Penambang Batu

Penambang Batu
Eps 31. Peta


__ADS_3

Tia hanya bisa merelakan kepergian Leo dan Hani. Mau bagaimana lagi, dipaksapun dia tak akan mampu menyamai langkah kaki mereka.


Tia hanya bisa pasrah. Langkahnya gontai menelusuri jalan setapak yang sunyi dan hanya dikelilingi oleh pohon besar.


"Kenapa?" Faiz teringat dengan kejadian tadi.


"Apanya?" Tia memutar bola matanya


"Tadi jelas-jelas aku mendengar kau bilang kenapa?" Faiz


"Kenapa kau selalu mendekatiku?" Tia menelan ludah ketika Faiz kembali mempertanyaan ucapannya tadi "K-kenapa kau menakutiku?" Lain di mulut lain hati.


"Maaf. Aku tidak bermaksud begitu. Tadinya aku hanya ingin membuatmu terkejut, tapi kau malah lari ketakutan seperti itu." Ada rasa bersalah yang keluar dari mulutnya.


"Tapi, bukan itukan yang kau maksud tadi?" Faiz meragukan perkataan Tia.


"Apa sih," Tia melirik sinis lalu kembali melangkahkan kakinya.


Berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Begitu seterusnya bahkan lebih lama Tia berhenti daripada berjalan. Meski begitu, Faiz tak pernah meninggalkannya walau beberapa langkah. Dia terus mendampingi Tia sekalipun punggungnya mulai teras lelah menanggung beban.


"Berikan tasmu!!" -Faiz menawarkan jasa- "Biar kubantu."


"Tidak perlu!" Tolak Tia. "Sekarang lebih baik kau jalan duluan," sambungnya.


"Kita akan mencapai puncak bersama," Faiz melempar senyum. "Mari berjuang bersama Nona." Mengulurkan tangan, menawarkan bantuan agar Tia bisa bertumpuh pada tangannya.


"Gombalan basi." Tia mengacuhkan bantuan Faiz. Matanya sibuk mencari akar untuk dijadikan pegangan.


"Aku tidak sedang menggombalmu loh," Faiz sempat tersenyum tipis namun dengan cepat dia memasang kembali wajah serius.


"Please, kali ini menurutlah. Jika salah bertumpuh kau akan terjatuh lagi."


"Bisa sendiri." Ucapnya ketika berhasil melewati jalanan yang sedikit curam dengan bantuan akar pohon.


"Dari tadi aku sudah berusaha baik tapi sikapnya tetap sama. Tidak ada bedanya aku baik ataupun rese. Apa Uli mengerjaiku lagi?"


Sesuai prediksi, matahari mulai bersembunyi namun Faiz dan Tia belum sampai juga di tempat camp. Dengan mengandalkan headlamp mereka terus berjalan. Kendati trackingnya sangat menantang namun Tia sama sekali tak menyambut uluran tangan Faiz.


"Kau lihat? Pemandangannya indah bukan?" Ucap Faiz yang tengah duduk di atas batu besar.


Dari tempat mereka istrahat terlihat kerlap kerlip cahaya lampu kota Boiland. Ditambah lagi dengan langit bertabur bintang yang terlihat jelas tanpa terhalang oleh pepohonan membuat dua pasang mata itu terhipnotis akan indahnya karya sang Agung.


Tia membentangkan tangannya. Menarik nafas dalam dengan mata terpejam. Peluh yang masih menempel menjadi penangkal udara dingin gunung Kareng. Similir angin yang berhembus menampar pipi halus yang kini mulai basah. Kristal bening di sudut mata Tia mengalir begitu saja sesaat rasa sesak menyeruak dari dalam sukma.


Dalam keremangan Tia menangis tanpa suara. Saat ini raganya mungkin berada di titik 2700 MDPL tetapi jiwanya seperti berada di bibir pantai tepat pada ketinggian 0 MDPL.


Kegelisan hati itu seolah sampai pada Faiz. Dia mencoba mendekat ke arah Tia berdiri.

__ADS_1


"Kita tidak tercipta dari baja besi. Menangislah!" Faiz menatap dalam mata sembab yang sedang mengekspresikan kepiluan hati sang pemilik.


Jeritan hati itu memecah kebisuan. Suasana yang mendukung membuat Tia menangis sejadi-jadinya.


"Berteriaklah jika itu mampu mengikis kegelisahan hatimu," Faiz menuntun Tia untuk mengeluarkan semua hal yang menyiksa batinnya.


"Apa aku salah bicara?" Batin Faiz ketika bibir mungil itu sejenak merapat.


"Aaaaaaaaaaaaa." Tia berteriak sesuai intruksi dari pria yang saat ini ada di hadapannya.


Faiz terhentak karena teriakan yang tiba-tiba mengagetkan bahkan kunang-kunang ikut keluar dari persembunyiannya.


"Iya, benar. Teruslah beriak." Ucap Faiz ketika berhasil menguasai dirinya dari perasaan kaget


"Hhuuuwwaaaaaaaaaa." Setelah menghimpun udara hingga paru-parunya penuh, Tia menambah lagi volume suaranya. Dia berteriak sekencang-kencangnya hingga kedua matanya tertutup.


Sesekali Faiz menepuk-nepuk pundak Tia sambil memberi semangat tanpa mempertanyakan apa yang membuat wanita itu bersedih.


"Tidak apa-apa.... Menangislah... Menangis sa-"


Ucapan Faiz terhenti karena Tia tiba-tiba menepis tangannya lalu mundur satu langkah.


"Eh? Eemm... Perasaanmu sudah baikan?" Tanya Faiz ragu-ragu.


Meskipun remang Faiz dapat melihat jelas tatapan mematikan yang ditujukan untuknya.


"Kenapa jadi menakutkan seperti ini. Jangan-jangan dia kesurupan?" Faiz mengibaskan tangannya di depan wajah Tia.


"Ish bodoooohh itu bukan kesurupan tapi sudah sadar. Membatu memang lebih menakutkan daripada sekedar kesurupan." Faiz mengumpat kesal.


"Aaaarrgghhh apa lihat-lihat? Matamu bulat-bulat," Faiz berteriak pada kunang-kunang yang dianggapnya sedang menari-nari di atas penderitaannya.


"Tunggu!!" Pekik Faiz lalu mengejar Tia yang meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa dia tidak kesurupan saja. Ini lebih mengerriiiikan coy." Faiz merinding mengingat sikap wanita yang kini berjarak hanya satu meter di depannya.


Hampir 15 menit mereka berjalan hanya suara jangkrik yang mengiringi langkah kaki keduanya. Mungkin betis Tia yang sedari tadi terasa berat menghilang bersama teriakan yang meluapkan seluruh gumpalan kekesalan yang telah lama mengendap di sanubari. Berbeda dari sebelumnya, kali ini dia berjalan tanpa henti yang sama hanyalah kebisuannya.


"Ingin rasaku menelanjangi isi kepalamu dengan palu geologi." Faiz memikirkan apa yang sebenarnya ada dalam otak Tia? Apa yang salah dari dirinya? Kenapa dengan pria? Faiz terus mencari titik terang di tengah keremangan gunung Kareng.


"Aku tidak sabar menunggu semester depan." Akhirnya Faiz buka suara juga.


"Dasar Faiz! Mungkin bibirnya membeku jika terlalu lama membisu." Tia enggan menjawab. Dia menambah kecepatannya karena tinggal satu tanjakan lagi baru mereka sampai di tempat camp.


"Kau tau, aku ingin sekali memperdalam ilmu pemetaan." Faiz melanjutkan ceritanya meski tak mendapat respon.


"Hei coba tebak kenapa." Dia menodongkan kepalanya hingga langkah Tia terhenti.

__ADS_1


Wanita itu hanya memutar bola matanya menunjukkan ekspresi muak sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Karena aku ingin memetakan jalan pikiranmu lalu mencari arahnya dengan bantuan kompas," ucap Faiz sambil menyentil dahi Tia


"Berhentilah bercanda!" Tia mendongakkan kepalanya


"Siapa yang bercanda? Aku duarius." Jarinya membentuk huruf V


"Itu tidak akan berhasil. Kau hanya akan menemukan jalan buntu bahkan menggunakan GPS Geodetik sekalipun." wanita itu membalas ucapan Faiz.


Jari yang sedari tadi membentuk huruf V kini menjepit hidung mancung Tia. "Oh ya? Bagaimana jika aku berhasil?" Faiz menggerakkan kepala Tia ke kanan dan ke kiri.


Melepaskan tangan Faiz yang menyumbat saluran pernafasannya. "Terserah!!! Yang penting aku sudah memperingatimu." Tandas Tia lalu melanjutkan kembali langkahnya.


"Hohoo kau menantangku rupanya." Faiz ikut berjalan. Kali ini posisi mereka sejajar karena jalannya sedikit lebar.


"Ish, kau bukan tandinganku," gumam Tia yang masih bisa di dengar oleh Faiz.


"Baiklah kita lihat saja." Faiz


Setelah perjalan panjang dan melelahkan akhirnya Faiz dan Tia sampai juga di tempat camp. Sudah banyak tenda yang berdiri di tempat yang seperti lapangan luas itu. Sentuhan api unggun di depan tenda semakin menambah nilai estetika pemandangan yang tersaji di hadapan kedua orang yang sedang berusaha mengenali tenda milik mereka.


"Di sana." Faiz menunjuk tenda merah dengan flysheet hijau yang terlihat unik karena memang bukan pasangan tendanya.


"Syukurlah kalian sampai juga." Sambut Hani ketika mereka mendekat ke arah tenda.


Keduanya terlihat kompak. Tanpa banyak bicara langsung membanting diri mencari posisi paling nyaman agar otot-otot yang menegang kembali rileks.


Tadinya Hani berniat menggoda Faiz dan Tia tapi karena perutnya sudah keroncongan dia mengurungkan niatnya agar ritual makan segera terealisasi.


"Habis makan kita jangan langsung tidur, yah?" Ucap Leo ketika suapan terakhir sudah ditelan habis.


"Kenapa? Akukan ingin memulihkan tulang-tulangku yang sudah remuk." Hani tak menggentikan aktivitasnya mengunyah


"Kita main truth or dare." Leo


"Aku tidak mau." Tolak Tia


"Sepertinya seru. Aku setuju." Hani langsung bersemangat. Entah rencana apa lagi yang ada di otaknya.


"Aku setuju yang penting semuanya ikut." Faiz memberi syarat.


"Tia, kau harus ikut bermain. Lagian kitakan datang bukan untuk tidur, benarkan?" Hani memprovokasi


"Yaps. Aku suka gayamu." Leo merespon baik


Seperti biasa, Hani terus membujuk Tia dan tidak akan berhenti sampai dia memberikan lampu hijau. Begitu berhasil mengantongi kata "iya" Hani langsung bersorak gembira.

__ADS_1


"Let's play!!!!"


~ Bersambung


__ADS_2