Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 38 Kehangatan


__ADS_3

Setelah rasa sedihnya hilang bersama rintik hujan yang tak lagi turun membasahi bumi, Faiz mengajak Tia untuk segera pulang. Ia khawatir jika nanti Tia jatuh sakit.


"Kita mau kemana?" Tanya Tia yang merasa Faiz menuntun kendaraannya semakin jauh dari kos nya


"Serius mau tau?"


"Tentu saja." Jawab Tia mantap


"Membawamu ke tempat dimana kau akan merasakan kehangatan." Faiz tersenyum usil


"Maksudnya?" Tia mencoba mencerna jawaban Faiz


"Masa kau tidak paham? Ya, aku akan memberimu kehangatan." Faiz benar-benar ingin menjahili Tia


"Kehangatan apa? Maksudnya dia mau ahg@eror#*&@" Tia mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Contohnya?" Tia yang berusaha memperjelas ucapan Faiz agar pikiran aneh-anehnya segera pergi dari otaknya


"Kau sudah tidak sabar, yah?" Lagi, bibir Faiz tertarik, senyumnya semakin sulit disembunyikan.


"Ish, aku kan bertanya contohnya apa?"


"Serius kau ingin aku melakukannya di sini?" Faiz menoleh ke belakang


"Apa? Dia mau menciumku di sini?"


"Plaaakkk." Lagi dan lagi helm Faiz menjadi sasaran Tia. "Jangan lihat ke sini! Jalanannya di depan. Dasar mesum!" Umpat Tia


"Ih, siapa yang mesum?? Hayooo tadi kamu sedang memikirkan apa?" Goda Faiz.


"Ish, pikir apa coba? Aku tidak memikirkan apa-apa, kok. Memangnya kau, selalu berpikiran yang tidak-tidak." Pipi Tia memerah karena menahan malu.


Faiz berniat menghibur Tia tapi sepertinya justru dia yang paling menikmati permainannya.


"Aku? Berpikiran yang tidak-tidak?" Faiz


"Ya, Jelas!" Jawab Tia yakin


"Aku justru berpikiran yang iya-iya." Jawaban Faiz benar-benar membuat tangan Tia semakin gatal untuk memukul kepalanya.


"Pokoknya antar aku pulang." Tia merajuk


"Astaga kenapa makin hari dia makin menggemaskan begini." Batin Faiz

__ADS_1


"Aku pasti mengantarmu tapi setelah kau merasakan kehangatan, yah?" Bujuk Faiz sambil terus melajukan motornya


"Kali ini pikiranku tidak akan kotor lagi. Dia pasti mengerjaiku seperti waktu di kos lalu." Pikir Tia (Eps.07)


"Mmm.. ya..ya..ya anak mama sepertimu bisa apa?" Ucap Tia dengan nada mengejek


"Maksudmu? Kau meremehkanku?" Faiz merasa tertantang


"Kalau iya kenapa?" Tanyanya lagi


Faizpun menepikan kendaraannya tepat di dekat danau yang berada di tepi jalan. Dia turun dari motor dan berdiri tepat menghadap ke arah Tia yang masih duduk di atas motor


"Akan kubuktikan." Faiz memajukan sedikit kepalanya hingga berada sejajar dengan wajah Tia.


"Habislah aku! Apa yang akan dia lakukan?"


Wajah mereka semakin berdekatan Tia bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu


"Santai Tia. Dia tidak mungkin melakukannya. Dia masih polos. Dia anak mama." Tia tidak bergerak sedikitpun. Dia membiar Faiz semakin mendekat hingga hidung mereka bersentuhan.


Deg.


Deg...


"Ah... Sial!" Faiz kembali menarik kepalanya hingga menjauh dari tadi.


"Kau benar-benar sudah berani yah sekarang?" Faiz menggigit bibir bawahnya karena kesal. "Bagaimana jika aku menciummu sungguhan?"


"Hahaha mana mungkin! Kau tidak akan mungkin melakukannya." Tia tertawa puas karena prediksinya tepat. Faiz tidak mungkin macam-macam.


Tiba-tiba Faiz menatap dalam ke arah Tia. Netranya merajah dua pasang mata yang sedang puas menertawai dirinya. "Aku tidak ingin menyentuhnya tanpa ada rasa cinta darimu." Ibu jari Faiz menyentuh bibir ranum Tia. Sentuhan itu sukses membuat Tia berhenti dari tawanya


"Ish, dasar nakal." Kali ini tangan Faiz berpindah ke puncak kepala Tia. "Kau akan menyesal sudah melakukan ini padaku." Faiz kembali duduk di atas motor lalu menarik gas motor dengan kecepatan biasa.


Sebenarnya Faiz sedikit kesal karena pancingan Tia tadi. Bagaimana tidak, sekarang bibir wanita itu terus mengganggu isi kepalanya. "Dia pikir menahan diri itu gampang apa! Ini namanya penyiksaan batin."


Keheningan menghampiri keduanya. Tak ada yang berani buka suara. Baik Faiz maupun Tia, keduanya larut dalam pikiran masing-masing


"Berikan ponselmu." Titah Faiz ketika motornya sudah berhenti di depan sebuah rumah yang jelas bukan kos-kosan Tia.


Tia yang masih dikuasai rasa bingung pun langsung menyerahkan ponselnya tanpa basa basi.


"Kau menelfon siapa?" Tanya Tia begitu tersadar

__ADS_1


"Hallo Bunda, ini Faiz." Ucap Faiz begitu panggilannya tersambung


"Bunda, mungkin aku akan mengantar Tia sedikit telat. Tidak apa-apa kan Bunda?" Lanjutnya. Dia mengabaikan Tia yang mencubit kecil punggungnya


"Anak Bunda aman, kok." Ucapan terakhir Faiz sebelum telfonnya benar-benar dimatikan.


Faiz menekan klakson motornya hingga Uli berlari membukakan pintu untuk Faiz


"Ini rumahku." Faiz mengajak Tia untuk masuk


"Hai Kakak." Sapa Uli


"Dan ini adalah Adikku." Memperkenalkan Uli


"Uli." Menjulurkan tangan untuk bersalaman.


Tangan itu pun disambut baik "Tia," balasnya.


"Ayo masuk Kak." Uli langsung menggandeng tangan Tia masuk ke dalam rumah. Tanpa banyak bertanya Uli langsung mengenali wajah Tia. Wanita yang pernah video call dulu dengannya.


"Tolong beri dia pakaian ganti Uceng." Pinta Faiz yang berjalan di belakang dua wanita itu


"Siap Kak. Aman!" Jawab Uli dengan senang hati.


"Kau kan hobby makan, lemak kalian pasti sama." Faiz berbisik di telinga Uli lalu berlari menuju kamarnya sebelum sempat menerima membalasan.


Karena tak ada siapapun di ruang tamu, Uli dengan segera membawa Tia masuk ke kamarnya untuk ganti pakaian. Dia meminjamkan bajunya kepada Tia karena ukuran tubuh mereka yang hampir sama. Mereka memang keturunan orang berbadan tinggi jadi takk heran jika pakaian Uli cocok dikenakan Tia.


***


"Oh, ini tamunya Faiz?" Sapa ibu Faiz dengan ramah


"Silahkan duduk." Timpal ayah Faiz.


"Iya tante, om." Tia mencium tangan ayah dan ibu Faiz yang sudah menunggunya di meja makan.


Malam itu Tia menyaksikan fenomena yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Keharmonisan keluarga yang tak pernah ia dapatkan di dalam rumahnya. Sebuah cinta yang menghadirkan kehangatan bahkan untuk pertama kalinya dia melihat seorang suami memperlakukan istrinya dengan lembut seolah cinta diantara mereka tak pernah pudar.


Jiwanya bergetar, bagaimana mungkin hal seperti ini benar-benar ada? Kenyataan yang rasanya seperti mimpi yang mustahil. Kenyataan yang Faiz perlihatkan malam ini berhasil membentur keras kepala dan hatinya yang selama ini telah mengeras.


"Ini benar-benar hangat. Lebih hangat daripada apa yang aku pikirkan sebelumnya."


~ Bersambung

__ADS_1


__ADS_2