Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 20 Bocor


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 16.00. Tidak biasanya Tia mandi pada jam begitu. Bukan hanya sudah wangi, dia bahkan sudah berpakaian rapih. Jangan salah kira, hal itu dia lakukan tentu saja bukan karena ingin menyambut kedatangan Faiz, tapi justru dia ingin kabur agar Faiz tidak mendapatinya di kost.


"Ayolah perut, mari berdamai." Tia mensugesti dirinya agar kuat menahan nyeri perut akibat datang bulan. Jujur saja, sebenarnya dia paling malas melakukan apa-apa ketika si merah datang.


"Si Buldozer karatan itu benar-benar menyiksaku," umpatnya. "Tapi dia pasti kesal kalau tau aku tidak ada di kost. Taarrraaaa zonk, pulang dengan membawa emosi," tertawa membayangkan rencana liciknya.


Selesai merampungkan isi tasnya, dengan malas ia melangkahkan kakinya keluar kamar. Membuka pintu pagar, lalu menghidupkan motor. Ketika dia ingin menarik gas tiba-tiba Faiz muncul tepat di depan pintu. Seperti kehabisan darah, tubuh Tia loyo seketika dan wajahnya datar tanpa ekspresi.


"Mau kemana?" tanya Faiz yang memergoki Tia berada di atas motor dengan pakaian rapih


"Ka--kau sudah disini?" Tia tidak menjawab pertanyaa Faiz.


"Kenapa Buldozer karatan ini datangnya cepat sekali?" prediksi Tia melenceng, dia kira Faiz akan datang di malam hari karena mereka selesai kuliah tadi pukul 14.45.


"Belum!! Aku masih di apotek," -sahut Faiz sambil menuntun motornya masuk ke halaman kost- "beli obat tetes mata supaya penglihatanmu jernih."


"Jelas-jelas dia melihatku, masih juga bertanya," Faiz.


"Ha..ha," -tertawa hemat- "lucu," jawab Tia dengan nada datar.


"Siapa yang sedang melucu? aku sedang menghina matamu." Faiz langsung duduk di teras kost tanpa menunggu aba-aba.


"Belum apa-apa dia seperti sudah menyedot seluruh energiku." Tia ikut duduk di teras.


Tanpa banyak bicara, Tia mengeluarkan laptop dan lembar laporannya yang tertolak. Faiz terlihat melakukan hal yang sama.


"Bikin kopi dong." Faiz mengeluarkan beberapa kopi dari dalam tasnya.


"Bikin sendiri!! lewat situ, -menunjukkan arah- "dapur di sebelah kiri." Jawab Tia masih dengan ekspresi datar


"Dasar pemalas. Awas saja kalau kau bertamu ke rumahku," ancam Faiz lalu bangkit dari duduknya menuju dapur.


"Idih siapa juga yang mau ke rumahmu," Tia.


Tia mulai merangkai kalimat demi kalimat di lembar laporannya dengan serius. Nyeri di perutnya seperti hilang tergantikan oleh keberadaan Faiz.


"Mahasiswa teladan," ucap bapak kost yang tiba-tiba muncul dari depan. "Rajin sekali belajar," lanjutnya seperti tau apa yang sedang dilakukan oleh Tia.


"Hehe iya pak, lagi banyak tugas dan laporan." Jawab Tia dengan sopan.


"Wifinya tidak bermasalah?" tanya bapak kost memastikan kenyamanan penghuninya. Jika ada waktu senggang, dia memang sering datang memeriksa atau mencari tau keluhan-keluhan penghuni kost


"Sekarang bagus kok pak. Cuma semalam ada sedikit gangguan," timpal Tia


"Kenapa tidak memberitahu? Kan sudah bapak bilang, kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk melapor,"


"hehe iya pak," Tia.


Tiba-tiba Faiz muncul dengan membawa dua cangkir kopi.


"Permisi pak." Faiz sedikit membungkuk sopan.

__ADS_1


"Oh, iya silahkan." sahut bapak kost. "Pacarmu perhatian sekali, pasti idaman semua wanita," lanjutnya ketika menyadari bahwa Faiz adalah tamu pria yang malam itu datang (melihat melalui CCTV).


"Ah, bapak bisa saja," Faiz menyembunyikan rasa bangganya


"Bukan pak. Dia bukan pacar saya!" jawab Tia tegas


"Tidak usah malu-malu, selama inikan teman priamu yang datang cuma dia," balas bapak kost.


"Dia saja baru datang dua kali pak," gumam Tia.


"Ya sudah bapak pergi dulu, lanjutkan saja pacarannya," goda pemilik kost kemudian berlalu begitu saja.


"Kau senangkan dikira punya pacar?" ujar Faiz ketika pemilik kost benar-benar hilang dari pandangan.


Hanya tatapan sinis yang dilayangkan Tia.


"Kopinya silahkan diminum tuan putri yang sensitif," goda Faiz namun tak mendapat respon sama sekali. Tia hanya serius dengan laptopnya.


Keduanya serius mengerjakan laporan, sesekali Faiz bertanya tentang hal yang tidak dipahaminya. Tia menjelaskan sampai Faiz benar-benar paham. Dia sengaja memasang wajah serius agar Faiz tidak melakukan gerakan tambahan.


"Haaah, kepalaku panas," keluh Faiz. "Main game dulu yuk. Kau tidak bosan?" Dia menopang wajahnya dengan kedua tangannya di atas meja.


"Eh?" Tia terkejut ketika mata mereka bersitatap dengan cepat dia mengalihkan pandangannya.


"Pulang sana!! jangan main game disini," tandas Tia.


"Kau gerogikan kalau kuperhatikan begini?" goda Faiz.


Tia hanya membisu, berusaha cuek. Namun, pipinya memerah.


"Plaaaak." Lembar laporan yang gagal dikumpul mendarat tepat di wajah Faiz. "Jangan menatapku seperti itu," Ujar Tia


"Sakit tau!!" Dia mengelus bekas tamparan di wajahnya. Kali ini pipi mereka sama-sama memerah.


"Rasakan ini!!!" Faiz mencubit kedua pipi Tia.


"Lepabxhd...ukkshdh...sakjshdv," ucapan Tia menjadi tidak jelas (lepas...cukup...sakit).


Namun, Faiz tak menghiraukan ucapan Tia.


Hingga akhirnya, "aaww...aaww.. aaaaaa," Faiz menjerit keras. Bagaimana tidak, Tia benar-benar nekat menggigit tangannya.


"Benar-benar cewek gila." Faiz mengumpat.


Kali ini Tia berhasil meninggalkan jejak lagi di bagian tubuhnya.


"Dia ini kenapa sih? aneh bin sensitif sekali," gumam Faiz heran melihat tingkah Tia. Dia memang sering tak digubris sih, tapi biasanya Tia akan tertawa puas ketika berhasil membalas keusilannya.


Kali ini gantian Tia yang menjerit. "Ahh, nyerinya datang lagi." Dia merasa sesuatu keluar dengan lancar hingga membuat dia menggigit bibir bawahnya.


"Kau baik-baik saja?" Raut wajah Faiz langsung berubah serius.

__ADS_1


"Jangan-jangan bocor lagi?" Tia mulai gelisah.


"Benarkan!!" Dia semakin tidak nyaman ketika meraba roknya memang sudah basah.


Rasanya belum cukup 3 jam mereka duduk mengerjakan laporan tapi 'si anti kerut anti bocor' sudah penuh lagi.


"Hei kau kenapa sih?" tanya Faiz yang belum mendapat jawaban.


Tia sedang berpikir bagaimana caranya dia bisa masuk ke kamar tanpa ketahuan oleh Faiz bahwa sesuatu sudah membasahi roknya. Akhirnya dia memutuskan menutupinya menggunakan lembar laporan yang tadi dipakainya untuk menampar Faiz.


"Kalau pakai tas akan lebih mencurigakan. Dia pasti akan melontarkan banyak pertanyaan," pikir Tia.


Begitu keberaniannya terkumpul dia segera bangkit dari duduknya. Sesuatu terasa lagi keluar dengan derasnya.


"Aku ke dalam dulu," ucap Tia lalu berjalan mundur beberapa langkah kemudian membalik tubuhnya dengan lembar laporan yang sudah menutupi belakangnya.


Hal ini tentu saja mengundang rasa penasaran di benak Faiz. Diapun bangkit dari duduknya lalu merampas lembar laporan yang dipegang Tia.


"Hayooo.. Kau menyembunyikan apa...." ucapannya terhenti ketika melihat sesuatu seperti peta terukir dengan tinta merah di rok yang di kenakan Tia.


"Aku tidak melihatnya. Maaf, maaf," Faiz langsung membalikkan tubuhnya. Pipinya memerah seperti kepiting rebus. "Ya ampun! apa yang barusan kulakukan," gumam Faiz.


Benar-benar memalukan. Saat itu rasanya yang ingin Tia tutupi adalah wajahnya bukan lagi bercak merah di roknya.


Ketika masuk dalam kamar, Tia menyumbat mulutnya dengan guling lalu berteriak.


"Dasar gila, sinting, buldozer karatan, anak mama aaaaa" Tia mengumpat lalu melampiaskan kekesalannya pada si guling yang memerankan peran Faiz. "Aku ingin memukulmu seperti ini buugg..baagg..buugg"


***


Hampir 30 menit berlalu tapi Tia belum juga keluar dari kamarnya.


"Kenapa dia lama sekali?" Faiz gelisah menunggu.


"Jangan-jangan dia marah padaku? tapi aku memang sudah kelewatan" -mondar mandir seperti setrikaan- "aku harus bilang apa kalau dia keluar?"


"Kau tenang saja, aku tidak melihatnya kok," Faiz mencari kalimat yang tepat untuk dia ucapkan sebentar.


"Ah kentara sekali pura-pura. Eemm atau 'kau baik-baik saja?' aahh, tidak..tidak.. nanti dia tambah malu," pikir Faiz. "Anggap saja tadi tidak terjadi apa-apa," masih mencari kalimat yang tepat.


"Kleek." Bunyi handle pintu dibuka.


Jantung Faiz berdetak jadi lebih kencang dari sebelumnya. Dia menarik nafas panjang.


Dan ketika Tia sudah ada dihadapannya, pikirannya langsung blank kata-kata yang tadi disusunnya lenyap tak bersisa.


"Aku pulang dulu, ibuku tadi menelfon," spontan kalimat itu yang ada di kepala Faiz.


Oh, i-iya... silahkan," balas Tia. Baru kali ini dia berbicara dengan benar kepada Faiz.


Faiz merapikan barang-barangnya lalu bergegas naik ke atas motor. Tia hanya duduk, bahkan tidak membukakan pintu pagar.

__ADS_1


"Aku permisi dulu, istrahatlah yang benar," Faiz langsung menarik gas motornya. "Demi langit, barusan aku bicara apa?" Dia melajukan kendaraannya. Tanpa sadar, sudut bibirnya tertarik simetris membayangkan kejadian di kost Tia tadi. Cahaya lampu jalan membuat suasana malam kota Boiland begitu indah. Mungkinkah seindah hati Faiz? Ya entahlah, hanya dia dan sang pemilik hati yang tau.


~ Bersambung


__ADS_2