Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 18


__ADS_3

"Ren? Reno!" panggil Alya berulang kali karena sejak tadi pria itu melamun saat berbincang dengan bunda Alya, Shofie.


Akhirnya Alya menyentuh lengan Reno karena tidak ada respon dari pria itu. Bunda Shofie langsung meninggalkan meja itu begitu sadar lawan bicaranya melamun. Di saat yang sama, anaknya mendekati meja mereka bersama sang ayah.


Reno tersadar dari lamunan setelah lengannya disentuh oleh sang mantan. Lelaki itu tergeragap begitu tersadar. Sungguh malu rasanya melamun saat berbincang dengan orang tua sang mantan.


"Eh, iya Al. Ada apa?" sahut Reno bertanya.


"Ngelamunin apa sih? Sampai segitunya. Bunda bolak-balik manggil kamu, tapi kamunya malah diem aja," tanya Alya penuh dengan gerutuan kesal.


"Ng-nggak kok, nggak ada," elak Reno dengan wajah bersemu merah menahan malu apalagi dari panggung terdengar lagu yang membuat dia merasa tidak pantas untuk mendapatkan wanita cantik di depannya itu.


"Tuku ketan neng prapatan


balikan neng mantan podo karo mangan jangan nget-ngetan...."


Sebenarnya Alya melarang seluruh karyawannya untuk memutar atau menyanyikan lagu itu ketika Reno datang. Namun, entah kenapa sore ini lagu itu terdengar menggema di seluruh kafe. Tak enak rasanya tetapi mau bagaimana lagi, mau ditegur pun terlambat.


Alya tidak tahu harus berkata apalagi pada Reno. Akhirnya, dia lebih memilih beranjak menuju pintu masuk kafe. Menunggu seseorang yang berjanji akan datang sore ini sepulang kerja.


Tak lama menunggu, akhirnya orang itu datang juga. Masih mengenakan pakaian seragam karena baru saja pulang dari kantor langsung singgah.


"Tumben pakai seragam?" tanya Alya begitu orang itu masuk.


"Tadi ada pertemuan di kantor walikota, jadi wajib pakai seragam lengkap," jawab orang itu dengan senyum mengembang menutupi rasa lelahnya.

__ADS_1


Alya mengangguk kemudian mengajak orang itu ke meja yang ditempati oleh Reno. Wajah laki-laki itu langsung berubah muram ketika melihat mantan pacar pemilik kafe sedang duduk sambil menikmati lagu yang dibawakan oleh penyanyi jalanan dari atas panggung.


Melihat penampilan mantan pacar pemilik kafe yang lebih baik darinya. Lelaki itu langsung bermuram durja, padahal penampilannya tidak kalah keren dari laki-laki yang duduk di depannya itu.


"Hai, Ndra," sapa Reno begitu sadar sahabatnya datang juga ke kafe itu.


Ya, laki-laki yang baru datang itu adalah Rendra. Dia sengaja singgah setelah pulang kerja karena melewati. Selain itu dia juga ingin berkenalan dengan calon mertua.


Alya tadi pagi mengabarkan bahwa orang tuanya akan datang dari Semarang sore ini. Rendra langsung tahu arah pembicaraan sang kekasih. Oleh karena itu, dia sengaja menyempatkan diri singgah ke kafe itu walaupun tubuhnya merasa lelah.


"Tunggu sebentar ya, aku panggil ayah dan bunda dulu," pamit Alya pada dua orang laki-laki yang pernah dan sedang mengisi hatinya.


Alya berjalan masuk mencari keberadaan ayah dan bundanya. Dia sudah berjanji akan memperkenalkan Rendra pada mereka berdua. Sore ini adalah waktunya untuk mereka berkenalan.


Alya kembali ke depan bersama orang tuanya. Ada perasaan sungkan dan deg-degan secara bersamaan. Sungkan karena momen itu kurang tepat dengan adanya sang mantan. Deg-degan karena khawatir orang tuanya menolak Rendra, orang tuanya mendahulukan pengetahuan agama. Secara agama Rendra masih kalah dengan Reno yang sejak kecil hidup sudah dibekali pengetahuan agama.


Setengah jam kemudian, Rendra meminta izin pada orang tua Alya untuk membawanya keluar. Orang tua itu memberinya izin dengan syarat sebelum jam sepuluh malam sudah sampai di kafe. Rendra pun menyanggupinya.


Rendra sengaja membawa Alya ke rumahnya. Dia ingin mandi dulu agar kepalanya dingin sebelum membahas masalah penting. Masalah kedatangan Reno tadi sore sebelum dirinya tiba di kafe.


Setelah mandi dan tubuhnya merasa segar, Rendra mengajak Alya untuk duduk di ayunan yang terletak di taman depan rumah. Dengan membawa minuman dan makanan ringan untuk menemani obrolan.


"Apa kamu masih mengharapkan dia kembali?" tanya Rendra begitu keduanya sudah duduk berhadap-hadapan di ayunan besi.


Di samping Rendra, ada makanan dan minuman yang tadi dibawanya. Tangan kanan Rendra mencengkeram besi pegangan dengan erat sebagai alat menyalurkan emosinya. Rendra mudah meledak karena dia sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia mau.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Tidak usah berpura-pura lagi, Al. Jika kamu memang ingin kembali bersamanya, aku rela mundur," sahut Rendra dingin, ada amarah dan kecewa dalam suaranya.


"Kalau kamu memang tidak serius denganku, tak apa. Katakan sejujurnya, jangan mengkambinghitamkan orang sebagai alasan!" ucap Alya lirih, kecewa dan sakit itu yang dirasakan Alya saat ini.


Setahu Alya, pacarnya itu sangat mudah meledak tetapi tidak terbersit dalam pikirannya jika dia juga seorang pencemburu.


"Bukan aku tidak serius, aku hanya tidak ingin kamu terlalu dekat dengannya. Kamu seharusnya ingat kalau kamu itu sekarang milikku bukan milik dia lagi."


"Dia hanya mantan, tidak seharusnya kamu terlalu dekat dengannya. Apalagi anaknya sudah tidak bersamamu lagi," ucap Rendra mengingatkan posisinya.


"Lagi cemburu, hmm?" Alya tersenyum melihat kecemburuan sang pacar, berarti pria di depannya itu benar-benar mencintainya.


"Siapapun pasti cemburu saat pacarnya kembali didekati sang mantan. Jika kita tukar posisi, kamu jadi aku. Pasti kamu akan tahu rasanya seperti apa!"


"So?"


"Pilih aku atau dia! Jika pilih aku carilah cara menghindarinya, jika pilih dia sekarang juga kita akhiri hubungan kita. Aku bukan orang sabar yang bisa menahan rasa cemburu. Aku hanya tidak ingin terlalu lama terjebak dalam lingkaran rasa cemburu dan khawatir. Khawatir kehilangan kamu saat hati dan pikiranku hanya tentang kamu."


Lagi-lagi Rendra memberikan pilihan itu pada Alya. Padahal sudah berulang kali dia katakan, pilihannya tetap jatuh pada Rendra. Alya memutuskan untuk pulang saja dari pada harus berantem.


Rendra sebenarnya tidak ingin membuat pacarnya dalam keadaan dilema seperti ini. Dia hanya ingin memastikan siapa jodohnya nanti. Walaupun sudah mengambil keputusan meninggalkan kemewahan demi wanita yang dicintainya.


Setiap malam dia selalu bermimpi jika dia memberikan baju yang sangat disukainya pada orang lain. Setelah itu, dia memakai baju yang sangat bagus pemberian sang ibu, walaupun tidak suka akan baju itu dia tetap memakainya.

__ADS_1


Sesampainya di kafe, Alya bingung membuat pilihan. Gadis itu sudah merasa nyaman bersama Rendra. Namun, tidak dipungkiri juga, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada bayi itu. Berat rasanya meninggalkan anak itu tanpa kasih sayang seorang ibu.


"Aku harus bagaimana, ya Tuhan?"


__ADS_2