Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 31


__ADS_3

"Nggak apa-apa, dari pada seperti ini? Dia tidak mau sama kalian, padahal selama ini bayi ini tinggal dan diasuh oleh kalian," jawab Alya sambil menggelengkan kepala, merasa aneh dengan keluarga itu.


Tak menunggu lama, akhirnya mereka berangkat juga menuju kafe 'Rasha'. Alya memilih duduk di belakang karena merasa bukan bagian dari keluarga Reno. Baby Mentari masih memeluk leher gadis itu dengan erat.


"Dek, kalau seperti ini terus lama-lama Tante kecekik nggak bisa gendong kamu lagi lho," ucap Alya pada bayi gemoy itu seraya berusaha menggeser tangan mungil yang setia melingkar di lehernya.


Bayi berusia delapan bulan itu ternyata sudah bisa diajak berbicara. Tangan yang semula melingkari leher Alya, kini berpindah memeluk lengan kiri gadis yang menggendongnya. Alya pun merasa bisa bernapas dengan lega.


Baru lima menit mobil yang mereka tumpangi berjalan, gawai Alya berbunyi nyaring pertanda ada panggilan masuk. Gadis itu langsung mengambil gawai yang ada di dalam sakunya. Di layar tertera nama 'Bunda Sayang', wanita yang melahirkannya menghubunginya dan itu wajib dijawab jika tidak ingin dikutuk menjadi ikan.


Bunda Shofie ternyata mengkhawatirkan sang anak yang tidak kunjung sampai di rumah ataupun di kafe cabang Jogja. Wanita yang masih tampak muda di usia jelita itu tentunya panik karena tidak tahu keberadaan sang anak. Lima jam yang lalu mendapat kabar dari sang tante jika anak gadisnya dalam perjalanan pulang.


Bryan menghubungi Shofie kembali setelah empat jam Alya naik ke atas bus. Ternyata gadis itu belum menghubungi kelurganya yang berada di Semarang dan belum juga sampai di kota itu. Begitu tahu Alya belum sampai di Semarang, Bryan memutuskan untuk ke Jogja mencari gadis itu.


Reno dan rombongan berjalan memasuki kafe, masih dengan posisi Alya menggendong si bayi gemoy. Bayi itu terlihat sudah memejamkan matanya lagi setelah lelah menangis tidak mau pisah dengan mantan kekasih sang ayah.


Kedatangan Alya disambut bahagia oleh para karyawan kafe 'Rasha'. Semua karyawan menyalami dan memeluknya sebagai tanda pelepas rindu.

__ADS_1


Alya langsung membawa bayi gemoy ke dalam kamarnya karena kafe sangat rame sore ini. Mama Lis mengikuti langkah gadis itu setelah diminta untuk mengikuti dari belakang. Mantan kekasih Reno langsung meletakkan Baby Mentari di atas kasurnya yang berukuran besar, setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selama Alya mandi, bayi gemoy itu tidur pulas. Aroma kamar yang sama dengan badannya membuat bayi itu merasa tetap nyaman serasa masih berada di pelukan wanita yang tadi menggendong dia penuh kasih.


"Tante, kalau mau ke kamar mandi silakan pakai kamar mandi Alya," ucap Alya pada Mama Lis dan diangguki oleh wanita paruh baya itu.


Saat sang nenek masuk ke kamar mandi cucu gemoy itu membuka matanya dan langsung duduk sembari mengucek mata dan menguap. Alya tersenyum lalu mendekati bayi itu.


"Kamu kenapa nggak mau pisah sama Tante, hmm? Tante ini hanya orang lain, bukan siapa-siapanya Mentari. Apalagi banyak yang bilang Tante gila, bahkan nenek kamu pun berpikiran seperti itu. Apa kamu nggak takut sama Tante?" tanya Alya pada bayi yang belum bisa berbicara itu dengan posisi duduk di pinggir ranjang.


Tanpa disangka, bayi gemoy itu merangkak mendekati Alya dengan tersenyum. Tangannya terulur seperti hendak menggapai wajah wanita dewasa di depannya. Melihat hal itu, Alya pun meraih si bayi dan mendudukkan di pangkuan sambil sesekali mencium pipi gembulnya.


Waktu mendekati jam tujuh malam, tetapi Reno dan keluarganya masih betah di kafe itu. Mereka mendengarkan life music yang dimainkan oleh anak jalanan yang direkrut oleh Raka.


Tiba-tiba datang laki-laki berwajah bule mendatangi mereka yang sedang asik bercengkrama. Laki-laki itu tampak mengkhawatirkan sesuatu saat berjalan mendekati meja yang diduduki Alya bersama keluarga Reno.


"Orang kebingungan mencari kamu, mengkhawatirkan keadaan kamu. Ehh, kamu malah asik bercanda sama orang yang selalu menambah beban pikiran kamu," sembur Bryan begitu berdiri di belakang Alya.

__ADS_1


Alya yang sangat familiar dengan suara itu langsung menoleh. Matanya terbeliak kaget, tidak menyangka cinta monyetnya menyusul sampai di sini.


"Om Bry? Kenapa ikut ke sini? Bukannya besok harus terbang ke Melbourne?" cerca Alya dengan tatapan mata bingung antara bahagia dan sedih.


Bahagia karena Bryan mengkhawatirkan dirinya, sedih karena tidak bisa memenuhi permintaan sang paman. Alya menolak ajakan Bryan karena hatinya sudah tertutup untuk memulai suatu hubungan khusus. Kalau hanya hubungan keluarga dan persahabatan dia akan mengiyakan, tidak jika untuk hubungan asmara.


"Kamu itu kek orang menumpahkan peluru ke tubuh musuh tahu nggak? Tanya itu satu persatu jangan seperti orang yang marah melihat musuh langsung diberondong!" ujar Bryan sembari menyentil dahi Alya.


Alya langsung mengusap dahinya dengan wajah cemberut. Rasa panas akibat sentilan itu tak seberapa, tetapi malu mendengar ucapan sang paman membuatnya semakin cemberut dan ingin menghilang dari pandangan semua mata yang melihat.


"Jangan pasang wajah kek gitu, Uncle makin pengen bawa kamu kabur dari sini! Pasti kamu sengaja 'kan?" tuduh Bryan yang gemas melihat wajah keponakan tersayang.


Wajah gadis itu merona karena malu juga tersipu. Dia tidak menyangka tetap mendapat perlakuan manis dari sang paman walaupun sudah mengecewakannya dengan menolak lamaran itu. Seandainya saja tidak pernah merasakan patah hati, mungkin lamaran itu akan diterima dengan senang hati.


Hidup ini tidak bisa berandai-andai karena itu sama saja menolak takdir Tuhan. Oleh karena itu, Alya hanya bisa menjalani semua ini dengan ikhlas. Walau rasa trauma itu masih ada, dia tetap harus melanjutkan hidup dengan bahagia.


Definisi bahagia menurut Alya bukanlah seperti wanita kebanyakan yang selalu menjadi ratu di hati seorang laki-laki, tetapi bahagia karena bisa menjalani hari-harinya dengan senyum dari hati tanpa beban pikiran. Dengan hidup tanpa memiliki hubungan khusus dengan lawan jenis, gadis itu sudah merasa tenang. Jadi, dia lebih memutuskan untuk hidup tanpa memiliki hubungan asmara saat ini.

__ADS_1


Reno yang melihat betapa dekatnya Alya dengan laki-laki berwajah bule itu, merasa cemburu. Ayah Mentari itu mengepalkan kedua tangannya menahan api cemburu yang mulai menguasai. Rasanya tidak rela melihat wanita pujaan hati lebih dekat dengan laki-laki lain.


"Ma... maa... ma...," oceh bayi gemoy sembari menarik lengan baju Alya.


__ADS_2