
"Sedang apa kalian?" Hani mengucek matanya yang baru saja sadar dari alam mimpinya karena suara berisik dari luar tenda.
Keduanya salah tingkah, seperti pasangan yang dipergoki sedang bermesraan.
"Tia memukulku karena aku melih-" Ucapan Faiz menggantung
"Plaaaaaaaakk." Satu serangan botol kosong mendarat lagi di kepala Faiz.
"Bukan apa-apa kok. Sedang main pukul-pukul.. ny-amuk.. iya pukul-pukul nyamuk." Tia ngeles. Ya kali dia membongkar rahasia memalukan tentang ucapan Faiz beberapa waktu lalu.
"Oh, kupikir keributan apa." Hani keluar dari tenda lalu merapat ke api unggun.
"Kau sudah membaik?" lanjutnya
"Iya, seperti yang kau lihat," jawab Tia sambil mengedikkan bahunya.
"Syukurlah. Mana Leo?" Hani
"Dia asik ngorok di dalam." Menunjuk tenda dengan gerakan kepala
"Maaf yah, gara-gara aku permainannya terhenti." Tia merasa bersalah.
"Santai saja, namanya juga permainan." jawab Hani lalu melirik jam tangannya "Eh, Kita tidak ke puncak? Sekarang sudah pukul 04.40."
"Aku bangunkan Leo. Biar yang menemanimu ke puncak." Faiz
"Maksudmu? Aku juga ingin melihat sunrise, tau," timpal Tia
"Kau, kan baru baikan." Faiz
"Tapi aku sudah kuat, kok." Tegas Tia
"Tia, kau yakin?" Hani
"Tentu saja!! Sudah sampai di sini, ya harus ke puncak dong."
"Kalau kau pingsan di tengah jalan?" Faiz
"Gelindingkan saja aku sampai ke dasar jurang." Tantang Tia
"Okey... Okey Nona kepala Batu." Faiz menyerah dan segera membangunkan Leo.
"Leo bangun." Beberapa kali Faiz mengguncang tubuh Leo tapi hasilnya nihil. Pria itu sudah seperti kebo tidur
"Sayaang.. bangun." Bisik Faiz membangunkan Leo dengan cara tak biasa. Dia bahkan berhasil membangunkan benda pusaka milik Leo.
"Sialan.! Hahaha." Leo menendang Faiz ketika sadar bahwa yang sedang meraba pahanya adalah Faiz
"Hahaha dasar!! Kau mengira aku Ista?" Faiz tak kuasa menahan tawa melihat respons tubuh Leo yang begitu cepat.
"Dasar kurang ajar hahah." Lagi Leo tertawa karena perbuatan Faiz
"Hahaha ayo bangun!! Kita ke puncak."
Tia dan Hani memandang ke arah ke tenda dengan wajah heran. Mereka penasaran apa yang membuat dua pria itu tertawa sampai sebegitunya.
***
Ke empat orang yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu mulai menyusuri jalan setapak, membelah lautan kabut dengan bantuan cahaya senter yang masing-masing terpasang di kepala mereka.
__ADS_1
Sepatu dan ujung celana mereka mulai lembab karena menabrak embun yang membasahi dedaunan di sepanjang jalan menuju puncak.
Nyaris mereka terlambat. Untung saja mereka dapat mencapai puncak sebelum sang surya benar-benar meninggi.
Semua berdecak kagum melihat surga dunia yang terpampang nyata di hadapan mereka. Cahaya kemerahan berhamburan di langit seperti menyambut mereka yang telah berjuang untuk sampai di puncak tertinggi gunung Kareng.
"Aaaaa indah sekali. Lelahku benar-benar terbayar," komentar Hani sebagai pendaki pemula. Dia tak pernah menyangka bahwa puncak menyimpan keindahan yang luar biasa.
Angin berdesir lembut menyejukkan hati setiap insan. Perlahan sang surya mulai menunjukkan jati dirinya. Tak mau kalah, lautan awan yang ikut mengelilingi sekitarnya membuat para penikmat alam seperti berada di atas awan.
"Benar-benar negeri di atas awan." Ucap Tia.
Hani sibuk cekrek sana cekrek sini. Dia benar-benar tidak ingin melewatkan satu sudutpun. Semua harus terekam dalam lensa kameranya. Dia sangat memanfaatkan jasa Leo sebagai fotografernya.
Di sudut lain, ada satu pemandangan yang berhasil mengalihkan tatapan Faiz. Tia, wanita yang menikmati keindahan alam dengan caranya sendiri. Dia menutup mata sambil menarik nafas kemudian menghembuskannya. Hal itu diulangi beberapa kali sampai senyum lega merekah dari bibir ranumnya. Senyum itu berhasil menyentil rasa penasaran Faiz. Dia seolah merasakan ada kepedihan mendalam yang tengah disembunyikan Tia.
"Kau merasa lega?" Faiz mencoba mendekat
"Lumayan," jawab Tia santai
"He? Dia lagi kesurupan? Tumben dia ramah." Matanya terbelalak karena merasa tak percaya
"Kau harus menghirup udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali ke kota." Faiz mengenduskan hidung seperti menangkap udara lalu memasukkan semuanya ke dalam paru-paru
Tia terkekeh melihat aksi Faiz
"Sekalian udaranya disimpan di dalam perut." Kali ini Tia yang menangkap udara dengan mulut lalu menelannya hingga pipi mulusnya kembang kempis beberapa kali
"Nanti keluarnya lewat pantat dong." Ucap Faiz lalu merekapun tertawa bersama.
"Tapi pemandangannya memang benar-benar menenangkan pikiran sih." Faiz melempar senyum bahagianya
Deg.
Deg..
Deg...
"Tapi kau merusak pemandangannya." Ketus Tia. Hanya dalam hitungan detik sikapnya langsung berubah drastis.
"Ah, cepat sekali dia sadar." Faiz membatin kesal.
Tak lama terdengar suara Hani memanggil
"Faizzz... Tia.." Begitu keduanya menoleh, dengan cekatan Leo langsung mengabadikannya.
"Kemari... Sekarang giliran kita." Pekik Hani yang sejak tadi menunggu giliran untuk bisa berfoto di trianggulasi sebagai bukti paling afdol bahwa mereka berhasil mencapai puncak tertingginya gunung Kareng.
"Alay..alay huuuu!" Faiz mengejek Leo yang seperti anak alay berfoto dengan memegang kertas bertuliskan nama Ista. Namun, Leo sama sekali tak peduli dengan cibiran itu. Dia hanya memikirkan bagaimana cara membuat kekasihnya tersenyum.
"Ternyata Leo sudah punya kekasih." Bisik Tia kepada Hani
"Sayang banget, tapi ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Harus ikhlas." Hani pura-pura mengelus dada. Sejak awal dia memang sudah tau kalau Leo memang punya kekasih. Leo hanya dijadikan alasan agar bisa mendekatkan Tia dan Faiz.
Setelah puas berfoto dan menikmati pemandangan di puncak, mereka segera turun untuk kembali ke tenda camp.
Begitu tiba, Tia dan Hani langsung mengambil peran bagian memasak sedangkan Faiz dan Leo mengemas tenda dan mengumpulkan sampah plastik bekas mereka.
Setelah ritual makan dan berkemas selesai, mereka kembali menyusuri jalan setapak untuk kembali ke kota. Perasaan bahagia, haru, dan sedih menyelimuti semuanya. Bahagia karena puas dengan keindahan alam, haru karena perjalanan yang banyak mengukir cerita, serta sedih karena semuanya harus berakhir.
__ADS_1
Sesekali mereka bersenandung ria meskipun keringat bercucuran dan beberapa lumpur menempel di celana dan sendal gunung. Hingga tak sadar bahwa mereka telah sampai di rumah warga-tempat mereka menitip motor. Perjalanan pulang memang selalu terasa lebih cepat.
Faiz dan Leo mulai menuntun kendaraannya dengan formasi yang masih sama. Faiz berpasangan dengan Tia, sementara Leo dengan Hani.
Entah kenapa Faiz seperti tak rela melajukan motornya. Dia tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan Tia. Berbeda dengan Leo, pria itu melajukan kendaraannya karena tak sabar ingin bertemu dengan keluarga dan pacar kesayangannya.
"Kau akan pulkam?" Faiz menanyakan rencana libur Tia.
"Iya." Tia terpaksa menjawab pertanyaan itu karena Faiz mengancam akan menikung tajam jika ucapannya tak digubris
"Kapan?"
"Hari kamis." Tia
Berkat ancaman ampuhnya, Faiz berhasil mengorek informasi perihal keberangkatan Tia nanti.
"Berarti kita LDR-an dong?" Goda Faiz
"Memangnya kita pacaran!!"
"LDR-an kan tidak harus pacaran. Kau berharap kita pacaran yah?" Ucapan Faiz sukses membuat Tia malu
"Ish, siapa juga yang mau jadi pacarmu!!" Tia berusaha menutupi rasa malunya
"Lalu? Maunya langsung jadi istriku?" Setiap respon yang diberikan Tia selalu membuat pria itu tersenyum
"Plaaakkk." Helm yang dikenakan Faiz lagi-lagi menjadi korban pemukulan
"Setiap pukulan di kepalaku, akan kuanggap sebagai ketukan palu tanda persetujuan." Faiz
"Ya...ya... terserah. Lakukan jika kau menyukainya." Jawab Tia malas
"Aku tidak menyukainya tapi-" -tiba-tiba berteriak- "aku menyukaimuuuu."
Tia terperanjak mendengar perkataan Faiz "Plaaaaakkk." Satu pukulan lagi mendarat di helm Faiz
"Kau juga menyukaiku?" Tanya Faiz
"Ish, TIDAK!!!" Tia kesal setengah mati
"Tapi kau sendiri yang ketuk palu." Faiz menunjuk helmnya. "Artinya kau ingin jadi kekasihku." Faiz semakin menggoda Tia
"Plaaaakk.. Tidaaak!!" Sekali lagi Tia memukul helm Faiz dengan keras
"Nah, kan? Kau menjatuhkan ketukan lagi. Mengaku saja, kau menyukaiku, kan? Faiz.
"Ish, tidak.. kubilang tidak." Ucap Tia sambil mengelus-elus helm Faiz sebagai isyarat untuk membatalkan ketukan tadi
Faiz terdiam begitu tangan Tia mengelus-elus helm yang sedang dikenakannya. Ada perasaan senang menghampirinya. Dengan cepat Tia menghentikan aksi elus-elusnya begitu menyadari bahwa Faiz sedang mengamatinya lewat kaca spion.
"Deg..."
Ah, debaran itu lagi....
~ Bersambung
---------------------------------------------
__ADS_1
Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕