Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 11 Sakit


__ADS_3

Setelah insiden terjebak diseberang sungai beberapa jam yang lalu, gosip yang tersebar antar Faiz dan Tia semakin heboh dikalangan teman-teman kelasnya. Label romantis sudah melekat erat pada mereka berdua sehingga apapun yang terjadi semua akan dipandang sebagai hal yang manis.


"Romantis yang membawa petaka" mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan isi kepala Faiz. Sudah dua hari pria itu hanya terbaring lemas, makan dan minum semuanya dilakukan diatas tempat tidur. Demam, batuk dan beringus langsung menggerogoti dirinya sekaligus. Beberapa jenis obat yang berbeda harus dikonsumsinya setiap hari sehingga semua makanan yang masuk kemulutnya terasa pahit. Namun, Faiz terpaksa melahap habis makanannya karena tidak ingin melihat rasa khawatir diwajah ibunya setiap kali masuk kedalam kamarnya.


"Permisi tante. Aku mau jenguk Aiz," ucap Leo dengan sopan dan langsung mencium tangan ibu Faiz.


"Oh nak Leo, ayo masuk," jawab ibu Faiz dengan lembut.


"Kebetulan, ayo sekalian ikut makan siang," sambungnya lagi


"Aku makan bersama Aiz saja yah tante," jawab Leo tanpa malu-malu.


"Oh ya sudah. Kamu langsung naik saja ke kamar Aiz, nanti Uli yang antarkan makanannya," jawab ibu Faiz dengan ramah


"Iya tante, aku naik dulu," ucap Leo lalu menaiki tangga menuju kamar yang dimaksud. Ya, dia memang sering ke rumah Faiz. Oleh sebab itu, tidak heran jika Leo akrab dengan ibu Faiz bahkan dengan semua penghuni rumah itu.


"Tok.tok..tok..toook..toook." Terdengar bunyi ketukan dari balik pintu kamar disusul suara handle pintu terbuka tanpa menunggu persetujuan


"Pasti Leo." Tebak Faiz hanya dengan mendengar ciri khas ketukan pintu itu.


"Udduuu..duuu sakit apa sih?" Leo memasang wajah mengejek sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi Faiz.


"Menggelikan sekali kau," Faiz dengan cepat menepis tangan Leo.


"Coba kuperiksa dulu dengan benar," Leo masih berusaha menyentuh dahi Faiz


"Hentikan!" Faiz menangkis tangan itu sehingga keduanya terlihat seperti sedang adu kekuatan tangan. Tingkah Leo yang sedang mengerjai Faiz berhasil menciptakan tawa.


"Bagaimana kabar Ista?" -Faiz bangun dan menyandarkan bahunya pada headboard-


"kau tidak membuatnya gila karena sikapmu yang sok manis inikan?"


"Tidak tuh, dia justru semakin senang bermanja-manja padaku." Leo duduk santai di kursi belajar sambil memainkan ponselnya . Apalagi kalau bukan untuk mengabari pacar kesayangannya itu bahwa dia telah sampai di rumah Faiz.


"Memangnya kenapa? kau sudah siap untuk membuka hati lagi?" sambung Leo dengan mata yang masih menatap layar ponsel.

__ADS_1


Tak ada jawaban, hanya suara nafas panjang yang terdengar keluar dari mulut Faiz. Dengan sigap Leo meraih hape yang berada di meja belajar lalu melemparnya tepat kearah Faiz namun tak sempat ditangkap hingga benda tersebut jatuh mengenai selimut yang sedang dipakainya untuk menutupi bagian perut ke bawah.


"Ayo main game" ajak Leo ketika merasakan perubahan atmosfer ruangan itu


"Kau hanya beringus, menggerakkan jempolmu tidak akan membuatmu sampai diinfus," lanjut Leo lalu mengeluarkan ponsel yang digunakan khusus untuk bermain game.


Tanpa penolakan Faiz langsung membuka aplikasi gamenya begitu juga dengan Leo.


Tak ada percakapan penting diantara keduanya, keduanya hanya fokus pada game online andalan mereka.


Tak berselang lama, Uli datang membawakan makan siang untuk keduanya.


"Hai Uli," Sapa Leo.


"Jadi bagaimana?" lanjutnya sambil tetap fokus menatap layar ponsel.


"Apanya kak?" jawab Uli. Jantungnya mulai berdebar seperti paham apa yang akan dibahas oleh pria itu


"Itu, yang kemarin pas pulang sekolah," kali ini Leo menatap lawan bicaranya, bibirnya tersenyum tipis melihat ekspresi itu.


"Ada kejadian apa kemarin siang?" Faiz penasaran namun tak mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Habislah aku" gumam Uli dalam hati sambil meremas jari jemarinya


"Kemarin aku liat dia sedang dibonceng sama cowok ganteng," Leo mulai menjelaskan.


Uli menggigit bibir bawahnya mungkin saat itu dia sedang mengucapkan sumpah serapah untuk Leo.


"Siapa?" tanya Faiz


"Tukang ojek," Leo menjawab santai sambil tersenyum sementara Uli sudah berkeringat dingin, dia pikir Leo akan menceritakan kejadian sebenarnya pada Faiz.


"Awas saja kalau sampai kutau ternyata itu bukan tukang ojek," ancam Faiz.


Dia memang tak mengizinkan adiknya yang masih kelas 1 SMA itu untuk dekat dengan pria apalagi kalau sampai pacaran. Dia bahkan memberikan ultimatum akan menyita hape dan melarang untuk belajar diluar rumah selain jam sekolah.

__ADS_1


"Iya..iya kak," jawab Uli lalu melempar senyum sumringah kearah Leo meskipun pria itu hanya tunduk menatap layar ponsel


"Kutarik sumpah serapahku tadi kak Leo," gumam Uli dalam hati lalu segera keluar dari kamar Faiz, khawatir jika rahasianya akan terbongkar bila berlama-lama didalam sana.


Hari sudah hampir sore, hape Leo berdering keras dengan segera ia mengangkatnya.


"Hallo sayang." kalimat pembuka yang manis keluar dari mulutnya


"*Kegiatannya sudah selesai?" sambungnya lagi


"Sabar yah, aku akan segera kesana*." Leo menutup telfon dan bersiap untuk pergi.


"Hei kita belum selesai, ayolah sedikit lagi ini hampir menang," bujuk Faiz


"Aku harus segera menjemput Ista kasian kalau dia harus menunggu lama disana, mainnya nanti bisa kita lanjut okey!" balas Leo lalu segera pergi meninggalkan Faiz.


"Hati-hati bro," Faiz pasrah.


Setelah kepergian Leo keheningan kembali tercipta, Faiz merebahkan tubuhnya lalu menatap langit-langit kamarnya. Kenangan terjebak derasnya air sungai di lokasi praktek lapang tiba-tiba terlintas dibenaknya disusul dengan bayangan sosok wanita yang bersamanya waktu itu. Dia mengangkat tangannya membayangkan adegan ketika Tia memegang tangannya.


"Knapa aku jadi memikirkannya?" Faiz menurunkan tangannya sambil menggelengkan kepala berusaha menyadarkan dirinya.


"Tia, si wanita keras kepala yang membuatku terbaring seperti ini, cih dia bahkan tidak tau berterimakasih," Faiz masih berbicara dengan dirinya sendiri.


"Pria mana yang mau mendekati gadis seperti dia," pikir Faiz ketika mengingat isi whenapp Tia yang dibacanya waktu itu. Semua pesan dari teman pria hanya dibalasnya dengan satu kata bahkan sama sekali tidak bertanya balik


"Spertinya dia punya kelainan jiwa, tapi siapa yang peduli," Faiz langsung menyambar buah yang masih tersisa di meja samping tempat tidurnya


"Gema suara rindu mulai memenuhi ruang hati yang telah lama kosong." bisa jadi itu yang membuat Faiz tiba-tiba mengingat sosok Tia, atau mungkin karena "jiwa jomblonya yang telah meronta-ronta." Entahlah, hanya Faiz dan sang pemilik langit yang tau


****


"Aaww" Tia menjerit keras, dia tak sengaja menggigit bibir bawahnya.


"Siapa yang sedang menyebut-nyebut namaku sih" pikirnya lalu kemudian mengusap-usap bekas gigitan itu.

__ADS_1


~Selamat Menunaikan Ibadan Puasa, Semoga kita sehat selalu dan Corona cepat berlalu~


__ADS_2