
Sepanjang jalan mengantar Tia pulang ke kos, Faiz lebih banyak diam. Begitupun dengan Tia. Keduanya membisu, larut dalam pikiran masing-masing.
Faiz mencoba menerka makna dari tulisan di buku catatan Tia dengan fakta yang baru saja ia ketahui.
"Dirimu adalah sebab aku tersenyum tetapi diriku adalah sebab engkau meratap.
Bukannya tak bersayap, engkau hanya pura-pura lupa caranya untuk terbang.
Jika bisa menjadi intan mengapa memilih jadi batu kali?
Semakin engkau tegar, aku semakin rapuh.
Kadang aku lupa, apalah arti terpaan air kali ketimbang suhu dan tekanan yang tinggi.
Itulah sebab intan kuat, intan berharga.
Bunda ... "
Mungkinkah Tia menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa sang bunda? Demi kebahagiaan anak-anaknya sang bunda rela menelan kehidupan pahit karena dipoligami?
Entahlah. Faiz hanya bisa menerka. Mulutnya kaku. Memendam rasa penasaran menjadi pilihan terbaik hingga mereka berpisah di persimpangan jalan. Tia sengaja tidak turun tepat di depan kos-nya, takut Faiz berlama-lama lagi jika bertemu lagi dengan sang bunda.
***
Kejadian semalam masih melayang-layang di kepala Tia. Seharian dia banyak melamun hingga ucapan dari sang bunda membuatnya kaget tak habis pikir
"sayang, sebentar malam bunda mau pulang."
"Eh? Kenapa tiba-tiba bunda?" Tia heran kenapa sang bunda ingin pulang. Gombalan apa lagi yang dilayangkan sang ayah hingga bundanya luluh hanya dalam waktu yang tidak cukup seminggu.
__ADS_1
"Semalam Ayahmu nelfon, katanya dia sakit. Dia meminta bunda agar segera pulang." Bunda menceritakan kejadian semalam yang sempat Tia lewati.
Entah kenapa Tia tidak merasa gelisah mendengar kabar ayahnya sakit. Justru hal yang mengganggunya adalah keputusan bunda untuk pulang karena menuruti permintaan pria yang telah menyakitinya.
"Hah? Hanya karena dia sakit? Apa bunda sudah lupa dengan rasa sakit yang dia torehkan di hati bunda?"
Tia mencoba mencerna ucapaan sang bunda. Ingin rasanya dia menahan bunda, memintanya untuk bercerai saja agar sang bunda bisa merasakan kebahagiaan. Tapi disisi lain, mungkinkah Tia jadi anak paling durhaka karena membuat kedua orang tuanya bercerai?
"Bunda yakin ingin pulang? Bunda sungguh tidak apa-apa?" Tia kembali menanyakan keputusan sang bunda
"Iya sayang. Bunda tidak apa-apa. Kasian Ayahmu sakit."
Lagi-lagi ucapan sang Bunda mengundang decak kesal. "Hah? Bisa-bisa Bunda kasihan pada orang yang bahkan tidak pernah memikirkan perasaan Bunda."
"Kalau Bunda tidak pulang, siapa yang akan merawat Ayahmu, Nak?" Lanjut sang Bunda
Tia menghamburkan pelukan pada wanita yang disebutnya Bunda. Wanita yang kini usianya tidak lagi muda bahkan kerutan di wajah dan kulitnya sudah nampak.
"Bunda hanya ingin keluarga kita tetap utuh, Tia pulang libur suasana rumah tetap lengkap. Nanti Tia wisuda didampingi lengkap oleh Ayah dan Bunda." Ucap sang Bunda seolah mampu membaca pikiran anaknya
Kristal bening mengalir begitu saja membasahi pipinya yang kini berada dalam pelukan sang bunda. Puluhan tahun bunda menahan semua rasa sakit demi menjaga keutuhan rumah tangga. Ini bukan kali pertama bunda turun dari rumah. Namun, pria yang menyandang status Ayah itu selalu berhasil membujuk istrinya untuk pulang ke rumah.
"Bunda lebih tua lima tahun dari Ayahmu. Suatu saat kau pasti akan mengerti kenapa Bunda selalu memaafkan Ayahmu." Dengan lembut Bunda mengelus kepala Tia.
Jika yang bunda maksud adalah kebutuhan biologis yang tidak mampu bunda penuhi, apakah itu artinya cinta hanya sebatas kepuasan nafsu semata? Jika memang bunda tidak bisa membuatnya bahagia, lalu kenapa orang yang menganggap dirinya sebagai suami itu tidak menceraikan istrinya saja?
"Percayalah Tia, Ayahmu sangat menyayangi kita."
Tia tak merespons, mulutnya terkatup rapat. Tak ada kata yang mampu ia rangkai. Kenyataan bahwa sang ayah menyayangi mereka mengantarkan Pikiran Tia pada kenangan selama ia berada di rumah.
__ADS_1
Memang ada kenangan manis yang tercipta namun terlupakan karena kebencian melihat sang bunda menangis. Ada saat dimana suasana rumah terasa begitu harmonis namun tak bertahan lama karena ada pertengkaran kecil mengiringinya. Benarkah sang ayah menyayangi mereka? Itukah alasan sang ayah sampai detik ini tidak menceraikan sang bunda?
"Ayahmu menikah atas izin Bunda."
Mendengar pengakuan sang Bunda, tangis Tia pecah. Pelukannya semakin erat. Batinnya berperang sedangkan logikanya mutlak tak bisa menerima. Wanita mana yang sanggup memberi izin kepada suami untuk menikah lagi? Bagaiman bisa dikatakan sayang ketika sang ayah membawa wanita asing untuk menetap dalam bahteranya? Bukankah sama artinya dengan membawa duri ke dalam rumah tangga?
"Kenapa ada pergantian siang dan malam? Karena itu cara alam mencapai kestabilnya. Begitu juga dengan hidup, pasti ada suka dan dukanya. Kita harus berusaha untuk sabar dan ikhlas."
Ada jeritan di dalam sana, betapa mulia sang Bunda. Mencoba bertahan untuk sesuatu yang sangat menyakitkan. Tia tau, setegar apapun sang bunda menerima kenyataan hidup dipoligami, tetap akan ada deraian air mata. Karena sudah menjadi fitrahnya bahwa wanita tak akan sanggup berbagi kasih sayang.
Entah sengaja atau sekedar ingin menenangkan Tia, sang bunda melanjutkan ceritanya dengan mengenang awal mula pertemuannya dengan ayah Tia. Ada senyum yang terukir disudut bibir wanita yang sedang mengenang masa-masa mudanya itu. Seolah kekesalan dan kesedihan tak pernah menghampirinya. Kemana rasa kesal dan sedih itu menghilang? IKHLAS. Ya, mungkin kata itulah yang mampu menguapkan semua kekesalan dan kesedihan. Serta Lima huruf yang mampu membuat seseorang tegar dan bisa tersenyum lagi. Ya, SABAR.
***
Dering telfon di ponsel Tia membuat ibu dan anak itu tersadar dari asiknya cerita yang seperti tidak ada habisnya.
Dengan cepat Tia meraih ponselnya. Namun, air mukanya langsung berubah ketika mengetahui siapa yang baru saja menelfon.
"Bunda." Menyerahkan ponsel pada sang Bunda. "Ternyata dari Ayah."
Entah apa yang membuat Tia terlihat kecewa. Mungkinkah karena yang menelfon adalah sang ayah atau karena yang menelfon ternyata bukan Faiz?
Seharin ini memang tak ada kabar dari Faiz bahkan pria itu juga tak datang menyambangi kos nya. "Apa terjadi sesuatu padanya?"
"Tia, untung Ayahmu mengingatkan. Kita harus segera ke bandara." Ucap sang Bunda berhasil menyadarkan Tia
"I-iya Bunda." Jawabnya cepat. "Ah, Sial. Kenapa aku jadi kepikiran dia sih."
~ Bersambung
__ADS_1