Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bonchap 1


__ADS_3

Rendra dan Pratiwi bertandang ke rumah Reno dengan membawa putri kecilnya. Tak mau kalah dengan sang sahabat yang sudah memiliki dua anak dalam waktu dua tahun, Rendra pun menyusul. Pratiwi kembali hamil saat usia Raisa baru menginjak tujuh bulan.


Mereka bercanda di ruang keluarga, Mentari bahagia sekali bermain bersama dua bayi. Raisa ngoceh tidak jelas sedang Bima hanya bisa melihat kadang sesekali tersenyum ketika diajak berbicara. Mentari sibuk menarik tangan atau kaki kedua bayi yang lebih kecil darinya.


"Li, jangan tarik adik ya, Nak. Sakit kalau ditarik seperti itu. Kasihan adiknya, Sayang," tegur Alya dengan suara lembut agar sang anak tidak takut tetapi nurut.


"Map, Ma," jawab Mentari dengan kepala tertunduk karena takut mendapat teguran. Melihat itu, sang ibu langsung mengusap kepalanya dengan lembut tanda sayang.


Akhir-akhir ini Alya lebih sering menegur batita itu karena Mentari sering memakai tenaga ekstra ketika berdekatan dengan adiknya. Mungkin saking gemasnya dia pada Bima yang selalu tersenyum jika bersamanya. Untung saja, bayi usia dua bulan itu anteng dan tidak rewel.


Usai menarik kaki sang adik dan mendapat teguran, kini gadis cilik itu pindah haluan ke depan Baby Raisa. Awalnya bocah itu mengajak berbicara dengan suara cadelnya. Lama kelamaan, tiba-tiba Baby Raisa menangis menjerit sehingga membuat para ibu muda itu terkejut.


Tiwi segera memeriksa bagian tubuh sang anak. Tiba-tiba dia tertawa melihat bekas gigi di kaki bayinya. Ternyata tadi ada batita yang gemas dan menggigit kaki mungil itu.


"Kenapa, Mbak? Kok nangisnya sampai kejer begitu?" tanya Alya bertubi-tubi karena ikut panik mendengar tangis Raisa yang tiba-tiba.


"Ini ada yang lapar, makanya Raisa digigit," jawab Tiwi sambil menunjukkan kaki Baby Raisa dengan menahan tawa.


Alya meneliti kaki dengan cap dua gigi kecil. Kaki itu hanya memerah tidak mengeluarkan darah, walaupun begitu tetap terasa sakit.


Tak lama kemudian terdengar suara tangis dari Mentari. Bocah itu ketakutan sendiri setelah menggigit kaki temannya, padahal tidak ada yang memarahi bocah umur dua tahun itu.

__ADS_1


"Li kok nangis, kenapa? Nggak ada yang marah sama Li kok," tanya Alya dengan sabar mulai menenangkan anak sambungnya itu.


"Mama ...."


Gadis kecil itu menghambur ke pelukan ibu sambung rasa ibu kandungnya. Menumpahkan tangis, entah apa yang dirasa bocah berumur dua tahun itu. Di saat dia membuat salah sang ibu tetap berlaku lembut padanya, bahagia dan memiliki seorang ibu yang begitu menyayangi tanpa melihat darah siapa yang mengalir di tubuhnya.


Alya membalas pelukan sang anak, lalu mengusap punggung mungil itu dengan penuh kasih sayang. Tak ada rasa kesal apalagi marah, yang ada perasaan penuh kasih tanpa batas. Bagi istri Reno itu, semua anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama tanpa harus membedakan mereka.


Setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari orang tua dan keluarganya. Setiap anak terlahir suci tanpa memiliki salah dan dosa. Perbuatan orang tualah yang membuat dia ada di dunia, lalu tidak mendapat perlakuan yang sama dengan saudara lainnya, hanya karena tidak diinginkan atau beda rahim.


Sejenak kita tinggalkan kasih sayang seorang ibu dan anaknya. Di tempat yang lumayan jauh dari sana, ada seorang mantan suami yang masih dengan setia menunggu ibu dari anaknya itu terbangun dari tidur panjangnya.


Kesehatan Regina sudah dinyatakan membaik dan akhirnya menjalani kontrak kerja yang sempat tertunda beberapa bulan. Kini dia kelelahan syuting sehingga kesehatannya kembali drop dan kembali koma. Sebelum sakit dia sudah mengiyakan lamaran mantan suaminya untuk rujuk.


Sudah satu Minggu berlalu, Regina masih betah dengan tidur panjangnya. Dokter sudah melakukan upaya terbaik untuknya, tetapi Tuhan belum berkenan wanita yang melahirkan gadis cantik bernama Starla itu untuk sembuh.


"Kamu kenapa seneng banget ngediemin aku kek gini? Aku tahu, aku salah karena terlalu dalam menyakitimu. Aku mohon maafkan aku, Re!" ucap Bryan mengajak bicara Regina.


Setiap hari laki-laki itu selalu menjenguk mantan istrinya dan mengajak ngobrol. Dia sangat yakin Regina mendengar suaranya. Ini terbukti setiap kali berbicara air mata menetes dari matanya yang terpejam.


Starla sendiri diantar ke Surabaya oleh Bryan beserta pengasuhnya. Hal ini ditujukan agar gadis kecil itu tidak melihat ibunya kesakitan di rumah sakit. Setiap hari Bryan akan melakukan video call dan merekam suara anaknya.

__ADS_1


Rekaman suara itu dia letakkan di dekat mantan istrinya yang sedang koma. Berharap wanita itu terbangun mendengar suara sang anak. Namun, bukannya terbangun malah air mata Regina mengalir dengan deras.


Selama di Surabaya, gadis kecil itu selalu menanyakan ibu dan ayahnya. Tak jarang pula gadis kecil tantrum sehingga membuat Gita kebingungan menghadapinya. Sang pengasuh pun tak jarang menjadi samsak Starla, jika gadis kecil itu mengamuk.


"Bry, besok kami akan berangkat ke Melbourne. Starla tidak bisa diam beberapa hari ini dia mengamuk, Mommy kasihan melihat pengasuhnya," ucap Gita pada anaknya melalui saluran telepon.


"Iya, Mom. Besok langsung saja ke rumah atau ke rumah sakit tempat Regina dirawat. Maaf Bryan nggak bisa jemput kalian," jawab Bryan dengan wajah kusut.


Sore hari di hari berikutnya, Gita beserta cucu dan pengasuhnya. Seperti yang dikatakan oleh Bryan sebelumnya, laki-laki itu sibuk dengan urusan perusahaan. Gita langsung menuju kediaman sang anak membawa serta cucu dan pengasuhnya.


Setelah Bryan pulang kerja, barulah mereka berempat pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Regina. Sebelum berangkat mereka makan malam terlebih dahulu.


Begitu sampai di rumah sakit, bocah kecil itu dilarang masuk karena umur yang belum cukup. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Starla diizinkan masuk tetapi hanya sebentar saja. Mengingat waktu yang diberikan hanya lima belas menit dalam ruangan, mereka bergegas menuju kamar rawat Regina.


"Mommy!" panggil Starla dengan suara yang keras, cukup untuk membangunkan orang tidur biasa.


Air mata menetes dari mata Regina yang terpejam. Suara anaknya terdengar jelas di telinganya, tetapi matanya tidak bisa terbuka. Wanita itu sudah berusaha keras untuk membuka matanya, tetapi berat rasanya terbuka.


Bocah kecil usia empat tahun itu memeluk lengan ibunya dengan air mata berderai. Beberapa bulan tidak bertemu, kini saat ada kesempatan sang ibu tidak bisa dipeluknya, Starla pun menangis meraung memanggil sang ibu.


"Aku mau mommy, Daddy."

__ADS_1



__ADS_2