
Setelah berpikir semalaman, akhirnya Faiz membulatkan tekad perihal keputusan apa yang akan diambilnya. Dia sangat bersemangat mempersiapkan semuanya terlebih ketika Kiran mengatakan bahwa dia juga ingin mengatakan sesuatu kepada Faiz.
Tiba waktu yang ditunggu-tunggu, Faiz berdiri tepat di depan kaca memandangi pantulan dirinya. Dia meletakkan tangannya tepat di atas posisi jantung, detaknya biasa saja. Dia tidak merasakan gugup yang berlebihan.
"Apakah ini benar? mengajak seseorang untuk menjalin asmara tanpa didasari rasa cinta?" Itulah hal yang selalu mengganggu pikirannya. Tapi dia sudah membulatkan tekad. "Cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu." Semoga hal itu juga akan menghampiri Faiz.
Menarik nafas panjang lalu menuruni anak tangga. Tak lupa dia berpamitan pada sang ibu. "Kan tidak lucu, lagi kencan tiba-tiba ibu menelfon dan memintaku untuk pulang." Tersenyum geli lalu mencium pipi sang bunda.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit, kini Faiz sudah berada di lokasi tempat mereka janjian. Kali ini Kiran tidak minta dijemput sehingga Faiz mempunyai waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tempat itu adalah milik keluarga salah satu anggota familyspul. Faiz mereservasinya sehingga tidak ada pengunjung yang lain kecuali dia dan Kiran.
Dengan anggun Kiran melangkahkan kakinya memasuki tempat mereka janjian. Konsep outdor membuat bintang berkelap-kelip nampak indah. Faiz sudah menunggu kedatangan Kiran di meja bundar berbalut kain berwarna putih. Lilin-lilin berjejer dari tempat Kiran berdiri hingga ke meja tempat Faiz berada.
"Hai," -sapa Faiz sambil tersenyum. Kiran hanya melempar senyum nampak ragu
"Silahkan duduk," lanjut Faiz.
"Terimakasih." Jawab Kiran singkat
"Kau mempersiapkan semuanya?" Mengedarkan pandangan ke semua penjuru.
Faiz hanya tersenyum "Mau pesan apa?" Faiz mengangkat tangan seraya memanggil pelayan.
"Eemmm tidak perlu." Jawab Kiran ragu-ragu
"Eh? Kenapa?" Faiz menurunkan kembali tangannya
"Aku kesini hanya ingin menyampaikan sesuatu." Kiran memberanikan diri
"Kenapa terburu-buru? pesan makanan saja dulu," ujar Faiz
"Sebelumnya apa yang ingin kau sampaikan Faiz?" Kiran tak menggubris tawaran Faiz
"Oh itu... eemm Kau saja yang duluan." Faiz menuruti keinginan Kiran. Dia tidak memaksanya untuk pesan makanan terlebih dahulu.
Kiran berdehem sebentar "Faiz, aku minta maaf." Menatap lekat ke arah Faiz. Pria itu hanya memasang ekspresi tak mengerti.
"Aku tidak bisa lagi menemuimu. Kurasa hubungan pertemanan kita cukup sampai disini." Kiran tertunduk
"Kenapa?" Faiz memegang dagu Kira hingga wajah gadis itu terlihat
__ADS_1
"Kau ingat pertanyaanmu diawal kita bertemu? alasan mengapa aku menerima kencan buta?" Kiran menatap lekat pria yang ada di hadapannya
"Mengapa?" Faiz menggenggam tangan Kiran
"Karena aku ingin melupakan seseorang yang sejak SMP telah kunanti kedatangannya." Kiran kembali tertunduk.
"Tidak masalah." Faiz mengelus lembut tangan yang ada di genggamannya dengan ibu jari. "Toh diawal aku juga punya niat lain."
"Tapi... kini dia kembali dan.. dan.. ternyata aku belum bisa melupakannya."
"Lalu?" Faiz mulai melepaskan genggamannya
"Maafkan aku Faiz. Lebih baik kau kembali dengan Khume," ujar Kiran
"Maksudmu?" Mendengar nama itu, Faiz seperti terpancing emosinya
"Beberapa hari yang lalu dia menghubungiku, katanya dia adalah mantanmu." Kiran mulai menjelaskan. "Katanya kau masih mencintainya tapi karena kesalahannya sehingga kau belum bisa memaafkannya."
"Dia hanya masa lalu, dan sedikitpun cintaku sudah tidak ada." Tegas Faiz
"Tapi katanya kalian masih sering berkomunikasi, bahkan masih sering bertemu."
"Tapi--" ucapan Kiran terputus
"Baiklah akan kuceritakan semua tentang Khume." Faiz mulai menjelaskan meskipun enggan mengingat kembali cerita dimasa lalunya.
Setelah panjang lebar kini giliran Kiran yang diminta Faiz untuk mengambil keputusan. "Aku sudah jujur, semua terserah padamu." Faiz
"Kau dengan Khume saja, aku akan kembali dengan pria yang sejak lama kunanti." Akhirnya Kiran mengungkapkan perasaannya
"Baiklah, silahkan kembali kepada pria impianmu dan aku akan tetap sendiri. Karena ada atau tidak adanya dirimu, aku tidak mungkin kembali dengan Khume." Jelas Faiz
"Maafkan aku Faiz." Ucap Kiran lirih
"Aku menghargai perasaanmu terhadap pria impianmu. Hanya saja, aku tidak menyangka kau sama sekali tidak menaruh rasa percaya padaku setelah semua yang kulakukan untukmu." Faiz tertawa kering
"Baiklah. Semoga kau tidak menyesal dengan pilihanmu." Kalimat terakhir yang keluar dari mulut Faiz membuat Kiran bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan pria itu dengan langkah seperti orang yang tidak memiliki tenaga.
Setelah Kiran hilang dari pandangannya, Faiz tertawa lebar. Menertawai dirinya sendiri.
__ADS_1
"Hahahaha Apa salahku? Kenapa kisah cintaku selalu miris begini?"
Rasanya memang tidak sakit karena dia memang belum memiliki perasaan apa-apa pada Kiran. Namun, tetap saja ada sedikit kecewa menghampiri. Selama ini dia berusaha keras menumbuhkan perasaannya pada wanita yang bahkan rasa percaya saja dia tidak punya.
Dia tidak menyesali semua tenaga, perhatian, bahkan waktu yang dia habiskan untuk Kiran. Dia tetap yakin semua yang dilakukannya saat ini suatu hari nanti pasti ada hasilnya. "Bukankah sabar itu akan berbuah manis?" begitu keyakinannya.
Hampir saja dia salah menitipkan rasa.
Satu pelajaran yang dipetik Faiz atas kejadian ini "jika diawal niatmu tidak lurus maka diakhir jalanmu tidak akan mulus."
Setelah menguasai kembali perasaannya, Faiz meraih ponsel dari dalam sakunya.
Tak butuh waktu lama satu persatu anggota familyspul datang memenuhi undangan yang dikirim Faiz ke grup mereka.
Tak ada yang bertanya dalam rangka apa Faiz mengundang mereka. Cukup melihat keadaan sekitar, mereka sudah paham apa yang baru saja terjadi. Tanpa bertanya mereka tau apa yang harus mereka lakukan.
"Pesan apa saja, malam ini aku yang traktir," tandas Faiz
"Weettsss... Sering-sering bro," balas yang lain
"Ini sudah termasuk perayaan untuk ulang tahunku bulan depan," Kevin mencoba melucu
"Enak saja. Kau kan sudah janji untuk mengundang kami ke villa keluarga yang ada di bukit cinta." sambung yang lain
"Sudah. Kalian pesan saja sepuasnya. Malam ini gratis untuk kalian." Kali ini yang bicara adalah pemilik tempat mereka berkumpul saat itu.
"Tidak bisa. Malam ini khusus Faiz, traktiranmu besok malam saja." ucapan Leo barusan membuat semua yang hadir malam itu tertawa.
"Dimana-mana yang gratisan itu memang enak," ucap Faiz lalu ikut tertawa.
Malam itu berakhir dengan tradisi bermain game ala familyspul. Kehadiran mereka membuat Faiz lupa dengan kejadian beberapa jam yang lalu di tempat itu. Lagi pula tak ada gunanya bersedih untuk wanita yang telah bahagia dengan pilihannya. Mungkin ini bagian dari rencana sang pemilik cinta, dia tidak ingin Faiz memanipulasi hatinya dengan menjalin kasih pada wanita yang tidak dicintainya.
Sebaik apapun kau memperlakukan seseorang, bukankah sangat kejam ketika kenyataan mengatakan bahwa kau tidak mencintainya?
~bersambung
---------------------------------------------
Jangan lupa like dan tekan tombol love agar dapat notifikasi terbarunya 💕
__ADS_1