Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 10 Praklap Part 3


__ADS_3

Waktu terus berjalan akhirnya pengukuranpun telah selesai. Mereka mempersiapkan tenaga untuk kembali ke lokasi utama sebelum pukul 16.00. Berjalan kaki berkilo-kilo dibawah terik matahari, melewati sungai, lembah, bahkan menaiki gunung akan menjadi aktivitas yang sarat dengan jurusan yang telah diambil Tia.


Ketika suara-suara keluhan mulai terdengar, Tia masih dengan semangat yang sama seperti waktu mereka datang. Dia terlihat sangat menikmati perjalanan itu, karena mendaki gunung memang hobinya dari dulu.


"Aku rindu kalian, rasanya ingin mendaki bersama lagi," Tia yang terbawa suasana membuatnya ingat dengan kenangan manis bersama sahabat-sahabatnya.


Diraihnya ponsel senter kecil dari dalam tasnya untuk mengecek jaringan


"Yes, ternyata ada jaringan" Tia terlihat senang. Tak ingin memendam rindu sendiri akhirnya dia menelfon Femi dan Sam secara bersamaan.


"Berhenti! kenapa kau merepotkan sekali sih?" ucapan Faiz dengan nada sedikit emosi.


"Itukan suara Faiz, astaga kenapa lagi dia?" gumam Tia dalam hati tanpa menoleh kebelakang.


"Nanti aku telfon lagi yah" ucap Tiap dan langsung menutup telfonnya.


"Apa?" tanya Tia bingung


"Kau sudah berjalan terlalu jauh meninggalkan rombongan lain" Faiz menunjuk ke jalan yang mereka lewati tadi.


"Ha? benarkah?" Tia terbelalak ketika menyadari disekelilingnya hanya ada Faiz.


"Yaa terus masalahnya apa?" -Tia ragu-ragu- "tinggal ikut jalan setapak inikan?"


"Oh begitu? jalan saja terus sampai kau kembali ke kampus" Faiz.


"Kau bicara apa sih?" Tia


"Sudah merepotkan orang baru masih tidak sadar juga?" Faiz


"Kau mau kemana?" Faiz


"Pertanyaan apa itu?" Tia


"Kau sudah salah jalan," Faiz


"Yang benar saja?" Tia


"Ikut denganku! Jalannya bukan lewat sini," jelas Faiz lalu kemudian berjalan kearah yang tadi mereka lewati


"dia lagi bercandakan?" Tia bertanya-tanya dalam hati.


Faiz mulai kesal melihat Tia yang hanya diam mematung. Dia melangkah kembali kearah Tia lalu menarik tangannya.


"Dasar keras kepala," ucap Faiz kesal.


"Hei lepaskan tanganku," Tia.

__ADS_1


"Diam dan berjalanlah dengan cepat!!" Faiz


"Aku bisa jalan sendiri." Tia terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Faiz.


"Sebentar lagi hujan. Kita harus berjalan cepat sebelum arus sungai menjadi deras," jelas Faiz tanpa melepaskan tangan Tia.


"Lepaskan dulu tanganku." sepanjang jalan Tia meminta agar tangannya dilepaskan. Namun, Faiz tak luluh sama sekali entah kenapa dia seperti terhibur dengan semua celoteh yang keluar dari mulut Tia.


"Ternyata dia bisa secerewet ini." Pikir Faiz sambil terus menggenggam tangan Tia.


Hujan mulai turun membasahi bumi. Bau khas tanah yang terkena hujan mulai tercium.


Keduanya bergandengan tangan menyusuri jalan setapak dengan baju yang sudah basah kuyup, berteduh dibawah pohonpun tak ada gunanya.


"Eh? kenapa dia?" Tia kaget ketika Faiz tiba-tiba melepaskan tangannya.


"Kenapa? kau masih ingin kugandeng?" Faiz


"Tidak!!" Tia menjawab dengan cepat dan langsung menyembunyikan tangannya dibalik badan.


Mereka telah tiba dibantaran sungai. Namun, Arusnya sudah mengalir deras berbeda ketika pertama kali mereka menyeberanginya.


"Kau bisa berenang?" Faiz


"Tidak" Tia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya lagi, itu tergambar jelas di wajahnya.


"Menyeberang terlalu beresiko tapi menunggu juga terlalu dingin" Faiz terus mencari solusi.


"Kau masih bisa bertahan? kita tunggu disini saja sampai bantuan datang yah?" tanya Faiz mencoba memastikan keadaan Tia.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Tia, dia hanya menganggukkan kepalanya.


Tia duduk diatas batang kayu besar sementara Faiz terlihat sibuk mengumpulkan kayu dan daun-daunan lebar


"Dia sedang apa?" gumam Tia dalam hati sambil memeluk lengannya sendiri karena kedinginan. Beberapa menit kemudian akhirnya terdengar suara Faiz memanggil Tia


"Hei kemari, berteduh di bivak dulu." Ajak Faiz


"Nanti kau ingusan," sambung Faiz mengejek.


Tia langsung berpindah tempat duduk, dia masuk kedalam bivak berukuran kecil yang hanya cukup untuk dua orang sehingga posisi duduk Faiz dan Tia benar-benar dekat.


"Kita tidak bisa membuat api karena semuanya basah," jelas Faiz.


Keduanya kembali terdiam, hanya suara air sungai mengalir dan tetesan hujan yang menampar atap dedaunan bivak.


Faiz mulai menggigil, dia terlihat sibuk memainkan hidungnya. Menutup lubang hidung kiri dan bernafas menggunakan lubang hidung sebelah kanan seperti orang yang hidungnya tersumbat.

__ADS_1


"Kau membawa minyak anginkukan?" Suara Tia memecahkan keheningan.


"Minyak angin?" Faiz


"Iya, minyak anginku yang kau ambil tanpa izin dari dalam tasku," jawab Tia


"Oh, haha maksudmu ini?" Faiz menyodorkan botol minyak angin yang diambil dari dalam tas daypacknya


"Aku tidak berniat mengambilnya, aku hanya lupa mengembalikannya," sambung Faiz.


"Tetap saja salah, kau mengambil barang dalam tas yang bukan milikmu," bantah Tia


"Aku sudah membangunkanmu, tapi kau tidur nyenyak sekali seperti di hotel bintang lima," Faiz membela diri.


"Ya.ya.ya.ya" balas Tia sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mengejek.


Faiz tidak membalas ejekan itu, dia hanya tertawa lebar penuh makna melihat tingkah Tia. Namun, tak ada yang tau apa arti dari tawa itu.


Faiz terdiam ketika melihat Tia ikut tertawa, wajahnya langsung berubah.


"*M*engapa dia tertawa? firasatku jadi tidak enak" mungkin itu yang ada di benak Faiz.


"Apa?" Faiz penasaran. Tapi lagi-lagi Tia tertawa bahkan suaranya lebih keras dari sebelumnya.


"Aduuh anak mama, kasian ingusan du..duh," jawab Tia dengan memasang wajah imutnya seperti orang yang sedang berbicara dengan bayi.


"tadikan aku yang bicara seperti itu" gumam Faiz dalam hati. Wajahnya memerah, dia langsung menyeka hidungnya memastikan agar tidak ada cairan yang keluar.


"Pakai minyak angin ini kalau hidungmu tersumbat" ucap Tia sambil mencium minyak angin lalu mengeluarkan nafas lega lewat mulut seperti orang yang sedang membuat tutorial cara menyingkirkan hidung tersumbat.


"Ambil ini!" Tia meraih tangan Faiz dan meletakkan minyak angin yang baru saja dikembalikan itu.


Rasanya Faiz ingin menjadi butiran air hujan saja lalu mengikuti aliran sungai hingga ketempat terakhir ia bermuara . Bagaimana tidak, bisa-bisanya dia beringus sementara gadis yang bersamanya melewati badai hujan air itu sehat-sehat saja. Namun, fikiran Faiz terfokus pada hal lain entah kenapa pipinya memerah ketika Tia memegang tangannya, detak jantungnya terdengar seirama dengan suara aliran air sungai.


"Faiiz.. Tiaaa" Pikiran Faiz buyar ketika teriakan segerombolan orang memanggil nama mereka terdengar dari seberang sungai.


"Sepertinya itu mereka," ucap seseorang dari seberang sungai. Bivak mereka memang didirikan hanya beberapa meter dari bantaran sungai sehingga sangat mudah terlihat dari seberang.


Dengan segera Tia keluar dari bivak lalu membalas panggilan dari tim penyelamat


"Kami disiniiii." Tia melambaikan tangannya.


Dalam hati Tia penuh syukur karena akhirnya tim penyelamat datang sebelum hari menjadi benar-benar gelap


~Bersambung


Semoga menjadi hiburan di rumah.

__ADS_1


Semoga kita sehat selalu dan corona cepat berlalu


__ADS_2