Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 29 Frustasi


__ADS_3

Tidak terasa langit mulai cerah, semalaman Faiz tak bisa tidur karena memikirkan rencana kemping hari ini. Entah karena dia takut ada barang yang ketinggalan atau karena tak sabar bertemu Tia.


Sesuai dengan kesepakatan, titik kumpul mereka adalah kost Tia karena merupakan lokasi paling strategis. Faiz mengendarai motor dengan carrier besar di punggungnya. Memecah kemacetan dengan suasana hati yang ceria.


"Akhirnya kau datang juga." Sambut Hani ketika Faiz tiba


"Mana yang lain?" Tanya Faiz ketika melihat sekitar hanya ada Hani dan Tia


"Kau belum buka grup? Yang lain mendadak membatalkan diri." Jawab Hani.


"Eh? Memangnya kenapa?" Tanya Faiz "Untung Leo ikut. Coba tidak, bagaimana caraku mau mengurus dua wanita sekaligus kalau terjadi apa-apa."


"Alasannya macam-macam. Kau baca saja di grup kelas." Hani malas menjelaskan


"Yah sayang sekali banyak yang tidak bisa ikut." Mata Faiz tertuju daypack yang ada di atas meja "Bawaannya banyak sekali. Ini punya kalian berdua?" Lanjutnya


"Bukan, itu punyaku sendiri" sahut Hani


"Hah??? Kenapa tidak sekalian kau bawa koper?" Faiz


"Aku bawa baju khusus untuk hunting pas sunrise di atas puncak." Jelas Hani dengan wajah ceria membayangkan indahnya suasana di puncak gunung


"Ku bilang juga apa? Keluarkan saja sebagian barangmu, nanti kau kesusahan pas lagi jalan." Tia mengulangi kata-katanya. Sebenarnya sejak tadi dia sudah mengomentari barang bawaan Hani


"Sebelumnya kalian pernah muncakkan?" Tanya Faiz sambil mengatur kembali isi carrier untuk ransum dan peralatan tenda


"Ini perdana untukku." Jawab Hani. Sementara Tia memilih diam, yang artinya mengiyakan pertanyaan Faiz.


"Kalau begitu kau bawa yang penting-penting saja yah." Bujuk Faiz


"Iya..iya deh." Akhirnya Hani mengalah setelah diserang oleh dua orang itu.


"Oh ya, aku mengajak sepupuku tak apakan?" tanya Leo


"Ajak saja, supaya kita lebih ramai." Respon Hani


Tiba-tiba sosok yang sedang dibicarakan muncul dengan suara klakson motornya. Yaps, orang yang diakui sebagai sepupunya adalah Leo.


"Aku belum telatkan?" Kalimat pembuka Leo setelah motornya terparkir dengan benar


"Tidak kok." Hani yang menjawab ucapan Leo. Dia memangnya orang easy going.


Alis Faiz bertaut ketika melihat Tia merespon Leo dengan hangat. "Memangnya Leo terlihat seperti wanita?" Gumam Faiz


Setelah semua persiapan dirasa mantap, merekapun bersiap untuk tancap gas.


"Kita pakai dua motor saja, biar aku dan Leo yang bawa," saran Faiz

__ADS_1


"Setuju," Hani menjentikkan jarinya sementara Leo hanya mengangguk.


"Kalau begitu aku deng--" Perkataan Tia langsung dipotong


"Aku sama Leo." Hani dengan cepat berdiri di samping Leo.


"Kalau begitu aku bawa motor sendiri saja. Aku ahli kok" Bibir Tia sedikit terangkat karena kesal


"Bisakah keras kepalamu tidak kambuh dulu?" Faiz langsung membekap mulutnya "Aduh, aku keceplosan." Dia teringat dengan nasehat Uli semalam


"Memangnya kenapa kalau kau dengan Faiz?" Leo yang tidak tau apa-apa menatap lurus ke arah Tia.


"Iya, memangnya kenapa?" Hani ikut-ikutan bertanya seolah tidak tau


Semua mata tertuju pada Tia, membuat wanita itu jadi salah tingkah.


"Ya... karena...." Memegang tengkuknya sambil memikirkan alasan yang tepat untuk diutarakan


Dengan cepat Hani menarik tangan Tia agak menjauh dari Faiz dan Leo.


"Kau tidak tertarik pada Leo, kan?" Bisik Hani


"Sama sekali tidak," jawab Tia mantap


"Kalau begitu bantu aku dengan Leo yah.. yah?" Hani memohon.


"Pleaseee." Hani memasang wajah seperti minta dikasihani


"Hhmmm," mendengus kasae lalu menganggukkan kepala


"Uunncchh makasih." Memeluk lengan Tia namun dengan cepat melepasnya "Hehe maaf," ucap Hani ketika teringat hal yang tidak disukai Tia.


Setelah negosiasi membuahkan hasil, mereka langsung mendekat ke arah dua pria yang sejak tadi sudah menunggu mereka di atas motor. Dengan cepat Leo menarik gas motornya setelah Hani duduk dengan benar. Sedangkan Tia, dia masih berdiri di samping Faiz menunggu Hani dan Leo menjauh.


"Kau harus berjanji bahwa--" ucapan Tia langsung terpotong


"Tidak boleh meningkung tajam," -menatap lekat ke arah Tia- "itukan yang ingin kau bilang?" Lanjut Faiz


"Jika kau melanggar, maka--" lagi-lagi ucapan Tia dipotong


"Aku akan mencubit punggungmu." Kali ini Faiz mengikuti gaya bicara Tia yang sok jutek


"Iish," Tia hanya berdesis melihat tingkah Faiz. "Paaaakkk." Tangannya langsung menyambar helm yang Faiz kenakan


"Awww.... Kau bahkan belum naik di atas motor tapi tanganmu sudah menyentuhku." Protes Faiz


Protes yang dilayangkan Faiz sama sekali tidak dihiraukan oleh Tia. Dia langsung naik ke atas motor dan sekali lagi memukul helm Faiz dengan keras. Itu seperti memberi isyarat kuda berjalan, "h**eng Kuda." Gumam Tia.

__ADS_1


"Heii batu, kau pikir aku kuda." Ucapannya saja yang protes tetapi bibirnya tersenyum tipis.


Faiz langsung menuntun motornya dengan kecepatan maksimal untuk menyusul Leo dan Hani. Tentu saja dengan protokol pemboncengan yang sudah disepakati tadi.


Ketika tikungan sudah terlihat, tangan Tia juga sudah bersiap dipungung Faiz.


"Sekalian jangan lepaskan tanganmu," Faiz berbicara dengan nada sedikit keras.


Tia tak menghiraukan ucapan Faiz. Dia terus menempelkan tangannya lalu melepaskannya. Tempel, lepas, tempel, lepas begitu seterusnya.


"Kan, sudah kubilang hahaha." Faiz tertawa lepas.


"Jalanan yang akan kita lewati semuanya berkelok-kelok" Faiz terus bicara meski tak mendapat respon dari belakang.


Ketika mendapati batu besar di tepi jalan, Faiz meneriakinya seperti orang gila.


"Wwooyyy batu... hhuuuu dasar batuuu." Begitu sindiran yang dilayangkan Faiz kepada wanita yang sejak tadi hanya diam bagai patung batu.


"Bisa-bisanya aku berpikir bahwa wanita sepertimu akan menyukaiku."


"Haaaaaa bodoohh... Batuu... Batuu...." Jalanan yang kiri kanan hanyalah batu, pohon dan jurang memang pilihan paling cocok untuk melampiaskan kekesalan


"Memangnya jika benar dia menyukaimu, lalu kau mau apa?" Faiz mempertanyakan keinginan hatinya


"Aaaahhh... Bodoh amat." Faiz terus berteriak tidak jelas.


Bahkan jika ada orang lain yang melintas dengan arah yang berlawanan lalu memperhatikan tingkah konyolnya maka akan diteriaki dengan ucapan :


"Apa lihat-lihat?


Matamu bulat-bulat


Jika sudah jatuh cinta


*** kambing rasa coklat"


Bahkan ada sepasang kekasih dengan santainya membawa motor, entah karena kesal atau cemburu tiba-tiba Faiz berkata seperti orang yang saling kenal


"Woyyy.... Aku sedang membonceng batu." Begitu teriak Faiz.


"Gilaaa... siapa yang nanya?" Sahut pria yang merasa terpancing untuk menjawab teriakan itu.


Respon pria alay yang pacaran di atas motor itu, justru membuat Faiz tertawa keras seperti orang frustasi.


Sementara Tia, bersembunyi di balik punggung besar Faiz agar wajahnya tidak terlihat dari kaca spion. "Ini yang membuatku kesal padamu. Kau benar-benar menyebal." Salah satu sudut bibir Tia tertarik dengan makna yang sangat dalam.


~Bersambung

__ADS_1


~😊Silahkan Beri Masukan😊~


__ADS_2