Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 9


__ADS_3

Karir Alya kembali bersinar walaupun baru dua Minggu bekerja di firma hukum. Dia kembali menjadi anak emas sang atasan. Selalu diberikan kepercayaan untuk mendampingi sang atasan dalam menangani kasus besar.


Di Minggu kedua, Alya kembali dipercaya menangani kasus. Kebetulan kasus itu membuatnya harus keluar masuk kantor polisi. Hal ini membuat peluang pertemuan Alya dengan Rendra serta Reno sangat besar.


Hari ini, Alya harus menemui kliennya di kantor polisi. Kliennya adalah seorang ibu rumah tangga korban KDRT yang membunuh sang suami karena membela diri. Saat ini wanita itu ditahan oleh pihak polisi.


Usai melakukan wawancara dengan kliennya, Alya menemui kepala polisi untuk membahas masalah yang dihadapi sang klien. Saat keluar dari ruangan kepala polisi, Alya melihat sang mantan berjalan ke arahnya. Reno hendak menghadap pada kepala polisi tersebut.


Alya tidak bisa menghindar lagi karena ruangan itu berada di ujung lorong. Keduanya merasa canggung saat berpapasan. Ingin rasanya gadis itu menghilang dengan bantuan doraemon, tetapi terlambat. Reno sudah berdiri tegap di hadapannya.


Alya hanya menganggukkan kepala saja untuk menyapa sang mantan yang hilang ingatan. Anggukan kepalanya dibalas dengan anggukan dan senyuman dari Reno. Hal ini, membuat dada Alya kembali berdesir seperti ada berjuta kupu-kupu menggelitik perutnya.


Saat Alya sudah berada di lobby, Rendra tiba-tiba muncul dari arah samping sehingga mengagetkan gadis itu.


"Hai, Cantik! Ada apa nih? Tumben ke sini," sapa Rendra pada perempuan yang telah membuat hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya setelah sekian lama.


"Ada perlu sama klien tadi. Lama tidak bertemu, sedang menangani kasus apa sekarang?" jawab Alya yang berujung dengan pertanyaan sebagai basa-basi.


"Masih kasus narkoba dan perampokan. Akhir-akhir ini begal makin nekat saja, hehehe!"


"Jenengan 'kan sudah ahlinya, jadi sudah terpercaya menangani kasus itu," puji Alya sambil tersenyum.


Rendra menggelengkan kepalanya tersenyum mendengar pujian dari wanita pujaan hati. Dia merasa terbang ke langit biru karena pujian yang baru saja keluar dari bibir manis Alya. Selama ini gadis itu selalu bersikap dingin padanya, tiba-tiba saja memuji dirinya.


"Belum, aku belum se-ahli itu. Masih banyak yang lebih ahli lagi, seperti Reno misalnya. Hanya nasib jelek saja yang berpihak padanya waktu itu," sahut Rendra merendah.

__ADS_1


"Hmm, maaf tidak bermaksud ...," imbuh Rendra gugup setelah tersadar menyebut nama sahabatnya yang memiliki kinerja bagus.


Alya hanya tersenyum menanggapi kegugupan laki-laki berseragam coklat di depannya.


"Tidak apa-apa. Saya pamit undur diri masih ada beberapa pekerjaan yang menunggu di kantor," sahut Alya seraya pamit pada polisi muda itu.


Sepeninggal Alya, pikiran Rendra menerawang membayangkan bisa bersanding dengan gadis yang baru saja meninggalkan tempat itu. Lamunan Rendra buyar seketika saat Reno menepuk pundaknya.


"Ngelamunin siapa? Siang-siang begini melamun," tegur Reno sembari menepuk pundak Rendra pelan, tetapi cukup membuat kaget.


"Ngelamunin bekasnya orang," jawab Rendra asal.


"Edyan kowe?" ucap Reno sambil berlalu pergi meninggalkan Rendra kembali seorang diri.


Seminggu sudah berlalu, Rendra terus berusaha mendekati Alya. Meskipun gadis cantik itu bersikap dingin padanya, tetapi dia tidak menyerah. Rendra malah semakin tertantang untuk mendapatkan Alya.


Rendra yakin suatu saat nanti, dia pasti mendapatkan hati Alya. Saat ini hanya dibutuhkan perjuangan agar bisa terwujud menjadi pendamping hidup wanita yang membuatnya jatuh cinta.


Sementara itu, Reno sudah mulai mengingat kembali tentang Alya walau belum semua. Namun, Reno masih merahasiakannya demi menjaga perasaan sang istri. Walaupun dia tidak sepenuhnya mencintai Aluna, dia harus tetap menjaga perasaannya.


Alya memang yang bertahta di hati Reno, tetapi dia sudah menjadi masa lalu. Sementara, Aluna adalah istrinya, masa depannya. Walaupun sakit, tetapi dia harus rela mengubur dalam-dalam perasaannya dan menjadikan masa lalu sebagai kenangan terindah.


Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk melupakan. Walau sudah berusaha mengubur perasaan itu, tetapi rasa itu tidak pernah bisa hilang begitu. Ada kalanya rasa rindu menyergapnya.


Reno mendatangi tempat-tempat yang penuh kenangan saat bersama Alya karena merindukan Alya. Rasa cintanya pada Alya masih ada. Padahal dia sudah menikahi Aluna dan sebentar lagi akan memiliki seorang anak hasil pernikahan mereka.

__ADS_1


"Al, seandainya waktu bisa diputar kembali. Ingin rasanya aku menolak tugas itu! Kita pasti bisa bahagia saat ini," batin Reno sendu.


Setiap ada kesempatan sepulang kerja, Reno menyempatkan diri untuk mendatangi tempat-tempat yang meninggalkan kenangan manis bersama Alya. Suatu hari di tempat ini, besok lagi ke tempat yang berbeda. Selalu saja diakhiri dengan air mata penyesalan karena tidak bisa memiliki sang pujaan hati.


Reno sering pulang terlambat karena selalu mampir ke tempat penuh sejarah perjalanan cintanya. Seringnya melakukan perjalanan jauh, membuat dia abai terhadap istri di rumah. Sampai di rumah Reno langsung tidur, tidak ada lagi obrolan antara dia dengan sang istri.


Sudah tiga Minggu berlalu, Reno semakin cuek pada sang istri. Tidak ada lagi kehangatan dalam rumah tangga mereka. Hal ini dikarenakan laki-laki itu tidak pandai berbohong selalu tampil apa adanya.


Aluna mulai mencurigai Reno yang sering pergi tanpa kabar. Bukan hanya itu saja, sikap suaminya itu juga berubah dingin padanya. Awalnya dia diam saja, menganggap sang suami lelah bekerja karena sudah lama tidak bekerja, mungkin tubuhnya kaget. Reno sudah lama hanya duduk diam di rumah, mungkin tubuhnya belum terbiasa.


"Mas, bisa bicara sebentar?" tanya Aluna pada Reno yang baru pulang kerja.


"Mau bicara apa? Katakan saja, aku akan mendengarnya," jawab Reno datar.


"Kita sudah lama tidak ngobrol, Mas. Aku kangen," sahut Aluna. "Dedeknya juga kangen sama papanya sudah lama tidak dijenguk."


Reno terkesiap tidak menduga jika sang istri sudah merindukan dirinya. Terlalu lama dia asik menyusuri jalan penuh kenangan dengan sang mantan sehingga melupakan istrinya.


"Mas kenapa diam saja? Mas ini kenapa sih akhir-akhir ini kok berubah?" cerca Aluna manja, dia menempelkan dadanya di lengan sang suami.


"Mas capek, Luna. Mas tidak berubah kok," sahut Reno cepat agar sang istri tidak curiga.


"Mas sudah setiap hari kerja, kenapa pas libur juga kerja? Biasanya kita jalan-jalan atau pulang ke Solo," protes Aluna yang tidak puas dengan jawaban sang suami.


Reno pun tidak tahu harus menjawab apa pada sang istri. Tidak mungkin dia berkata jujur jika dia sudah mulai mengingat masa lalunya. Berbohong juga tidak pandai, selain itu dia juga tidak ingin berbohong terus untuk menutupi kebohongannya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2