
Rendra membawa istrinya ke rumahnya yang ada di Jogja setelah satu Minggu sang ibu meninggal. Laki-laki itu berusaha berlapang dada menerima kehadiran wanita pilihan keluarga sebagai pendamping hidup. Dia akan berusaha mencintai wanita yang kini telah sah menyandang status sebagai istrinya walau hatinya masih terpaut pada Alya.
Rendra begitu kehilangan sang ibu yang selama ini selalu membela dan memanjakan dirinya. Tidak ada lagi yang akan menyajikan masakan penuh cinta seorang ibu pada anaknya. Menyesal pun sudah terlambat, jika tahu akan seperti ini, mungkin tak akan meninggalkan rumah orang tua karena hasil akhirnya tetap dia harus menikahi wanita yang tidak dicintai.
Rencana tinggal rencana, sampai satu bulan pernikahannya, rasa cinta itu juga belum juga hadir. Perasaan rindu karena tak pernah bertemu semakin menggebu. Hal itu membuat Rendra semakin acuh pada istrinya.
Tak jauh berbeda dengan Rendra, Reno pun mencoba menjalani hari dengan wanita pengganti untuk mengalihkan pikirannya. Namun, semakin berusaha untuk menjauh dari wanita yang pernah mengisi hatinya, semakin kuat perasaan itu bertahan dalam pikiran dan hati.
Wanita pengganti yang bersama Reno kebetulan saudara perempuan istri Rendra. Keduanya bertemu saat acara pemakaman Ibu Ratih, ibunda Rendra. Sejak perkenalan itu, pertemuan mereka semakin intens karena adik Pratiwi seorang mahasiswi di Jogja. Wanita itu saat ini sedang menyusun skripsi.
Sementara itu, Alya memutuskan pulang ke Semarang untuk bertemu dengan orang tua juga adik kembarnya. Dia sudah lama tidak pulang ke kota kelahiran orang tuanya karena sibuk dengan pekerjaan. Kini, waktu dua hari yang dimiliki akan digunakan sebaiknya bersama keluarga.
Adik Alya bernama Arsenia dan Arsenio, keduanya masih duduk di bangku SMA. Selisih Alya dengan adik-adiknya cukup lama karena trauma dan adanya masalah yang menguras air mata. Masalah yang dihadapi oleh Shofie membuatnya sering stress jadi susah untuk mendapatkan keturunan.
"Al, kapan kamu menikah? Menunggu apalagi?" cerca Shofie usai makan malam bersama.
"Nggak ada yang mau sama Alya, Bun. Alya ini hanya wanita manja dan bar-bar yang tidak pantas untuk dijadikan seorang istri," jawab Alya asal yang membuat dada sang ibu sesak mendengarnya.
"Kata siapa kamu manja dan bar-bar?" tanya Shofie dengan mata berembun.
"Kataku," jawab Alya cengengesan.
Dua hari dua malam Alya berada di Semarang, kini saatnya dia harus kembali ke Jogja untuk bekerja. Waktunya bersenang-senang bersama keluarga sudah habis. Gadis itu harus kembali berjibaku dengan berkas dan para klien yang membutuhkan bantuannya di masalah hukum.
__ADS_1
Jam delapan malam, Alya baru memasuki kafe setelah seharian bekerja. Gadis itu langsung ke kamarnya setelah menyapa beberapa karyawan kafe. Usai membersihkan diri dan badannya sudah segar lagi, dia langsung turun dan bergabung dengan para karyawannya.
"Dimana wanita murahan itu?" teriak seorang wanita salah satu pengunjung kafe.
"Siapa yang kakak maksud?"
"Siapa lagi? Tentu saja pemilik kafe ini yang tidak punya malu mengganggu rumah tangga orang," jawabnya dengan gamblang tanpa melihat situasi jika perbuatannya itu membuat nama baik kafe tercoreng.
Alya mendengar suara keributan di depan, akhirnya keluar. Dia ingin tahu apa yang menjadi penyebab keributan itu.
"Ada apa ini?" tanya Alya begitu berada di kerumunan para pengunjung kafe.
Seorang wanita tiba-tiba mendekatinya lalu menampar pipi Alya dengan sekuat tenaga hingga meninggalkan bekas merah. Tidak hanya itu saja, bahkan badan gadis itu sampai terhuyung ke belakang. Untung dengan sigap Murni, sang karyawan memegang tubuhnya, jika tidak mungkin Alya sudah terjatuh.
"Sabar, Kak! Kakak ini ada apa? Tiba-tiba datang kek orang kesetanan," ucap karyawan laki-laki di kafe 'Rasha' pada wanita itu seraya mencengkeram lengan si wanita.
"Dia itu wanita ular! Pasti dia pakai pelet sampai-sampai semua laki-laki tunduk padanya," ujar wanita itu lagi dengan berapi-api.
"Kalau Kakak mau semua laki-laki terpesona sama Kakak, seharusnya Kakak introspeksi diri. Wajah bercahaya tapi hati penuh kegelapan, percuma saja. Kalau nona kami, wajah dan hatinya bersinar penuh cahaya jadi wajar kalau banyak yang suka. Wajah dan hati itu haruslah seimbang agar banyak yang suka. Percuma wajah cantik kalau hatinya diselimuti iri dengki!" papar Dion berapi-api.
"Yon, sudah," ucap Alya pada karyawannya.
Alya mendekati sang karyawan mencoba meredakan emosinya. Dia tidak ingin terjadi keributan di kafenya sehingga memberi dampak buruk pada kafe yang sudah lama dirintis sang ayah. Sebisa mungkin dia akan membuat kafe itu memiliki nama yang baik.
__ADS_1
"Bisa Anda jelaskan apa maksud kedatangan Anda, Nona ...,? tanya Alya sembari menggantungkan nama, agar si wanita itu mau menyebutkan namanya.
"Anisah, panggil saja Nisa. Adik ipar Mas Rendra juga paca Mas Reno," jawab si wanita dengan penuh percaya diri.
Alya mengangguk tanda mengerti akan apa yang diucapkan wanita cantik di depannya itu. Dilihat dari wajah dan postur tubuh, sepertinya usia mereka sama.
"Kalau maksud kedatangan kamu untuk hal yang pribadi, sebaiknya kita ke ruanganku saja. Mari," ucap Alya mengajak wanita yang bernama Anisah itu ke ruangannya.
Alya memegang tangan wanita itu sambil berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, di mana ruang kerjanya berada. Wanita yang biasa disapa Nisa itu mau tidak mau mengikuti langkah kaki tuan rumah karena tangannya ditarik perlahan.
"Silakan keluarkan apa yang menjadi ganjalan Anda! Kenapa Anda bisa menyimpulkan bahwa saya wanita yang tidak tahu dan mengganggu hubungan orang? Padahal kami sudah lama tidak bertemu ataupun berkomunikasi," pinta Alya pada wanita tersebut untuk menjelaskan alasan dia mendatangi Alya.
"Mas Rendra dan kakakku menikah satu bulan yang lalu. Sudah satu bulan tinggal bersama, disentuh pun tidak. Yang lebih sakit lagi, nama Alya yang sering dia sebut," cerita Nisa dengan mata berkaca-kaca.
Lalu, mengalirlah cerita dari mulut wanita cantik itu tentang pertemuannya dengan Reno di sebuah mall besar di Jogja. Tiga bulan saling mengenal di Jogja, mereka bertemu lagi di kediaman Pak Adi Nugraha, orang tua Rendra, saat meninggalnya Ibu Ratih Adi Nugraha.
Setelah pertemuan itu, Reno memintanya untuk menjadi pacar. Permintaan Reno disambut baik oleh Nisa karena dia sudah jatuh cinta pada laki-laki berstatus duda anak satu saat pertama kali bertemu. Nisa pun mengiyakan permintaan itu.
Setiap hari mereka menyempatkan waktu untuk makan bersama. Entah itu makan siang atau makan malam. Hal ini membuat Nisa sangat bahagia.
Sayangnya kebahagiaan itu hanya sementara karena setiap hari Reno selalu salah memanggil nama Nisa. Reno selalu memanggil Alya setiap kali bersama Nisa.
"Ternyata nasibku tidak jauh berbeda dengan kakakku. Laki-laki yang menjadi suaminya selalu mengigau memanggil Alya. Sungguh miris, bukan? Kakak beradik berhubungan dengan laki-laki yang hatinya masih sama-sama terpaut pada wanita yang bernama Alya."
__ADS_1