
Faiz memacu kendaraannya menuju rumah Kiran. Tak lupa dia membawa sesuatu untuk menunjukkan perhatiannya. Menumbuhkan perasaan memang bukan perkara mudah untuk Faiz. Tetapi, sebisa mungkin dia akan berusaha memberikan yang terbaik.
Menjemput Kiran lalu mendatangi semua tempat yang ingin dikunjunginya. Pertemuan mereka sore itu benar-benar membuat Kiran merasa seperti ratu. Diperlakukan dengan lembut, memberikan perhatian, hingga memenuhi semua permintaannya.
Jika kau berikan hatimu, maka aku akan memberikan hati bahkan isi perutku. Tetapi, jika kau menginjak harga diriku, maka akan kukeluarkan isi perutmu.
Faiz memang pria yang dibesarkan dengan menjunjung tinggi prinsip-prinsip hidup.
Semakin hari Faiz dan Kiran semakin intens bertemu. Jika dulu Faiz sering ke kampus lebih awal, kini dia datang selalu 10 menit sebelum dosen memulai mata kuliah dan pulang 1 menit setelah dosen meninggalkan ruangan. Hal itu karena akhir-akhir ini Faiz banyak meluangkan waktunya untuk Kiran.
"Kak Aiiizzz cepat! aku hampir terlambat" Pekik Uli terdengar dari lantai bawah
Dengan cepat Faiz keluar dan berlari kecil menuruni anak tangga.
"Masih pagi sudah marah-marah. Bikin cepat tua Uceng." tandas Faiz sambil mengelus ujung kepala adiknya
"Buruan.. ayoo." Uli menarik tangan kakaknya
"Aiz tidak sarapan dulu?" ucap sang ibu yang datang dari arah dapur.
"Ibuuuu aku sudah terlambat." Uli
"Nanti di kampus saja bu. Kami pamit dulu yah." Faiz mencium tangan dan pipi ibunya begitupun dengan Uli
Dengan cepat Faiz menuntun sepeda motornya karena Uli terus mendesaknya.
Untung saja Uli sampai di sekolah tepat waktu.
"Belajar yang rajin," nasehat Faiz ketika motornya berhenti dengan benar. Tak lupa dia mengelus kepala sang adik
"Iya kak." Sahut Uli sambil mencium tangan sang kakak.
Setelah memastikan adiknya benar-benar masuk ke gerbang sekolah barulah Faiz menancap gas motornya.
"Waahh senangnya Uli setiap hari diantar sama Kakaknya."
"Enaknya punya kakak seperti kak Faiz."
"Beruntungnya jadi Uli dijagain kakak-kakak ganteng begitu."
"Kapan kau akan mengenalkanku dengan kakakmu?"
Begitulah ucapan yang setiap pagi didengar oleh Uli. Pujian dari teman-temannya yang ditujukan untuk kakaknya. Bukan hanya Faiz, bahkan Leo yang kerap menjemputnya setiap pulang sekolah juga menjadi sorotan. Uli sampai bosan mendengarnya. "Mereka tidak tau saja bagaimana kelakuan kak Aiz kalau di rumah." Begitu pikir Uli.
***
__ADS_1
Masih ada waktu 30 menit sebelum mata kuliahnya hari itu dimulai. Faiz langsung menuju kantin jurusan untuk memberi makan cacing-cacing dalam perutnya.
"Hei kau, duduk sini." Titah seseorang ketika Faiz baru saja masuk ke dalam kantin
"Iya Kak." Tanpa banyak bertanya Faiz menuruti permintaan senior gondrong yang duduk di pojok kantin.
Keduanya berbasa-basi menunggu makanan pesanan Faiz datang. Kecuali wanita yang ada di samping si gondrong, dia lebih banyak diam ketika Faiz ikut duduk bersama mereka. Ya, itu adalah Tia.
Ini pertama kalinya mereka berdekatan lagi karena Faiz yang jarang nongkrong di kampus. Entah momen apa yang dilewatkan Faiz sampai dia tidak sadar dengan kedekatan Tia dan Ari.
"Kenapa kau tiba-tiba jadi diam?" tanya Ari
"Kau sakit?" Lanjutnya sambil memegang dahi Tia
"Jadi si gondrong ini memanggilku hanya untuk menyaksikan drama mereka?" Faiz terlihat kesal.
"Tidak kak, makanannya enak." Jawab Tia cepat
"Benarkah? Kemarin-kemarin kita makan di sini kau biasa saja." Kata Ari lalu mencicipi makanan yang ada di piring Tia.
"Rasanya sama kok. Tidak ada yang beda," sambung Ari.
"Si Gondrong ini lebay sekali." Faiz menyantap makanannya dengan cepat agar segera enyah dari kantin itu.
"Ah, tidak usah kak." Tia menolak namun tangan Ari sudah menggantung di hadapannya siap untuk menyuapinya.
"Uhuukk..uhuukk." Faiz tersedak "Bikin hilang selera makan saja." Dengan cepat dia meneguk segelas air yang ada di hadapannya.
"Hei itu milik Tia," tegur Ari.
"Berarti bekas bibir Tia...." Faiz jadi salah tingkah.
"Oh, maaf." Tersenyum kering "aku sudah selesai makan," ucap Faiz.
"Tapi makananmu masih banyak," balas Ari
"Sudah kenyang!" -menatap kesal ke arah Tia- "aku permisi dulu." Faiz bangkit dari duduknya lalu pergi dengan perasaan yang tidak karuan.
"Ah, kenapa aku jadi kesal begini?" gumam-gumam dalam hati sambil menendang semua benda kecil yang dilewatinya.
***
Sudah hampir satu jam Faiz menunggu kedatangan Leo. Namun, pria itu belum juga menampakkan wajahnya di rumah Faiz. Sementara pesan masuk di ponselnya terus mencari keberadaan dirinya dan Leo.
Padahal sebelumnya mereka sudah janjian untuk berangkat bersama ke acara familyspul.
__ADS_1
"Leo belum datang, kalian mulai saja acaranya." Begitu bunyi pesan yang dikirim Faiz ke grup familyspul.
Setelah 20 menit berlalu barulah Leo memberi kabar bahwa dia tidak bisa datang menjemput Faiz. "Sorry Bro, kau berangkat dahulu saja. Nanti aku menyusul." Isi pesan singkatnya
Akhirnya Faiz berangkat sendiri menuju rumah Kevin (salah satu anggota familyspul).
"Kau sendirian? mana Leo?" tanya Kevin ketika Faiz muncul di rooftop garden tempat mereka berkumpul.
"Katanya nanti dia menyusul," sahut Faiz.
Dia langsung berbaur dengan yang lain, ikut memanggang beberapa steak sapi yang belum masak. Sesekali terdengar gelak tawa membuat kekeluargaan diantara mereka semakin erat
Mereka bernostalgia, mengenang masa-masa SMA. Sesekali mereka saling mengejek. Membahas banyak hal seperti khas percakapan para pria ketika berkumpul.
Setelah acara hampir selesai barulah Leo menampakkan dirinya. Semua bisa memaklumi alasan keterlambatan si rambut pirang itu yakni "menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dengan sang pacar."
Wanita adalah bayi manja yang tidak pernah besar. Ketika kau memasuki dunianya, berarti kau telah siap memberikan separuh duniamu kepadanya.
Itulah salah satu alasan dari beberapa anggota familyspul (termasuk Kevin) enggan menjalin hubungan dengan wanita. Karena mereka belum siap kehilangan separuh dunia mereka atau lebih tepatnya belum siap masuk ke dunia percintaan yang merepotkan.
"Kalau kabar Kiran bagaimana?" tanya Leo setelah dia habis diinterogasi oleh yang lain
"Dia baik-baik saja." jawab Faiz
"Kau belum jadian dengannya?" tanya yang lain
"Belum sih," Faiz
"Sampai kapan kau akan menggantung anak orang?" kali ini Leo yang bertanya.
"Aku masih belum yakin dengan perasaanku." Faiz mulai serius.
"Jangan membuat anak orang menunggu terlalu lama." Nasehat Kevin
"Kau hampir 3 bulan lebih PDKT dengannya. Kalau masih belum ada rasa, lebih baik kau ambil keputusan. Jangan sampai dia berharap banyak lantas kau menyakitinya." Yang lain ikut menasehati.
"Iya, besok aku akan coba bicara dengannya." Faiz
"Semangat Bro!!" ujar yang lain
Setelah mendapat nasehat dari teman-temannya, Faiz memantapkan hati untuk mengajak Kiran kencan besok malam.
"Aku masih ragu... tapi mereka ada benarnya juga," batin Faiz lalu mengirimkan Kiran pesan singkat.
~bersambung
__ADS_1