Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 08 Praklap part 1


__ADS_3

"Ayo..ayo Lebih cepat lagi Leo," Ucap Faiz gelisah sambil menepuk-nepuk pundak Leo


"Iya..iya.. sabar ini sudah kecepatan penuh," jawab Leo sambil tetap fokus mengendarai motornya.


"Kamu tanggung jawab kalo sampai aku ketinggalan bus," celoteh Faiz


"Iya kalau perlu aku antar kamu sampai di pelaminan," ejek Leo


"Sialan! aku benar-benar serius." Faiz memukul helm Leo lalu mereka berdua tertawa bersama.


"Iya maaf, tadi aku ketempat Ista dulu." Leo mencoba menjelaskan


"Memangnya pacar kamu kenapa?" Faiz


"Ista lagi datang bulan makanya aku membawakannya bubur ayam pagi-pagi biar nyeri perutnya berkurang," Leo


"Oh iya deh. Pokoknya kalau ketinggalan bus, kamu harus tanggung jawab," jawab Faiz ketika mendengar alasan Leo mengapa terlambat menjemputnya. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan Leo yang lebih mengutamakan pacarnya daripada dia, meskipun mereka merupakan teman akrab bahkan sudah seperti saudara sendiri karena prinsip mereka adalah "ketika temanmu punya pacar jangan marah atau cemburu sebab sebaik dan sedekat apapun kita, suka ataupun tidak suka teman akan tetap pergi karena dua hal cinta dan cita-cita tetapi perginya bukan untuk selamanya"


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya Faiz tiba di kampus.


"Syukurlah busnya belum pergi," Faiz.


"Jyalah, aku sudah memperhitungkan semuanya," ucap Leo dengan bangga

__ADS_1


"Aku kesana dulu, thanks bro." Faiz menepuk pundak Leo kemudian berlari menuju ke bus yang sebentar lagi akan berangkat.


Faiz memeriksa satu persatu bus yang berjejer tiga itu untuk mencari tempat yang kosong dan ketika menemukannya dengan segera Faiz duduk.


"Semuanya sudah lengkap?" Asisten dosen mengecek kembali jumlah mahasiswa.


"Tia belum kembali dari wc kak," sahut Hani yang duduk paling depan. Tak lama setelah itu datanglah gadis yang sedang dibicarakan.


"Maaf lama kak," jawab Tia ketika masuk kedalam bus kemudian menuju ke tempat duduk yang paling belakang.


"Kenapa kau duduk disini?" Faiz


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ini tempatku, lihatkan tasku juga ada disini." Jelas Tia sambil menunjuk tasnya yang berada disandaran kursi dekat jendela.


"*In*i terlalu buruk untuk sekedar menjadi mimpi buruk" gerutu Tia dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.


Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam membuat para penghuni bus tertidur tak terkecuali dengan Tia. Matanya yang sedari tadi sibuk menikmati pemandangan di sepanjang jalan akhirnya lelah juga dan tanpa sadar kepalanya jatuh ke pundak Faiz yang berada di sampingnya.


"Ih pake bahuku tanpa izin," Faiz menggerak-gerakkan bahunya namun Tia tak kunjung sadar.


"Kau selalu mencari kesempatan yah," kali ini Faiz menyenderkan kepala Tia di kaca bus. Namun, tak berselang lama kepala Tia kembali tersandar di bahu Faiz sehingga dia hanya menghela nafas panjang lalu menatap wajah Tia


"Kalau dilihat-lihat sebenarnya dia ini manis," puji Faiz

__ADS_1


"Eh? senyaman itu kau tidur dibahuku sampai kau berliur?" pipi Faiz mengembang karena menahan tawa ketika melihat air disudut bibir Tia.


"kau ini wanita apa bukan? ya ampun jangankan lipstik, kau bahkan tidak punya tisu," ucap Faiz ketika memeriksa tas kecil Tia namun tak menemukan tisu bahkan satupun perlengkapan wanita tak ada, yang didapatinya hanya perlengkapan mandi saja.


"Kau jangan baper. Ini kulakukan supaya bajuku tidak basah," akhirnya Faiz menyeka bibir Tia dengan lembut menggunakan saputangan miliknya.


Faiz sesekali melihat jam tangannya untuk menaksir waktu tiba mereka dilokasi praktek. Bahunya mulai terasa keram namun Tia masih tertidur pulas dibahunya seperti orang yang sedang tidur diatas kasur empuk. Entah kenapa Faiz hanya membiarkannya sampai diapun terbawa masuk kealam tidur dan kepalanya ikut tersandar di kepala Tia.


Sekitar 20 menit lagi mereka akan sampai di lokasi praktek. Beberapa dari mahasiswa sudah terbangun dan langsung menyaksikan kejadian diluar dugaan.


"Ya ampun sweet sekali sih," ucap seseorang yang duduk di kursi sebelah sejajar dengan Faiz dan Tia.


Hani yang juga mendengar ucapan itu spontan menengok kebelekang dan ketika tau bahwa Faiz dan Tia tertidur dengan segera ia berdiri lalu ikut mengambil foto langka tersebut.


"Cekrek.cekrek." Bunyi kamera mengabadikan momen manis Faiz dan Tia yang akur. Ya, teman-teman kelas mereka kerap mendapati mereka berdebat tanpa ada akhir siapa yang menang, sehingga ketika melihat momen langka itu dengan segera mereka mengabadikannya "kapan lagi" mungkin itu yang dipikir oleh Hani dan teman-teman kelas lainnya.


"Sssttt" Hani meletakkan jari telunjuknya di bibir memberikan isyarat agar tetap tenang supaya Faiz dan Tia tidak terganggu.


~bersambung


Semoga menjadi hiburan untuk para pembaca yang tetap di rumah.


"Semoga Kita Sehat Selalu dan Corona Cepat Berlalu"

__ADS_1


__ADS_2