
"A-aku Ingin mengajakmu... nanjak." Menjentikkan jarinya.
"Ya... Benar. Kita pergi mendaki gunung Kareng." Hanya itu yang terlintas di kepala Faiz. Dia tidak tau hal apa yang disenangi Tia. Yang jelas, dia tau saat itu Tia sedang butuh hiburan.
Keadaan harus memaksanya menjawab dengan cepat karena Tia terus mendorong pintu kamarnya dari dalam.
"Aku pikir-pikir dulu!"
Mendengar jawaban itu, Faiz membiarkan Tia menutup pintu kamarnya begitu saja.
Sepertinya Faiz tidak salah memberikan penawaran. Kesimpulan yang tepat hanya dengan melihat tingkah Tia selama di lokasi praktek lapang. Berjalan tanpa beban dan fisik yang tidak mudah sakit seperti orang yang terbiasa di lapangan.
Sepanjang jalan menuju rumah tadi, Faiz terus memikirkan rencana yang akan dia lakukan untuk persiapan mendaki nanti.
Dia mengajak anak-anak kelasnya untuk ikut mendaki bersama. Beberapa dari mereka setuju, sementara yang lain memilih tidak ikut dengan beragam alasan.
"Baiklah. Sekarang waktunya aku cek perlengkapan." Faiz mulai sibuk membongkar alat-alat mendakinya. Tenda, Sleeping bag, portable dan lain-lain semuanya di cek dengan teliti.
***
"Tia, kita nanjak yuk?" ucap Hani dari seberang "Anak-anak kelas banyak yang ikut," sambungnya
"Kapan rencananya?" Tia
"Akhir pekan. Kau ikut yah?? Inikan perpisahan kita sebelum libur semester nanti. Yah..yah??" Hani terus membujuk Tia
"Liburnya lama loh. Nanti pasti kangen bangetkan. Ikut Yah?"
"Iya, baiklah." Akhirnya Tia menyetujui permintaan Hani.
Sebenarnya dia memang suka mendaki. Hanya saja, hal yang memberatkan Tia untuk ikut adalah keberadaan Faiz.
"Asiiikkk... besok aku jemput yah, kita belanja untuk keperluan makanan nanti," Hani
"Iya, terserah." Jawabnya pasrah.
***
Sebenarnya rencana liburan kelas memang sudah diwacanakan, hanya saja ada alasan tersendiri mengapa Faiz memilih gunung sebagai tempat untuk mereka liburan.
Meskipun Faiz telah menyerahkan tanggung jawab kepada Hani untuk mengurus bagian ransum, tetap saja dia ikut melibatkan diri ketika Hani dan Tia berbelanja.
Selama berbelanja, beberapa kali Faiz mengganggu Tia, namun wanita itu tetap diam. Mungkin Hani tak menyadarinya, tetapi Faiz seperti mengenal betul makna dari air muka itu.
"Ternyata dia memang suka mendaki," gumam Faiz setelah melihat lihainya Tia memilih bahan-bahan makanan yang harus mereka bawa mendaki.
"Perasaanmu sudah membaik?" Bisik Faiz ketika Hani sedikit menjauh dari mereka
"Aku memang baik-baik saja." menjawab sekenanya
"Kau mungkin bisa membohongi yang lain, tapi aku tidak." Faiz
__ADS_1
"Tidak usah sok peduli." Ketusnya
"Kau kenapa sih? Sebenarnya salahku apa?" tanya Faiz penasaran
"Salahmu?" Memandang lurus ke arah Faiz
"Karena kau pria!!" ucapnya lalu berlari kecil menyusul Hani
Faiz terdiam. Dia berusaha mencerna makna ucapan Tia barusan.
"Memangnya kenapa kalau aku pria?"
Setelah percakapan itu Faiz jadi sedikit diam. Karena tak seusil biasanya, akhirnya Hani melontarkan pertanyaan
"Kalian berdua kenapa?" Hani yanh sedari tadi merasa ada yang aneh
"Apanya?" Tia
"Kenapa seperti saling diam?" Hani
"Memang biasanya seperti ini kan?" Kali ini Faiz yang menjawab
"Apasih?? Sikap kalian bikin merinding tau!" Timpal Hani
"Sepertinya semua sudah lengkap. Aku tunggu di kasir." Jawab Tia lalu berjalan meninggalkan Hani dan Faiz
"Kau mengerjainya lagi yah?" Tukas Hani
"Ayo jelaskan. Kenapa?" Hani menatap lekat Faiz karena tak puas dengam jawaban barusan
"Karena aku pria." Singkatnya lalu pergi menenteng semua belanjaan dan menuju kasir.
"Hhmmm aku tau." Hani menjentikkan jarinya lalu ikut berjalan menuju kasir
Entah siasat apa yang sedang direncanakan Hani, untuk membuat Faiz dan Tia menjadi dekat.
***
Pernyataan Tia di alfamode tadi terus melayang-layang di kepalanya.
"Aiz," Suara bariton itu membangunkan Faiz dari lamunannya
"Ah, Ayah." Faiz memperbaiki posisi duduknya
"Sudah menemukan alasanmu tersenyum hari ini?" Tanya ayahnya yang sedari tadi memperhatikan Faiz melamun di depan TV
Faiz hanya tersenyum mendengar ucapan itu. Dia tidak tau harus membalasa dengan kata apa.
"Jangan lepaskan apa yang menjadi sumber kebahagiaanmu." Lanjut sang ayah sambil menyentuh punggung Faiz
"Benarkah dia adalah sumber kebahagiaanku?" Faiz membatin
__ADS_1
"Bagaimana jika kita bukan sumber kebahagiaannya?" Faiz mulai masuk dalam pengantar ayahnya
"Berarti kita harus menjaga apa yang membuat sumber kebahagiaan itu tetap tersenyum." Jawab sang ayah
"Ayah, apa yang salah jika kita pria?" Faiz ingin menghilangkan rasa penasarannya
"Pria itu selalu selalu salah. Benar ataupun salah, di mata wanita, yang salah tetaplah pria." Dengan Suara nyaring Uli ikut nimbrung pada pembicaraan dua pria itu
"Anak kecil, kau tau apa?" ucap Faiz yang merasa terganggu dengan keberadaan Uli
"Ayah, sepertinya cinta Kak Aiz bertepuk sebelah tangan." Ejek Uli lalu duduk di samping ayahnya
"Ish, siapa yang bertepuk sebelah tangan?" Balas Faiz "Aku sendiri belum yakin dengan perasaanku."
"Makanya Kak Aiz jangan reseeee... Wanita itu suka diperhatikan, bukan dikerjain. Kan, Yah?" ucap Uli lalu meledek Faiz dengan lidahnya
"Siapa yang rese?? Hanya wanita cengeng yang sependapat denganmu." Faiz
"Di rumah saja Kak Aiz suka seenaknya ambil makanan padahal itu bukan milik Kak. Bayangkan saja bagaimana resenya kalau sama wanita lain." Uli mengeluarkan unek-unek nya
Sang ayah hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya.
"Akukan cuma begitu padamu. Soalnya kau lucu kalau ngambek." Sudut bibir Faiz tertarik simetris.
"Iya dong. Aku memang lucu," memamerkan senyum manis
"Nah, makanya jangan marah kalau Aiz mengerjaimu." Ucap sang ayah sambil menyeruput kopinya
"Aaaa aku tidak mau, lebih baik aku tidak lucu. Kenapa Ayah jadi membela Kak Aiz?? Pantas saja Kak Aiz selalu seenaknya padaku." Protes Uli dengan wajah manjanya
"Kau lihatkan Aiz? Tadi dia bilang lucu, sekarang tidak mau dibilang lucu." Ucap sang ayah sambil tersenyum. "Seperti itulah wanita, mereka sulit ditebak dan banyak maunya."
"Oh, jadi maksud Ayah, Ibu juga banyak maunya?" Sang ibu muncul dengan membawa cemilan yang baru saja diangkat dari penggorengan
"Yaaaaaa, hayooo Ayah mau ngomong apa lagi?" Goda Uli. Semuanya tertawa melihat sang ayah seperti di skak mati.
"Faiz, disaat seperti ini, pria sebaiknya jangan bicara lagi. Karena apapun jawab kita, semuanya akan tetap salah di mata wanita." Sang ayah seperti langsung memberi contoh kasus
Suasana keluarga yang harmonis tercipta di ruangan itu. Perdebatan malam itu sudah jelas dimenangkan oleh kaum hawa.
***
Setelah percakapan di ruang keluarga selesai, Faiz merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia membaca pesan dari Hani yang isinya adalah foto ketika Faiz dan Tia berjalan berdampingan dengan menenteng barang belanjaan.
"Kalian benar-benar pasangan yang serasi hohoo." Begitu isi pesan yang dikirim Hani kepada Faiz.
Ternyata jari nakal Hani sempat mengabadikan momen itu. Senyum tipis di wajah Faiz muncul tanpa perintah.
~ Bersambung
---------------------------------------------
__ADS_1
Silahkan berikan saran dan kritik untuk author jika ada yang kurang suka dengan ceritanya 🙏