Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 6


__ADS_3

Alya bangun kesiangan, dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi karena tidak ingin terlambat sampai di kantor. Terlalu banyak pekerjaan, membuat gadis bertubuh jangkung itu tidur dengan nyenyak sehingga tidak mendengar suara alarm di ponselnya.


Alya buru-buru membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat kerja. Hanya minum segelas air putih lalu berangkat kerja mengendarai aerox-nya. Melaju dengan kecepatan tinggi tanpa melihat sisi kanan dan kiri.


Sampai di tengah perjalanan, Alya yang terlalu fokus pada jalan sehingga tidak memperhatikan lampu rambu-rambu lalu lintas akan berganti warna. Gadis itu menerobos begitu saja, saat lampu berganti merah sehingga polisi yang saat itu bertugas mengejarnya. Polisi itu kebetulan adalah Reno.


Polisi itu terus mengikuti Alya sambil sesekali membunyikan klaksonnya. Bukannya berhenti atau mengurangi kecepatan motornya, Alya malah semakin menarik gas lebih dalam lagi.


Alya tidak peduli dengan caci maki pengendara lain karena mengendarai motor dengan ugal-ugalan. Dia tetap melajukan kendaraan sampai tiba di kantor tempatnya bekerja.


Saat dalam pengejaran itu, terlintas bayangan saat dia bertugas mengalami kejadian seperti saat ini. Reno mengejar seorang gadis yang menerobos lampu merah. Reno pun menepikan motornya karena kepalanya berdenyut hebat.


Reno turun dari motornya dan duduk dengan kedua tangan memegangi kepala. Secara tidak langsung, Reno menghentikan pengejarannya.


10 menit telah terlewati dengan sia-sia karena rasa sakit yang tiba-tiba mendera. Tiba-tiba saja dia menggelengkan kepala tersenyum. Ada sekelebatan bayangan dimana seorang mahasiswi baru menerobos lampu merah.


Gadis itu sangat mirip perangainya dengan si pengendara barusan. Tetap melaju tanpa mendengar atau memikirkan apapun. Entah itu suatu kesengajaan atau kebetulan semata.


Seorang laki-laki dengan baju yang sama dengan Reno, mendekat.Ternyata orang itu adalah teman seprofesinya. Tiba-tiba saja laki-laki itu memarahi Reno yang tengah kesakitan, karena tidak mengejar pengendara ugal-ugalan tadi.


"Mana perempuan itu? Di jalan raya seperti menggunakan sirkuit balapan!" tanya rekan kerja Reno.


Betapa terkejutnya sang polisi itu saat melihat bulir-bulir keringat sebesar jagung di wajah Reno. Polisi itu langsung berjongkok di depan Reno. Ada rasa bersalah karena tadi sempat memarahi tanpa tahu bagaimana kondisinya.


Laki-laki itu langsung mengabari rekan sejawatnya yang bertugas tidak jauh dari sana. Dia mencabut kunci motor milik Reno dan motor yang dikendarainya, lalu mengajak Reno duduk di trotoar.

__ADS_1


Tak lama kemudian para teman Reno datang menggunakan mobil patroli. Motor Reno dinaikkan ke mobil patroli. Reno sengaja dibonceng.


Sementara itu, Alya tetap melajukan motornya. Sayang sekali, nasib baik rasanya belum berpihak padanya. Tiba-tiba saja, ban motornya menggilas paku dan bocor.


Alya sampai di kantor firma hukum, hari sudah mulai siang. Begitu masuk, Alya langsung masuk ke kamar mandi untuk membetulkan penampilannya,


Semua tampak telah siap, Alya langsung menemui pimpinan sekaligus pemilik firma. Alya bermaksud untuk melapor jika dirinya sudah siap untuk bekerja.


Pemilik firma itu merasa bahagia karena bisa menggaet advokat muda yang potensial. Selama ini, dia kesulitan untuk mencari penggantinya. Akhirnya, setelah sabar menunggu advokat muda kebanggaan bergabung kembali.


Alya langsung diminta untuk langsung kerja pada hari ini juga. Dia menempati ruangan yang berada di depan ruangan sang pemilik. Untuk sementara waktu, Alya hanya mempelajari kasus yang ada.


Saat jam istirahat, Alya memilih bertahan di ruangannya. Dia sudah mendapatkan kiriman makan siangnya dari kafe 'Rasha'. Alya mempelajari berkas sambil menikmati makan siangnya.


Dua bulan tidak bekerja, membuat pengetahuannya tentang hukum sedikit menghilang sehingga dia harus membaca dan memahami setiap kasus yang ada di mejanya.


Reno langsung dibawa ke rumah sakit Bhayangkara karena takut terjadi hal yang fatal. Sesampainya di rumah sakit Reno diperiksa dan diberikan obat sesuai diagnosa dokter. Reno diijinkan pulang setelah selesai diperiksa dan menebus obat di apotik.


Reno yang masih merasa sakit kepala, memejamkan mata sesat saat menunggu antrian obat di apotik. Teman yang tadi mengantarkannya sudah kembali bekerja.


"Mas!" panggil Aluna yang baru saja datang. Tadi dia mendapat kabar dari teman sang suami jika suaminya sakit dan dia diminta menjemput.


Nama Reno sudah dipanggil karena obatnya telah selesai diracik. Reno berdiri untuk mengambil obat itu lalu berjalan keluar diikuti oleh Aluna.


Keduanya pulang naik becak karena jarak yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal mereka. Reno duduk bersandar dengan mata terpejam, sedangkan Aluna berulang kali menghela napasnya dengan kasar menahan rasa kesal yang sangat.

__ADS_1


Sesampainya di rumah kontrakan, Reno langsung masuk ke kamar dan berbaring tanpa mengganti pakaiannya atau pun sekedar cuci tangan dan kaki. Dia langsung tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal.


Aluna menggerutu kesal karena sang suami tiba-tiba diam tidak bisa diajak berbicara. Setiap kaali ditanya selalu menjawab, "Kepalaku sakit, Luna. Jangan ajak aku bicara!"


Aluna menjadi curiga dengan tingkah Reno yang lebih banyak diam dan memegangi kepalanya.


"Apakah begitu sakitnya sampai mendengar suaraku saja tidak mau?" tanya Aluna dalam hati.


Aluna melanjutkan pekerjaan yang tadi ditinggalkan untuk menjemput sang suami. Namun, sebelum melanjutkan pekerjaannya, Aluna terlebih dahulu mengecek ponsel suaminya juga baju yang dipakai.


"Bersih! Tidak ada yang mencurigakan. Berarti dia memang sedang sakit. Sebaiknya aku menyiapkan makan siang yang ena agar dia selera memakannya," gumam Aluna sembari meletakkan kembali ponsel Reno ke meja nakas.


Alya bekerja dengan baik di hari pertamanya. Tidak ada kesalahan yang diperbuatnya hari ini. Hal ini membuat Pak Andi sang pemilik firma merasa senang karena Alya karyawan terbaiknya telah kembali.


Teman-teman lama Alya pun bahagia dengan bergabungnya kembali ke firma itu. Alya seorang yang pekerja keras dan humble. Walaupun dia anak orang kaya tetapi tidak pernah sombong, berteman dengan siapa saja tanpa memandang kasta.


Berbeda dengan teman-teman yang lainnya, ada segelintir orang yang tidak suka melihat Alya kembali bergabung di firma itu. Mereka mencibir Alya dan menyebarkan fitnah tentang Alya.


Alya tetap memandang semua orang itu baik sehingga tidak curiga dengan kelakuan mereka yang membencinya. Yang Alya tahu hanya berbuat baik pada semua orang tanpa mengharap imbalan apapun. Semuanya dilakukan dengan niat hati yang tulus.


"Al, berkas yang aku suruh pelajari sudah?" tanya Pak Andi seraya menghampiri Alya di mejanya.


"Sudah saya pelajari, Pak ...."


Selanjutnya Alya mulai memberikan ulasan sesuai dengan ilmu yang didapatnya.

__ADS_1


"Bagus, besok kamu ikut saya bertemu klien!"


__ADS_2