Penambang Batu

Penambang Batu
Eps. 03 Panitia Praktek Lapang


__ADS_3

"Faiz kamu kenapa senyam-senyum?"


suara lembut dari balik pintu menyadarkan Faiz dari halunya yang sudah stadium 3.


"Oh ibu, nggak apa-apa bu. Lagi baca-baca chat grup saja," jawab Faiz sembari bangun dan ambil posisi duduk ketika sang ibu masuk kedalam kamarnya.


"Masa sih sampai tertawa sebahagia itu?" balas sang ibu.


"Seriuss bu, cuma chat grup teman kuliah kok," jawabnya lagi sambil memperlihatkan ponselnya untuk meyakinkan sang ibu.


"Iya.. iya deh percaya.... Ayo antar ibu ke pasar dulu," ucap sang ibu dengan nada merayu


"Oke, ibu tunggu dibawah saja! aku siap-siap dulu," jawab Faiz dengan segera bangkit dari tempat tidurnya.


Fikiran Faiz masih dipenuhi dengan rasa puas mengingat reaksi penghuni grup kelasnya ketika dia mengirimkan nama panitia praktek lapang yang telah disusunnya berdasarkan nama-nama yang telah mengajukan diri. Kecuali Tia, yang tanpa persetujuan langsung diberikan mandat untuk menjadi sekretaris panitia praktek lapang.


***


"Ddrrrtt...." Bunyi kursi digeser.


"Mau ngapain?" ucap Tia dengan nada terkejut.


"Ya duduklah," jawab Faiz dengan santai.


"Kenapa harus disini?" Tia.


"Matamu buta? kursi yang lain sudah penuh tau," kata Faiz sambil tersenyum tipis ketika melihat Tia pasrah mendengar jawabannya.


"Hei," ucap Faiz sambil menusuk-nusuk tangan Tia dengan pulpennya.

__ADS_1


"Hhmm," Tia.


"Kau paham dengan penjelasan dosen barusan?" Faiz.


"Hhmm" balas Tia tanpa mengalihkan pandangannya dari dosen yang sedang menjelaskan.


"Nanti kau ajari aku yah?" bisik Faiz dengan pelan.


"Hhmm... eh" mata Tia melotot setelah menyadari jawaban yang diberikan kepada Faiz.


"Ok deh, nanti aku tagih janjimu," tandas Faiz dengan senyum tipis.


"Aduuhh dasar bodoh kenapa aku harus berurusan dengannya," ucap Tia dalam hati sambil mengernyitkan dahinya.


Setelah 2 jam berlalu akhirnya kuliahpun telah usia. Tia bisa bernafas dengan lega karena pria yang sedaritadi mengganggu konsentrasinya itu enyah dari hadapannya.


"Uuuhhh 2 jam rasanya seperti 2 minggu saja," ucap Tia sambil meregangkan otot-ototnya.


"Kenapa kau keluar lama sekali sih?" tanya Faiz.


"Urusannya denganmu apa?" jawab Tia dengan dingin.


"Hei minta maaf kek, aku daritadi sudah menunggumu tau," Ucap Faiz sambil mengangkat alisnya sebelah.


"Aku mau pulang," balas Tia sambil melanjutkan langkahnya. Namun, baru beberapa langkah dia langsung dihadang oleh Faiz dengan tubuhnya yang besar.


"Enak saja, hei sekretaris panitiaku ayo ikut aku ke perpus," ucap Faiz sambil menunjuk dahi Tia sampai kepalanya terangkat naik.


"Tidak mau!!" balas Tia sambil memukul tangan Faiz dengan keras sampai dia mengaduh.

__ADS_1


"Ya sudah, aku akan menelfon dosen dan mengatakan bahwa kau menolak untuk membuat proposal praktek lapangan," ancam Faiz sambil menempelkan ponsel di telinganya. Tangan Tia langsung mendarat di tangan Faiz mencegah agar dia tidak jadi menelfon.


"Ah baiklah.. baiklah.. aku mau," jawab Tia.


"Hei genit, singkirkan tanganmu," ucap Faiz dengan senyum tipis sambil berjalan menuju perpustakaan meninggalkan Tia yang masih mematung dengan wajah kesal karena tindakkan spontannya yang bodoh.


Sesampainya di perpustakaan Faiz langsung menghidupkan laptopnya dan menyerahkan kepada Tia.


"Ini mulai dari mana?" tanya Tia dengan bingung


"Pikir sendiri!" jawab Faiz sambil tersenyum puas atas kemenangannya karena telah berhasil membuat Tia kebingungan.


Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 16.20 penjaga perpustakaan sudah memberi kode bahwa perpustakaan 10 menit lagi akan tutup. Proposal yang dikerjakan Tia belum rampung. Bagaimana tidak, dari tadi Tia hanya mengerjakannya sendiri sementara Faiz sibuk bermain hpe sambil sesekali menertawakan raut wajah kebingungan Tia yang seperti membentuk garis kontur interval 15.


"Kau mencari flashdisk?" tanya Faiz yang melihat Tia sibuk merogok isi tasnya.


"*Ci*h sok peka," gumam Tia dalam hati tanpa menjawab pertanyaan Faiz.


"Bawa pulang saja laptopku, mumpung aku sedang berbaik hati," ucap Faiz sambil tersenyum tipis dan mengangkat satu alisnya.


"Tidak usah!!" balas Tia sambil menundukkan kepala


"Terserah tapi proposalnya 2 hari lagi harus diserahkan ke dosen," balas Faiz.


Tia belum menjawab dan masih berpikir.


"Dasar keras kepala" ucap Faiz dalam hati dan langsung memasukkan laptopnya kedalam tas Tia tanpa menunggu persetujuan.


"Menyebalkan. Kenapa dia selalu seenaknya seperti ini sih?" Tia mengumpat dalam hati dan pasrah melihat Faiz memasukkan laptop kedalam tasnya.

__ADS_1


~bersambung


__ADS_2