Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 15


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Reno sudah mengantarkan baby Mentari ke kafe 'Rasha'. Alya selama ini tinggal di kafe bersama dua orang karyawan perempuan yang masih melajang. Di antara mereka bertiga, hanya Alya yang belum bangun karena dia baru tertidur saat pagi menjelang.


Kedua karyawan yang tinggal bersamanya itu, tidak pernah berani membangunkan Alya. Walaupun mereka tinggal dalam bangunan yang sama, mereka tidak saling mengusik. Mereka malah sudah seperti keluarga sendiri, keakraban yang terjalin pun berasal dari dalam hati.


Salah satu karyawan yang tinggal di sana, kebetulan keluar untuk membuang sampah. Gadis manis bertubuh mungil itu berpapasan dengan ayahnya Mentari. Dia langsung menyapa karena merasa sudah mengenal.


"Pak Pol pagi-pagi sudah sampai sini. Pasti repot ya, mengurus bayi seorang diri. Apalagi Pak Pol harus bekerja mengabdi pada masyarakat," sapa Erna tanpa ada rasa canggung sama sekali.


"Iya, ada operasi zebra mulai hari ini dan untuk beberapa hari ke depan. Jadi, aku akan lama menitipkan anakku di sini. Semoga para mbaknya masih betah momong Mentari," sahut Reno seraya menampakkan senyum manisnya.


Reno langsung meninggalkan area kafe itu setelah memastikan anaknya aman bersama karyawan sang mantan. Reno terpaksa merepotkan Alya terus-terusan walaupun sebenarnya rasa sungkan dan segan menyelimuti pikiran pria beranak satu itu.


Erna yang akan membawa baby Mentari ke kamarnya, urung seketika karena melihat pemandangan yang sungguh menggoda iman. Rendra, kekasih sang majikan datang hanya menggunakan celana training dan kaos putih ketat yang mencetak jelas tubuhnya. Keringat yang membasahi dahi membuat laki-laki itu terlihat seksih dan maskulin.


"Mm- mbak Alya-nya masih tidur, Pak Pol. Mau saya panggilin?" ujar Erna ketika pacar sang bos mendekatinya.


"Apa karena bayi itu bermalam di sini, makanya Alya belum bangun?" tanya Rendra dengan raut wajah dingin, seperti menahan amarah.


"Bu-bukan, Pak Pol. Dedek Mentari baru aja datang kok. Mbak Alya sejak sore sudah masuk kamar, malahan tadi malam Dedek Mentari ditinggal sama kami begitu saja. Sepertinya Bu Bos lagi sakit, deh," ungkap Erna dengan gamblang.

__ADS_1


Rendra yang mendengar penjelasan dari karyawan sang kekasih, sedikit berkurang amarahnya. Namun begitu, tidak serta merta menghilangkan rasa cemburunya. Dia langsung pergi dari tempat itu tanpa meninggalkan pesan apapun.


"Dasar nggak punya malu! Ngapain dulu buru-buru nikah kalau masih amnesia? Sekarang pakai alasan anak buat deketin Alya!"


Rendra benar-benar kesal mendapati Reno pagi-pagi sekali sudah mengantarkan anaknya ke kafe milik Alya. Rencana ingin mengajak sang pacar joging gagal karena melihat kehadiran sahabat yang menitipkan anaknya. Hal ini membuat mood Rendra kembali buruk dan tidak melanjutkan olah raga paginya.


Alya terbangun kala pintu kamarnya digedor Erna dari luar. Sudah jam delapan pagi gadis cantik itu belum juga keluar dari kamar sehingga sang karyawan pun berinisiatif mengingatkan agar tidak terlambat pergi ke kantor.


Alya langsung melesat ke kamar mandi saat jam di dinding menunjukkan pukul tujuh lewat lima puluh lima menit. Pagi ini dia ada pertemuan dengan klien jam sembilan. Anak pasangan Raka Pradipta dan Shafeeyah Kusuma Wijaya itu terpaksa mandi dengan terburu-buru.


Tanpa mengaplikasikan make up terlebih dahulu, Alya langsung meninggalkan bangunan ruko tiga lantai itu. Dia tidak sempat lagi untuk sarapan karena berkas yang akan dibawa menemui klien tertinggal di kantor. Mau tidak mau dia harus ke kantor baru menemui kliennya.


Alya dan Reno tampak akrab sekali saat ngobrol berdua. Keduanya membahas Baby Mentari yang semakin pintar. Reno hanya ingin menyampaikan jika belum juga mendapatkan baby sitter untuk Baby Mentari, maka dia akan dengan berat hati membiarkan sang anak diasuh kedua orang tuanya.


Alya sebenarnya tidak ingin berpisah dengan bayi menggemaskan itu. Namun, dia tidak memiliki hak apapun untuk melarang Reno. Selain itu, Rendra juga tidak begitu menyukai anak sahabatnya, sehingga merelakan jika harus berpisah dengan Baby Mentari.


Rendra yang kebetulan sedang melakukan pengintaian di depan restoran itu, tidak sengaja melihat pacar dan sahabatnya bercengkrama dan tertawa bersama. Kedekatan keduanya membuat laki-laki yang berprofesi sebagai polisi dan pengusaha itu cemburu. Dia langsung pergi meninggalkan tempat itu begitu saja.


"Maaf, Alya. Bukan maksudku untuk memisahkan kamu dengan Mentari. Hanya saja, aku merasa sungkan kalau terus-terusan merepotkan kamu. Jadi, solusi terbaik aku menitipkannya pada orang tuaku di Solo," ucap Reno dengan perasaan yang entah, semua bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Tak masalah, Mas. Mana yang terbaik untuk Mentari saja. Apapun itu, pasti aku dukung," sahut Alya dengan senyum terukir di bibirnya.


Mereka berpisah di area parkir karena memiliki tujuan yang berbeda, walaupun sama-sama bekerja.


Alya kembali menghubungi Rendra, mencoba mengalah demi kebaikan bersama. Walau sebenarnya bukan salah dia seutuhnya. Namun, sebisa mungkin gadis itu memilih mengalah, toh mengalah bukan berarti kalah.


Rendra langsung mengiyakan ajakan sang pacar untuk keluar. Setelah keduanya bertemu, Rendra langsung memberikan pilihan pada Alya, memilih dirinya atau Reno.


"Apa maksud kamu, Bang?" tanya Alya lirih karena merasa sakit hati diperlakukan seperti itu oleh Rendra.


"Apa aku ini tidak ada artinya bagimu, sehingga kamu bisa memintaku memilih sesuatu yang bukan pilihan?" lanjut Alya dengan air mata menetes tak tertahankan.


Gadis cantik itu merasa cemburu Rendra sudah melebihi batas wajar. Laki-laki itu tahu jika Reno dengannya hanya masa lalu. Kenapa bertindak sedemikian menyakitkan?


Memintanya memilih dua orang laki-laki yang sudah pasti siapa yang akan dia pilih. Bagi Alya permintaan Rendra hanyalah kamuflase belaka. Mungkin saja laki-laki itu tidak serius menjalin hubungan dengannya, sehingga memberikan pilihan yang tidak masuk akal.


"Kamu itu pacar aku, bahkan aku sudah melamarmu. Kenapa kamu malah pergi berduaan dengan Reno tanpa memberi tahu aku? Kamu tidak menganggap aku ada, Al," ucap Rendra dengan dada naik turun karena menahan emosi saking cemburunya.


"Oo, masalah tadi. Kami tidak sengaja bertemu. Dia hanya mau kasih tahu kalau bulan depan, si Mentari akan diasuh oleh orang tuanya. Kenapa jadi masalah sih? Semua itu bisa dibicarakan baik-baik dengan kepala dingin."

__ADS_1


"Kalau tiba-tiba marah nggak jelas, siapa yang akan tahu maksud kamu. Orang pun pasti nggak respek lagi kalau ada orang tiba-tiba marah nggak jelas." Alya menutup penjelasan dengan menyedot jus jeruknya.


__ADS_2