
Bayi gemoy itu kembali nempel di badan Alya. Sepertinya badan gadis itu sangat nyaman untuk bertengger. Sudah beberapa jam berlalu, bayi yang sudah tidak memiliki ibu itu tetap tidak mau berpisah dengan mantan kekasih ayahnya.
Mama Lis yang merasa tidak enak kembali mencoba menarik sang cucu dari gendongan Alya. Namun, bayi itu selalu menangis dan semakin mengeratkan pelukannya pada anggota tubuh Alya. Hal itu membuat tontonan para pengunjung kafe yang kebetulan melihat.
"Maaf, Al. Gara-gara anakku kamu jadi repot. Aku tidak pernah mengajari dia buat nyusahin kamu atau siapa pun," ucap Reno sembari mengusap tengkuknya untuk menutupi rasa sungkannya.
"Nggak apa-apa, Mas. Namanya juga masih bayi. Kita belum bisa mengaturnya karena bayi lebih cenderung berbuat menurut kemauan sendiri. Tunggu dia tidur dulu baru kalian bisa pulang," jawab Alya dengan tersenyum tipis.
"Al, kamar aku yang mana? Tega banget sih cuekin aku," tanya Bryan, sengaja merusuh karena tidak rela keponakannya dekat dengan lelaki lain.
"Om 'kan bisa tanya sama karyawan di sini. Kenapa jadi seperti anak kecil sih?" jawab Alya gemas melihat kelakuan bapak satu ini.
Bryan langsung memasang wajah datarnya karena kesal. Dia langsung meninggalkan tempat itu begitu saja tanpa kata. Kesal rasanya seorang lelaki dewasa sepertinya dikatakan anak kecil hanya karena menanyakan kamar.
Melihat kekesalan sang paman, Alya merasa bersalah. Tak seharusnya dia berkata seperti itu. Hal ini dikarenakan dia ikut stress memikirkan cara agar bayi gemoy itu bisa lepas dari badannya.
Dengan bayi masih dalam gendongan, Alya mengejar sang paman. Dia tidak ingin pamannya itu salah paham dengan kata-katanya tadi. Badan yang lelah ditambah bayi yang tidak mau lepas dari gendongannya membuat gadis itu tidak bisa berpikir jernih.
"Om, jangan marah! Alya capek banget hari ini. Tolong mengerti," ucap Alya dengan wajah memelas dan tampak lelah.
"Aku tidak marah. Cuma kesal aja dengan laki-laki bodoh itu. Masak ngurus anak aja nggak bisa. Memang kemana bini dia?"
__ADS_1
"Meninggal saat melahirkan si gemoy," jawab Alya. "Beberapa jam setelah melahirkan dia, Tuhan memanggilnya."
"Oh, jadi dia mantan kamu yang bodoh itu? Kenapa anaknya bisa sama kamu, padahal kamu baru sampai Jogja?"
Alya menghirup udara sepenuh dada, lalu menghembuskannya perlahan. Sudah lelah menghadapi bayi yang tidak mau lepas darinya. Kini sang paman sepertinya tidak bisa untuk tidak menambah masalah pada gadis itu.
Alya terpaksa menceritakan kejadian di terminal Solo tadi siang. Dia juga mengatakan alasannya tidak pulang ke Semarang. Semua dia ceritakan dari naik bus sampai kejadian malam ini.
Bryan merasa kasihan setelah mendengar bagaimana lelahnya seorang gadis yang harus mengurus bayi sang mantan. Seharusnya dia tidak menambah beban pikiran keponakannya hanya karena tidak rela melihat sang keponakan dekat dengan lelaki lain.
"Kamu tidurkan bayi itu, lalu kamu juga ikut tidur. Istirahatlah!" perintah Bryan seraya mengusap lembut kepala Alya penuh perhatian, dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Alya.
Bryan sebenarnya sudah tahu letak kamarnya karena tadi Dion sudah menunjukkan pada dia. Laki-laki itu hanya tidak mau Alya terlalu dekat dengan lelaki manapun. Baginya gadis itu terlalu berharga untuk disakiti.
Sesampainya di bawah, Bryan menyerahkan bayi itu pada neneknya agar dibawa pulang.
"Kalian bawa pulang anak ini sekarang juga. Jangan kalian jauhkan baju ini darinya! Kalau kalian cuci baju ini, dapat dipastikan dia akan kembali rewel," titah Bryan dengan tatapan mata menghunus.
"Tidak usah pamit pada Alya, dia sudah tidur karena kelelahan mengurus anak ini!" larang Bryan saat Mama Lis menanyakan keberadaan Alya.
Reno pun membawa ibu dan anaknya meninggalkan kafe itu sekitar jam sembilan malam karena menunggu sang anak tertidur pulas. Duda anak satu itu mengikuti semua saran Bryan. Tidak pamit pada Alya, tetapi dia mengirimkan pesan melalui gawainya, jika sudah pulang. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf.
__ADS_1
Hari berganti, Bryan sudah kembali ke Melbourne karena pekerjaannya sudah menanti. Kalau masalah perceraian itu, dia sudah menyerahkan semuanya pada pengacara kepercayaan. Jadi, dia hanya memikirkan pekerjaan dan diri sendiri karena sang anak ikut mantan istri.
Berbeda dengan Bryan yang seorang pengusaha, Reno disibukkan dengan tugas baru di satreskrim. Dia baru saja pindah dari satlantas seminggu yang lalu. Banyak kasus yang harus diselesaikan sehingga waktu bersama anaknya pun berkurang.
Mama Lis yang masih tinggal di rumah Reno menjaga Mentari merasa kuwalahan. Bayi itu kembali rewel siang malam. Si gemoy selalu berkata ma ma padahal bayi seumuran gemoy biasanya belum bisa berbicara.
Sudah satu Minggu Baby Mentari rewel dan tidak mau makan, minum susu pun malas. Malam ini tiba-tiba badannya demam tinggi karena dehidrasi. Mama Lis di rumah itu hanya bersama si gemoy karena Reno harus melakukan pengintaian di tempat transaksi narkoba.
Mama Lis dengan telaten mengompres sang cucu. Tak lupa dia juga memberikan obat penurun panas yang aman dikonsumsi. Badan bayi itu juga dibaluri ramuan tradisional agar cepat turun panasnya.
Beruntung satu jam kemudian panasnya sudah mulai berkurang dan bayi itu tertidur, sehingga Mama Lis bisa ikut istirahat. Sayangnya, bayi itu hanya tertidur sebentar kemudian menangis lagi. Mama Lis terpaksa kembali begadang malam ini.
"Ren, antar Mama ke rumah sakit. Mentari panasnya tidak mau turun. Mama takut cucu Mama kenapa-kenapa," ajak Mama Lis begitu melihat keberadaan sang anak di dapur.
"Bentar ya, Ma. Reno habiskan kopi ini dulu. Reno masih baru juga sampai lima belas menit yang lalu," sahut Reno dengan kopi di tangan.
"Iya, Mama juga mau sarapan dulu mumpung Mentari tidur," ujar Mama Lis.
Usai sarapan singkat, ibu dan anak itu bergegas ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan Mentari. Badan bayi itu kembali panas lagi pagi ini, padahal tadi malam sudah mulai turun walau sedikit. Hal ini membuat Mama Lis dan Reno panik dan bergegas pergi.
Mentari langsung ditangani oleh dokter karena mereka masuk UGD bukan poliklinik anak. Bayi itu harus menjalani rawat inap karena wajahnya sangat pucat karena dehidrasi. Dia harus mendapatkan asupan cairan yang banyak, sehingga harus diinfus l.
__ADS_1
"Kamu cepetan lamar gadis itu, biar ada yang ngurus Mentari! Kamu lihat sendiri 'kan bagaimana Mentari pada mantan kamu itu?"