Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 26 Cemburu


__ADS_3

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 16.00 tapi nampaknya pekerjaan tiga mahasiswa itu belum juga selesai. Masih ada 1/3 bagian lagi lembar jawaban yang belum terjamah sama sekali.


Bisa dibayangkan bagaimana nasib cacing-cacing di perut Faiz yang belum mendapat asupan nutrisi dari tuannya. Sebenarnya Faiz bisa saja keluar sebentar untuk mencari makan tetapi kakinya terasa berat meninggalkan ruangan itu. Bukan ruangannya, tetapi berat meninggalkan penghuninya hanya berdua dalam ruangan itu karena Pak Pras tak pernah kembali lagi setelah menjelaskan maksud tujuannya diawal.


"Besok kita kumpul lagi di sini pukul 10.00," ucap Ari selaku orang yang paling senior


Faiz dan Tia hanya mengangguk setuju lalu membereskan barang-barang sebelum melangkahkan kaki keluar ruangan.


"Faiz kau keluar duluan, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Tia," kata Ari sebelum Tia ikut keluar bersama Faiz.


"Apa-apaan si gondrong. Memangnya dia mau bicara apa sampai aku tak boleh mendengarnya," gerutu Faiz yang kini berada di balik pintu seorang diri.


Rasa penasaran yang tidak bisa dikontrol membuat Faiz melakukan hal konyol lagi.


"Apa yang sedang dilakukannya?" Hani yang menaruh curiga ketika melihat Faiz menempelkan telinga ke pintu ruangan lantas menghampirinya.


"Hayooo sedang apa?" Hani mengagetkan dari arah belakang


"Awwah... hampir jantungku copot," Faiz memegangi dadanya


"Tingkahmu mencurigakan tau. Lantas kemana Tia?" menanyakan orang yang sedari tadi ia tunggu


"Tuh di dalam," jawabnya dengan wajah tak sedap dipandang


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka


"Kalian sedang apa?" tanya Ari ketika mendapati dua orang berdiri tepat di depan pintu


"Hehe Kak Ari, kami sedang menunggu Tia," jawab Hani


"Oh, jadi kau juga menunggunya?" pertanyaan yang ditujukan untuk Faiz. Belum sempat dijawab, Ari langsung melangkahkan kakinya meninggalkan mereka tanpa pamit.


"Cih bertanya padahal tidak butuh jawaban," Faiz


"Ooooh jadi tadi kau menguping pembicaraan Tia dan Kak Ari??" Hani blak-blakan


"Tidak!! Untuk apa aku melakukannya." Wajahnya spontan memerah


"Ayo mengaku saja... kau pasti cemburukan?" goda Hani


Seperti kehabisan kata-kata "Ah, sepertinya sudah sore. Aku duluan." Faiz memilih pamit untuk menyudahi pembicaraan itu.


"Kau cemburukan?? yuhuu Faiz cemburu" Pekik Hani mengiringi kepergian Faiz.


"Haniiii stop!" Titah Tia menurunkan tangan Hani yang menempel di pipi dekat bibir. Hingga wanita itu berhenti berteriak.


"Cie...cii--" Hani tak melanjutkan ucapannya karena Tia sudah memasang ekspresi menyeramkan. Dia mencubit pipi wanita itu lalu berkata "Hehe senyum dong, jangan marah lagi"

__ADS_1


Setelah ekspresi Tia kembali normal, senyum Hani mengembang lalu menggandeng tangan Tia untuk pulang


"Hahaha hei tanganmu." Tia merasa geli sekujur tubuh. Dari dulu dia memang tidak suka digandeng.


"Hahaha maaf, aku lupa." Hani melepaskan tangannya "Bagaiman jika nanti kau punya pacar? masa jalannya gandengan sama aku?" ucapan Hani barusan mengundang gelak tawa. Tia tak pernah melarang Hani menggodanya seperti itu selagi tidak menyebutkan nama Faiz.


***


Faiz baru merasakan lapar ketika berada di atas motor. perut kosong manuntunnya masuk ke lorong-lorong kecil untuk menghindari kemacetan parah di sore hari.


Sesampainya di rumah, dia langsung menuju dapur, membuka kulkas lalu memakan apa saja yang bisa dijadikan sebagai pengganjal perut keroncongannya.


"Kenapa ada banyak sekali makanan di dalam kulkas?" seingat Faiz ini bukan hari ulangtahun adiknya. "Ah terserah, intinya makan dulu bertanyanya nanti saja." Setelah meminum susu kotak rasa stroberi dan sepotong kue, Faiz segera masuk ke dalam kamar dengan membawa beberapa bungkus lagi makanan dan minuman. "Aku belum punya tenaga yang cukup untuk mendengar ocehan Uceng, lebih baik kabur saja," begitu pikir Faiz.


Mengendap-endap menaiki anak tangga. "huuuffftttt" bernafas lega ketika sampai di dalam kamar tanpa hambatan.


Meletakkan barang-barang bawaannya lalu terdengar benturan keras ketika dia meletakkan tasnya di atas meja.


"Eh? bunyi apa?" membuka sepatu kemudian memeriksa isi tasnya


"Hadeehhh ternyata batu tadi." Berjalan ke arah tempat tidur. Tiba-tiba dia teringat dengan ucapan Hani sebelum mereka berpisah.


"Cemburu?? cih aku cemburu pada si batu?" Duduk di tepi ranjang dengan mulut yang masih mengunyah


"Kenapa juga aku harus cemburu?" ketika makanan di mulutnya habis, dia langsung merebahkan tubuhnya.


"Salahku apa coba? masa hanya karena malu ketahuan pakai jam tangan mati? akukan tidak sengaja, lagipula itu kejadian beberapa bulan yang lalu." Protes dengan keadaan.


Uli yang berniat menghampiri kakaknya hanya terhenti di depan kamar lalu mengintip Faiz dari balik pintu. Samar-samar dia mendengar suara orang sedang bicara.


"Eh kenapa Kak Aiz bicara sendiri? Apa dia sedang frustasi?" Uli masih memantau


"Di catatanmu tertulis bahwa kau menyukaiku, tapi kenapa kau bersikap sebaliknya? Eh jangan-jangan anak itu...." Faiz langsung teringat dengan Uli yang berperan sebagai penerjemah.


Dengan cepat Faiz meraih ponselnya. "Driiiinngg...driinggg." Ponsel Uli berbunyi nyaring, ternyata yang menelfon adalah Faiz.


"Sejak kapan kau di sana? masuk cepat!" titah Faiz ketika sadar dengan keberadaan Uli


"Hehe maaf kak," masuk kamar sesuai perintah


"Kau sedang mengupingkan?" Faiz


"Hehe aku tidak dengar kok," -senyum terpaksa- "Kakak suka makanannya? enakkan?" Uli mencoba mengalihkan pembicaraan


"Bukan itu yang ingin kubahas." Faiz ingat kembali tujuannya memanggil Uli.


"Katakan dengan jujur tentang buku catatan yang waktu itu," to the point.

__ADS_1


"Maksudnya?" Uli bertanya balik


"Kau merubah isinya?" Faiz serius


"Ekhheemm, hehe jangan marah yah kak," memasang wajah sok imut


"Apa tulisan sebenarnya?" Faiz


"Aku memang merubahnya tapi cuma sediiiiiikit." Memperagakan jumlah dengan mempertemukan jari telunjuk dan ibu jari yang sebelah kiri.


"Cepat katakan," desak Faiz


"Pada bagian


'Benar-benar indah.


Rasanya aku ingin terbang saja. Entah mengapa wajahnya terlihat menarik'


itu bagian yang kurubah. Tulisan sebenarnya adalah


'Benar-benar sial. Rasanya aku ingin tenggelam saja. Entah mengapa wajahnya terlihat menyebalkan' begitu kak," jelas Uli dengan ingatannya yang kuat.


"Astaga bocah ini," -menarik nafas sejenak- "lain kali jangan diulangi. Keluar sana!" titah Faiz


Uli hanya mengangguk dan segera melarikan diri sebelum Faiz berubah pikiran.


"Ternyata sejak awal dia memang sudah membenciku," batin Faiz


Dia langsung membanting dirinya di atas kasur dan "Aaaawwwww" Faiz menjerit keras


"Eh? Kak Aiz kenapa?" tanya Uli yang sudah membuka handle pintu


"Tidak kenapa-kenapa, keluar sana!" Faiz menahan sakit. Punggungnya menimpa batu yang tadi dibiarkan begitu saja di atas tempat tidur.


"Iya..iyaa." Uli langsung menghilang di balik pintu.


"Iiisshhh gara-gara batu itu." Berdiri di depan cermin memeriksa punggungnya


"Apa meninggalkan bekas lagi di tubuhku?"


~ Bersambung


---------------------------------------------


Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕


__ADS_1


__ADS_2