
Rendra mencoba kembali mendekati Alya, siapa tahu dewi fortuna dan dewa chupid berpihak padanya. Dia pun berharap tidak akan ada lagi penolakan dari Alya. Dengan harap cemas, polisi muda itu mendatangi kafe 'Rasha' saat malam minggu tiba.
Rendra berdandan rapi dan wangi malam ini. Dia sudah siap untuk bertempur untuk menaklukkan hati wanita yang telah mengusik hati dan pikirannya. Walaupun hadirnya terlambat di hati sang wanita, tetapi dia ingin menjadi yang terakhir datang.
Rendra mengendarai mobil sedannya menuju kafe, dimana para kawula muda nongkrong di malam minggu maupun malam hari libur lainnya. Dengan penuh percaya diri, laki-laki itu berjalan memasuki kafe dan memilih tempat duduk yang letaknya tidak jauh dari dapur. Sengaja agar bisa menyelinap masuk mencari sang pujaan hati.
Layaknya pengunjung yang lain, Rendra duduk tenang menunggu giliran dilayani. Malam ini kafe itu penuh, bahkan ada beberapa pengunjung yang terpaksa antri tempat duduk, demi bisa menikmati menu istimewa malam ini.
Semua karyawan sibuk melayani pengunjung, bahkan Alya pun ikut membantu melayani. Tidak hanya itu saja, dia pun menjadi kasir berjalan karena saking ramainya pengunjung.
Suara alunan musik secara live yang mengiringi para penyanyi jalanan membawakan lagu untuk menghibur para pengunjung. Beberapa pengunjung ikut serta berdendang mana kala penyanyi membawakan lagu kesukaan mereka.
Alya mendatangi meja Rendra yang tampak kosong sejak tadi. Gadis itu berbasa-basi sebentar menyapa salah satu pengunjung langganan. Setelah itu, menawarkan menu andalan malam ini.
"Wow, ternyata kamu multi talenta, juga!" puji Rendra begitu Alya sudah berdiri di dekatnya.
"Kamu bisa saja! Ini hanya keahlian kecil saja, bukan keahlian sebenarnya, karena aku tidak punya keahlian yang spesifik. Semua ini bisa karena sudah terbiasa sejak kecil ikut menangani kafe milik ayah," sanggah Alya tersipu.
"Kamu terlalu merendah, Alya. Padahal banyak kasus selesai di tanganmu."
__ADS_1
"Oh, ya! Boleh aku bantuin nggak? Keknya kafe ini kekurangan personil," tanya Rendra menawarkan jasa.
"Boleh, tapi tetap aku gaji. Bagaimana?"
Akhirnya Rendra dan Alya sepakat berapa upah yang akan diterima oleh Rendra selama membantu Alya. Pemuda itu sangat menikmati pekerjaan barunya sebagai pelayan kafe, mulai dari melayani pesanan hingga mencuci peralatan makan. Dia lakukan semua itu dengan hati senang karena bisa bersama sang pencuri hatinya.
Sejak malam itu, keduanya menjadi lebih akrab. Tidak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Rendra bahkan menyempatkan diri untuk membantu Alya jika tidak sedang melakukan tugas malam.
Adanya pelayan baru dengan body yang aduhai, membuat kafe itu semakin rame pengunjung di hari biasa. Hal ini dikarenakan, Rendra menyempatkan diri walau sebentar, untuk membantu aktivitas Alya di kafe itu. Polisi muda itu menjadi terkenal sebagai pelayan seksih di kafe 'Rasha'.
Semakin hari, perasaan Rendra pada Alya semakin dalam. Dia pun semakin yakin jika Alya adalah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup nya. Dengan memberanikan diri, pemuda asal Sukoharjo itu menyatakan perasaannya pada Alya.
"Al, kita mengenal sudah lama. Kita juga sama-sama sendiri di usia yang tidak lagi muda. Apa tidak terpikir olehmu untuk mencari pendamping hidup?" tanya Rendra usai membantu di kafe milik ayah Alya.
"Rasanya berat melupakan kejadian itu," lanjut Alya dengan pandangan lurus ke depan, kosong.
"Kalau kamu tidak mencoba bangkit, kamu selamanya akan terbelenggu dengan perasaan kamu sendiri. Aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu. Aku hanya membawakan obat penawar luka agar tidak ada lagi bekas yang retak atau tergores," ucap Rendra.
Ucapan Rendra yang tulus membuat Alya terdiam memikirkannya. Tawaran yang Rendra berikan, membuat gadis itu bimbang. Satu sisi dia masih trauma membina hubungan dengan lawan jenis, di sisi lainnya dia ingin mengobati dan mengubur dalam-dalam lukanya.
__ADS_1
Saat ini, Alya masih berjuang untuk memulihkan hatinya yang terluka karena ditinggal menikah sang kekasih. Mencoba menyatukan puing-puing yang berserak agar utuh kembali. Ibarat gelas kaca yang pecah, walaupun bisa disatukan bekasnya akan tetap ada. Seperti itu juga dengan keadaan hati Alya, hancur.
"Kamu tidak harus menjawab sekarang juga. Kamu pikirkan dulu dengan matang. Bila perlu minta petunjuk Tuhan melalui shalat istikharah. Apapun jawaban kamu, aku akan tetap ikhlas menerima," ujar Rendra penuh kelembutan. Hal ini semakin membuat Alya sulit untuk menolak pesona polisi muda di depannya itu.
Usai mengeluarkan apa yang dipendamnya selama ini, Rendra pamit pulang karena waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Sebentar lagi kafe akan tutup sehingga mau tidak mau dia harus berpisah dengan Alya.
Setelah kafe itu sepi, kini tinggallah Alya seorang diri. Sebenarnya ada dua orang penjaga malam di bangunan itu, tetapi mereka tidur di pos jaga. Sebelum tidur gadis itu melakukan shalat istikharah agar tidak salah dalam memilih pasangan untuk ke sekian kalinya.
Beberapa hari kemudian, setelah meminta petunjuk dari Tuhan, gadis itu akhirnya mendapatkan petunjuk. Akhirnya, Alya menerima Rendra sebagai kekasihnya.
Betapa bahagianya Rendra saat dia mendapat jawaban iya keluar dari mulut Alya. Rasanya tidak ingin percaya tetapi nyata adanya. Wanita yang menjadi pujaan hati mau menerima dia.
Sementara itu, Reno yang sudah mulai mengingat kejadian demi kejadian beberapa waktu silam. Walaupun belum semua bisa dia ingat, tetapi dia merasa yakin bahwa kenangan saat bersama Alya lebih indah dibanding saat bersama Aluna. Semua itu terbukti dengan keadaan tempat-tempat yang sering dia datangi.
Setiap kali sudah sampai di tempat yang penuh kenangan bersama Alya, ingatan Reno dengan perlahan datang bak kaset yang diputar. Dalam kilasan ingatannya itu dia dan Alya selalu tertawa lepas seperti tak ada beban. Satu kata untuk saat-saat itu, bahagia.
Reno memutuskan untuk menemui Alya, dia ingin meminta maaf pada gadis itu. Amnesia membuat dia harus kehilangan cinta yang sebenarnya. Jika waktu bisa kembali ke masa lalu, dia akan memilih diturunkan jabatannya dari pada harus kehilangan wanita yang dicintainya. Sayangnya, waktu tidak bisa kembali ke masa lampau. Berarti dia harus menikmati jalan hidup yang sudah digariskan oleh Allah.
Laki-laki yang sebentar lagi memiliki anak itu memberanikan diri untuk menemui sang mantan yang posisinya tak akan tergantikan. Apapun tanggapan Alya, Reno akan menerima dengan lapang dada. Semua ini terjadi bukan inginnya, tetapi sudah menjadi kehendak Allah yang harus dijalani.
__ADS_1
"Mas?" Alya terkejut mendapati mantan kekasihnya datang di malam hari.
"Aku sudah mengingatnya, Al. Aku sudah ingat!" ucap Reno dengan air mata menggenang di pelupuk mata