
Sesuai dengan janji kemarin, Faiz sudah menunggu di depan ruangan pak Pras lagi 10 menit pukul 10.00. Dia sudah merencanakan sesuatu untuk menghadapi drama antara Ari dan Tia hari ini. Tak berselang lama, si pemegang kunci ruangan pak Pras yang tak lain adalah Ari telah menampakkan diri dengan rambut gondrong yang terurai rapih.
"Sudah lama menunggu?" Tanya Ari sambil membuka ruangan pak Pras
"Perlu kujawab? atau dia bertanya lagi padahal tidak butuh jawaban." Faiz teringat dengan kejadian kemarin sore. "Sekitar 3 menit Kak." Menjawab sekenanya.
"Ayo masuk!" Titah Ari ketika ruangan telah terbuka.
Faiz mengecek jam tangannya, lagi 5 menit pukul 10.00 tetapi Ari sudah mulai memeriksa lembaran-lembaran jawaban yang masih tersisa. Tentu, tanpa perintah Faiz ikut memeriksa lembaran-lembaran itu.
"Dia mulai tanpa menunggu Tia?" Faiz hanya bergumam dalam hati. Ruangan itu sangat hening bahkan tv di sudut ruangan tak dibiarkan bersuara.
Bunyi handle pintu terbuka, senyum Faiz langsung mengembang "Pasti Tia," pikirnya.
Ternyata yang datang adalah pak Pras. Dia meletakkan sekantong makanan yang sengaja di beli untuk Ari dan Faiz. Tak lama dalam ruangan, pak Pras pamit meninggalkan ruangan itu dan keheningan kembali menyelimuti.
"Kenapa tak ada yang membahas keberadaan Tia? Atau hanya aku yang terlalu memikirkannya?" Faiz nampak tak bersemangat memeriksa lembaran-lembaran itu. Sudah satu jam lebih berlalu, tetapi Tia tak kunjung datang.
"Ini terlalu banyak untuk dikerjakan berdua. Bukankah kita butuh tenaga pembantu?" Akhirnya Faiz buka suara."Ish, kenapa Tia belum datang juga."
"Kalau serius seperti ini, pasti cepat selesai." Jawab Ari tanpa mengalihkan pandangan dari kertas yang ada di hadapannya.
Faiz mendengus mendengar jawaban Ari.
"Tia tidak bisa datang, katanya kurang enak badan." Lanjut si gondrong seperti tau maksud terselubung dari pertanyaan Faiz.
"Pantas saja dia hanya diam, ternyata cuma aku yang tidak tau keberadaannya "
"Kapan dia bilang seperti itu?" Tanya Faiz lagi
"Dari semalam. Dia tidak mengirimkanmu pesan?" Tanya Ari balik
"Kau sengaja mau pamer kalau semalam kalian saling mengirim pesankan?"
"Tidak ada hubungannya denganku juga. Sudah seharusnya dia izin pada senior." Jawab Faiz dengan nada sewot
"Apa kau tidak dianggap sebagai keti?" Ari masih dengan ekspresi datarnya
"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin modus, jadi aku menghubungi jika ada hal yang penting saja." Jawaban Faiz seperti ingin menyindir Ari.
"Eemmm ya. Ternyata memang kau tidak dekat dengannya." Sepertinya sudut bibir pria itu tertarik.
"Ish, jawaban apa itu? maksudmu kau yang dekat dengan Tia, begitu?" Faiz berpikir sejenak, kata apa yang harus dia utarakan agar mulut si gondrong itu tertutup.
"Inikan bukan urusan kuliah. Wajar jika dia tidak menghubungiku."
Ari menganggungkan kepalanya, "ternyata kau memang tidak tau apa-apa tentang Tia." Jawaban Ari barusan sepertinya berhasil membuat Faiz panas.
__ADS_1
"Memang kenapa Tia? Kau tau apa tentang dia?" Bahasa tubuh Faiz benar-benar tak bisa menutupi apa yang sebenarnya dia rasakan.
"Senior, kau tau apa yang lebih keras dari intan?"
Akhirnya Ari menatap lawan bicaranya. Dia menunggu jawaban hanya dengan memberi isyarat lewat alisnya yang terangkat.
"Ternyata benar, senior yang tidak tau apa-apa tentang Tia." Jawaban itu terucap bersamaan dengan selesainya semua lembar jawaban diperiksa.
Ternyata cemburu bisa meningkatkan daya kerja seseorang menjadi lebih cepat. Faiz segera meraih tas dan berpamitan untuk pulang. Namun, sebelum Faiz membuka handle pintu, Ari memberinya satu lagi pertanyaan.
"Apa kau sadar?" -Ari menatap lurus ke arah Faiz- "Pergilah," lagi-lagi bertanya untuk sesuatu yang tidak ingin diketahuinya
Faiz mengernyitkan dahinya lalu menghilang di balik pintu.
"Sadar apa? memangnya dia pikir selama ini aku setengah sadar?" Faiz berlalu bersama pikirannya.
***
Faiz mengendarai motornya untuk segera pulang. Rasanya tak ada lagi alasan yang membuatnya harus berlama-lama di kampus. Namun, di tengah jalan Faiz memutar balik motornya. Perasaan yang tak bisa ditolaknya, rasa ingin tau keberadaan Tia.
"Apa benar dia bisa sakit?" Faiz mengingat kembali bagaimana kuatnya Tia ketika berada di lapangan. Bahkan ketika mereka terjebak banjir sungai dalam keadaan basah kuyup, wanita itu tetap sehat, justru Faiz yang jatuh sakit.
Begitu tiba di depan kost Tia, Faiz memanggil dengan kode yang telah diberi taukan Tia dia sebelumnya.
"Lain kali kau teriak saja bilang 'yuhuu ada paket' supaya aku tau kalau yang datang itu kamu." Begitu pesan Tia yang tersimpan jelas diingatannya.
"Yuuhuuu ada paket." Begitu teriak Faiz beberapa kali hingga keluar seseorang untuk membuka pintu.
"Ah, maaf aku hanya bercanda. Tia ada?" Faiz tersenyum malu "Astagaa! Si Batu mengerjaiku lagi."
"Langsung masuk saja." Begitu kata wanita yang membukakan Faiz pintu. Untung saja Faiz memiliki modal wajah yang tampan. Jika tidak, mungkin dia sudah kena semprot oleh wanita itu.
"Terimakasih," jawab Faiz lalu menuntun motornya masuk ke halaman kost Tia.
Tok.
Tok..
Tok...
Tak ada sahutan dari dalam kamar Tia. Faiz terus mengetuk pintu itu, bahkan beberapa kali justru penghuni kamar lain yang membuka pintu karena aksi Faiz.
"Aku tau kau di dalam," ucap Faiz dengan yakin karena motor Tia terparkir dengan indah di halaman kost.
"Kau pikir bisa lolos setelah mengerjaiku?"
Tok...
__ADS_1
Tok.....
Tok.......
Akhirnya Tia keluar juga dari sarangnya.
"Pppfffttttt.. Gaya apa itu?" ejek Faiz begitu Tia keluar dengan memakai kaca mata.
"Ada apa?" Tia datar
Faiz seperti bisa membaca apa yang sedang terjadi lewat raut wajah yang tertutupi oleh kaca mata hitam
"Kau kenapa?" Faiz langsung berubah serius ketika yakin dengan terkaannya.
"Ekheemm...," -merubah mimik wajah- "apanya yang kenapa?" Mendongak ke arah Faiz
"Aku tanya kau kenapa?" Nada bicara Faiz begitu lembut.
"A--apanya? Kau yang kenapa ada di sini?" Entah kenapa suaranya bergetar. Tia memalingkan wajahnya
"Hei..." --tangannya menyentuh lembut wajah Tia untuk menghadap kembali padanya, namun langsung ditepis dengan cepat-- "apa terjadi sesuatu?"
Mata Faiz seperti bisa menembus kaca mata hitam yang saat itu Tia kenakan.
"Kalau tidak ada yang penting, lebih baik kau pulang." Tia langsung membalik badan namun Faiz dengan cepat menahannya
"Tunggu dulu!!" Tangan itu dengan cepat membuka kaca mata Tia
"Kembalikan!!" Tia menundukkan wajahnya.
"Kubilang kembalikan."
Faiz hanya diam tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. "Matanya sampai bengkak begitu?"
"Mataku digigit semut. Sekarang lebih baik kau pulang!" Merampas kaca mata dari tangan Faiz ketika pria itu lengah. Lalu masuk ke dalam kamar.
"Dengarkan aku dulu!" Dengan cepat Faiz menahan pintu itu sebelum tertutup rapat.
"Apa lagi?" Memasang raut wajah yang tak biasa
"Aku tidak pernah melihat ekspresi ini sebelumnya." Gumam Faiz seolah paham betul dengan wanita yang setengah tubuhnya telah terhalang oleh pintu.
"A--Aku ingin..." Faiz tampak ragu
"Apa?" Tia kembali mendorong pintu kamarnya
~Bersambung
__ADS_1
---------------------------------------------
Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕