
"Srruuutt." Tia menyeduh secangkir susu coklat hangat dan sekotak beng-beng kesukaan Tia yang sedari tadi menemaninya mengerjakan proposal praktek lapang yang tidak selesai dikerjakannya bersama Faiz.
Eh bukan, itu proposal yang hanya dikerjakan oleh Tia sendiri.
Alunan lagu barat memenuhi ruangan yang berukuran 5x5 meter dengan cat serba putih membuat Tia semakin fokus mengerjakan proposal praktek lapang. Sesekali terdengar suara melantunkan lagu mengikuti irama musik yang tersambung dengan speaker kecil tua miliknya.
Pandangannya tiba-tiba tertuju pada benda persegi panjang berwarna biru yang berdering, Tia menatap layar ponselnya tak berniat mengangkat panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Namun, ponselnya tak berhenti berdering bahkan sampai 3 panggilan tak terjawab.
"Hallo," akhirnya Tia memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
"Hallo Tia," sahut Faiz dengan nada sedikit alay.
"Ternyata kau. Ada apa?" ucap Tia seolah sudah mengetahui siapa yang menelfonnya.
"Waah sepertinya kau benar-benar tertarik padaku yah, sampai bisa mengenali suaraku," balas Faiz dengan nada menggoda.
"Apa sih," Tia
"Padahal ini pertama kali aku menelfonmu loh, pakai nomor ibuku pula hahaha," terdengar suara tawa Faiz.
"Tuutt..tuttt." telfonnya langsung terputus.
"Ah wanita ini." Terlihat kesal ketika sadar bahwa telfonnya telah dimatikan oleh Tia.
"Akukan cuma mau kasi tau alat bahan dan bahan untuk praktek lapang," Faiz berbicara dengan dirinya sendiri.
Setelah 30 menit berlalu akhirnya dia memutuskan untuk mengirimkan list alat dan bahan lewat whenapp seolah memahami bahwa Tia pasti membutuhkannya.
Faiz merebahkan tubuhnya ke kasur empuk yang selalu membuatnya nyaman sambil menatap layar hape menunggu balasan dari Tia namun tak ada satupun chat yang masuk bahkan sekedar ucapan terimakasih hingga dia terlelap sambil memegangi hapenya.
***
"Aaww.. aku sampai tertidur disini," Tia terbangun dari tidurnya sambil memegangi tengkuknya yang sakit karena tertidur didepan laptop dalam posisi duduk.
Diraihnya pons yang berada tidak jauh dari meja belajarnya. "Mmm.. sudah 100% yah," Tia melepaskan kabel yang terhubung dengan ponselnya.
__ADS_1
"Eh, tadi Faiz menelfon kenapa yah?" Tia menghidupkan ponselnya ketika teringat dengan panggilan terakhir sebelum baterainya lobet. Dia memeriksa pesan masuk dari Faiz yang berisi tentang list alat dan bahan untuk praktek yang harus dimasukkan kedalam proposal.
"Huh dasar sok peka," ucap Tia sambil melanjutkan pekerjaannya yang tertunda dan menyalin isi pesan yang dikirimkan oleh Faiz, tak dapat dipungkiri bahwa pesan itu benar-benar membantu pekerjaannya.
Sudah satu jam Tia fokus menatap layar laptop akhirnya rasa bosan mulai datang menghampiri. Ditutupnya lembar ms. word 2010 tersebut untuk sementara.
"Kenapa kamu selalu menggangguku sih?"
ucapnya sambil menunjuk-nunjuk layar laptop yang terpasang foto pemiliknya.
"Aku capek. Mau rebahan dulu yah," ucapnya sambil menatap layar laptop seolah-olah sedang berbicara dengan pemilik laptop tersebut. Namun, tiba-tiba muncul ide usil dibenaknya untuk memeriksa isi laptop Faiz
tak sadar jari telunjuknya mengklik sebuah file yang berisi tentang foto-foto keluarga, teman-teman bahkan foto milik Faiz mulai dari kecil sampai dia SMA.
Sesekali bibir Tia tertarik simetris melihat foto-foto kenangan masa kecil Faiz.
"Yah.yah. semua anak kecil pasti menggemaskan beginikan," Tia sibuk berbicara dengan dirinya sendiri.
"Ibunya cantik dan masih muda. Cih dia terlihat seperti anak baik-baik saja didepan ibunya."
"Hhmmm ternyata dia ini anak manja yah." Begitulah Tia mengomentari setiap foto yang dilihatnya.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 05.45 Tia tersadar dan segera membuka lembar kerjanya di ms. word yang tadi ditutupnya.
"Gara-gara kepo aku sampe lupa waktu begini,"
Dengan cepat Tia menyelesaikan bagian akhir dari proposal yang belum sempat dikerjakannya mengingat pagi ini dia ada kelas pada pukul 07.30
***
"Kau kenapa?" Faiz.
Dia mendekati Tia selang beberapa menit ketika dosen meninggalkan ruang kuliah.
"Dia memperhatikanku yah?" Tia tak menjawab pertanyaan Faiz.
__ADS_1
"Tidak usah ge'er. Kau duduk paling depan dan kepalamu beberapa kali hampir jatuh merusak pemandangan saja," Faiz.
"Apa dia bisa membaca pikiran orang?" gumam Tia
"Hei jangan bergumam, bicaralah yang jelas!" Faiz
"Cih ternyata memang foto dan aslinya sama saja" Ucap Tia dalam hati.
"Kenapa kau tidak menjawab? kau terpesona dengan karismaku yah?" kata Faiz dengan percaya diri.
Tia sama sekali tak menjawab dia hanya menarik nafas panjang.
"Ayo ikut dengaku!" Faiz.
"Mau kemana?" Tia terkejut dengan spontan kepalanya terangkat naik.
"Mau kencan," Faiz tertawa lebar ketika melihat Tia hanya meliriknya dengan sinis.
"Kita kumpul lebih awal saja proposalnya, siapa tau ada revisi jadi masih ada waktu untuk memperbaikinya," Ucap Faiz langsung beranjak dari tempat duduknya meninggal ruangan kuliah. Tak lama setelah itu Tiapun langsung bergegas mengikuti Faiz.
***
"Syukur deh proposalnya langsung diterima tanpa ada revisi," ucap Tia dengan perasaan lega ketika keluar dari ruangan dosen.
"Minumlah!! ini untuk kerja kerasmu," Faiz menyodorkan susu kaleng yang diambilnya dari dalam tas
"Ambillah ini cocok untuk orang yang kurang tidur." Membuka tutup kaleng dan langsung menyerahkannya ke tangan Tia.
"Lagi-lagi dia sok peka," ucap Tia dalam hati.
"Kuatkan hatimu, jangan sampai kapalmu oleng," Faiz berbisik ditelinga Tia dengan nada menggoda dan langsung berjalan cepat meninggalkannya.
"Apa-apaan sih dia," gerutu Tia sambil menatap punggung Faiz sampai hilang dari pandangan matanya
~bersambung
__ADS_1