu yang ditunjuk Faiz "Nih.. bawa ke ruangan Pak Pras!!" Meletakkan batu di tangan Faiz.
"Astaga!! Dasar kepala batu." Faiz berjalan menjauhi gazebo dengan tangan yang masih menggenggam batu berukuran bola pimpong.
Setelah hilang dari pandangan, barulah Tia menyusul ke ruangan Pak Pras dan meninggalkan Hani dengan suara tawanya yang seperti terdengar sampai ke surga.
Mengetuk pintu "Permisi Pak," ucap Faiz ketika handle pintu terbuka.
"Ya, silahkan masuk Faiz," sahut Pak Pras
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Pak Pras heran
Gelagapan "Ah, tidak Pak," -tersenyum kering- "cuma batu." Terpaksa menyimpan benda itu di dalam tasnya.
Tak berselang lama, Tiapun masuk ke ruangan Pak Pras. Setelah dirasa lengkap barulah dosen itu menyampaikan tujuan menyuruh mereka ke ruangannya.
"Kalau ada kesulitan, silahkan bertanya pada senior kalian." Maksudnya adalah si gondrong yang sejak tadi duduk di meja yang sengaja disediakan khusus untuknya. Karena Ari memang asisten kesayangan Pak Pras
"Baik Pak," jawab keduanya kompak.
Mereka dipanggil untuk membantu Ari memeriksa semua lembar jawaban khusus mata kuliah yang diampuh oleh Pak Pras. Alasan kenapa Faiz yang dipanggil tentu saja karena dia adalah ketua tingkat yang dekat dengan dosen. Sementara untuk Tia, namanya direkomendasikan langsung oleh Ari.
Mereka mulai memeriksa satu persatu lembar jawaban yang sudah bertumpuk di hadapan mereka. Tentu saja yang menjadi sumber informasi adalah Ari. Ketika ada hal yang kurang jelas, maka kepada si gondronglah tempat mereka bertanya.
Tia yang rasa keingintahuannya tinggi, sudah pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. "Sambil menyelam minum air" itulah kata yang paling tepat untuk Tia. Memeriksa lembar jawaban sambil belajar. Dia meminta penjelasan lebih kepada Ari tentang hal yang berkaitan dengan bidang keilmuan mereka.
"Itulah alasan mengapa intan memiliki tingkat kekerasan paling tinggi," kalimat penutup Ari setelah menjelaskan panjang lebar.
"Oh begitu rupanya." Tia berdecak kagum mendengar penjelasan Ari.
Sementara Faiz hanya diam membisu memeriksa lembar jawaban dengan serius.
Ketika pintu kembali tertutup, hela nafas lega terdengar keluar dari mulut Faiz "Semakin lama justru semakin bagus," gumam Faiz yang sedari tadi muak melihat drama senior - junior itu.
"Kenapa pertanyaanmu banyak sekali?" tanya Faiz sambil membunyikan jari jemarinya yang terasa kaku.
Tia tidak menggubris pertanyaan Faiz. Tak secerewet tadi, kali ini dia berubah seperti patung batu. Memeriksa setiap lembar jawaban dengan mulut terkunci rapat.
"Kau ingat dengan penjelasan terakhirnya tadi?" Faiz masih bicara meskipun tak mendapat jawaban
"Kurasa dia keliru," -menatap lekat ke arah Tia- "kau tau, ada yang lebih keras dari pada intan," ucap Faiz
Tia sejenak menghentikan aktivitasnya. Namun, bibirnya masih terkunci rapat hanya matanya yang mengisyaratkan seolah ingin bertanya "Apa lagi yang lebih keras daripada intan?"
"Yang lebih keras daripada intan adalah Tia." Faiz tertawa lebar, suaranya langsung memenuhi seisi ruangan itu. Sementara Tia, hanya memasang ekspresi datar lalu kembali memeriksa lembar jawaban yang ada di hadapannya.
"Hei tertawa dong akukan sedang melucu." Menggoda wanita itu dengan mencolek lengannya menggunakan pena. Namun, Tia sama sekali tak bergeming.
"Rasanya aku ingin menulis novel yang berjudul 'misteri manusia batu' cih." Mulai kesal karena masih tak mendapat respon.
Sampai sekarang memang masih tersisa tanya mengapa Tia selalu bersikap jutek terhadapnya. Rasanya dia tak bisa menerima alasan "jam tangan mati" yang membuat Tia harus seberlebihan itu padanya.
__ADS_1
"Oii..oiii," Faiz masih terus mengganggu. Dia menarik kertas-kertas yang tersusun di bawah tangan Tia
Tia mulai mengernyitkan dahinya "Berhenti menggangguku!!" tegur Tia.
"Akhirnya dia bersuara," sudut bibirnya tertarik. Teguran itu justru membuat Faiz semakin terpanggil untuk menggoda Tia. Aksi konyol itu seperti sedang ditonton oleh TV di sudut ruangan
"Kleeekk." Bunyi handle pintu terbuka. Ari mendapati kertas-kertas yang sudah berserakan di atas meja.
"Apa yang terjadi?" Ari meletakkan piring berisi bakwan hangat yang baru saja dibelinya di kantin jurusan.
"Habislah aku," Faiz
"Faiz bersin Kak," jawab Tia tak ingin memperpanjang masalah.
"Bersinmu sebesar badanmu rupanya." tandas Ari lalu ikut merapikan lembar jawaban yang telah tercampur antara yang belum dan sudah diperiksa. Sementara Faiz, hanya memasang senyum kering tanpa dosa.
Sesekali Ari dan Tia tak sengaja memegang kertas yang sama membuat atmosfer saat itu terasa begitu panas bagi Faiz padahal itu adalah ruangan yang dilengkapi dengan AC.
"Ttiiiiittt." Tiba-tiba Faiz mematikan benda kotak bergambar yang sejak tadi menyala.
"Kenapa dimatikan?" tanya Ari
"Aku nonton drama kalian sajakan?" Meletakkan remot TV "Dari tadi tak ada yang menonton, kasihan pembawa acaranya." Alasan tidak jelas keluar dari mulut Faiz.
Tia sedikit tersenyum mendengar jawaban konyol yang diutarakan Faiz.
"Kita makan dulu, sebentar lanjut lagi." Ujar Ari ketika lembar-lembar jawaban kembali tersusun rapih.
Tanpa perintah, Tia langsung mengambil piring yang diletakkan di meja Pak Pras tadi.
Seperti kehilangan nafsu makan, Faiz tak ikut mencicipi bakwan yang ditawarkan Ari padanya. Dia lebih memilih melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda.
Berbeda dengan Tia, mungkin bagi Faiz "sambil menyelam tenggelam" adalah pepatah yang tepat disematkan padanya. Bagaimana tidak, sudah lelah memeriksa jawaban masih juga disuguhkan dengan adegan makan bakwan sepiring berdua.
Itu terlihat biasa saja, tapi entah mengapa Faiz seperti terbakar emosi bahkan cacing di dalam perutnya takut protes karena belum diberi amunisi. "Ini juga, tambah bikin kesal!! kenapa menulis jawaban pakai sandi rumput coba?? aarrggghh seperti mahasiswa tidak lulus SD saja," Faiz mengumpat kesal dalam hati.
~ Bersambung
---------------------------------------------
Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕
__ADS_1