Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 26


__ADS_3

Alya reflek menendang Anisah dengan keras menggunakan kedua kakinya. Anisah tiba-tiba saja sudah mengacungkan pisau di depannya sehingga dia melakukan gerakan reflek. Dia tidak menyangka jika tendangan itu menyebabkan gadis yang mengaku sebagai pacar Reno terpental dan mengenai kursi yang tadi didudukinya.


Tendangan yang begitu kuat membuat kaki kursi itu menancap ke perut Anisah tembus ke pinggang. Hal ini dikarenakan gadis itu terhuyung menyamping langsung mengenai kaki kursi yang teronggok tidak jauh darinya.


Di saat yang sama, polisi datang menyaksikan bagaimana Anisah tiba-tiba mendatangi Alya dengan pisau di tangan. Mereka melihat dengan jelas bagaimana advokat muda itu melindungi dirinya dengan menangkis dan menendang serangan yang datang padanya. Tidak hanya para polisi yang melihat kejadian berdurasi beberapa detik itu, Reno dan temannya pun melihat dengan jelas bagaimana Anisah terhuyung dan terjatuh di atas kaki kursi.


"Tidak! Aku tidak sengaja! Aku tidak membunuhnya!" teriak Alya histeris setelah melihat wanita yang baru saja ditendangnya meregang nyawa dengan mata melotot.


Reno segera membuka ikatan pada tangan dan kaki wanita yang dicintainya, lalu dia mendekapnya erat. Mengusap lembut punggung wanita cantik yang kini tampak berantakan itu. Setelah itu, dia membopong Alya menuju mobil polisi, sementara para polisi membersihkan tempat itu.


Sudah dua hari Alya dirawat di rumah sakit tetapi dia belum juga diizinkan pulang oleh dokter. Kondisi psikisnya masih terguncang. Gadis itu tidak mau bertemu dengan petugas dari kepolisian, siapa pun itu yang berhubungan dengan polisi.


"Kita pulang ke Semarang ya, Sayang. Kamu bisa kerja di tempat langganan ayah. Bagaimana?" bujuk Shofie pada anak sulungnya.


Alya hanya menggeleng menjawab bujukan anak ibu. Dia sudah berjanji akan menghadapi semua masalahnya seperti nasehat bosnya di firma hukum. Masalah itu untuk dihadapi dan diselesaikan bukan dihindari.


"Kalau kamu seperti ini, Bunda jadi sedih. Para polisi itu hanya ingin mendengar cerita kamu, agar mudah memprosesnya. Kenapa kamu menolak bertemu mereka?"

__ADS_1


"Mereka hanya akan menambah masalah Alya, Bun. Mereka tidak benar-benar memprosesnya karena wanita yang meninggal itu masih bagian dari mereka, keluarga mereka. Aku korban sebenarnya bukan dia," sahut Alya lirih, dia beranggapan dia akan masuk bui karena telah membunuh keluarga polisi.


"Kamu salah, Nak. Mereka hanya ingin tahu kronologi kejadian yang sebenarnya. Kejadian saat kamu dipaksa masuk ke mobil dan di bawa ke daerah terpencil itu," bantah sang ibu.


"Bunda yakin, anak Bunda adalah perempuan kuat dan hebat. Kamu pasti bisa menghadapi semuanya. Ada ayah dan bunda yang akan selalu berada di samping kamu," lanjut Shofie sambil memeluk anak perempuannya.


Alya menatap khawatir wajah sang bunda. Rasa takut itu masih tampak dalam tatapan matanya. Walaupun berusaha menutupi, perasaan seorang ibu tidak bisa dibohongi.


"Percaya sama Bunda, Sayang. Mereka hanya akan bertanya tentang kejadian saat itu, bukan akan menghakimi kamu. Kamu seorang advokat muda seharusnya kamu tahu itu," ucap Shofie saat mendapat tatapan penuh tanya dan khawatir dari putrinya.


Setelah dibujuk dan diberikan nasehat kehidupan, akhirnya Alya mau bertemu dengan polisi yang bertugas menangani kasus yang menimpa gadis itu. Dia mulai menceritakan dengan gamblang saat tiba-tiba tubuhnya dipepet dua orang dengan pisau menempel di pinggangnya.


Reno yang mendengar cerita mantan kekasih yang masih menempati sudut hatinya, merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi wanita yang dicintainya.


"Seharusnya aku bertindak cepat untuk melindunginya, bukan semakin menyakiti...."


Di hari keempat Alya dirawat, sepulang kerja Rendra bersama istrinya datang ke rumah sakit hendak menjenguk. Laki-laki itu sudah bisa menerima sang istri dengan lapang dada, walau berat di awal. Rendra merasa seiring berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa paksaan dari pihak manapun.

__ADS_1


Kedatangan Rendra dan Pratiwi untuk meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh Anisah. Pratiwi berulang kali meminta maaf pada Alya karena dia telah menjaga orang ketiga antara Rendra dan Alya. Wanita itu merasa menjeda perempuan jahat karena mencintai kekasih Alya.


"Atas nama pribadi dan keluarga aku ingin minta maaf. Semua ini berawal dari aku yang belum bisa menerima dengan ikhlas pernikahan karena perjodohan ini. Aku tidak ingin berandai-andai karena itu sama saja menolak takdir Tuhan."


"Aku hanya ingin minta maaf karena telah menjadi pemicu adanya kejadian ini. Setelah ini, aku akan berusaha menerima takdir Tuhan dan menjalaninya dengan lapang dada, agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Terima kasih sudah pernah mewarnai hidupku dan maaf atas semua rasa sakit yang aku berikan padamu," ucap Rendra penuh dengan permohonan dan rasa bersalah.


Ternyata sikap egoisnya tidak hanya menyakiti orang yang dicintai, tetapi juga menyakiti istri juga keluarga besarnya. Adik iparnya turut menjadi korban karena hal itu. Saat ini yang bisa Rendra lakukan hanyalah memperbaiki diri, menerima takdir Tuhan yang sudah menjadi garis jalan hidupnya.


Alya tersenyum mendengar permintaan maaf dari sang mantan. Dia tidak dendam atau marah atas musibah yang menimpa dirinya. Mungkin ini menjadi teguran baginya yang kurang mawas diri.


Memiliki orang tua yang penuh kasih dan selalu mengajarkan tentang kebaikan, membuat Alya memiliki kepribadian yang baik. Sang ayah selalu mengajarinya untuk selalu berprasangka baik atas semua yang terjadi padanya. Tidak heran jika dia hatinya tersenyum saat ada yang berniat menyakiti.


"Alya, saya mewakili keluarga meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan adikku Anisah. Kami tidak menyangka dia akan gelap mata hanya karena cinta yang tak berbalas," ucap Pratiwi merasa sungkan juga malu pada Alya.


"Semua sudah berlalu, Mbak. Tidak usah dibahas lagi. Yang jelas saya sudah memaafkan semuanya karena Tuhan saja mau memaafkan umatnya, apalagi saya yang hanya seorang umat Tuhan yang tidak pantas untuk menyombongkan diri," jawab Alya dengan senyum manis menghiasi bibirnya.


Awalnya gadis itu trauma dengan apa yang menimpanya. Namun, setiap saat ayah dan bundanya tidak pernah putus asa menasehatinya dengan kebaikan. Cekokan yang Alya dapat setiap hari selama dirawat di rumah sakit, membuatnya lebih ikhlas menjalani takdir Tuhan.

__ADS_1


Pratiwi memeluk Alya diiringi isak tangis haru, dia merasa bahagia bisa bertemu dan berkenalan dengan seorang wanita seperti mantan pacar suaminya. Kepribadian yang patut mendapat acungan jempol karena jarang saat sekarang ini bisa legowo menjalani takdir Tuhan.


__ADS_2