Penantian Cinta Alya

Penantian Cinta Alya
Bab 30


__ADS_3

Siapa yang tidak terkejut? Saat asik melihat keluar jalan melalui jendela bus apalagi yang dilihat adalah bangunan dengan aneka bentuk berjejer di sepanjang jalan yang belum pernah dilihat, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang berulang kali. Jangan lupakan ocehan bayi montok yang terus menarik baju.


Alya mematung beberapa saat ketika pandangannya bertemu dengan wajah si penggendong bayi. Gadis itu belum siap bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan masa lalunya. Namun, kini dia harus dihadapkan dengan keluarga dari masa lalu yang sangat ingin dihindari.


"Tan... te? A-apa k-kabar, Tan?" sapa Alya begitu tersadar dari rasa terkejutnya.


Wanita paruh baya yang menggendong cucunya itu adalah Mama Listyawati, ibu dari Moreno Harya Kusuma. Nenek Mentari itu tidak kalah terkejutnya dengan Alya. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan seseorang yang pernah mengasuh cucunya.


"B-baik. Kamu sudah sembuh? Tante dengar kamu mengalami gangguan men...." Listyawati membekap mulutnya yang keceplosan.


"Alhamdulillah Alya sudah dinyatakan sehat, Tante."


Saat dua wanita dewasa itu asik saling bertanya kabar, Baby Mentari merengek ingin digendong wanita yang pernah mengasuhnya. Alya langsung mengambil bayi itu gemoy begitu tangan si bayi mengulur padanya.


Beberapa menit setelah pindah ke pangkuan Alya, Baby Mentari mulai mengantuk. Bayi berusia delapan bulan itu sesekali merengek sebelum menutup kedua matanya. Dengan sabar Alya membuai bayi itu sampai tertidur dalam pangkuannya.


Mama Lis yang melihat bagaimana dinginnya tangan Alya dalam menangani sang cucu. Tidak semua wanita bisa sabar dan telaten terhadap bayi yang rewel. Anak sulungnya sendiri, kakak Reno, tidak bisa sesabar gadis itu menangani bayi, padahal anak sendiri.


Baby Mentari bukanlah anak Alya, tetapi gadis itu bisa dengan sabar membuai dan membujuk si bayi sehingga tidak begitu rewel seperti biasanya. Selama beberapa bulan mengasuh sang cucu, Listyawati tahu betapa rewelnya bayi itu saat akan tidur, apalagi di tempat asing seperti saat ini.

__ADS_1


"Sepertinya kamu berpengalaman mengurus bayi. Apakah sebelumnya kamu pernah mengurus bayi atau anak kecil?" tanya Listyawati penasaran karena melihat begitu piawainya gadis itu mengurus Baby Mentari.


"Saya belum pernah hamil apalagi punya anak. Bayi yang pertama kali aku gendong dan aku urus adalah Mentari. Sebelumnya, menggendong bayi saja tidak berani," jawab Alya dengan senyuman.


"Sebenarnya Mentari sebagai bahan percobaan saya, bisa dibilang seperti itu. Saya belajar menggendong, belajar memandikan, terus begadang malam. Semua itu pertama kali saya lakukan pada Mentari," imbuh Alya.


Listyawati tercengang mendengar penjelasan yang keluar dari bibir manis gadis cantik di sampingnya itu. Wanita manapun tidak akan rela anak atau cucunya dijadikan bahan percobaan seperti boneka yang bisa dimainkan sesuka hati.


Melihat wanita paruh baya yang mematung mendengar penjelasan darinya, Alya pun kembali bersuara. Bukan untuk membela diri atas apa yang telah dia lakukan, melainkan untuk menjelaskan bahwa walaupun Mentari sebagai bahan percobaan, dia tetap berhati-hati dalam memperlakukan bayi itu.


Gadis itu juga menjelaskan selama mengasuh Mentari, dia selalu berhati-hati dan melakukan konsultasi dengan dokter anak. Walaupun bayi itu bukan anaknya, bukan darah dagingnya, Alya tetap memperlakukan si bayi seperti anak sendiri.


Listyawati merasa bersalah karena telah berprasangka buruk pada gadis di sampingnya. Dia telah termakan omongan mendiang Anisah yang selalu menjelekkan mantan pacar anaknya itu. Ternyata semua itu hanya fitnah karena tidak bisa mendapatkan cinta Reno.


Reno membeku di tempat saat melihat sang mantan menggendong anaknya. Tiba-tiba sudut bibir laki-laki itu terangkat, dia tersenyum. Ada perasaan yang membuncah di dalam dada, melihat sang pujaan hati di depan mata dalam keadaan sehat dan baik.


Baby Mentari menangis saat Alya menyerahkan bayi itu pada neneknya. Tangan bayi itu mencengkeram erat baju wanita yang menggendongnya. Dia menjerit menolak untuk berpindah gendongan.


Tangan yang awalnya mencengkeram baju kini berpindah memeluk leher si penggendong, masih dengan tangisan yang menyayat hati.

__ADS_1


"Mentari sama Eyang ya, Sayang. Atau mau sama Papa?" bujuk Alya pada bayi gemoy itu.


Bayi itu tetap tidak mau melepaskan pelukannya. Dia semakin erat mengalungkan tangannya di leher Alya sehingga mau tidak mau, gadis itu masuk ke dalam mobil Reno. Alya memilih mengalah mengantarkan sampai ke rumah Reno.


Reno baru saja pindah ke rumah baru, rumah yang baru dibelinya dua bulan yang lalu. Rumah itu letaknya tidak jauh dari rumah yang dikontrak selama ini. Hal inilah yang membuat Listyowati ke Jogja hanya bersama sang cucu karena sang suami tidak bisa mengantar.


Sesampainya di kediaman baru itu, lagi-lagi Baby Mentari tidak mau lepas dari gendongan Alya. Sudah berbagai cara dilakukan agar bayi itu mau turun dari gendongan gadis itu. Namun, sepertinya bayi gemoy itu sudah terkena lem sehingga tidak mau lepas.


"Bagaimana ini Reno? Nak Alya pasti sudah capek sejak tadi menggendong Mentari. Masak kamu sebagai bapaknya tidak bisa membujuk anak sendiri," tanya Mama Lis pada anaknya.


Reno pun kembali membujuk sang anak agar mau turun dari gendongan Alya. Ternyata semakin dibujuk anak itu semakin erat memeluk wanita yang telah menggendongnya. Akhirnya laki-laki satu anak itu pun menyerah.


"Reno tidak tahu harus bagaimana lagi, Ma. Mentari tetap tidak mau pisah dari Alya, padahal sudah banyak iming-iming. Ditarik paksa pun tidak bisa," adu Reno pada wanita yang telah melahirkannya.


"Maaf sebelumnya, bagaimana kalau Mentari ikut saya ke kafe. Di sana banyak karyawan yang sudah terbiasa dengan keberadaan Mentari. Jadi tidak akan begitu menganggu, mereka pasti akan senang dengan kehadiran Mentari," usul Alya setelah sekian lamanya berpikir.


"Nanti saat Mentari bermain bersama mereka, saya akan perlahan menjauh. Dan, kalian bisa membawa Mentari. Bagaimana?" lanjut Alya menawarkan solusi terbaik menurut dirinya.


Mendengar penawaran itu, Mama Lis langsung mengiyakan dengan semangat membara. Wanita paruh baya itu memang sudah lama ingin melihat kafe 'Rasha' yang terkenal sampai ke Solo. Kebanyakan anak-anak muda tetangga rumahnya mengenal kafe itu.

__ADS_1


Berbeda dengan sang ibu, Reno sebenarnya keberatan untuk pergi ke sana. Laki-laki yang menyandang status duda anak satu itu merasa tidak enak karena selalu merepotkan sang mantan. Mereka sudah tidak memiliki hubungan lagi, tetapi selalu saja dipertemukan dengan masalah yang selalu berkaitan.


"Apa nanti tidak tambah merepotkan kamu, Al?" tanya Reno sungkan.


__ADS_2