Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 19


__ADS_3

"Nduk? Masih pagi kok melamun. Ada apa?" tegur Raka, sang ayah.


Alya hanya menggeleng lalu tersenyum mendengar pertanyaan dari sang ayah. Ayahnya itu selalu saja tahu tentang keadaan sang anak. Sekecil apapun masalah yang ditutupi pasti terendus olehnya.


"Cerita saja, biar plong!"


"Apa yang mau diceritain, Ayah?"


"Ayah memang tidak merasakan harus memilih dua orang yang mengisi hati. Tapi, bunda pernah. Kamu cerita saja ke bunda kalau malu sama ayah," ucap Raka memberi saran pada anak gadisnya.


Ingin membantah tetapi saat ini dia butuh sandaran untuk mencurahkan kebimbangannya. Alya pun berlalu dari hadapan sang ayah untuk menemui ibunya.


Alya memeluk ibunya dari belakang saat tampak olehnya sang ibu sedang memasak menu sarapan. Gadis itu meletakkan kepalanya di punggung sang ibu tanpa mengendurkan pelukannya.


"Ada apa, hmm?" tanya sang bunda.


"Cerita saja! Bunda akan mendengarkan, sekiranya bisa membantu menyelesaikan akan bunda bantu," lanjut Bunda Shofie setelah tidak ada jawaban dari anaknya.


Mengalirlah cerita dari mulut sang anak. Mulai dari perpisahan dengan Reno sampai saat ini. Rendra memintanya untuk memilih, satu di antara mereka berdua.


Mendengar cerita dari anaknya, Bunda Shofie tersenyum. Sembari memasak dan memindahkan makanan yang sudah matang ke piring saji, wanita yang masih tetap cantik itu menasehati sang anak.


Setiap ucapan yang keluar dari mulut berisi wejangan dan nasehat. Begitu besar rasa sayang ibu pada si anak, kadang membuat anak merasa terdzhalimi. Padahal tujuannya sangat baik.


"Keduanya baik, Bun. Aku bingung mau pilih siapa?"


"Kamu punya Tuhan, 'kan? Minta petunjuk pada Tuhan agar kamu tidak salah ambil keputusan lalu menyesal pada akhirnya tiada guna," tanya Bunda Shofie seraya mematikan kompor.


Alya tersenyum lalu mengecup pipi sang bunda. Dia merasa lega setelah mendapat pencerahan dari sang bunda. Gadis itu berjanji dalam hati untuk melakukan saran sang bunda.

__ADS_1


Pagi itu mereka menikmati sarapan pagi sambil bercengkerama karena masih merasakan rindu. Orang tua Alya setiap bulan pasti mengunjungi anaknya jika ada waktu senggang. Namun, kunjungan kali ini jaraknya paling lama dibanding dengan kunjungan-kunjungan sebelumnya.


"Nanti sore kami harus pulang ke Semarang, besok si kembar ada ujian. Mereka berdua tidak bisa dilepas begitu saja," ucap Bunda Shofie sambil mengelap tangannya yang basah setelah mencuci piring.


"Alya masih kangen, Bunda," rengek Alya manja.


"Terus masalahku bagaimana?" lanjut gadis itu mencebik.


"Cukup ceritakan masalahmu pada Tuhan dan minta petunjukNya. Insyaallah, jawaban akan jalan keluar itu segera kamu dapat," ucap sang bunda dengan tersenyum.


Saat orang tua Alya hendak berangkat, Rendra datang ke kafe. Pria itu menyapa calon mertua terlebih dahulu.


Setelah kepergian orang tuanya, Alya tampak murung. Dia masih merindukan mereka, tetapi harus kembali berpisah.


"Bagaimana?" tanya Rendra tiba-tiba.


"Kalau pertanyaannya masih sama dengan sebelumnya tentang aku pilih siapa, maka jawabannya pun sama. Jika kamu benar-benar mencintaiku, maka percaya aku tidak akan berbuat macam-macam."


Alya masuk ke kamarnya, lalu duduk termenung di tepi ranjang. Kilasan obrolan tadi siang dengan seorang wanita paruh baya yang sangat anggun. Wanita itu mengaku sebagai ibu dari kekasihnya, ibunya Rendra.


"Jauhi anakku, jika kamu benar-benar mencintainya! Kamu pasti tidak akan tega melihat Rendra hidup susah, bukan? Dia tidak pernah hidup susah, selama hidupnya semua keinginannya terpenuhi."


"Menikah denganmu berarti anak itu harus merelakan seluruh harta warisan keluarga. Dia tidak akan mendapatkan satu rupiah pun jika menolak perjodohan ini. Jadi, jika kamu mencintainya biarkan dia menikah dengan gadis pilihan kami."


"Kami sudah menyiapkan jodoh untuknya yang terjamin bibit, bobot dan bebetnya. Rendra dan calon istrinya sudah sangat kenal dekat sejak kecil."


"Berapa yang harus kami bayar agar kamu mau meninggalkan anak kami? Sebagai seorang wanita kamu pasti tidak ingin kehilangan anak, begitu juga denganku. Jadi, jangan buat Rendra menjauhi ibunya hanya karena kamu!"


Alya hanya diam tanpa menjawab setiap patah kata yang diucapkan wanita yang mengaku sebagai orang yang melahirkan Rendra. Gadis itu bukan takut atau tidak bisa melawan wanita paruh baya itu, melainkan tengah menahan emosi kerena direndahkan oleh ibu Rendra.

__ADS_1


Air mata Alya menetes begitu saja mengingat ucapan itu. Tidak pernah terbayang olehnya jika sang kekasih menutupi kebohongan besar itu. Melihat sikap wanita yang melahirkan Rendra yang begitu angkuhnya, membuat Alya berpikir ulang untuk melanjutkan kisah mereka.


Ingin rasanya dia bertanya langsung pada sang kekasih, tetapi setiap melihat sorot mata itu keberaniannya seketika menghilang. Sifat Rendra yang mudah meledak, membuat Alya harus berhati-hati jika berkata padanya.


Terdengar dering telepon dari ponsel Alya. Nama Rendra tertera di layar ponsel itu. Dengan berat hati, Alya menjawab panggilan itu.


"Aku belum selesai berbicara. Kenapa malah meninggalkan aku sendirian, hmm? Turunlah," ucap Rendra begitu Alya menggeser tombol hijau.


Alya akhirnya turun untuk menemui Rendra kembali. Jika Rendra masih mendesaknya untuk menentukan pilihan, maka kedatangan ibunya yang dia gunakan sebagai tameng. Agar Rendra tidak memaksanya menjawab pertanyaan itu.


"Kamu kenapa, hmm? Selalu menghindar dariku, sudah bosan atau sudah tak ada lagi rasa?" Pertanyaan pedas dari Rendra kembali terlontar tanpa memikirkan perasaan sang pasangan.


Alya sejak menjadi pacar Rendra sudah hafal di luar kepala dengan mulut pedasnya itu. Walaupun bermulut pedas, Rendra orangnya sangat perhatian dan bisa mengerti kesibukannya. Laki-laki itu tidak pernah banyak menuntut waktu padanya.


Awalnya Alya terkejut mendengar mulut pedas Rendra, tetapi lama-lama dia terbiasa juga. Hanya mulut saja yang pedas tetapi hatinya sangat baik dan lembut. Oleh karena kebaikan itulah, Alya mau menerima Rendra.


"Siapa yang nggak kesal setiap hari diberi pertanyaan yang sama, pilih aku atau dia? Memangnya aku mau beli barang? Seenaknya saja nyuruh orang milih!" jawab Alya ketus.


"Kok malah kamu yang marah? Aku minta maaf, sudah bikin kamu kesal dan marah. Jangan marah lagi, nanti cantiknya hilang!"


"Biarin ilang! Itu 'kan maunya situ. Cantik juga kalau dibikin kesel setiap hari, pasti cantiknya luntur."


"Iya, iyaa, aku salah. Maaf ya. Dimaafin nggak nih?"


"Au ah!"


Alya diam karena malas berdebat dengan kekasihnya. Akhir-akhir ini keduanya sering bertengkar karena sikap Rendra yang tiba-tiba cemburu tidak jelas. Padahal dulu, sewaktu anak Reno baru lahir tidak menunjukkan tanda-tanda cemburu.


Berulang kali Alya dihibur kala mengeluh betapa repotnya mengasuh bayi. Rendra selalu memberikan semangat untuk Alya. Namun, akhir-akhir ini emosi laki-laki sedang labil.

__ADS_1


"Bang, boleh nggak kenalan sama cewek yang dijodohkan dengan Abang?" tanya Alya memberanikan diri setelah keheningan melanda.


__ADS_2