
Bip.. bip..bip bunyi klakson memenuhi jalanan yang masih pagi sudah penuh dengan kendaraan. Lampu jalan baru saja menunjukkan warna orange tapi bunyi klason sudah terdengar seperti orang yang tidak sabaran menunggu lampu berubah menjadi hijau.
Setelah memecah kemacetan di sepanjang jalan, akhirnya Faiz tiba di kampus 15 menit sebelum mata kuliah pertamanya dimulai. Selesai memarkir kendaraannya dibawah pohon rindang yang ada ditempat parkiran, akhirnya Faiz berjalan menuju ruang FF 103.
Dia mengambil tempat duduk paling ujung sebelah kiri karena Faiz memiliki postur tubuh kekar dengan tinggi 177 cm sehingga dia memilih tempat duduk paling belakang.
Beberapa menit kemudian terlihat seorang bapak dengan rambut belah samping berpakaian rapih tanpa senyuman menuju meja yang berada paling depan. Ruangan yang tadi ribut seketika menjadi hening.
"Siapa ketua tingkat dikelas ini?"
ucap pak dosen memecah keheningan.
"Belum ada pak," jawab salah seorang mahasiswa.
"Kalau begitu kamu saja!" dosen tersebut menunjuk kearah pria yang berpakaian warna abu-abu, yah itu adalah Faiz. wajar saja dia ditunjuk jadi ketua tingkat karena diruangan itu dialah yang paling besar diantar teman-temannya yang lain.
"Baik pak," jawab Faiz dengan sopan. semua orang menengok kearah belakang tempat Faiz duduk kecuali Tia yang duduk paling depan, dia tak bergeming sama sekali.
Setelah mata kuliah selesai, semua sibuk berbagi nomor whenapp untuk membuat grup kelas.
"Tia cepat berikan nomormu pada keti supaya dimasukkan kegrup kelas," Hani.
__ADS_1
"Ah ini nomorku, kau saja yah yang bicara dengannya," jawab Tia dengan malas
percakapan itu diamati oleh Faiz dari kejauhan.
"Kenapa sih dia, apa susahnya berjalan kemari dan memberikan nomornya?" protes Faiz dalam hati.
"Hei Tia sini, berikan nomormu!!" ucap Faiz dengan suara agak tinggi sebelum Hani beranjak dari tempat duduknya untuk memberikan nomor Tia.
"Dia memanggilmu tuh, kalian sudah saling kenal?" ucap Hani dengan nada curiga.
"Ya.. tidak lah" jawab Tia dengan cepat
"Tulis nomormu" kata Faiz sambil menyerahkan ponselnya.
"Terimakasih" kata Tia setelah selesai menulis nomornya lalu kemudian menyerahkan kembali ponsel Faiz.
"Cih dia bahkan tidak melihatku ketika berbicara" gumam Faiz dalam hati. Akhirnya dia memilih untuk kembali ketempat duduknya karena wanita itu sama sekali tak menghiraukan kehadirannya.
Dari tempat duduknya, Faiz memperhatikan Tia yang asik bahkan sama sekali tidak canggung berbicara dengan teman pria lainnya.
"Lalu mengapa dia cuek sekali padaku sih?" Faiz masih penasaran dengan sikap Tia yang hanya bertingkah cuek terhadap dirinya.
__ADS_1
"Ah kenapa jg aku peduli dengan dia,"
akhirnya Faiz memutuskan untuk bermain game di hpenya menunggu 45 menit untuk mata kuliah selanjutnya.
***
Faiz merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Dia mengambil ponselnya dari saku celana dan memeriksa pesan grup kelasnya.
"Cih gadis ini, dia ribut sekali di grup berkoar-koar bercanda tidak jelas," Faiz.
"Siapa yang bersedia jadi panitia untuk praktek lapang akhir bulan nanti?" Faiz mencoba untuk nimbrung dalam grup.
Semua antusias merespon chat Faiz. Namun, wanita yang ditunggu-tunggu sama sekali tak berkomentar dia bagaikan hilang terhimpit oleh lempengan bumi.
"Nah kan, dia langsung menghilang dari grup,"
tiba-tiba dia tertawa jahat ketika terlintas di kepalanya rencana lincik yang bisa membuat dia dekat dengan Tia.
"Hahahaha tunggu tanggal mainnya wanita sok" tanpa sadar Faiz terlelap bersama rencana liciknya.
~bersambung
__ADS_1