
"Diam! Ikuti kami atau pisau ini menembus perut kamu!" bisik seorang perempuan yang menempelkan pisau pada pinggang Alya.
Alya dipepet oleh seorang perempuan di sebelah kanan, juga seorang laki-laki di sebelah kiri. Kedua orang itu menyeret Alya ke sebuah mobil SUV yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Demi keamanan, Alya mengikuti saja instruksi dua orang itu.
Di dalam mobil itu ternyata sudah ada dua orang laki-laki menunggu mereka. Alya didorong masuk begitu saja oleh laki-laki itu. Disusul kemudian oleh dua orang yang mengacungkan senjata tajam tadi.
"Siapa kalian? Aku tidak punya urusan dengan kalian semua!" tanya Alya galak.
"Heh, kamu bisa diam tidak? Siapa kami bukan urusan kamu, urusan kamu itu dengan bos kami," bentak seorang laki-laki yang duduk di dekat Alya.
"Sumpal aja mulutnya, biar gak brisik!" perintah perempuan tadi.
Tanpa bisa melakukan perlawanan berarti karena tempat yang tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan. Alya akhirnya diikat tangannya dan mulut tertutup lakban hitam. Tidak hanya itu saja, kedua mata gadis itu juga ditutup kain hitam agar tidak tahu dia dibawa ke mana.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mereka berhenti di sebuah rumah kosong yang sudah lama tidak ditempati. Rumah itu tampak berdebu dan lembab karena tidak pernah terjamah oleh manusia.
Alya didorong ke sebuah kamar dengan kuat setelah penutup matanya dilepas. Belum sempat menoleh pada orang yang mendorong, pintu ruangan itu sudah tertutup rapat. Gadis itu berulang kali mengerjapkan mata untuk menyesuaikan kegelapan ruangan itu dengan penglihatannya.
Tak lama kemudian, masuk seorang wanita yang tadi ikut menangkap Alya. Preman perempuan itu menarik lakban yang menutupi mulut mantan kekasih polisi itu.
"Aaah!" teriak Alya kesakitan.
Plakk!
Belum juga mengeluarkan sepatah kata, pipinya sudah mendapat tamparan yang begitu keras sehingga wajahnya berpaling dengan cepat. Alya meringis menahan pedih dan sakit. Dalam hati gadis itu berdo'a agar dia bisa keluar dari siksaan ini.
"Apa salahku pada kalian? Kenapa kalian kurung aku seperti ini?" cerca Alya begitu bisa menguasai diri dan bisa duduk dengan tegap.
__ADS_1
"Kamu memang tidak punya salah padaku, tapi kamu punya salah pada bos kami! Jadi, tunggu bos kami datang agar lebih seru lagi. Hahaha!" jawab preman perempuan itu tertawa mengejek.
Tanpa mereka ketahui, jika ada seseorang yang tadi tidak sengaja melihat Alya didorong masuk ke mobil. Orang itu terus mengikuti kemana orang-orang itu membawa sang gadis. Setelah merasa aman, orang itu menghubungi sahabat dekatnya untuk membantu.
Lampu pijar yang tidak begitu terang itu akhirnya menyala juga. Tampaklah seorang wanita berpakaian modis tapi tidak begitu terbuka, mendekati Alya. Wanita itu mencengkeram kuat dagu Alya sampai memerah.
"Sudah pernah aku ingatkan untuk pergi dari kehidupan dua laki-laki itu. Kenapa kamu masih mengganggu mereka? Apa tidak ada laki-laki lagi di luar sana?"
Ya, perempuan itu adalah Anisah pacar baru Reno sekaligus adik ipar Rendra. Dia sangat marah ketika sang kakak bercerita, tentang suaminya juga nama wanita yang diteriakkan oleh sang suami ketika mengalami pelepasan.
"Kalau memang kamu tidak bisa lagi menemukan laki-laki, maka aku akan berikan laki-laki itu padamu malam ini. Selamat menikmati malam panas kalian! Hahaha...."
"Apa maksud kamu, Nisah?" teriak Alya dengan tubuh gemetar, nyalinya seakan menciut menghadapi wanita sakit di depan matanya. Seandainya tangan dan kakinya tidak terikat kuat bisa saja dia melakukan perlawanan.
"Kamu cukup diam dan nikmati saja, hahaha!"
Tiba-tiba muncul dua orang laki-laki bertubuh kekar mendekati Alya. Tatapan dua laki-laki sangat bernaf su saat melihat gadis berparas cantik itu meringkuk ketakutan di sudut ruangan.
"Tunggu! Lepaskan aku! Sebaiknya kita bicara dengan kepala dingin," ucap Alya mencoba mengulur waktu sembari berpikir mencari jalan keluar.
"Berbicara dengan kepala dingin? Bukankah sejak dulu, aku memintamu menjauhi dua laki-laki itu. Kenapa kamu masih saja menemuinya?"
"Aku tidak pernah bertemu dengannya sejak meninggalnya ibu Rendra. Aku ke kantor polisi hanya untuk urusan pekerjaan dan tidak pernah menemui salah satu dari mereka," ungkap Alya dengan jujur, tetapi Anisah tidak mau percaya.
"Aku sering melihat Reno di sekitar kamu!"
Alya seakan tidak percaya dengan pendengarannya. Sudah lama mereka tidak pernah bertemu, mana mungkin Reno berada di sekitarnya dan itu tanpa sepengetahuan dia.
__ADS_1
Anisah memerintahkan pada dua orang suruhannya untuk memperko sa Alya. Wanita itu yang akan merekam sendiri kejadian malam ini, untuk memastikan pekerjaan mereka benar-benar beres.
"Kumohon, jangan lakukan itu padaku," pinta Alya dengan wajah memelas dan mengiba.
Tangan dan kakinya yang terikat tidak bisa membuatnya leluasa untuk bergerak menghindari dua orang preman bertubuh bak kingkong itu. Kakinya diarahkan pada lelaki itu ketika mendekat. Hanya itu yang saat ini bisa dia lakukan.
Di luar ruangan, orang yang tadi mengikuti Alya sedang terlibat baku hantam dengan orang-orang bayaran Anisah. Tak lama kemudian sahabatnya datang membantu. Semua preman itu sudah mereka lumpuhkan, tinggal menyelamatkan Alya yang saat ini masih didalam ruangan berukuran tiga kali tiga setengah meter.
Teriakan ketakutan Alya kian terdengar nyaring di telinga mereka berdua. Tidak hanya itu saja, suara kekehan tawa yang bersahutan juga terdengar oleh rungu mereka. Mereka tertawa karena melihat ketakutan wanita yang akan menjadi mangsa mereka.
"Bagaimana? Kita minta bantuan atau maju berdua? Di depan kamar itu masih ada lima penjaga lagi," tanya sang sahabat yang baru saja datang.
"Kita habisi mereka saja terlebih dulu, sekiranya kita butuh bantuan baru hubungi kawan, toh ilmu bela diri mereka tidak seberapa ini."
"Baiklah. Kalau begitu kita harus lebih berhati-hati lagi. Sepertinya mereka bukan orang sembarangan," ucap si sahabat mengingatkan.
"Mereka hanya menang jumlah saja. Jangan terlalu dipikirkan! Sekarang kita serang mereka sebelum terlambat.
Alya masih menjerit dan berusaha menghindar dari kedua laki-laki yang tengah dirasuki naf su se tan itu. Tubuh gadis itu terasa sakit semua karena terlalu banyakk bergerak dalam kondisi terikat.
"Bodoh, kalian! Salah satu dari kalian tinggal pegang lalu satunya lagi bermain. Kenapa bisa lama?' bentak Anisah yang sudah tidak sabar lagi melihat Alya dinodai.
Dia benar-benar ingin melihat gadis yang mengisi hati pacar dan kakak iparnya itu hancur tak bersisa.
Brakkk!
"Lepaskan dia, Nisah!"
__ADS_1